Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Tega sekali kamu mas


__ADS_3

"Sebenarnya.. selain menemani Adam ke sini, kami juga menemani Adam untuk meminta izin kepada keluarga besan." ucap ibu mertuaku membuka pembicaraan.


"Permintaan izin seperti apa buk, sampai-sampai keluarga besan datang jauh kesini malam-malam seperti ini?" tanya Umi.


Pandangan kedua orang tuannya Adam tertuju ke arah mas Adam yang dari tadi diam, dengan Aisyah yang hampir mengantuk didalam gendongan nya, mungkin Aisyah terlalu capek karena bermain laut tadi.


Aku yang dari tadi duduk di sebelah suamiku merasakan perasaan yang tidak enak ketika mendengar perkataan mertuanya, Tiba-tiba saja pikiran ku kosong dan kehilangan fokus.


Tampa sengaja aku meremas tanganku sendiri hingga kuku-kukuku memutih. Pikiranku sekarang benar-benar kacau, takut terjadi apa yang tidak aku inginkan.


Izin apa yang dimaksud oleh mama dan papa?. Apa mama dan papa datang ke sini menemani mas Adam untuk meminta izin menikah lagi. Jika benar seperti itu apakah mereka tidak memikirkan bagaimana perasaanku dan kedua orang tuaku? tanyaku di dalam pikiran ku.


"Mau meminta izin apa buk, apa ingin meminta izin membawa Zahra dan Aisyah pulang, kalau cuma izin itu.. tidak perlu meminta izin kepada kami dengan ibu dan bapak datang ke sini. Sekarang Zahra adalah istrinya Adam, izin Zahra sekarang bukan lagi di tangan kami, melainkan di tangan suaminya anak ibu." dan ucap Abah bijak sambil tersenyum.


"Bukan Bah.. bukan izin itu.. yang ingin kami bicara, akan tetapi." ucap mamanya mas Adam lagi sambil menyinggung sedikit tangan suaminya yang dari tadi hanya diam saja.


Semua orang menatap aneh ke arah kedua orang tuanya mas Adam, sepertinya ada sesuatu hal yang sangat sulit diucapkan di depan keluargaku, tetapi harus disampaikan.


"Ada apa bu.. katakan saja kami siap mendengarkan, apa ini berhubungan dengan rumah tangganya Zahra?" tanya Abah lagi.


"Iya Bah... ini memang mengenai masalah rumah tangga anak kita, Adam sebaiknya kamu saja yang menjelaskan maksud kedatangan kita kesini kepada keluarganya Zahra." ucap Mama mertua yang dari tadi banyak berbicara, berbeda sekali dengan papa yang lebih memilih diam.


Mas Adam terlihat salah tingkah ketika mama menyuruhnya mengutarakan maksud dan tujuannya ke sini. Aku sudah menembak apa yang ingin dibicarakan oleh suami dan mertuaku itu.


Tetapi aku berdoa di dalam hatiku, bahwa apa yang aku pikirkan itu tidaklah terjadi, karena aku belum siap mendengar berita yang mengejutkan itu.


Belum juga sembuh kata-kata mas Adam ketika malam anniversary kami, jika ditambah lagi.. tidak dapat aku kira kan bagaimana rasa sakitnya.

__ADS_1


Aku mendengar suara nafas mas Adam yang di hembuskan dengan berat, aku menatap arahnya menanti kata-kata yang akan keluar dari mulutnya itu.


"Sebenarnya maksud dan tujuan Adam, mama dan papa ke sini selain menjemput Zahra dan Aisyah, Adam.. juga ingin." ucapan mas Adam terhenti sejenak.


Ya Allah aku mohon jangan sampai kata-kata itu yang keluar dari mulut suamiku, aku mohon ya allah.. jujur saja aku tidak sanggup aku tidak sekuat itu, aku wanita lemah ya Allah, doaku didalam hati.


"Adam juga ingin meminta izin kepada Abah dan Umi selaku orang tuanya Zahra.. Adam ingin menikah lagi."


Degg..


Aku tau pasti kata-kata itu yang akan terucapkan tetapi tetap saja rasanya sakit.


