Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Aib


__ADS_3

Abah dan Adam telah terlebih dahulu masuk kamar kamar, pengaduan Zahra tidak mengubah segalanya, karena memang Zahra untuk saat ini tidak ingin bercerai dengan Adam, akan ada waktu yang tepat untuk bercerai dan itu tidak sekarang.


"Zahra apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu tetap mempertahankan pernikahan mu itu nak, suamimu telah berbuat curang kepadamu, Adam menikah dengan wanita lain, padahal Adam sudah berjanji tidak akan menikahi perempuan itu." ucap Umi.


Sungguh berat hatinya jika Zahra masih hidup dengan Adam, tidak ada poligami yang tidak menyakiti, dan Umi tidak ingin Zahra tersakiti walaupun suaminya bisa adil, Umi tidak percaya dengan itu, iya juga seorang wanita, iya paham bagaimana dengan kecemburuan seorang wanita.


"Untuk saat ini Zahra belum ingin bercerai umi, apa yang harus Zahra jelaskan kepada Aisyah jika kami bercerai?, kondisi Aisyah saat ini tidak memungkinkan untuk mengetahui hal buruk itu Umi, Zahra tidak ingin Aisyah kepikiran dan membuat penyakitnya bertambah parah."


Umi menghela nafasnya lelah, di umur tuanya iya ingin anak cucunya hidup dengan bahagia, tetapi cobaan silih berganti mendatangi keluarga putrinya itu.


"Sabarlah Umi semua ini akan berakhir dengan bahagia, selain memikirkan Aisyah Zahra juga ingin melihat karma yang akan diterima mas Adam, Zahra tidak ikhlas jika Zahra bercerai begitu saja, bagaimana dengan kehidupan zahra selanjutnya, setidaknya Zahra mendapatkan hak Zahra selama menjadi istrinya masa Adam."


" Jika masalah harta kamu tidak perlu memikirkan itu nak, Umi dan Abah sanggup menghidupi mu dan Aisyah, begitupun dengan pengobatan Aisyah."


Zahra tersenyum mendengar ucapan Umi, memang kedua orang tuanya dapat membiayai kehidupannya dengan Aisyah, tetapi bukan hanya itu yang ingin Zahra dapatkan.


Ada rasa sakit yang harus terbalaskan, setidaknya setimpal dengan rasa sakit karena harga dirinya telah dipermainkan.


" Tidak Umi... semua itu adalah hak Zahra dan Aisyah, sebelum mas Adam menikah dengan Zahra, iya adalah seorang pegawai biasa, Zahra tidak ikhlas jika orang lain yang menikmatinya."


Umi terdengar pasrah mendengar ucapkan Zahra, putrinya ini memang keras kepala, apa yang ingin iya dapatkan pasti akan iya perjuangkan, tak akan dilepas begitu saja kepada orang lain.


"Tetapi Umi tidak tenang nak.. jika kamu di poligami seperti ini, perasaanmu Umi sangat sakit memikirkan mu, apa kamu tidak cemburu dengan kehadiran wanita itu."


Zahra mengambil tangan Uminya dan menciumnya dengan lama, Umi mengangkat tangannya dan mengusapkan kepala putrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Umi.. Zahra tidak selemah itu Umi, ujian yang Allah berikan membuat Zahra belajar tentang yang namanya mengendalikan amarah, mengendalikan emosi, dan alhamdulillah Zahra telah bisa menguasai itu, sekarang Zahra adalah wanita yang kuat."


Umi mengangkat dagu Zahra dan menatap penuh arti ke dalam mata putrinya itu, memang benar didalam mata Zahra tidak terlihat sedikitpun rasa marah dan juga rasa takut kehilangan.


"Jika itu yang kamu katakan nak, Umi tidak dapat memaksakan kehendak Umi kepadamu."


Zahra mengusap air mata Umi yang menetas menangisi masalah rumah tangganya, ada rasa senang dan sedih dirasakan Zahra bersamaan, senang karena memiliki orang tua seperti Umi yang menjadi ibunya, dan sedih karena masalah keluarganya Umi yang menangis.


"Umi jangan menangis... Zahra saja tidak menangis Umi, ini hanya masalah sepele yang sebentar lagi akan ada cahaya yang menyelimuti awan gelap, jadi tenangkan hati Umi, jangan kejujuran Zahra membuat hati Umi menjadi lemah."


