
Setelah Adam berangkat kerja, Jihan memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar komplek, Jihan hanya ingin sekedar berkumpul atau berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang ada di sekitar kompleknya.
Tujuannya saat ini adalah menuju taman komplek, biasanya saat seperti ini ibu-ibu yang tidak berkerja akan berjalan di taman komplek, untuk menemani anak-anak balitanya bermain.
"Bik.. Jihan pamit dulu ya, mau ke taman komplek." izin Jihan kepada bik Salma yang sedang menjemur pakaian.
"Ngapain atuh neng jalan-jalan, lebih baik di rumah saja."
"Udah lama Jihan tidak berkumpul dengan ibu-ibu di sini, sekalian Jihan mau silaturahmi."
"Lebih baik neng Jihan disini saja menemani bibik." ucap bik Salma berusaha menahan Jihan agar tidak keluar jalan-jalan di sekitar komplek.
Jihan menatap curiga ke arah bik Salma, tidak seperti biasanya bik Salma menghalangi nya untuk berkumpul di taman komplek perumahan mereka, sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan oleh bibik-nya ini.
"Emangnya kenapa sih bik... biasanya juga Jihan sering jalan-jalan di taman dan berkumpul kumpul dengan ibu-ibu di sini. "
"Ya tidak apa-apa sih neng, ya udah kalau neng mau jalan ke taman."
"Iya bik.. Jihan pamit dulu ya, Assalamu'alaikum." ucap Jihan.
"Waalaikumsalam... hati-hati ya neng. "
ucap bik Salma dengan berat hati melepaskan kepergian Jihan.
Bik Salma tahu apa yang akan terjadi jika Jihan keluar dan bertemu dengan ibu-ibu komplek sekitar, sesuatu hal yang ditakutkan bik Salma pasti akan terjadi, bahkan bik Salma sendiri sering mendengar cacian yang keluar dari tetangga sekitar untuk majikannya tersebut.
__ADS_1
Begitu sakit rasanya ketika mendengar kata-kata tidak pantas itu dilontarkan untuk majikan yang telah iya anggap sebagai anaknya sendiri, iya ingin membela Jihan dari segala omongan ibu-ibu tersebut, tetapi bik Salma tidak punya kuasa untuk membantah perkataan mereka.
Mulut ibu-ibu tersebut sangatlah tajam, kata-katanya begitu sakit dan menusuk, bik Salma hanya menatap kearah Jihan yang terus melangkah keluar dari halaman rumah dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada kesedihan di matanya melihat kepergian Jihan tersebut, ingin mencegah kepergian Jihan, tetapi bik Salma tidak bisa menjelaskan kenapa iya melarang Jihan untuk keluar, iya hanya berdoa semoga Jihan tidak bertemu dengan ibu-ibu yang akan mencaci nya.
Taman yang ingin dituju oleh Jihan tidak jauh dari rumahnya, perlahan kakinya terus melangkah dan matanya menatap kearah ibu-ibu yang sedang berkumpul, dengan langkah riang iya menghampiri ibu-ibu tersebut dengan senyum di wajahnya.
Namun langkah Jihan terhenti begitu saja, ketika mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh ibu ibu tersebut, badannya kaku tidak bisa bergerak, sungguh sakit sekali hatinya ketika sumpah serapah itu dilontarkan untuknya.
"Eh bu.. itu orangnya." kata seorang ibu-ibu sambil mencolek temannya memberitahukan bahwasanya Jihan berada tidak jauh dari mereka.
Pandangan ibu-ibu tersebut menatap kearah Jihan yang sedang berdiri bagaikan patung, Jihan tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan ibu-ibu yang sedang membicarakan keburukan nya, jika ia membela dirinya pasti tidak ada akan orang yang akan mendukung nya.
"Wahh ada mbak Jihan rupanya, udah lama ya mbak kita tidak bertemu, mbak Jihan apa kabar?" tanya ibu itu dengan senyum yang mengejek ke arahnya.
