
Zahra berlari terburu-buru dengan Aisyah didalam gendongan, wajahnya terlihat begitu panik, hatinya tak menentu melihat putrinya yang pingsan tak berdaya didalam gendongannya.
"Sus... tolong sus, tolong anak saya... tiba-tiba dia pingsan.. tolong sus..."
Melihat Zahra menggendong Aisyah dalam keadaaan tidak sadarkan diri, para suster membawa brankar dorong, dan menaruh Aisyah lalu mendorongnya keruang UGD.
Keringat bercampur air mata membasahi wajah Zahra, kepanikan dan kekhawatiran begitu terasa di wajah ibu muda itu.
Zahra ingin masuk menemani putrinya kedalam ruang UGD, tetapi seorang suster menahan tubuhnya.
"Maaf Bu... ibu tidak boleh masuk kedalam, biar kami yang menangani putri ibu, ibu duduklah dengan tenang, tunggulah diluar sambil berdoa, sebentar lagi dokter akan datang." ucap suster itu menenangkan Zahra.
"Bagaimana saya bisa tenang sus, putri saya didalam dalam keadaan tidak sadarkan diri,"
Dari arah belakang terdengar suara ketukan sepatu menghampiri kearah mereka.
"Tenanglah Bu, kami akan melakukan semampu kami, insyaallah putri ibu akan baik-baik saja." Zahra memperhatikan wajah dokter wanita itu yang baru saja datang.
Tampa banyak berbicara lagi dokter dan suster langsung masuk kedalam ruang UGD, meninggalkan Zahra yang masih panik diluar sendirian.
Zahra mondar-mandir didepan pintu UGD menanti dengan cemas kabar tentang putrinya, mulutnya tak berhenti melantunkan doa dan zikir.
(Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir). “Cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami”.
"Ya Allah... hamba mohon jangan terjadi apa-apa terhadap putri hamba, selamatkan lah Aisyah ya Allah."
Ditengah kepanikan Zahra baru teringat bahwa ia belum mengabari suaminya, dia mengambil hpnya tangannya bergetar ketika memegang benda pipih itu,Tak menunggu waktu lama Adam langsung mengangkat panggilan dari istrinya.
"Assalamu'alaikum... mas, Aisyah..mas, Aisyah..." ucap Zahra panik.
"Waalaikumsalam sayang, ada apa... ada apa dengan Aisyah, kenapa suaramu panik begitu?" tanya Adam yang ikutan panik, karena mendengar suara istrinya panik, sambil menyebut nama Putri mereka.
"Mas datanglah ke hospital sejahtera."
Adam langsung mengerti maksud dari istrinya, Tampa banyak bertanya lagi Adam langsung mematikan panggilan dari Zahra dan bergegas menuju hospital sejahtera.
Zahra tidak bisa berdiam diri begini saja, hatinya benar-benar tidak tenang menanti kabar Aisyah didalam sana.
__ADS_1
"Ya Allah jagalah putri kecilku." ucap Zahra dengan lirih.
Tak berapa lama Adam datang bersama dengan mama dan papanya, wajah panik juga terlihat jelas di wajah mereka, mereka mendekati Zahra yang duduk di kursi didepan UGD.
" Zahra bagaimana keadaan Aisyah, apa yang terjadi, apakah Aisyah baik-baik saja?" tanya Adam panik.
Baru saja adam meninggalkan anak dan istrinya dirumah dalam keadaan baik-baik saja, kenapa Aisyah sampai dibawa ke rumah sakit, apa sebenarnya yang terjadi?.
Zahra menengadah pandangannya menghadap kearah tiga orang didepannya.
"Aisyah pingsan mas... tiba-tiba saja keluar darah dari hidungnya dan jatuh pingsan, sebelum dia kehilangan kesadarannya dia sempat mengeluh sakit kepala, dan dokter belum juga keluar memeriksa Aisyah."jelas Zahra dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Tenanglah Zahra jangan panik seperti ini, insyaallah Aisyah baik-baik saja." Adam menarik tubuh rapuh istrinya kedalam pelukannya.
Adam tahu hati istrinya sedang tidaklah baik-baik saja, sama juga dengan yang dirasakannya, orang tua mana yang tidak cemas ketika anaknya yang sehat tiba-tiba jatuh sakit.
"A..ku ta...kut mas, aku takut Aisyah kenapa-kenapa." Adam membelai punggung Zahra yang masih didalam pelukannya, Adam dapat merasakan air mata Zahra membasahi kemejanya.
