Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Ikhlas


__ADS_3

"Bang tolong lebih cepat." ucap Zahra yang duduk gelisah di belakang sambil melihat ke arah jalan.


Faiz hanya melirik sebentar ke arah Zahra melalui kaca spion depan mobilnya, berita meninggalnya Aisyah juga telah sampai kepada Faiz, makanya Faiz segera datang ke rumah Umi untuk melihat Aisyah terakhir kalinya.


Tetapi Faiz malah langsung bertemu dengan Zahra dalam keadaan seperti ini, melihat Zahra yang begitu cemas karena tertinggal untuk menghadirkan proses pemakaman putrinya, membuat Faiz merasa iba kepada Zahra.


"Bang... Zahra mohon bawa mobilnya lebih cepat lagi, jangan sampai Zahra melewatkan proses pemakaman Aisyah, Zahra mohon bang." ucap Zahra lagi.


Faiz hanya menganggukkan kepalanya, dengan segera iya tambah kecepatan laju mobilnya, membawa wanita yang malang itu agar cepat sampai ke tempat pemakaman umum.


Sesampainya di tempat pemakaman umum, Zahra langsung keluar begitu saja meninggalkan Faiz yang masih ada di dalam mobil, pandangan Zahra langsung memandang ke arah sekitar mencari keberadaan orang-orang yang akan memakan kan jenazah Aisyah.


Mata Zahra menangkap banyak kerumunan orang-orang yang berpakaian hitam berada lumayan jauh dari tempat iya berdiri, karena tempat pemakamannya bisa dibilang sangat luas.


Zahra mengumpulkan tenaganya sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari melewati makam-makam yang ada di sana, dengan sekuat tenaga iya berlari ke arah kerumunan orang-orang yang seperti lautan manusia.


"Ya Allah kuatkanlah langkah hamba agar hamba bisa mencapai tempat peristirahatan terakhir Aisyah, izinkan hamba menemani Aisyah menuju tempat terakhirnya." ucap Zahra sambil berlari.


Hingga akhirnya Zahra sampai dikerumunan orang tersebut, di sana terasa begitu penuh membuat Zahra sulit bergerak, karena memang meninggalnya Aisyah yang berstatus sebagai cucu dari Abah Abdullah dan Umi Aminah membuat masyarakat dan santri-santri memenuhi pemakaman tersebut.


Zahra sedikit mendorong tubuh orang-orang yang menghalangi jalannya, tujuannya yaitu sampai di liang lahat Aisyah yang sulit iya jangkau, orang-orang seakan enggan untuk menggeserkan sedikit tubuhnya, membuat Zahra begitu emosi.


"Tolong minggir, tolong jangan halagi jalan saya." teriak Zahra yang membuat iya menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Semua mata tertuju kepadanya sehingga perlahan-lahan orang-orang membuka jalan setapak untuk dilalui oleh Zahra, semua orang yang berada di sana tahu bahwa itu adalah putri dari Abah Abdullah dan Umi Aminah dan juga ibu dari jenazahnya yang akan dikebumikan.


Langkah Zahra terasa tidak berat lagi ketika orang-orang itu memberi jalan kepadanya, dengan langkah cepat Zahra melangkah mendekati makam Aisyah, iya melihat ke arah jenazah putrinya yang hendak dikebumikan.


Kehadiran Zahra membuat orang-orang tersebut menghentikan aktivitasnya, Zahra terdiam sesaat dengan nafas yang tengah-tengah akibat habis berlari dengan jarak yang lumayan jauh.


Perbuatan Zahra menjadi pusat perhatian semua mata menatap iba kepadanya, bahkan surot kamera juga tak luput dari Zahra, Zahra membuka matanya yang terpejam itu, lalu melihat ke arah orang-orang yang hendak memasukkan tubuh Aisyah ke dalam liang lahat.


"Lanjutkan saja pak." ucap Zahra lirih.


Umi dan mertuanya langsung menghampiri Zahra, berdiri sejajar di samping Zahra sambil memegang Zahra agar tidak jatuh, Zahra memerhatikan setiap perbuatan yang dilakukan oleh bapak-bapak tersebut, hingga makam itu sedikit demi sedikit tertimbun oleh tanah.


