
"Apakah suamiku baru saja dari rumahmu?" tanya Zahra.
Jihan terdiam mendengar pertanyaan dari Zahra, iya sudah tahu dari Adam bahwa Zahra telah mengetahui tentang pernikahan mereka, Adam telah menceritakan semuanya.
"Apa Zahra tadi melihat mas Adam yang keluar dari rumah?" tanya Jihan di dalam hati pada dirinya sendiri.
Zahra tak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari arah Jihan, iya fokus menatap tingkah Jihan yang terlihat gelisah, iya tahu pasti Jihan sudah memikirkan tentangnya sekarang.
Ingin sekali Zahra membentak Jihan, wanita yang ada di depannya ini membuatnya kehabisan kesabaran, wajah cantik yang terlihat baik itu, ternyata hanya luarannya saja.
"Ayo katakanlah.. apa mas Adam baru saja di rumahmu?" tanya Zahra lagi.
Jihan tak kuasa menjawab pertanyaan dari Zahra, pertanyaan Zahra bagai serasa memakan buah simalakama.
"Kenapa kamu diam.. itu hanyalah pertanyaan yang mudah."
" Bukankah mbak tahu jawabannya apa." ucap Jihan hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Zahra tersenyum sinis mendengar jawaban yang keluar dari mulut madunya itu, kata-katanya terdengar lembut dan syahdu, benar-benar manis dan sangat memabukkan, sehingga suaminya di mabukan oleh madunya.
"Wow aku tidak pernah berpikir bahwa suaramu semerdu ini, terdengar sangat-sangat merdu."
" Katakana saja mbak, apa sebenarnya keinginan mbak datang ke sini, saya tidak bisa lama-lama menemani mbak berbicara, saya ada kegiatan sebentar lagi." ucap Jihan mengusir Zahra dengan cara yang halus, iya tidak ingin jika harus berlama-lama dengan Zahra yang berstatus istri sah dari suaminya.
"Begini Kah caramu menyambut istri sah dari suamimu, sebagai adik madu yang baik, kamu seharusnya menghormati ku Jihan, bukan malah mengusir ku." ujar Zahra kepada Jihan.
"Aku bukan mengusir mbak, tetapi sebentar lagi aku ada acara diluar." Zahra hanya mengangguk-angguk kan kepalanya mendengar jawaban dari Jihan, iya tahu bahwa dia berbohong, ternyata madunya ini tidak sesederhana itu.
__ADS_1
" Apa yang menarik dari suamiku Jihan, sehingga kamu berani menikah dengannya, padahal kamu sendiri pasti tahu jika mas Adam sudah memiliki anak dan istri." tanya Zahra langsung pada intinya.
Jihan mengangkat kepalanya menatap dalam ke arah mata Zahra, posisinya saat ini sama dengan Zahra, yaitu sama-sama menjadi istrinya Adam, dan Jihan memiliki hak yang sama juga walaupun status mereka berbeda, iya hanya yang kedua.
"Cinta mbak.. saya mencintai mas Adam, saya mohon kepada mbak untuk membagikan cinta mas Adam untuk saya sedikit saja, kita tidak harus berebutan mbak, saya tidak ingin mas Adam sepenuhnya, yang saya inginkan mbak membagikan cinta mas Adam dengan saya, sedikit saja mbak."
Darah Zahra lagi-lagi mendidih seketika mendengar kata-kata dari Jihan, madunya itu mengatakan cinta, jika jawabannya adalah cinta, maka Jihan tidak tahu sama sekali apa itu artis cinta.
" Ternyata karena cinta, karena cinta kamu merebut surgaku, merebut suamiku, dan juga merebut ayah dari anakku, cinta macam apa itu." ucap Zahra sedikit berteriak mendengar ungkapan cinta Jihan yang gila itu.
"Tolong mbak... mbak jangan egois, saya mencintai mas Adam begitupun sebaliknya, dan mas Adam juga mencintai mbak, kita bisa hidup rukun dalam suatu ikatan, kita bisa menjadi saudara dalam rumah tangga, mbak saya mohon, ikut sertakan saya dalam surga yang telah mbak bangun."
