Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Terakhir kalinya


__ADS_3

POV Zahra.


Jenazah Aisyah kami bawa pulang ke kediaman Umi dan Abah rencananya akan dimakamkan disana, dan kedua mertuaku juga setuju akan hal itu, entah bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku tanpa kehadiran putriku tercinta.


Aisyah ibarat pelita di dalam hidupku, putri yang paling kucintai satu-satunya, tetapi Allah jauh lebih mencintainya daripada aku, terkadang aku ingin marah akan takdir, hingga mempertanyakan kenapa Allah begitu tega mengambil Aisyah dariku.


Tetapi aku sadar, apa aku yang berhak menanyakan itu atas takdir yang Allah berikan kepadaku, aku hanyalah manusia seorang hamba yang paling hina, hamba yang paling banyak melakukan kesalahan dan dosa, sehingga aku teringat dunia hanyalah hiasan saja, sehingga membuat manusia menjadi lupa akan tujuan hidupnya.


Kupandangi tubuh kaku itu, sebentar lagi jenazah Aisyah akan dimandikan. Aku, Umi, mbak Salwa yang akan memandikan jenazah Aisyah untuk terakhir kalinya, ini akan menjadi momen yang paling berharga untukku.


Tubuh Aisyah terbaring di atas pembaringan pemandian jenazah, tubuhnya ditutupi kain panjang yang hanya memperlihatkan wajahnya yang cerah, dari kemarin air mataku tidak pernah berhenti menangissi putriku tercinta.


Aku belai lagi wajahnya, aku usap pipinya dengan tangan kananku, aku tersenyum melihat senyuman indah di wajahnya, senyuman terakhir yang mungkin akan menjadikan candu bagiku, dan aku tidak akan pernah melihatnya lagi, tetapi senyuman itu akan selalu ada di dalam hatiku.


"Disaat seperti ini kamu tetap tersenyum indah sayang, ini yang membuat bunda akan selalu teringat kepadamu, senyumanmu ini akan selalu membuat bunda rindu." ucap ku


Mbak salwa dan Umi mengusap kedua bahuku, memberi semangat sambil melihat ke arahku dengan tersenyum, sangat sulit mengikhlaskan Aisyah, tetapi inilah takdir Allah yang terbaik untuk Aisyah dan untukku.


"Lihatlah Zahra wajah yang tidak mempunyai beban itu, Aisyah seolah sedang tidur dan enggan terbangun, senyumnya begitu manis." ucap mbak Salwa sambil menghapus setitik air mata yang keluar dari matanya.


"Betul mbak.. dia begitu cantik jika tersenyum seperti ini, tetapi sayangnya ini adalah senyum berakhir Aisyah."


"Bersyukurlah Zahara dengan kehadiran Aisyah yang mungkin singkat bagimu, tetapi ketahuilah bahwa Aisyah membawa warna di dalam kehidupan semua orang, tingkahnya, kecerdasannya, bahasanya yang lucu dan wajahnya yang imut itu, membuat orang tersenyum ketika melihatnya, pasti siapapun yang melihatnya juga ingin memiliki putri seperti dirinya." ucap Umi.


"Iya Umi... betapa beruntungnya Zahra walaupun hanya beberapa tahun, Zahra bahagia Umi." ucap Zahra.


Dengan segera dan hati yang berat kami bertiga memandikan jenazah Aisyah, dengan hati-hati kami menggosok tubuhnya sambil membacakan doa di setiap kegiatan.


"Ini terakhir kalinya bunda memandikan bu sayang." ucap ku di dalam hati.

__ADS_1


Setelah memandikan Aisyah kami bertiga kembali ingin melanjutkan mengurus jenazah Aisyah untuk di kafankan, tapi lagi-lagi kepalaku terasa berat, seperti ada benda berat yang menekan kepalaku rasanya bener-beneran sakit sekali.


Disaat seperti ini aku tidak ingin kehilangan kesadaran ku seperti sebelum-sebelumnya, dengan susah payah aku menahan agar tubuhku tidak jatuh dan kehilangan kesadaran lagi.


Aku berjalan pelan sambil memegang dinding agar aku tidak kembali jatuh, tetapi rasanya sia-sia perlahan badanku seperti melayang seolah tidak lagi berpijak pada lantai, hingga tiba aku tidak lagi mengingat apa-apa, semuanya gelap.


Hingga entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, aku terbangun di rumah Umi di dalam kamarku, tidak lagi aku dengar suara-suara bising yang terdengar di dalam rumah Umi.


