Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Sahabat masa kecil


__ADS_3

Adam benar-benar lupa dengan niat utamanya untuk menjemput Zahra dan Aisyah dari rumahnya sakit, hape Adam sudah mati karena kehabisan baterai, jadi Adam tidak tau kalau istrinya sudah menghubunginya beberapa kali.


Di dalam mobil Adam mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, berharap Zahra dan Aisyah masih berada di rumah sakit, karena Adam tidak ingin melihat wajah kecewa Aisyah, dia sudah berjanji untuk menjemput Aisyah.


Di rumah Jihan mereka hanya duduk di depan teras sambil minum kopi, Adam dan Jihan bernostalgia tentang masa kecil mereka, hingga keasyikan melupakan anak dan istrinya.


Dulu Adam dan Jihan merupakan tetangga, mereka berdua bersahabat layaknya adik kakak dan selalu bersama, walaupun umur keduanya berselisih 3 tahun.


Adam adalah anak tunggal, begitupun juga dengan Jihan, sehingga membuat keduanya begitu akrab, ketika Jihan kesusahan disitulah ada Adam.


Hingga ketika Jihan memasuki sekolah menengah atas, ibunya meninggal dunia, ayah Jihan berniat kembali ke kampung halaman, dan memulai hidup baru bersama dengan Jihan, tanpa bayang-bayang almarhum ibunya Jihan.


Adam dan Jihan terpisah jarak dan waktu yang cukup lama, dulu tidak ada cinta di antara keduanya, semuanya murni hanya persahabatan saja.


Hingga suatu hari tanpa sengaja Adam kembali bertemu dengan Jihan dan ayahnya yang sedang sakit parah, membuat keduanya sering bertemu, karena Adam selalu menemani Jihan dan ayahnya berobat.


Jihan tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan laki-laki, waktu Jihan dihabiskan untuk menjaga ayahnya yang sakit-sakitan, juga mengurus keperluan ayahnya menggantikan kewajiban ibunya.


Ayah Jihan ingin yang terbaik untuk putrinya,


apalagi iya tahu hidupnya tidak akan lama lagi, melihat sosok Adam yang baik dan peduli kepada keluarganya.


Ayah Jihan pun menitipkan Jihan kepada Adam, walaupun Iya tahu bahwa Adam sudah menikah dan mempunyai keluarganya sendiri,


karena ayah Jihan percaya bahwa Adam dapat menjaga putrinya.


Adam begitu kasihan melihat Jihan yang merawat ayahnya sendirian yang sedang sakit, membuat hati adam tergerak untuk membantunya.


Perasaan simpati berubah menjadi perasaan cinta, yang tidak pernah terpikirkan oleh Adam sebelumnya, cinta itu tumbuh sedikit demi sedikit untuk Jihan sahabat masa kecilnya.


Tetapi tidak pernah sedikitpun terlintas di dalam bedak Adam ingin menikahi Jihan, ketika mendengar ayahnya Jihan menitipkan Jihan untuk dijaga sebagai istrinya, perasaan Adam menjadi campur aduk rasanya.


Tidak ada sedikitpun niat untuk menduakan cinta istrinya, tetapi perasaan cinta untuk Jihan tumbuh begitu saja, sehingga membuat Adam tidak dapat menolak permintaan almarhum ayahnya Jihan.


Begitu juga dengan Jihan, iya dulu menganggap Adam sahabat dan kakaknya, tetapi tidak untuk sekarang, di dalam hatinya sudah ada nama Adam, lelaki yang selalu ada ketika Jihan dalam masalah.

__ADS_1


...


Adam segera memarkirkan mobilnya berjalan dengan cepat menuju ruang inap Aisyah, Adam merasa bersalah sekali, karena telah melupakan janjinya sendiri kepada Aisyah.


Dengan terburu-buru Adam langsung mendorong pintu ruangan tersebut, ternyata di dalam hanya ada seorang petugas yang membersihkan kamar itu.


Adam melirik ke seluruh ruangan, tetapi memang kamar ini sudah tidak ada lagi tanda-tanda anak dan istrinya.


"Cari siapa mas?" tanya wanita tersebut.


"Tidak mbak.. saya hanya salah masuk kamar, maaf kalau mengganggu." tampa bertanya Adam langsung menutup pintunya.


Adam tahu bahwa sekarang Aisyah dan Zahra sudah pulang ke rumah, tidak mungkin mereka menunggu kedatangannya yang terlalu lama datang tanpa kabar.


Adam langsung kembali menuju parkiran masuk kedalam mobil dan meninggalkan halaman rumah sakit.


