
Adam dan Zahra keluar dari ruangan dokter Anisa dengan kaki yang gemetar, keduanya baru saja dihantam dengan pukulan yang tidak terduga, ternyata putri yang mereka cintai sedang menderita penyakit yang berbahaya.
Zahra terduduk di kursi tunggu diluar ruangan dokter Anisa, pandangannya kosong menatap kebawah dengan mata yang berembun, kata-kata doktor Anisa terulang ulang di dalam pikirannya.
"Sayang.."
Adam memanggil sambil menyentuh bahu Zahra, namun tidak mendapatkan balasan dari istrinya, Adam tahu bagaimana perasaan istrinya sekarang, perasaan seorang ibu jauh lebih peka daripada perasaan seorang ayah.
"Zahra.." panggil Adam lagi.
Sungguh Adam tidak tahu bagaimana cara menghibur istrinya, rasanya kata sabar, dan kata semua akan baik-baik saja, tidak akan mampu menenangkan hati Zahra untuk saat ini.
"Mas.. tinggalkan aku sendiri, aku ingin menenangkan pikiranku." pinta Zahra lirih.
"Tapi Zahra.."
" Mas... aku mohon." ucap Zahra tanpa melihat ke arah suaminya.
"Baiklah mas akan membiarkanmu memenangkan dirimu, tapi jangan lama-lama karena Aisyah pasti akan mencari mu."
Melihat Zahra yang hanya diam saja, Adam memilih pergi melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Aisyah.
Adam terdiam di depan pintu ruangan Aisyah, menenangkan dirinya sebentar, agar dia dapat tersenyum di depan putrinya.
Setelah merasa dirinya sudah tenang, Adam dengan perlahan mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam, didalam ternyata Aisyah sudah tertidur lagi, padahal baru saja ia bangun.
"Aisyah sudah tertidur lagi ya umi?" tanya Adam basa basi.
"Iya tadi Aisyah mimisan lagi, sebenarnya penyakit apa yang diderita oleh Aisyah Adam?" tanya Umi dengan dahi yang berkerut.
Adam mengalihkan pandangannya ke arah Aisyah yang tertidur nyenyak, menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
Tak tega melihat penderitaan putrinya yang berumur empat tahun, harus menderita karena penyakit yang dideritanya.
"Kenapa Adam, apa penyakit Aisyah parah?"
Abah juga ikut bertanya penasaran karena menantunya tak kunjung menjawab, Abah tahu dari raut wajah Adam bahwa yang disampaikan oleh dokter bukanlah kabar yang baik.
"Aisyah menderita leukemia Abah, Umi."
Abah dan Umi begitu terkejut mendengar jawaban dari Adam, tak menyangka bahwa penyakit yang diderita oleh cucu mereka bukankah sembarangan penyakit.
"A...apa Aisyah menderita penyakit leukimia?"
tanya Umi sambil mendekap kan mulutnya dengan tangannya, karena menahan terkejut mendengar ucapan Adam.
__ADS_1
"Iya Abah.. Umi, Aisyah menderita leukemia." ulang Adam.
"Ya Allah.. bagaimana bisa Aisyah yang masih berusia empat tahun menderita penyakit yang berbahaya seperti itu?" ucap Umi.
Umi bener-bener sedih mendengar kabar tersebut, cucu keduanya yang baru berusia empat tahun harus melawan penyakit yang kemungkinan sangat susah sembuhnya, apakah Aisyah akan kuat melawan penyakit itu?.
"Jangan ragu akan takdir Allah Umi,
Allah tidak akan membebani hambanya melainkan sesuai dengan kemampuan hambanya."
Raut wajah Umi benar-benar sedih sekali, mendengar kata Abah, Umi menjadi sedikit lebih tenang, semua adalah takdir sang khalik, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.
"Dimana Zahra Adam, kenapa dia tidak masuk bersamamu?" tanya Umi.
"Zahra sedang menenangkan dirinya di luar umi, untuk saat ini Zahra butuh waktu sendirian." ucap Adam.
"Iya biarkan Zahra sendiri dulu untuk menyenangkan dirinya, ini bukanlah kabar yang mudah diterima oleh seorang ibu." balas Abah."
"Adam sebaiknya sekarang kamu pulang dulu, ajalah Abah untuk menginap di rumahmu. biarkan Umi di sini menemani Zahra dan Aisyah."
"Baik.. Umi, Adam dan Abah akan pulang, Adam titip Zahra dan Aisyah."