Kupandangi seluruh sisi kamar dengan pandangan bingung, aku merasa sedang bermimpi buruk yang begitu panjang, terlintas nama dan juga wajah putriku di dalam benakku, "Aisyah... di mana putriku." ucap ku di dalam hati menanyakan di mana Aisyah.


"Apakah tadi itu mimpi atau sungguhan?"


Dengan segera aku berusaha bangkit dari tempat tidurku, hampir saja aku terjatuh lagi karena tubuhku terasa begitu lemah hanya sekedar untuk melangkah saja, tetapi dengan tekad kuat aku bisa berjalan hingga meraih pintu.


Aku buka pintu kamar dan ternyata mbak Salwa berada di depan pintu kamarku sambil membawa nampan yang berisi makan.


Aku melewati tubuh mbak Salwa sambil mencari keberadaan Aisyah di rumah yang kosong luas ini, di mana semua orang kenapa rumah Umi terasa begitu sepi sekali, dan di mana Aisyah sekarang berada.


"Zahra apa yang kamu cari? " tanya mbak Salwa menghampiri diriku.


"Aku sedang mencari Aisyah mbak, mbak melihat Aisyah?, aku bermimpi buruk tentang Aisyah, aku bermimpi Aisyah meninggalkanku mbak." ucap ku melihat ke arah mbak Salwa.


Mbak Salwa menarik nafas panjang dan hembuskannya perlahan, iya tersenyum kepadaku sambil mengusap bahuku.


"Itu bukanlah mimpi Zahra, itu adalah kenyataannya Aisyah sudah meninggalkan kita, dan sekarang jenazah Aisyah sedang di bawah ke pemakaman untuk dimakamkan. "


Aku terkejut mendengar itu, kembali semua kejadian itu berputar dalam ingatanku, aku berpikir bahwa ketika sadar itu hanya menjadi mimpi buruk bagiku, tetapi ternyata itu adalah kenyataan yang sedang aku hadapi.


"Maksudnya mbak?" tanyaku lagi berharap itu hanya sebuah gurauan walaupun aku tahu bahwa itu adalah kenyataan.

__ADS_1


"Jenazah Aisyah akan langsung dimakamkan Zahra." ulang mbak Salwa.


"Bagaimana bisa mereka memakankan putriku tanpa kehadiranku mbak?"


Tak dapat aku tahankan air mataku kembali lagi mengalir begitu saja, aku memang cengeng tetapi mereka sangat tega kepadaku, kenapa bisa mereka langsung ingin memakan kan Aisyah tanpa kehadiranku ibu yang sudah melahirkannya.


"Aku benar-benar tak habis pikir mbak, aku ingin melihat Aisyah untuk terakhir kalinya, kenapa kalian langsung membawa Aisyah ke pemakaman?" tanyaku lagi dengan suara yang meninggi karena menahan emosi.


"Zahra tenanglah.. kamu sudah tidak sadarkan diri cukup lama, kami semua sudah berusaha membangunkan mu yang sangat sulit dibangunkan, dan tidak baik menunda-nanda jasad untuk dikebumikan."


Tampa mendengarkan lagi penjelasan dari mbak Salwa aku langsung ingin meninggalkannya, tetapi mbak Salwa langsung menarik tanganku, aku menatap ke arahnya sambil mengerutkan kening ku.


"Ada apa mbak?"


"Mau kemana Zahra?".


" Aku ingin melihat aistyah."


"Tubuhmu tidak sehat.. dari kemarin kamu belum makan, ayo makanlah sedikit." ucap mak Salwa dengan lirih.


"Tidak mbak.. aku tidak ingin melewatkan pertemuan ku dengan putriku, mbak pasti taukan bagaimana perasaan seorang ibu."


"Tapi makanlah sedikit saja. "


"Tidak mbak... jika aku makan, bagaimana aku bisa sampai ke sana tempat waktu, aku tidak ingin melewatkan proses pemakaman Aisyah."


Dengan berat hati mak Salwa langsung melepaskan tanganku membiarkan aku keluar dari rumah, aku langsung membuka pintu rumah, dan sekarang aku bingung bagaimana caranya aku bisa sampai ke pemakaman.


Jika berjalan dengan kaki sudah tentu akan terlambat, karena letak pemakaman yang lumayan cukup jauh, tiba-tiba mataku melihat ke arah mobil putih yang baru saja berhenti di depan pagar rumah, hingga seseorang keluar dari mobil itu, ternyata itu adalah bang Faiz.

__ADS_1


__ADS_2