Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Aisyah tidak baik-baik saja


__ADS_3

Umi mengusap bahu Zahra yang sedang memegang tangan Aisyah yang sedang tidur, tadi pagi Aisyah baru sadarkan diri tetapi kondisi tidak dapat dikatakan baik, setelah bangun Aisyah sering muntah darah segar dari dalam mulutnya, iya mengeluh kepalanya terasa sakit seperti sedang dihantam dengan benda yang begitu berat.


Setelah bangun, Aisyah mencari-cari keberadaan Adam dan menanyakan kepada Zahra di mana ayahnya sekarang, mulut Zahra tertutup rapat dengan air mata yang berlinang di depan putrinya, karena iya tidak dapat menjawab pertanyaan dari putri tercinta nya itu.


Perasaannya begitu hancur, ternyata suaminya lebih mementingkan menemani Jihan berobat, daripada berada di samping Aisyah disaat kondisi Aisyah sedang buruk seperti ini.


Zahra terpaksa berbohong kepada Aisyah mengatakan Adam akan datang sebentar lagi, iya tidak ingin membuat Aisyah kecewa, apalagi harus mengatakan bahwa Aisyah sekarang memiliki seorang ibu selain dirinya, iya tidak ingin mengganggu pikiran Aisyah yang masih polos itu.


Zahra memandang wajah damai putri kecilnya, iya begitu mencintai Aisyah, setiap sakit yang dirasakan oleh Aisyah dapat dirasakan pula oleh Zahra, iya tidak akan memaafkan Adam jika sampai terjadi apa-apa kepada Aisyah.


"Aku sangat menyayangi Aisyah Umi, Aisyah adalah bagian dari diriku, apapun yang membuat Aisyah sakit, itu juga akan terasa sakit kepada diriku.. Umi, jika sesuatu terjadi kepada Aisyah disaat mas Adam tidak ada disini, itu berarti murni kesalahan mas Adam dan aku tidak akan pernah memaafkannya" mendengarkan ucapan Zahra Umi Aminah hanya bisa mengusap halus bahu putrinya.


Semua orang telah melarang Adam untuk menemani Jihan berobat, tetapi keduanya seolah menuliskan pendengarannya, dengan alasan bahwa mereka telah lebih dulu mengajukan pengobatan kepada dokter yang akan menangani Jihan.


"Tok.. tok.. tok.. Assalamualaikum."


Pintu ruangan terbuka dan masuklah dokter Anisah dengan seorang perawat di sampingnya.


"Waalaikumsalam. "


Zahra menengadahkan kepalanya menatap kearah dokter yang menangani Aisyah selama dirawat di rumah sakit ini, dokter Anisah menata prihatin ke arah pasiennya, iya hanya bisa berusaha dan berdoa agar tubuh kecil itu dapat bertahan setelah melakukan kemoterapi.


"Zahra.. Umi.. izinkan saya untuk memeriksa Aisyah."


"Silahkan dokter Anisah." dokter Anisa dan perawat wanita itu langsung memeriksa keadaan Aisyah, dan kemudian perawat itu menyuntik sesuatu ke dalam infus Aisyah.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Aisyah dokter?" tanya Zahra sesudah dokter Anisah selesai memeriksa Aisyah.


Dokter Anisah tersenyum dengan senyum yang begitu kaku dan terpaksa, sungguh sulit ketika menjelaskan bagaimana kondisi pasien yang ditangani nya ketika tidak sesuai dengan yang diharapkan, apalagi melihat kondisi Zahra seperti ini, membuat dokter Anisah tidak tega menjelaskan kondisi Aisyah.


"Katakana dokter Anisah jangan diam saja seperti ini, apa Aisyah ku baik-baik saja?" tanya Zahra ketika dokter Anisah tidak menjawab pertanyaannya.


"Maaf Zahra.. kondisi Aisyah saat ini tidak bisa dibilang baik-baik saja, tubuh Aisyah menolak semua obat-obatan yang dimasukkan ke dalam tubuhnya, bersabarlah Zahra, berdoalah semoga allah memberi Aisyah kesehatan dan kekuatan dalam menghadapi penyakit ini."


Sedetik kemudian air mata Zahra langsung turun ketika mendengar pernyataan dari dokter Anisah, dokter Anisah langsung mendekat ke arah Zahra, dokter Anisah merangkul tubuh yang mulai kurus itu, iya memeluk Zahra dengan begitu erat sambil menghapus air matanya yang tak dapat tertahankan.


