Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Cemburu


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu semenjak kejadian Adam meminta izin kepada Zahra, sejak saat itu tidak pernah lagi mereka berdua membahas tentang masalah permintaan Adam.


Zahra berusaha melupakan permintaan suaminya itu. dan memulai kehidupan rumah tangganya kembali. rumah tangga Adam dan Zahra perlahan-lahan berjalan dengan lancar, seolah-olah tidak pernah datangnya badai.


Cinta dan kepercayaan Zahra kepada suaminya perlahan kembali seperti semula, Zahra berharap cuma badai itu saja yang datang, tidak akan ada badai susulan yang akan mengguncang surganya lagi.


Gari ini Adam libur kerja, tadi malam dia mengajak Zahra dan Aisyah untuk pergi jalan-jalan ke pantai, karena Aisyah selalu merengek ingin main ke pantai.


"Mas jadi nggak, kita ke pantai hari ini?." tanya Zahra.


"Jadi sayang.. sebaiknya kita siap-siap sekarang." ujar mas Adam tersenyum.


"Iya mas... ayo sayang kita siap-siap dulu."


ajak Zahra kepada anaknya.


"Iya bunda... Aisyah udah tidak sabar pengen ke pantai."


Setelah bersiap-siap, keluarga kecil yang berbahagia itu memasuki mobil dengan perasaan yang bahagia.


"Ayo ayah jalankan mobilnya." ucap Aisyah dengan semangat.


"Mas sebelum ke pantai mampir dulu ke supermarket, Zahra mau beli minuman dan beberapa cemilan."


"Iya sayang."


"Bunda Aisyah boleh gak beli es krim?" tanya Aisyah dengan Punuh harap.


Sambil mengangguk Zahra menjawab dengan senyum yang tak lupa menghiasi wajahnya.


"Boleh dong sayang tapi belinya satu gak boleh nambah, ok."


"ok... Bun, bundanya Aisyah baik banget."


" Bunda aja yang baik... jadi ayah gak baik ni?"


ucap ada menggoda putrinya.


"Ayah juga ayah yang baik buat Aisyah... janji ya ayah jangan pernah ninggalin Aisyah dan bunda.. Aisyah gak ingin bunda nangis karena jauh dari ayah, seperti waktu di rumah kakek dan nenek ."


Zahra sedikit terkejut mendengar perkataan itu keluar dari mulut anak yang baru berumur 4 tahun. kenapa bisa Aisyah berkata seperti itu.

__ADS_1


Apa Aisyah melihat aku ketika menangis, tetapi aku tidak pernah menangis di depannya pikir zahara di dalam hatinya.


Adam melirik ke arah Zahra, dengan tatapan mata yang mengisyaratkan penyesalan dan bersalah, atas apa yang dibuatnya kepada zahra.


"Janji ya ayah." ulang Aisyah karena tidak mendapat tanggapan dari ayahnya.


"Iya sayang ayah janji, gak akan bikin bunda nangis." ucap Adam yang melihat ke arah istrinya, dengan tatapan penyesalan karena telah menyakiti wanita disampingnya, dan juga tatapan takut kehilangan keluarga kecilnya.


"Mas berhenti dulu... itu ada supermarket, biar Zahra aja yang turun untuk membeli cemilan dan minuman"


Zahra keluar setelah Adam memberhentikan mobilnya, Zahra melangkahkan kakinya menuju ke dalam supermarket.


Tak berapa lama setelah itu, Zahra kembali dengan plastik yang isinya beberapa barang yang dibelinya, dan masuk kembali ke dalam mobil.


"Udah sayang?" tanya Adam.


"Sudah mas."


Adam melanjutkan lagi perjalanannya menuju pantai, tidak butuh waktu lama, mobil yang di tumpangi oleh keluarga kecil itu telah sampai di parkiran pantai.


Terlihat Aisyah memandang lewat jendela mobil ke arah pantai yang luas dengan mata yang bersinar. rasanya tidak sabar ingin segera turun, dan berlari-Lerian di hamparan pasir yang lembut.


Setelah turun, dengan tidak sabarnya Aisyah berlari, tanpa menunggu orang tuanya yang baru saja turun dari mobil.


"Aisyah tunggu nak.. jangan lari-lari seperti itu." teriak Zahra memperingati putrinya, sambil bergegas mengejar Aisyah, tetapi Aisyah tidak memperdulikan itu.


Tampa diduga tubuh kecilnya menabrak seseorang wanita dan terjatuh di atas pasir. wanita itu dengan cepat memeriksa keadaan Aisyah.