"Humairah ku... banyak orang berkata seorang anak berhutang kepada ibunya, karena ibu yang telah melahirkan dan juga mendidik.


Bunda berharap suatu saat bunda menjadi seorang wanita yang layak untuk kamu tirukan, tetapi angan-angan itu terlalu jauh nak, angan-angan sekarang terhenti begitu saja.


S*emoga Humairah senang berada di tempat yang baru, dan ingatlah selalu bahwa bunda akan selalu mencintaimu dan juga menyayangimu.


Selamat jalan Humairah, bunda sudah mengikhlaskan mu... pergilah dengan tenang, tunggulah bunda disana sayang*." ucap Zahra di dalam hatinya.


Setelah selesai pemakaman, Zahra berserta keluarganya berencana akan kembali ke rumah Umi, begitupun juga dengan kedua mertuanya yang akan tinggal di rumah Umi untuk beberapa hari.


"Pah, kemarin mama sudah menghubungi Adam dan mengabari kepada Adam bahwa Aisyah telah meninggal dunia." ucap bu Ratna sambil berbisik kepada suaminya.

__ADS_1


"Untuk apa mama menghubungi Adam memberitahukan bahwa Aisyah sudah meninggal, itu sudah tidak ada gunanya lagi. dia sendiri yang memilih untuk menemani Jihan disaat kondisi Aisyah yang sudang drop kemarin." balas pak Yusuf kepada istrinya.


"Mama tidak tega kepada Adam pah... bagaimanapun juga Adam adalah ayahnya Aisyah, iya berhak tahu apa yang terjadi kepada Aisyah sebenarnya."


"Entahlah mah... papa juga tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini, kedatangan Adam ke sini juga percuma saja, lebih baik Adam tidak penampakan mukanya dikeluarga Zahra, papa merasa malu sekali. kasihan Zahra disaat iya membutuhkan bahu suaminya, tetapi suaminya lebih mementingkan Jihan. "


Sorot kekecewaan terlihat jelas di wajah tua pak Yusuf, Iya merasa telah gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya, padahal pak Yusuf sendiri tidak suka dengan hal poligami entah keberanian dari mana yang didapatkan oleh Adam.


"Tidak boleh begitu pah kasihan juga dengan Adam jika kita tidak beritahu bahwa putrinya sudah meninggal." ucap bu Ratna serba salah.


Disatu sisi bu Ratna begitu menyayangi Zahra, apalagi melihat perjuangan Zahra sebagai seorang ibu dan istri, Tetapi di sisi lain iya tidak bisa mengabaikan perasaannya sebagai seorang ibu walaupun iya begitu kecewa kepada Adam.


Zahra beserta keluarganya telah sampai di parkiran, sorot kamera langsung mengarah ke arah keluarga Abah Abdullah, banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh wartawan mengenai meninggalnya Aisyah hingga mereka mempertanyakan di mana Adam berada.


Pertanyaan-pertanyaan itu diabaikan oleh keluarga Abah, tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan dari wartawan itu, dengan segera mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat pemakaman umum itu.


Mobil yang dikendarai oleh Faisal setelah sampai di rumah Abah, mobil itu masuk ke dalam halaman rumah, dari jendela mobil Zahra dapat melihat dua orang tamu yang tidak diundang sudah duduk di depan teras rumahnya.


Melihat kedua orang tersebut membuat amarah Zahra langsung meledak, Zahra meremas kedua tangannya ingin sekali iya mengeluarkan segala kata-kata amarah kepada kedua orang itu.


"Suamimu baru berkunjung nak.. hadapilah mereka dengan kepala dingin." ucap Umi.


"Tidak bisa Umi, Adam harus di pukul dulu baru dia sadar, Faisal akan memberinya sedikit pelajaran." ucap Faisal sambil menahan amarahnya, iya tak sabar untuk menghajar wajah Adam yang sok tidak bersalah itu.

__ADS_1


__ADS_2