
Aku merasa mata bang Faiz terus menatap ke arahku, apa hanya perasaanku saja, jika bang Faiz sedang memperhatikan aku, atau bagaimana?.
Karena jujur saja aku tidak berani menatap kearahnya entah kenapa? perasaan dulu aku biasa saja jika berhadapan dengan bang Faiz kenapa sekarang terasa canggung begini?.
Aku memberanikan diriku untuk mengangkat wajahku dan menghadapkan pandanganku kearahnya. Ternyata memang benar, bang fatiz sedang menatap ke arahku dengan senyuman yang begitu manis.
Aku melirik ke arah pandangannya ternyata dia sedang memperhatikan tanganku yang memeluk tubuh Umi dari arah samping.
"Ternyata masih sama seperti dulu... masih seperti anak kecil." gumam bang Faiz dengan suara yang kecil dan dengan senyum yang menyebalkan ketika aku melihatnya.
Walaupun suara bang Faiz terdengar lirih tetapi aku dapat mendengarnya, dengan cepat aku melepaskan pelukan tanganku dari Umi.
Maksudnya apa bang Faiz berkata seperti itu, apa dia sedang mengejekku karena memeluk Umi?. Aku menatap sebel ke arahnya, bisa-bisanya dia masih sama seperti dulu, yang selalu mengejekku ketika aku bertingkah manja pada Abah dan Umi ataupun mas Faisal.
"Kakek Aisyah mau gendong." rengek putriku yang ingin digendong oleh Abah.
Rengekan Aisyah menyadarkan kekesalan ku terhadap kata-kata bang Faiz yang mengataiku seperti anak kecil. Aku melihat ke arah Aisyah yang sudah merentangkan tangannya bersiap untuk digendong oleh Abah.
Tetapi sepertinya Abah tidak sanggup untuk menggendong Aisyah, Abah sedang memegang pinggangnya sambil memijit dengan pelan.
"Ayah Nurul juga ingin digendong."
"Putri ayah kan udah besar..masak mau digendong juga." ujar mas Faisal menggoda putrinya.
"Nurul kangen sama ayah makanya nurul pengen digendong, Nurul masih kecil ayah belum besar ayo ayah gendong Nurul." ujar keponakanku ikut-ikutan minta digendong.
Dengan tersenyum mas Faisal mengangkat tubuh putri cintanya untuk digendong.
Terlihat senyum yang bahagia dari Nurul ketika digendong oleh mas Faisal.
"Kakek ayo gendong Aisyah." Aisyah menatap penuh harap kepada Abah.
"Aisyah sini sayang.. biar bunda saja yang gendong Aisyah kasihan kan kakek baru pulang, masak harus gendong Aisyah... Aisyah kan berat.. jadi biar bunda aja yang gendong ya." ujar ku membujuk Aisyah.
"Nggak mau Aisyah maunya digendong sama kakek." ujar Aisyah sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Abah menatap kearah ku sambil tersenyum. Aku tahu bahwa sekarang abah sedang kecapean, dan tubuhnya pegal-pegal karena habis menempuh perjalanan yang cukup jauh.
"Sama nenek aja juga boleh sayang.. Nenek sanggup gendong Aisyah." ujar umi menawarkan diri.
"Nggak mau pokoknya Aisyah mau digendong sama Kakek." Aisyah masih bersikeras ingin digendong oleh Abah, bahkan sekarang raut wajahnya sudah berubah dan sebentar lagi pasti putriku akan menangis.
Tidak seperti biasanya Aisyah akan bersikap seperti ini, biasanya dia akan menurut ketika aku sudah menegurnya, entah karena putriku sangat merindukan kakeknya, jadi bersikap keras kepala begini.
"Aisyah biar om Faiz saja yang gendong Aisyah.. kasihan kakeknya kalau harus menggendong Aisyah... Aisyah kan berat sayang, kakek nggak kuat menggendong Aisyah, jadi biar om saja ya." ucap bang Faiz ikut membujuk.
"Aisyah nggak mau.. Aisyah maunya digendong sama kakek." ujar Aisyah dengan air mata yang mau keluar dari mata indahnya.
"Aisyah anak yang baik kan?, kalau Aisyah anak yang baik.. Aisyah nurut ya, nanti om beliin es krim, kalau Aisyah mau nurut."