"Apakah ada yang luka.. kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Zahra sambil melihat keadaan putrinya.


"Aisyah tidak apa-apa bunda... maaf ya bunda Aisyah tidak mendengar kata-kata bunda"


"Iya sayang tidak apa-apa... lain kali Aisyah harus mendengar ucapan benda, jangan seperti ini lagi ya, ayo minta maaf dulu sama tante ini."


"Iya bunda... maafkan Aisyah ya tante, Aisyah nggak sengaja." ucap Aisyah.


"Tidak apa-apa sayang... tante juga tidak kenapa-napa." ucapnya lembut.


"Maafkan anak saya ya Mbak, anak saya Aisyah Aisyah sudah menabrak Mbak." ucap Zahra merasa bersalah kepada wanita cantik di depannya itu.


"Tidak apa-apa... itu tidak masalah, saya baik-baik saja, perkenalkan nama saya Jihan, panggil saja jihan." ucap perempuan yang bernama Jihan menyalurkan tangannya dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Saya Zahra.." balas Zahra menerima jabatan tangan dari Jihan.


"Sayang..." panggil Adam kepada Zahra dengan belanjaan ditangannya.


Seketika langkah Adam langsung terhenti, melihat istrinya sedang berbicara dengan seseorang yang sangat dikenalnya, Jihan orang yang namanya terukir indah didalam hatinya.


Tiba-tiba saja Adam merasa gugup ketika harus berhadapan dengan Jihan, Jihan juga terkejut ketika mendengar suara laki-laki yang dirindukan nya selama ini.


Laki-laki yang sudah berjanji ingin menikahnya, tetapi terlarang restu istri pertamanya.


Dan Jihan tak pernah menyangka, anak cantik dan wanita cantik dengan tutur bahasa yang lemah lembut, dengan senyum yang manis itu, adalah anak dan istri dari laki-laki yang namanya selalu disebutkan didalam doanya.


Apakah ini takdirmu ya Allah, engkau mempertemukan aku dengan istri dan anaknya mas Adam, ucap jihan dalam hatinya.


"Jihan.. kenalin ini suami saya, mas Adam ayahnya Aisyah." ucap Zahra menarik tangan suaminya.


Jihan melihat interaksi keluarga yang berbahagia ini di depan matanya, ada rasa sakit yang dirasakannya, dadanya sangat sangat sakit.


Jihan juga tidak ingin mencintai suami orang, tetapi apalah daya ketika hati sudah memilih orang tersebut, akan sangat sulit melupakan bahkan jika itu suami orang lain.


Jihan hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sedikit ke arah Adam, matanya sedikit memanas melihat ini semua.


Jihan ingin sekali berada di posisi Zahra, mempunyai anak secantik Aisyah, dan juga suami sebaik Adam.


Jika allah mengtakdirkanmu untukku, maka siapapun itu, tidak akan bisa menghalanginya, semoga suatu saat kita bisa bersama mas, doa Jihan didalam hatinya.


"Jihan kamu disini ternyata..sudah mas bilang tunggu di dalam mobil." ucap seorang laki-laki tampan menghampiri ke arah mereka.


"Maaf mas.. tetapi kamu terlalu lama mengangkat teleponnya aku jadi bosan, jadi aku kembali lagi ke pantai." ucap Jihan sedikit manja kepada laki-laki tersebut.


Melihat interaksi antara Jihan dan laki-laki itu, Adam langsung membuang mukanya, jantung Adam terasa panas seperti ada api yang sedang membakar.


Setahu Adam Jihan hanya memiliki seorang adik perempuan, jadi siapa laki-laki ini kenapa mereka terlihat akrab, apa Jihan sudah menikah, pikir Adam.


Sudah sebulan tidak bertemu dengan Jihan, tetapi tidak bisa sedikit pun dapat melupakan perempuan cantik yang berhijab di depan ya itu.


"Bunda.. ayo, Aisyah sudah tidak sabar ingin mandi laut." ujar Aisyah sambil menarik tangannya Zahra.


"Iya sabar sayang, Jihan kami duluan ya, ayo mas Aisyah sudah tidak sabar." ujar Zahra sambil menggandeng tangan suaminya.


Rasanya Adam tidak rela meninggalkan Jihan bersama laki-laki itu, Adam melirik ke arah belakang melihat Jihan dan laki-laki itu yang sedang bercanda sambil tertawa, membuat hati Adam tambah panas rasanya.

__ADS_1


__ADS_2