
Zahra menyelesaikan tausiahnya dengan lancar dan baik, semua orang menatap kagum ke arahnya, begitu juga dengan keluarganya, Zahra memberikan yang terbaik untuk hari ini.
Setelah selesai ber tausiah Zahra dipersilahkan duduk, iya duduk dengan anggun tak lupa dengan senyum cerah di wajahnya.
Iya sedikit merasa lega dan tersenyum puas, karena tausiah pertama Zahra berjalan dengan lancar, di depan keluarga dan Juga didepan ibu-ibu jamaah yang hadir memenuhi mesjid besar ini.
"Nah ibu-ibu... bagaimana dengan ceramah yang telah disampaikan oleh ustadzah Zahra, pasti bagus kan?, pasti ibu-ibu bertanya siapa sih ustazah Zahra, Kenapa baru kelihatan.
Jadi begini ibu-ibu.. beliau ini merupakan putri dari Umi Aminah, berhubung Umi tidak bisa untuk tausiyah pada hari ini, jadi digantikan dengan ustadzah Zahra."
Wanita dengan baju gamis berwarna putih, yang bertugas sebagai pembawa acara pada tausiah yang dihadiri oleh para ibu-ibu hari ini, sekarang iya menjelaskan siapa Zahra yang sebenarnya.
Mendengar namanya disebutkan, Zahra hanya tersenyum tipis ambil menyatukan kedua tangannya dan menaruh nya di depan dadanya.
Bisik-bisik ibu-ibu kembali terdengar bergemuruh ketika pembawa acara itu memperkenalkan Zahra yang sebagai putri dari Umi Aminah.
Zahra sebenarnya merasa malu ketika ia disebut sebagai ustadzah, karena Zahra merasa tidak pantas dengan sebutan itu, iya tidak sehebat itu sehingga pantas disebut sebagai ustadzah.
"Untuk acara selanjutnya adalah acara tanya jawab, kalau ada dari ibu-ibu yang ingin bertanya tentang pembahasan tausiah yang disampaikan oleh ustadzah Zahra, boleh langsung ditanyakan, bagaimana ustadzah?" tanya pembawa acara itu.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lagi, iya tidak tahu harus bersikap seperti apa bentuk saat ini, rasa malu dan bahagia begitu terasa di dalam dirinya.
"Siapa yang ingin bertanya dipersilahkan, tolong angkat tangannya dan perkenalkan namanya." ucap pembawa acara.
Beberapa ibu-ibu langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, pertanda ingin bertanya, yang pembawa acara memilih beberapa ibu untuk bertanya.
"Nah silahkan ibu yang di samping pojok sana, silahkan berdiri Bu dan bertanya." ujar pembawa acara itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Ainul Mardiah, saya ingin bertanya kepada ustadzah Zahra." ucap wanita itu terdiam sejenak.
__ADS_1
"Begini ustadzah.. sekarangkan banyak yang viral tentang pelakor.. merebut suami orang, jadi saya ingin bertanya, apa hukumnya merebut suami orang? hanya itu yang ingin saya tanyakan, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap perempuan itu mengakhiri pertanyaannya dan duduk kembali.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
"Terima kasih kepada ibu Ainul Mardiah yang telah bertanya, nah bagaimana pendapat dari ustadzah tentang pertanyaan ini, langsung saja kita dengarkan jawaban dari ustadzah Zahra."
"Wow ini pertanyaan yang sangat sensitif sekali ya, yang banyak menjadi beban dan pikiran ibu-ibu di indonesia tentang permasalahan pelakor.
Jadi begini para ibu-ibu, seperti kita ketahui Pernikahan merupakan ibadah yang mulia dalam islam dan dilakukan untuk menyempurnakan separuh agama.
Dalam menjalani kehidupan pernikahan, tak lepas dengan hadirnya orang ke tiga di pertengahan rumah tangga. Dengan menjadi orang ketiga dalam hubungan pernikahan orang lain, ini merupakan perilaku yang tidak dianjurkan dalam agama.
Bukan hanya menyakiti perasaan pasangannya, namun dapat menghancurkan kebahagiaan keluarga orang lain. Namun, hal ini menjadi fenomena masa kini yang semakin hari semakin meresahkan, karena telah merebut suami orang dan menikah.
