Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Memberi tahu orang tua


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, setelah Aisyah melakukan kemoterapi pertamanya, dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar, satu minggu juga Aisyah dirawat di rumah sakit dalam pengawasan dokter Anisa.


Setelah melakukan kemoterapi pertama, banyak efek samping yang terjadi pada Aisyah, Aisyah seringkali mengeluh badannya sakit semua, dan tak jarang mimisan keluar dari hidungnya.


Zahra selalu berada di samping Aisyah, menemani dan mengusap tubuh putrinya ketika Aisyah mengeluh sakit di badannya, hati Zahra bergetar melihat penderitaan putrinya tersebut.


Zahra berencana mengunjungi rumah Jihan tetapi tidak untuk sekarang, iya sudah mendapatkan alamat Jihan dari Anisa ketika mereka berbicara di restoran.


Tetapi untuk saat ini Zahra mengurungkan niatnya itu, saat ini fokusnya hanya tertuju untuk Aisyah, Zahra tidak ingin fokusnya terganggu dengan masalah yang sedang dihadapinya.


"Bunda badan Aisyah sakit bunda." ucap Aisyah yang sedang duduk di atas sofa didepan televisi sambil bersandar di bahu Umi.


Lagi-lagi kedua orang tua Zahra meluangkan sedikit waktunya untuk berada di dekat anak dan cucu nya, walaupun Abah dan Umi sudah tua, tetapi mereka tetap memiliki semangat yang kuat untuk menemani orang tersayangnya.


Begitupun juga dengan mertua Zahra, keduanya seringkali berkunjung ke rumah mereka, walaupun mertuanya tidak menginap seperti Abah dan Umi.


Setelah kejadian saat itu, saat dimana Mama mertuanya meminta maaf kepada Zahra, perlakuan mama mertua Zahra saat ini menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.


Zahra bersyukur akan hal itu, tetapi iya tetap akan menceritakan prahara rumah tangga yang menimpanya, iya akan mencari waktu yang tepat untuk membuka bangkai yang telah disimpan oleh Adam.


Zahra akan siap jika setelah mengatakan kebenaran itu, mama mertuanya kembali mengibarkan bendera perang dengannya, iya akan mempersiapkan dirinya untuk meladeni mama mertuanya ketika marah nanti.


Mendengar ucapan Aisyah, Zahra menjadi kalang kabut, iya tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika Aisyah mengeluh sakit seperti ini.


"Sakit ya sayang.. di mana sakitnya, biar bunda pijitin." ucap Zahra sambil memijat pelan tubuh Aisyah.


"Bunda jangan dipijit begitu, kalau dipijit badan Aisyah rasanya lebih sakit lagi." ucap Aisyah dengan nada lemah.


Umi juga tidak dapat berbuat apa-apa ketika mendengar ucapan dari cucunya itu, Umi hanya mengusap pelan kepala Aisyah dan sekali-kali menciumnya, berdoa semoga penyakit yang sedang menyerang Aisyah tidak terasa sesakit itu.

__ADS_1


"Sabar ya sayang.. pasti nanti sakitnya akan hilang, sini tidur di atas pangkuan bunda sambil nonton kartun."


Aisyah lalu bangun dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan Zahra, melihat ke arah televisi dengan tatapan sayu, sesekali Aisyah tersenyum ketika melihat adegan yang ditampilkan dalam tv tersebut.


Saat ini rasanya dunia sedang menguji Zahra, menguji cintanya kepada suami dan juga menguji cintanya kepada putrinya tersebut.


Besok adalah hari Abah dan Umi harus pulang, karena mereka sudah seminggu berada di sini, walaupun berat tidak ada orang tuanya disisinya Zahra, tetapi Zahra tetap harus kuat menghadapi harinya dengan senyuman untuk putrinya Aisyah.


Sebelum kepulangan kedua orang tuanya, Zahra ingin sekali menceritakan kisah perjalanan cinta antara Zahra dan Adam, Zahra berencana akan mengadu perbuatan suaminya kepada orang tuanya.


Menurut Zahra pernikahan suaminya dengan Jihan bukanlah aib yang harus ditutupi, iya tidak kuat jika harus menanggung sendiri, bukan kata Umi orang tua adalah rumah ketika anak-anaknya tersesat.


Saat ini Zahra benar-benar tersesat iya tak tahu arah mana yang harus dipilih, ada rasa benci, marah dan juga ingin menghancurkan,


Yang dirasakan oleh Zahra.