" Umi adalah seorang ibu nak, dan kamu juga sekarang sudah menjadi seorang ibu, pasti kamu paham perasaan Umi."


"Iya Umi... Zahra mengerti, tetapi Zahra tidak ingin melihat air mata di mata Umi, itu akan menjadi kelemahan bagi Zahra."


"Oh Zahra.. memang sangat sulit berbicara denganmu, kamu begitu keras kepala nak." ujar Umi memeluk Zahra.


Kasih ibu memang sepanjang masa, demi anak ibu bisa lakukan segalanya walaupun nyawa taruhannya, iya tidak akan rela sesuatu menyakiti anaknya, walaupun hanya gigitan seekor nyamuk saja.


Zahra melangkahkan kakinya ke dalam kamar, dilihatnya suaminya Adam sedang duduk di samping ranjang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 11.00 lebih, tetapi suaminya seperti enggan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Zahra melihat sebentar ke arah Adam, iya mengabaikan keberadaan suaminya itu, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu menunaikan ibadah sholat insya.


Setelah mengambil wudhu, Zahra keluar dari kamar mandi, iya melihat suaminya yang masih tetap sama pada posisi itu, lagi-lagi Zahra mengabaikan Adam mengambil sajadah dan melangsungkan sholat insya dengan khusyuk.


Begitupun dengan Adam, iya yang duduk sambil memperhatikan istrinya yang menunaikan sholat itu, ada rasa kecewa yang dirasakan oleh Adam ketika Zahra membuka aibnya.

__ADS_1


Setelah akhir salam tak lupa Zahra mengangkatkan tangannya berdoa kepada sang khalik yang maha pengasih, memanjatkan beberapa doa memohon kebaikan kehidupan dunia dan akhirat.


Zahra melipat sajadah hingga selesai, iya sedikit terkejut ketika membalikkan badannya dan melihat suaminya tetap pada posisi yang sama.


"Kenapa kamu tega kepada mas Zahra?, kenapa dengan begitu mudahnya kamu membukakan aib mas?" tanya Adam kepada Zahra.


Zahra mengabaikan Adam melanjutkan kegiatan apa yang ingin dilakukannya. "jawab zahrah." tegas adam.


"Maksudmu aib yang mana yang telah aku bukakan mas, apa maksudmu pernikahan mu itu?, pernikahan itu bukanlah sebuah aib mas, tetapi pernikahan itu adalah anugrah, jadi kenapa kamu malu jika aku memberitahukan kepada Abah dan Umi bahwa kamu telah menikah lagi." ucap Zahra.


"Tetapi kamu tahu seorang laki-laki yang menikah lagi pasti akan dicap buruk oleh orang lain padahal istrinya masih ada."


Zahra tersenyum mendengar perkataan suaminya itu, bodoh kah atau pura-pura bodoh sehingga mengatakan kalimat itu.


"Nah itu kamu tahu.. jadi kenapa kamu menikah lagi?" tanya Zahra.


"Seorang istri itu ibarat selimut, selimut yang menutup segala aib suaminya, bukan malah membeberkan aib suaminya."


Zahra membalikkan badannya kearah Adam, tentunya dengan menahan segala amarah yang ingin meledak di dalam kepalanya.


"Memang istri itu ibarat selimut bagi suami, menutup segala aib dan hal buruk suami kepada orang lain, tapi pernikahan itu adalah anugerah jadi kamu menganggap pernikahan mu dengan wanita itu adalah aib, jika itu aib kenapa kamu menikah nya?"


Adam terdiam mendengar perkataan Zahra, jika sudah berdebat dengan Zahra maka iya pasti akan kalah begitu saja, walaupun Adam adalah orang yang pintar.


" Jika perempuan itu tahu perkataanmu yang mengatakan pernikahan kalian adalah aib, maka bagaimana perasaannya?." ucap Zahra kepada Adam yang hanya diam.

__ADS_1


"Tidurlah mas ini sudah malam dan besok adalah hari yang panjang." ucap zahra melangkahkan kakinya menuju ke ranjang merebahkan tubuhnya sambil membelakangi suaminya.


__ADS_2