Adam menghela napas panjangnya, iya membayangkan bagaimana nanti menjelaskan kepada Aisyah, pasti putrinya tersebut akan marah kepadanya.


Sebelum pulang ke rumah, Adam berencana membeli rayon untuk Aisyah, karena sebelumnya Aisyah meminta Adam untuk membelikan pensil warna untuk menggambar.


Bukan ingin menyogok Aisyah agar tidak marah padanya, tetapi Adam membelikan itu sebagai hadiah karena Aisyah sudah pulang dari rumah sakit.


Adam melajukan mobilnya menuju rumahnya, ketika membuka pintu, pertama kali yang dilihat Adam adalah Umi yang berada di dapur sedang memasak.


Adam melangkah ke dapur menghampiri Umi dan mencium punggung tangan mertuanya. "Zahra dan Aisyah di mana Umi?" tanya Adam.


"Zahra sedang berada di kamar Aisyah." ucap Umi, tanpa ingin bertanya kenapa Adam tidak menjemput mereka di rumah sakit.


Sebagai orang tua, Umi tidak ingin ikut campur lebih dalam urusan rumah tangga putrinya, tetapi umi akan turun tangan bilang Zahra terluka.


"Ya sudah Umi, kalau begitu Adam menyusul Zahra dan Aisyah dulu."


Sebelum menuju ke kamarnya Aisyah, terlebih dahulu Adam mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya dan meminumnya.


Sekarang Adam telah berdiri didepan pintu kamar putrinya Aisyah, sambil memegang pensil warna yang baru saja di belinya, dengan perlahan Adam mendorong pintu kamar tersebut.

__ADS_1


Ternyata di dalam kamar Aisyah sudah tertidur, dengan Zahra yang sedang mengusap kepala Aisyah dengan lembut, sambil menatap dalam kearah putrinya.


Zahra mengalihkan menatapnya kearah Adam yang baru saja masuk ke dalam kamar Aisyah, tak sengaja matanya melihat pensil warna ditanya suaminya,


Zahra diam saja melihat Adam yang berdiri dihadapannya, tidak ada sedikitpun niat Zahra untuk menanyakan suaminya kenapa tidak menjemput mereka.


Sudah hampir dua jam Zahra menunggu Adam yang tidak kunjung datang tanpa kabar sedikitpun, membuat Zahra kecewa melihat putrinya bersedih, walaupun suaminya sibuk setidaknya Adam bisa memberikan kabar.


"Zahra..." panggil Adam lirih.


"Jangan bahas di sini mas... baru saja Aisyah tertidur."


Zahra langsung keluar tanpa mendengarkan penjelasan dari suaminya, Zahra tidak marah tetapi Zahra merasa kecewa saja, karena suaminya itu sekarang sering ingkar janji.


Adam mengikuti Zahra dari belakang, menuju ke dalam kamar mereka, Umi hanya melihat sepasang suami istri itu berjalan di depannya, tanpa berniat menegur sama sekali.


Biarlah urusan rumah tangga anaknya diselesaikan sendiri, dengan cara mereka sendiri, Tampa melibatkan orang tua.


Zahra masuk ke dalam kamar, langsung duduk di atas ranjang menghadap ke arah suami yang sedang berdiri, menunggu kata-kata penjelasan yang akan keluar dari mulut suaminya.


Adam menjadi gugup sendiri, ketika Zahra duduk di atas ranjang menghadap kearahnya meminta penjelasan.


"Sayang maafkan mas, karena tidak menjemputmu dan Aisyah di rumah sakit." ucap Adam sebaik mungkin.


"Kenapa?" hanya kata itu yang keluar dari mulut Zahra.


"Tadi mendadak ada rapat sayang, jadi mas tidak bisa menjemput kalian, dan hp mas lowbat. jadi mas juga tidak bisa mengabari mu."


Zahra menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Ya udah mas tidak apa-apa, tetapi kasihan sekali Aisyah menunggumu hampir dua jam, dia sangat kecewa, bahkan Aisyah tidak mau pulang karena yakin kamu akan menjemputnya."


"Maaf ya sayang.. aku benar-benar minta maaf." ucap Adam lirih.


"Tidak apa-apa mas, nanti akan aku bantu jelaskan kepada Aisyah."


"Terimakasih sayang." ucap Adam sambil mencium tangan istrinya.

__ADS_1


"Sama-sama mas."


Zahra tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya, tampa Zahra tau ternyata suaminya ini tersangkut dirumah Jihan, sampai-sampai melupakannya dan Aisyah.


__ADS_2