Mungkin ilmu agama yang dipelajari oleh Zahra sangatlah kurang, hingga ilmu ikhlas dan berbagi belum sempat dikuasainya, sehingga Zahra membutuhkan bimbingan lebih dari orang tuanya.


Tekad Zahra sudah bulat, iya akan membongkar bangkai yang disimpan oleh suaminya itu kepada kedua orang tuanya, walaupun Zahra tidak memberi tahu dulu keputusannya kepada Adam.


Menurut Zahra itu tidaklah penting lagi, bukankah Adam menikah lagi tanpa memberitahu Zahra, jadi untuk hal ini Zahra tidak akan menanyakan keputusan ini dengan Adam, karena pasti Adam tidak akan mengizinkan Zahra membongkar aibnya sendiri.


Setelah selesai makan malam keluarga tersebut duduk ruang tamu sambil bercanda gurau, Zahra yang duduk di samping Aisyah menatap kearah orang-orang yang ada di sampingnya.


"Euhm... ada sesuatu yang ingin Zahra sampaikan kepada Abah dan Umi, ini berhubungan dengan rumah tangga Zahra dan mas Adam, mbak tolong bawa Aisyah ke dalam kamar dulu untuk beristirahat." pinta Zahra kepada mbak Intan.


"Baik bu, ayo Aisyah kita ke kamar dulu untuk istirahat."


Melihat kepergian mbak Intan dan Aisyah, Adam menjadi was-was, iya takut jika Zahra akan membongkar pernikahannya dengan Jihan.

__ADS_1


Bagaimanapun Zahra sekarang terasa telah berubah, sangat susah didekati ataupun di bujuk, membuat Adam kesusahan ketika menenangkan Zahra.


Adam telah menuruti keinginan Zahra untuk membeli sebuah mobil mewah langsung atas nama Zahra, walaupun harga mobil tersebut dapat menguras isi tabungan Adam, tetapi Adam menuruti keinginan Zahra.


Adam berharap setelah menuruti keinginan istrinya, Zahra dapat sedikit menerima pernikahannya dengan Jihan.


"Sayang apa yang ingin kamu sampaikan pada Abah dan Umi?" tanya Adam penasaran, walaupun firasatnya mengatakan, bahwa perkataan yang ingin Zahra katakan bukanlah hal yang baik untuknya.


Zahra menatap lembut ke arah Adam seolah-olah diantara mereka tidak terjadi sesuatu, sambil tersenyum Zahra berkata. "Ini suatu rahasia mas, dan aku rasa Abah dan Umi harus tahu."


"Sayang." ucap Adam lirih, iya begitu takut jika Zahra benar-benar akan membongkar tentang pernikahan keduanya.


"Apa hubungan rumah tangga kalian baik-baik saja nak?" tanya Abah penasaran.


"Apa kamu kamu sedang hamil, melihat dari senyummu itu kamu sangat bahagia sekali nak." tanya umi juga ikut tersenyum bahagia.


Zahra tidak menjawab pertanyaan dari Abah nya, melihat senyum lembut yang ditunjukkan Zahra kepada Adam membuat kedua orang tuanya salah paham.


Zahra tersenyum melihat ke arah orang tuanya yang salah mengartikan senyum di wajahnya, iya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari uminya yang mengatakan bahwa ia sedang hamil.


"Tidak umi... Zahra tidak hamil, ini tentang rumah tangga Zahra dan mas Adam, tentunya ini masalah mas Adam." ucap Zahra melirik kearah suaminya yang sedang gelisah itu.


Menurut Zahra Adam adalah benar-benar lelaki penakut, iya berani berbuat tetapi tidak berani bertanggung jawab, dan sifat Adam baru sekarang diketahui oleh Zahra. dan Zahra benar-benar tidak menyangka nya.


"Katakanlah nak, jangan membuat Abah dan Umi penasaran menunggu ceritamu itu."


"Begini Abah.. Umi, jadi Zahra ingin mengatakan bangkai kebohongan yang disimpan oleh suami Zahra sendiri." jawab Zahra menggantungkan ucapannya sambil melirik ke arah semua orang yang sedang menanti kelanjutan perkataan Zahra.


"Sebenarnya mas Adam telah menikahi wanita yang dikatakannya waktu itu."

__ADS_1


"Apa.." terdengar suara Umi yang begitu terkejut.


__ADS_2