Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Dimana surga itu?


__ADS_3

"Bukankah kamu sudah makan di rumah istri kedua mu itu." ucap Zahra tanpa membalikkan badannya.


Bibir Adam gemetar ketika mendengar ucapan Zahra, iya tidak percaya jika Zahra akan mengucapkan kata itu.


"Bagaimana bisa Zahra berkata seperti itu, apakah dia tahu jika aku baru saja melakukan akad nikah dengan Jihan, tidak.. tidak mungkin secepat itu, pasti Zahra hanya bergurau saja." ucap Adam didalam hatinya,


Adam berusaha tenang sambil menormalkan detak jantungnya, yang berdetak dengan cepat, ketika mendengar perkataan Zahra.


"Sayang apa maksudmu berkata seperti itu, saat ini mas sangat lapar sayang, tolong siapkan makanan untuk mas." ujar Adam bersikap seperti biasa seolah-olah perkataan dari Zahra hanya angin yang lalu.


Zahra membalikkan badannya menatap kearah suaminya yang berdiri di samping kasur, Zahra menyandarkan tubuhnya kebelakang dengan bantal di pangkuannya.


Zahra tersenyum manis ke arah Adam, dia tidak habis pikir bahwa Adam ternyata sangatlah pintar dalam berbohong dan berakting, Zahra mengambil hpnya yang berada di samping ranjang di atas meja kecil dan mengotak-atik hp-nya sebentar.


Zahra mengarahkan hpnya ke arah Adam, betapa terkejutnya Adam ketika melihat foto itu, karena foto itu adalah fotonya dengan Jihan, yang berbalut baju kebaya pengantin dengan senyum bahagia menghiasi bibir keduanya.


"Kamu lihat mas... apakah kamu mengenal orang didalam foto ini?, tetapi dari ciri-cirinya ini sepertinya aku mengenalnya, bahkan sangat-sangat mengenalnya."


Adam menelan Saliva dengan kasar, iya bener bener terkejut karena Zahra tahu tentang pernikahannya yang baru saja iya langsungkan, Adam bertanya-tanya dapat dari mana Zahra foto itu.


"Sayang.. Zahrah dengarkan mas dulu, dengarkan penjelasan mas.. ini tidak seperti yang kamu bayangkan."


Zahra tersenyum sinis mendengar pembelaan suaminya sendiri, Zahra menatap lagi layar hpnya yang dihadapkan ke arah Adam.


"Coba mas kamu perhatikan, aku tanya sekali lagi apakah kamu mengenal foto siapa ini?" tanya Zahra dengan penuh penekanan.


"Sayang..."


Adam benar-benar tidak tahu harus berkata apa kepada Zahra, semua pembelaannya sekarang sudah tidak berguna, tetapi Adam menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan di Zahra pergi dari kehidupannya.


"Kamu kenal apa tidak mas, jawab." ujar Zahra dengan suara yang tinggi, membuat Adam terkejut mendengar suara istrinya.

__ADS_1


"Iyah aku kenal." jawab Adam dengan refleks


"Oh.. kamu kenal ternyata mas, apakah ini kamu mas?"


Tetapi Adam diam saja tanpa menjawab pertanyaan Zahra, mulutnya seperti terkunci tidak tahu kata apa yang ingin dikeluarkan untuk membela dirinya.


"Jawab apakah ini kamu." teriak Zahra lagi.


Namun Adam suaminya itu bungkam seribu bahasa, pandangannya menunduk seolah menanggung dosa, Adam bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya di depan Zahra.


"Kamu lihat ke sini mas... lihat ke arahku." Mendengar ucapan Zahra, Adam mengangkatkan kepalanya melihat ke arah istrinya itu.


"Biar aku kasih tahu siapa yang ada di dalam foto ini, mungkin kamu tidak tahu siapa mereka." ucap Zahra sebentar sambil memperhatikan wajah suaminya yang merasa bersalah.


"Ini adalah wajah suami pembohong, suami tercinta Nur Fatimah Az-zahra dan juga ayah dari Nur Aisyah Humaira, iya kan mas?" tanya Zahra terdiam sebentar.


Adam tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Zahra, iya tahu bahwa saat ini Zahra bener-bener diliputi rasa amarahnya, iya membiarkan Zahra meluapkan amarahnya terlebih dahulu.


"Dan perempuan murahan samping suamiku ini, adalah wanita yang dianggap baik oleh suamiku, dan juga wanita yang telah dititipkan oleh ayahnya kepada suamiku,


"Sayang dengarkan dulu penjelasan mas, mas bisa jelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kamu bayangkan."