Hancur sudah... hancur sudah hatiku ini, ternyata kemarahan ku dan juga kepergian ku dari rumah, tidak dapat mengubah keinginan mas Adam untuk menikah lagi, OH MAS ADAM tega sekali kamu mas.


Tiba-tiba suasana menjadi hening setelah mas Adam mengatakan keinginannya tersebut. Aku menekan erat dadaku yang terasa sesak, aku tundukkan kepalaku karena tidak ingin melihat bagaimana ekspresi keluargaku sekarang.


"Astaghfirullah... Zahra putri ku." terdengar suara yang bergetar ketika mengucap istighfar sambil memanggil namaku.


Aku mengangkat sedikit kepalaku melihat ke arah Umi yang menyebut namaku. oh Umi... kekhawatiran dan kekecewaan itu terlihat jelas di wajahnya. Langsung aku tundukkan lagi pandangan ku karena tak kuasa melihat semua ini.


"Apa maksudmu berkata seperti itu Adam?."


Suara teriakan mas Faisal sampai membuatku sedikit terkejut, begitulah ketika terjadi sesuatu kepadaku, mas Faisal adalah orang pertamanya yang akan berteriak melindungi ku.


"Ayah... " rengekan Aisyah yang hampir saja tertidur didalam pangkuan ayahnya.


"Tenanglah Faisal."

__ADS_1


" Bagaimana aku bisa tenang Abah, ketika seseorang yang kita percayakan untuk menjaga fatimah kita.. dengan begitu mudahnya dia meminta izin untuk menikah lagi." ucap mas Faisal dengan intonasi tinggi.


Masih saja aku tundukkan kepalaku dengan tiada henti-hentinya aku mengucap istighfar dengan air mata yang berlinang. kamu kuat Zahra hanya kata-kata itu yang selalu terbesit didalam hatiku.


"Mas tenanglah jangan seperti ini, kendalikan emosi." ucap mbak Salwa menenangkan mas Faisal.


Jika mas Faisal dipenuhi dengan emosi seperti ini, tak mengubah kemungkinan bisa saja mas Adam akan dihajar habis-habisan oleh mas Faisal.


Mas Faisal adalah kakak yang baik yang selalu menolong adiknya, tak jarang mas Faisal akan berkelahi jika ada seorang yang akan menggangguku.


" Aku tidak bisa tenang Salwa, bagaimana aku bisa tenang, ketika melihat adikku dizolimi seperti ini oleh suaminya, laki-laki ini sendiri yang datang ke rumah ini meminta pada Abah dan Umi untuk menjadikan Zahra istrinya, dia sendiri yang berjanji akan membahagiakan Zahra, tetapi malam ini dia mengingkari janji itu. Laki-laki macam apa kamu Adam." ucap mas Faisal dengan marah.


" Salwa tolong kamu bawalah anak-anak kedalam kamarmu dulu, jangan sampai anak-anak melihat kondisi yang seperti ini" ucap Abah.


"Baik Abah"


Mbak Salwa melangkah menghampiri ke arahku dan mas Adam. sebelum mengambil Aisyah di dalam gedongan ayahnya, Mbak Salwa sempat-sempatnya mengusap bahuku.


Aku mengangkat kepalaku melihat kearahnya, mbak Salwa tersenyum manis ke arahku, sambil mengangguk dia berkata.


"Kamu pasti kuat Zahra." setelah itu mengambil Aisyah dan Nurul langsung masuk ke dalam.


"Nak Adam.. apa benar perkataanmu tadi yang ingin meminta izin kepada kami untuk menikah lagi, apa benar itu?" tanya Abah memastikan dengan suara yang berat.


"Iya Abah.. itu benar. perkataan Adam yang meminta izin untuk menikah lagi itu memang benar."


"Kurang ajar kamu Adam." teriak mas Faisal bangkit menghampiri mas Adam yang duduk di sampingku, menarik kerah bajunya mas Adam dan melayangkan beberapa pukulan di wajahnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah" teriak kami kaget melihat reaksi kakak laki-laki ku itu, kami semua disini mencoba menghentikan mas Faisal yang terus saja memukul mas Adam.


__ADS_2