"Beneran om mau membeli Aisyah es krim? tanya putriku dengan ekspresi yang menggemaskan, dan mata yang masih berembun.
"Iya om janji akan memberikan Aisyah banyak es krim, asalkan Aisyah mau om gendong... mau ya anak baik?." tanya bang Faiz merayu aisyah.
"Janji ya om.."
"Putriku Aisyah langsung mengeluarkan jari kelingkingnya agar disambut oleh bang Faiz. dan dengan senyum ramah bang Faiz langsung mengaitkan jari kelingking nya dengan jari kelingking Aisyah.
Aku tersenyum melihat ke arah mereka, Aisyah tidak akan menolak jika tawaran nya adalah es krim, karena es krim adalah yang paling disukai oleh Aisyah.
Padahal kami sedang di teras hanya beberapa langkah saja sudah sampai ke dalam. Tetapi putriku ini membuat tingkah dengan meminta Abah menggendong nya.
Sesudah bang Faiz membujuk Aisyah agar mau digendong oleh nya. kami pun masuk melangkah ke dalam dan duduk di dalam ruang tamu sambil berbicara.
Aku meninggalkan Aisyah dengan yang lainnya, dan menyusul kak Salwa menuju ke dapur, untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.
Dari arah dapur dapat terdengar gelas tawa putriku bersama yang lainnya. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga se menyenangkan itu.
"Minumnya udah siapkan Zahra?." tanya kak Salwa.
"Iya kak.. ini sudah siap semuanya."
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita antar ke depan, sepertinya mereka sedang membahas hal yang menyenangkan, sampai-sampai suara tertawa nya kedengaran ke dapur."
iya... masak nggak ngajak-ngajak kita." ujar ku tersenyum.
Dengan membawa nampan yang berisi minuman dan kak salwa membawa nampan yang berisi kue-kue cemilan. kami melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu.
Tetapi di ruang tamu aku sedikit terkejut dan mataku membulat ketika melihat putri tercintaku sedang terduduk di atas pangkuan seorang laki-laki, siapa lagi kalau bukan bang Faiz.
Tidak seperti biasanya putriku tak akan langsung akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Biasanya Aisyah akan merasa malu jika bertemu dengan orang lain, dan bersembunyi di belakangku.
Tetapi tidak tidak dengan bang Faiz, Aisyah langsung bisa se akrab itu dengannya. malahan dengan beraninya dia duduk di pangkuan bang faiz.
Aku dan mbak Salwa langsung meletakkan minuman dan beberapa cemilan di atas meja. setelah itu kami melangkah menuju ke arah umi dan duduk di samping Umi.
"Aisyah sini nak duduk di samping bunda."
"Gak mau.. Aisyah ingin duduk sama om Faiz." ujar Aisyah menolak permintaanku,
sambil memegang tangannya bang Faiz.
"Aisyah nurut sama kata bunda, sini duduk sama bunda." ucap ku dengan suara yang meninggi dan tegas sambil menari nafas yang panjang. Menghadapi Aisyah hari ini benar-benar melelahkan, hari ini aisyah banyak sekali bertingkah.
"Bundaaaaa." lirih Aisyah dengan wajah yang cemberut.
"Zahra lembutkan suaramu ketika mengajari anakmu, jangan sampai kamu melukai hatinya." ucap Abah mengingatkanku.
Aku mengucapkan istighfar di dalam hatiku, "ya allah sabar kan lah aku ketika menghadapi buah hatiku, dan lembut kan lah hati putriku agar dia dapat menerima nasehat yang kuberikan."
"Biarkan saja Aisyah duduk di atas pangkuan nak Faiz, mungkin Aisyah merindukan ayahnya." ujar umi.
Kata-kata umi mengingatkanku kembali tentang permasalahan rumah tangga. Akan tetapi sebisa mungkin ku sembunyikan ekspresi wajahku, jika aku sedang bermasalah dengan suamiku.
"Itu tidak mungkin Umi baru saja tadi kami sampai di sini, mana mungkin secepat itu Aisyah merindukan ayahnya." ucap ku sambil melihat ke arah putriku.
"Aisyah rindu sama ayah.. Aisyah juga ingin bertemu dengan ayah.. kenapa ayah tidak ikut kita ke sini.?
__ADS_1
Astaghfirullahhalazim kenapa putriku mengatakan itu di hadapan semua orang.