"Emangnya apa yang kubayangkan hah, kamu tahu apa yang ku bayangkan, tidak... kamu tidak tahu apa-apa tentangku yang sebagai istrimu." tariak Zahra sambil menunjuk ke arah Adam.


Jika ada orang lain yang melihatnya, pasti mereka tidak akan percaya bahwa itu adalah Zahra, karena di umurnya yang sekarang iya tidak pernah berteriak seperti itu kepada orang lain, dan teriakan pertama ternyata di hadiahkan kepada suaminya.


"Sayang.. mas mohon dengarkan dulu." ucap Adam berusaha menenangkan Zahra.


"Baik aku dengarkan pembelaan mu terhadap dirimu sendiri, ayo jelaskan."


Zahra menormalkan nafasnya yang sedang naik turun, menekan emosinya yang sedang mendidih, iya sadar bahwa di rumah ini bukanlah hanya dirinya dengan Adam saja, masih ada Aisyah dan mbak Intan dirumah ini.

__ADS_1


Zahra tidak mau membuat Aisyah terkejut dengan teriakannya, Adam menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, bersiap untuk membela dirinya.


"Pertama-tama mas minta maaf sedalam-dalamnya kepadamu, mas minta maaf karena mas tidak dapat menempati janji mas, mas memang laki-laki brengs*k, laki-laki bajing*n dan laki-laki yang tidak bertanggung jawab.. itu benar, tetapi mas mohon jangan tinggalkan mas, mas tidak bisa hidup tanpa kalian."


Zahra diam menanti lanjutan kata-kata yang akan keluar dari mulut Adam, iya tidak membantah ataupun memotong perkataan Adam, Zahra ingin mendengar apa yang akan dikatakan suaminya sampai habis.


"Sayang... diluar sana banyak keluarga yang berpoligami yang hidup rukun dan bahagia, kita pasti bisa seperti itu Sayang, kamu lama-lama pasti bisa menerima Jihan, cobalah Zahra demi surga kita."


Zahra tersenyum sinis melihat ke arah suaminya, saat ini Adam sedang memintanya untuk ikhlas berbagi dengan wanita yang telah menyakiti hatinya.


Zahra menggelengkan kepalanya benar-benar tidak percaya dengan perkataan suaminya ini, apakah suaminya masih waras.


Memang banyak wanita yang mengizinkan suaminya menikah lagi, tetapi apakah mereka bahagia? tidak, bahkan istri dari rasulullah pun saling cemburu ketika melihat istri lain yang berdekatan dengan rasulullah.


Sedangkan Zahra adalah wanita akhir zaman,


hidup di zaman dimana imam bisa digadaikan, iya tidak akan sanggup menerima madu yang berasa kepahitan itu.


Adam melihat istrinya yang tidak berkata-kata lagi naik keatas kasur mendekati istrinya, menggenggam pelan tangan Zahra, Adam berpikir bahwa sedikit-sedikit pasti Zahra dapat menerima pernikahannya dengan Jihan.


Sedetik kemudian Zahra melepaskan tangannya dari suaminya, Zahra memandang ke arah Adam, iya mengangkat kan tangannya dan meletakkannya di atas tahi suaminya.


"Apakah kamu sakit mas... apakah kamu masih waras?"


"Aku sehat Zahra... pelan-pelan kamu pasti akan bisa menerima Jihan sebagai bagian dari keluarga kita." ucapan Adam sambil mengecup tangan Zahra yang terasa dingin itu.


"Sebelum menikah dulu, kamu menjanjikan kepadaku keluarga yang bahagia, keluarga yang penuh canda tawa dalam taat, kamu menjanjikan ku surga itu mas.. apakah kamu lupa."


"Maaf Zahra maafkanlah mas, kita pasti bisa melewati ini semua, kita akan membangun surga yang baru dengan kehadiran orang yang baru."


"Tidak mas... aku tidak ikhlas, hatiku tidak bisa menerima semua itu, surga yang aku bangun telah kamu berikan kepada wanita lain, sekarang di manakah surgaku itu mas, dimanakah surga yang kamu janjikan itu."

__ADS_1


teriak Zahra dengan suara yang bercampur Isak tangis.


Tak ingin menangis tetapi air mata itu jatuh juga membasahi pipi Zahra yang berada didalam pelukan Adam.


__ADS_2