Hingga tercetus istilah pelakor atau perebut suami orang merupakan seorang wanita yang menggoda suami orang lain, membuat suami lupa dan benci dengan istrinya.
Menurut Ustaz dr Raehanul Bahraen, menjelaskan bahwa pelakor dalam islam disebut takhbib yang sangat dilarang hukumnya.
Pasalnya takhbib merupakan suatu cara merusak hubungan istri dengan suaminya, demikian juga di larang untuk memiliki hubungan dengan pria yang telah memiliki istri.
Adapun Hadis Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda :
Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami.
Nah dapat disimpulkan bahwa merebut yang bukan hak kita sehingga menghancurkan sebuah keluarga yang sudah dibangun dengan penuh cinta dan kasih, pasti tidak akan bahagia.
Jadi ibu-ibu tidak perlu takut, jika surga yang ibu-ibu bangun suatu saat tergoyahkan dengan hadirnya orang ketiga, karena allah itu tidak tidur, allah maha mengetahui perbuatan hamba-hambanya.
Lega... itulah yang dirasakan Zahra, secara tidak langsung iya mendapatkan ketenangan, ketika semua permasalahan yang menjadi beban dalam pikirannya, dapat iya curahkan dengan begitu lantang kepada ibu-ibu yang hadir pada hari ini.
__ADS_1
Bibir Zahra sedikit melengkung dengan indah, walaupun rasa sakit itu masih terasa sangat menyayat hatinya, tetapi perasaan Zahra jauh lebih baik untuk saat ini.
Ketika selesai acara tausiah yang dilangsungkan itu, Zahra langsung menuju ke ruangan yang telah ditentukan oleh panitia untuknya, begitupun dengan Umi, Salwa dan juga Aisyah.
Mereka langsung menghampiri Zahra di dalam ruangan itu, ketika mendengar bunyi pintu yang terbuka, Zahra membalikkan badannya melihat orang-orang yang dia sayang telah berdiri di depan pintu.
Zahra langsung memeluk Umi dengan mata yang berkaca-kaca. "Zahra berhasil Umi, hari ini Zahra berhasil mengikuti jejak Umi dan Abi, hari ini Zahra merasakan bagaimana rasanya menjadi Umi dan Abi, perasaan Zahra begitu senang Umi, rasanya sangat bahagia dan nyaman sekali". ucap Zahra sambil melepaskan pelukannya dan menghapus sedikit air mata yang mengenang di kelopak matanya.
"Selamat nak, kamu berhasil, Umi sangat bangga kepadamu. ucap Umi mengusap kepala Zahra.
"Selamat Zahra, kamu sangat hebat, mbak juga sangat bangga kepadamu." ucap Salwa sambil memeluk Zahra.
"Terima kasih mbak, ini juga berkat dukungan Umi dan juga Mbak, hingga Zahra berani berdiri di depan orang ramai." ucap Zahra terharu.
Semua orang tersenyum bahagia, melihat Zahra berhasil mengikuti jejak keluarganya, menyiarkan sedikit agama islam kepada masyarakat yang hadir, pandangan bahagia dan kagum ditunjukkan kepada Zahra.
Hingga mereka keluar dari arena mesjid menuju parkiran, untuk pulang ke rumah, ibu-ibu yang hadir pada hari ini melihat Zahra peserta keluarga sedang berjalan untuk pulang.
"Assalamualaikum, Umi Aminah ustadzah Zahra." sapa para ibu-ibu itu.
"Waalaikumsalam."
" Umi, ustadzah... apakah kami boleh berfoto dengan Umi dan ustadzahnya?" tanya seorang ibu ibu memberanikan diri.
"Tentu saja boleh bu." ucap Zahra dengan senyum lembut.
Mereka mengabadikan momen dengan orang yang di kagum kan yaitu. "Saya sangat kagum kepada ustadzah Zahra, tidak hanya cantik dan menawan, tetapi pembelajaran yang disampaikan oleh ustadzah Zahra begitu membekas di dalam hati kami, iya kan para ibu-ibu."
" Iya betul..betul.. itu ustadzah, kami sangat senang dengan tausiah yang telah ustazah sampaikan". Zahra hanya tersenyum mendengar pujian itu, iya bersyukur banyak orang yang menyukai apa yang disampaikannya.
__ADS_1