"Besok bawalah beberapa baju ganti untuk Zahra, untuk malam ini biar Zahra memakai baju Umi dulu."
"Iya nanti Umi akan memberitahu Zahra bahwa kamu dan Abah sudah pulang."
Setelah kepergian Adam, Zahra terduduk sendiri sambil merenungkan nasib Aisyah, air matanya tak berhenti membasahi pipinya.
Banyak orang yang lewat melihat kearahnya, tetapi Zahra tidak peduli dengan tatapan mereka yang penuh tanda tanya, karena Zahra sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Zahra melangkah sambil mencari ketenangan, tanpa sadar langkahnya membawa ke depan mushola, Zahra menatapmu lama mushola yang ada di depannya.
Ketenangan yang dicari oleh Zahra ternyata menuntun nya ke rumah Allah, terlebih dahulu Zahra mengambil air wudhu, sambil menunggu adzan maghrib di kumandang kan.
Ketika hatinya gundah tempat yang terindah mengadu hanya kepada tuhannya, sambil duduk Zahra berdzikir, di setiap gerakan mulutnya, selalu keluar asma Allah, dengan tatapan mata kosong yang sesekali air mata menetes.
Setelah melakukan sholat maghrib, hati Zahra merasa tenang dan damai, sejenak iya bisa melupakan segala beban dan permasalahan yang dihadapinya.
Seketika Zahra teringat Aisyah, pasti sekarang Aisyah sedang menanyakan keberadaannya, karena lumayan lama Zahra meninggalkan Aisyah.
Dengan langkah yang pelan Zahra meninggalkan mushola, melangkahkan kakinya menuju ruang inap putrinya.
Sunggup tidak sanggup Zahra harus menghadapinya, tenang ataupun tidak tenang Zahra harus mendampingi putrinya.
Ketika membuka pintu, pandangannya langsung melihat Aisyah yang sedang makan sambil disuapin oleh umi, melihat kedatangan Zahra, Aisyah langsung menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Bunda dari mana, kenapa bunda lama sekali pulangnya, kata nenek bunda lagi keluar, emangnya bunda pergi ke mana?" banyak sekali pertanyaan keluar pertanyaan dari mulut putrinya.
Zahra tersenyum berusaha menghilangkan kegundahan hatinya di depan Aisyah. "Bunda dari luar tadi bunda ada kepentingan."
"Ayo sayang makan sedikit lagi." ucap Umi.
"Aisyah enggak mau makan lagi nenek, dari tadi nenek bilang sedikit-sedikit." lirih Aisyah dengan wajah cemberut.
"Cuma sedikit lagi sayang, Aisyah kan anak pintar jadi makannya harus banyak."
"Rasanya tidak enak, Aisyah tidak mau lagi."
Umi menatap ke arah Zahra, yang dibalas anggukan kepala Zahra memberi isyarat kepada Umi, agar memenuhi keinginan Aisyah.
Umi langsung meletakkan mangkok bubur di atas meja. "Nenek Aisyah merasa ngantuk, Aisyah ingin tidur." tutur Aisyah.
Mendengar kata Aisyah, Zahra melangkah mendekat ke arah Aisyah, menarik selimut dan menyelimuti tubuh kecil itu.
"Tidurlah sayang.. mimpi indah putri bunda, lupakan sebentar rasa sakit itu." ucap Zahra mencium dahi Aisyah.
Tidak butuh waktu lama Aisyah kembali tertidur pulas, Zahra memandangi wajah pucat putrinya itu.
"Allah terlalu banyak menguji Zahra Umi. ujian yang paling berat adalah melihat Aisyah sakit seperti ini, hati Zahra begitu sakit umi, andai bisa Zahra ingin menggantikan Aisyah merasakan rasa sakit itu." ucap Zahra tidak melepaskan pandangannya dari putrinya yang sedang tertidur.
Umi langsung membawa tubuh Zahra ke dalam pelukannya, menenangkan putrinya di dalam pelukannya, air mata Umi juga tidak dapat tertahankan dia menangis melihat penderitaan keluarga kecil putrinya.
"Allah telah mengukur kemampuan mu nak, allah sedang menguji keimanan dan kesabaranmu dengan cobaan ini" tutur umi lirih.
fashbir, innal- 'aaqibata lil- mutthaqiin
Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan (yang baik), adalah bagi orang yang bertakwa.
(Q.S. hud-49)
.
.
.
.
selamat membaca 🥰
jangan lupa untuk tinggalkan jejak 🙏
__ADS_1