Zahra menggelengkan kepalanya, iya benar-benar tidak menyangka ternyata Jihan semurahan ini, iya telah menghancurkan surga yang dibangunkan oleh Zahra, dengan tidak malunya Jihan meminta ikut serta dalam surga yang sudah iya renggut itu.
"Surga yang mana Jihan, surga yang mana yang kamu ingin ikut sertakan, jika itu surga yang telah aku bangun, maka itu bukankah surga lagi, surga itu telah kau renggut Jihan, kau yang telah menghancurkan kehidupan rumah tangga aku."
" Kamu ini sungguh lucu Jihan, sangat lucu sekali, rasanya aku ingin tertawa dengan keras mendengar katamu itu, kamu berkata bahwa kamu adalah wanita yang ingin dicintai, apakah semurahan itu harga cintamu, apakah tidak ada laki-laki lain yang bisa mencintaimu selain suamiku?"
Jihan terdiam mendengar perkataan dari Zahra yang begitu tajam, iya tidak pernah menyangka wanita yang lemah lembut ini saat ini begitu dipenuhi dengan emosi dan amarah, membuat Jihan sedikit ngeri berhadapan dengan Zahra.
"Aku tidak boleh takut kepada Zahra, aku memiliki hak yang sama dengannya, aku tidak akan menyerah, aku juga akan mempertahankan rumah tanggaku yang baru saja aku bangun." ucap Jihan di dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
"Cinta tidak pernah salah mbak, aku juga tidak ingin jatuh cinta kepada suami mbak tetapi apalah dayaku, cinta itu datang begitu saja antara aku dan mas Adam, aku sudah menolak cinta itu, tapi aku tidak bisa karena cinta itu begitu kuat."
" Kamu sama sekali tidak mengetahui apa arti cinta, kamu bertemu dengan mas Adam ketika iya sudah sampai pada saat ini, kamu tidak mengetahui bagaimana perjuangan ku dengannya dulu, sekarang kamu datang dengan mudahnya kamu mengatakan mencintai suamiku."
"Aku sudah kenal dengan mas Adam dari dulu mbak, aku adalah teman masa kecilnya, kami bersahabat dan selalu bersama."
__ADS_1
" Terserah kamu mau bilang apa Jihan, aku tidak akan pernah mengikhlaskan mu menikah dengan suamiku, aku tidak akan pernah memaafkan kalian atas sakit hatiku."
Jihan sadar iya telah menyakiti hati perempuan lain, sejujurnya iya tidak ingin berada di posisi ini, menikah dengan Adam iya masih saja kesepian.
"Maaf mbak... maafkan saya, tetapi saya tidak ingin berpisah dengan mas Adam, saya juga akan mempertahankan pernikahan saya dengan mas Adam."
Zahra benar-benar muak mendengar perkataan dari wanita di depannya ini, wanita yang dinilai baik oleh suaminya tidak jauh dari wanita menggoda pada umumnya yang ingin merebut hak orang lain, wanita yang tidak tau malu dan murahan.
"Kamu tahu Jihan, aku bisa saja memberikan mas Adam sepenuhnya kepadamu."
Mendengar perkataan Zahra, Jihan merasa seperti mendapatkan angin segar, siapa yang tidak mau memiliki suami seutuhnya tanpa membagi, Jihan jelas mendambakan itu.
"Tetapi sayang tidak untuk saat ini, kamu tahu putriku Aisyah sedang menderita penyakit yang bisa saja mengambil ajal nya, jika aku memberikan mas Adam padamu bagaimana dengan Aisyah."
"Maaf mbak.. maafkan aku."
" Tidak perlu meminta maaf Jihan, kau terlalu mengagungkan cintamu itu, cintamu membuat hati wanita lain menjerit menderita, cintamu itu menyakitkan Jihan, cintamu menyakitkan ku dan juga putriku, apakah kamu puas dengan cinta itu?"
Zahra melihat ke arah jam tangannya, iya tidak bisa meninggalkan Aisyah lebih lama di rumah.
" Aku pamit pulang Jihan, semoga kamu puas dengan cinta nafsu mu itu, semoga kamu bahagia." ucap Zahra melangkahkan kakinya keluar dari rumah madunya.
.
.
Jangan lupa di like dan komentar agar semangat dobel up-nya 🥰
__ADS_1