"Apa ada kemungkinan untuk Aisyah ku bertahan hidup?" tanya Zahra yang mematung di dalam pelukan dokter Anisah.


"Jawablah dokter Anisah.. apakah ada kemungkinan untuk Aisyah bertahan hidup.?" tanya Zahra sekali lagi karena tidak mendengar jawaban dari dokter Anisa.


"Semua manusia yang hidup memiliki takdir Zahra, begitupun juga dengan Aisyah, iya telah memiliki takdirnya sebelum iya dilahirkan ke dunia ini, berdoa Zahra semoga allah memberi Aisyah umur yang panjang." ucap dokter Anisah melepaskan pelukannya dari sahabatnya.


Zahrah langsung melihat ke arah Aisyah sambil mengusap kepalanya. "Nak... kesayangannya bunda, kamu harus bertahan demi bunda, bunda sungguh tidak bisa hidup tanpamu, jangan pernah tinggalkan bunda nak, bunda sangat menyayangimu."


"Istighfar zahra.. istighfar... tidak baik berkata seperti itu. "


"Aku begitu takut Umi, Zahra begitu takut jika Aisyah benar-benar meninggalkan Zahra Umi, Aisyah adalah harta Zahra yang paling berharga."


"Buanglah pikiran buruk mu itu jauh-jauh nak, disaat seperti ini tidak seharusnya kamu berpikir seperti itu."


Zahra hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan dari Uminya. "Umi Zahra titip Aisyah sebentar, Zahra ingin ke mushola untuk sholat terlebih dahulu, hati Zahra rasanya bener-bener tidak tenang, seolah-olah akan terjadi sesuatu yang buruk."

__ADS_1


"Pergilah nak... biar Aisyah Umi yang menjaganya." ucap Umi sambil tersenyum.


Zahra mengambil mukenanya dan melangkahkan keluar dari ruangan Aisyah menuju mushola yang tidak jauh dari ruang inap Aisyah.


Setelah mengambil air wudhu, Zahra melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu memasuki ke dalam rumah Allah. "Ya Allah berkahi lah langkahku ketika aku memasuki rumahmu." ucap Zahra lirik di dalam hatinya.


Tampa menunggu lama Zahra langsung menggunakan mukenanya, dihadapkan dirinya menghadap kiblat di mana orang mukmin akan berkumpul, dengan wajah yang damai Zahra mengangkat tangannya untuk melakukan takbiratul ihram memulai sholat Dzuhur Nya.


Hingga akhir salam, Zahra mengangkat kedua tangannya mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya, mukena nya basah dengan air mata tanpa disadari Zahra menangis di dalam sholatnya.


Iya berdoa memohon kepada Raab nya untuk kesembuhan Aisyah, sesekali suara ishak tangis Zahra terdengar di mushola yang sepi itu, seseorang menyentuh bahunya menyadarkan Zahra dari tangis yang menyayat hati bagi orang yang mendengarnya.


"Assalamualaikum nak." sapa suara itu. Zahra membalikkan badannya melihat seorang wanita tua yang memakai mukena putih dengan senyum di wajahnya.


"Wassalamu'alaikum." lirih Zahra memperhatikan wajah wanita tua itu.


"Maaf sebelumnya nak, apa yang membuatmu menangis hingga orang yang mendengarnya juga ikut merasa sedih?" tanya wanita itu.


Zahra hanya diam, iya enggak menjawab pertanyaan dari wanita tua itu, wanita tua itu tersenyum melihat Zahra yang diam saja dengan pandangan tertuju ke arahnya.


"Kadang kala manusia sering lupa bagaimana hujan menyanyikan senandungnya, bahkan lupa bagaimana matahari terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat..


bagi manusia apapun yang disukainya dulu sekarang tidak ada artinya lagi, ada kesedihan yang tak bisa iya tutup-tutupi, sekalipun. iya tertawa pun hanya pura-pura.


perihal takdir iya percaya bahwa apa yang iya jaga mutlak itu tak akan selamanya, tetapi rasa egois berkecamuk melawan dan siap memberontak pikiran, tunduklah iya dalam ego yang mengurungnya dalam setiap tahun."

__ADS_1


ucap perempuan tua itu yang Zahra tidak tahu maksudnya.


__ADS_2