"Pasti baiklah bu, kan mbak Jihan sudah mendapatkan durian runtuh. "
"Saya benar-benar nggak nyangka kalau mbak Jihan seperti itu, ternyata mbak Jihan doyan sama suami orang, kelihatannya saja mbak Jihan baik." ucap Afni perempuan yang paling dekat dengan Jihan di komplek ini, membuat Jihan merasa tidak nyaman berada lebih lama disini.
"Semua yang kalian ketahui itu tidaklah sepenuhnya benar," ujar Jihan dengan suara yang sedikit kecil dan bergetar akibat menahan rasa malu dan juga amarah di dalam dirinya.
"Benar atau tidaknya, kalau urusannya sudah berurusan dengan suami orang itu namanya tetap salah mbak, kami benar-benar nggak nyangka lho mbak, apalagi yang mbak goda adalah suaminya ustadzah Zahra, berani sekali mbak."
"Benar... sebagai perempuan mbak gak punya hati."
__ADS_1
"Ini ya... pelakon yang sudah merusak rumah tangga ustadzah Zahra, kelihatannya aja alim tapi aslinya naudzubillahimindzalik, tidak disangka perempuan yang seperti ini adanya di komplek kita. "
Dari arah belakang Jihan datang seorang ibu-ibu dengan membawa belanjaannya, iya melemparkan sayur bayam yang ada di tangannya ke arah kepala Jihan, membuat Jihan begitu terkejut ketika mendapat serangan tiba-tiba tersebut.
Jihan membalikkan badannya menatap kearah ibu-ibu tersebut, umurnya sebaya dengan ibunya Adam, tak puas iya melemparkan seikat bayam ke arah Jihan,
kembali lagi ibu-ibu tersebut mencari sesuatu dalam tas belanjanya, iya kemudian mengeluarkan sebutir telur dan melempar telur tersebut ke arah Jihan.
Telur itu tepat mengenai kepala Jihan, iya begitu tidak siap ketika mendapat serangan dari ibu itu lagi yang tak habis-habisnya, melemparkan satu persatu belanjaannya ke arah Jihan.
"Ibu stop... hentikan bu, tolong hentikan." ujar Jihan sambil melindungi wajahnya menghindari lemparan dari ibu tersebut.
Ibu-ibu yang tadinya mengeosip melihat itu hanya tertawa dan tersenyum, tak ada sedikitpun ingin menghentikan tindakan ibu yang berpakaian coklat itu, seolah-olah mereka menikmati apa yang terjadi pada Jihan.
"Dasar gak tahu malu, perebut suami orang, apa lelaki hanya dia saja sehingga kamu menikah dengan suami orang, dan laki-laki yang kamu nikahi adalah laki-laki buta, bahkan ustadzah Zahra pun tidak sebanding denganmu." teriak ibu itu meluapkan emosinya kepada Jihan.
Melihat tidak ada seorangpun yang berniat membantunya, Jihan langsung melarikan diri dari amukan ibu tersebut, iya begitu malu dan terasa terhina atas kejadian hari ini, kejadian hari ini tak akan bisa dilupakan oleh Jihan seumur hidupnya.
Nafas Jihan naik turun dengan begitu cepat ketika ia telah sampai di pagar halaman rumahnya, iya mendorongnya dan langsung masuk ke dalam, tak terasa air mata mengalir di pipinya, semua orang sibuk menghakimi dirinya, seolah-olah mereka telah melakukan suatu kebenaran.
Bik Salma melihat kepulangan Jihan dengan penampilan yang berantakan, bahkan bau amis di tubuh Jihan begitu tercium, iya menghampiri Jihan ingin bertanya bagaimana kerajaan Jihan sekarang.
Namun semua itu terhenti ketika mobil Adam memasuki halaman rumah Jihan, membuat kedua wanita itu bertanya-tanya kenapa Adam pulang dengan begitu cepat.
"Mas apakah ada yang tertinggal?" tanya Jihan namun Adam melewati tubuh Jihan, langsung masuk ke dalam dan menududukkan tubuhnya di atas sofa dengan wajah begitu frustasi.
__ADS_1
"Ada apa mas.. kenapa kamu pulang begitu cepat?" tanya Jihan lagi setelah ia duduk di hadapan Adam.
"Aku dipecat." ucapan Adam dengan ketus karena emosi telah menguasai pikiran dan hatinya.