"Yakinlah bahwa Aisyah baik-baik saja."
"Bagaimana mana caramu mengurusi Aisyah, sampai-sampai Aisyah seperti ini, kamu tidak becus menjadi istri, dan sekarang kamu tidak becus menjadi seorang ibu, entah dosa apa Adam sampai bisa memperistri wanita sepertimu." ucap bu Ratna mertua Zahra.
Buk Ratna tidak lagi berbicara lembut kepada menantunya sekarang, karena sekarang iya menyimpan kebencian terhadap wanita didepannya itu, gara-gara Zahra menentang anaknya menikah lagi.
Menurut buk Ratna seorang istri harus menerima dan menaati perkataan seorang suami, baru itu dinamakan istri Sholehah, tapi Zahra yang berasal dari keluarga yang berpendidikan agama tinggi tidak mengizinkan suaminya menikah lagi.
"Mah.. istighfar tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, dan menyalahkan Zahra atas sakit yang diderita Aisyah ." ucap pak Yusuf.
Zahra melepaskan pelukan Adam Yang memeluknya, Zahra menatap tajam kearah mertuanya, bisa-bisanya ibu mertuanya itu menambahkan api didalam situasi begini.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, dasar menantu tidak berguna."
Zahra mengalihkan tatapan matanya kearah suaminya, melihat apakah suaminya akan membelanya dari mulut beracun ibunya.
Tetapi Adam diam saja tidak berniat membela
istrinya, Zahra tersenyum pahit melihat sikap suaminya, seolah-olah membenarkan ucapan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Mah jaga kata-katamu Zahra tidak hanya istri dan ibu yang baik, tetapi Zahra juga merupakan menantu yang baik."
"Bela saja menantu kesayanganmu yang tidak becus ini pah." ucap bu Ratna emosi.
"Tidak apa-apa pah... Zahra yang masih waras mengalah saja, tidak ingin berdebat memperkeruh suasana." ucap Zahra tenang.
"Kurang ajar... menantu seperti apa kamu Zahra, berani sekali kamu mengatakan saya tidak waras, Adam beginilah istri yang kamu pilih." ucap buk Ratna sambil menunjuk tangannya kearah Zahra.
Buk Ratna merasa benar-benar tidak dihargai oleh Zahra sebagai menantunya, berani sekali
mantunya menjawabnya seperti itu.
" Saya meng..."
"Sudahlah Zahra jangan melawan kata mama, hormatilah mama sebagai mana kamu menghormati ibumu." ucap Adam memotong perkataan Zahra, menurutnya Zahra tidak seharusnya menjawab perkataan mama seperti itu.
Hati Zahra benar-benar bergemuruh, sakit sekali rasanya ketika mertuanya menyakiti hatinya, sekarang suaminya menyalahkannya.
Zahra menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan suaminya, yang tidak bisa menjadi penengah yang adil ketika terjadi hal seperti ini.
"Kamu benar-benar mas..."
Namun perhatian mereka teralihkan ketika pintu ruang UGD terbuka, Zahra beserta dengan yang lainnya langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan anak saya dok, apakah anak saya baik-baik saja?" tanya Adam mewakili.
" Alhamdulillah keadaan anak bapak dan ibu untuk saat ini sudah membaik, tetapi kami harus memeriksa ulang, takutnya ada suatu penyakit yang serius diderita oleh anak bapak dan ibu."
"Maksud dokter putri kami Aisyah mengidap penyakit yang serius? dokter pasti bercanda kan, tidak mungkin... ini tidak mungkin, Aisyah adalah anak yang sehat." ucap Zahra dengan air mata yang tiada henti mengalir, lututnya terasa lemah mendengar perkataan dokter wanita itu.
"Tenang ibu... jangan panik dulu seperti ini,
ini baru analisis saya, ibu.. bapak dan keluarga berdoa saja, memohon yang terbaik untuk Aisyah, sekarang Aisyah di dalam sedang beristirahat, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang inap, kalau ingin menjenguk boleh masuk satu orang, agar tidak mengganggu istirahatnya Aisyah."
"Baik dok..terima kasih." ucap Adam.
"Kalau tidak ada yang ingin dibahas lagi, saya permisi dulu, pak... buk.." ucap dokter meninggalkan keluarga yang sedang shock itu.
__ADS_1
Selamat membaca 😌
Mohon dukungan dengan like, komen, favorit,