Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Diabaikan


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, semua orang di rumah sudah tidur, kecuali Zahra yang sedang menunggu kepulangan Adam, yang tak kunjung pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.


Zahra tetap setia menunggu kedatangan suaminya, iya duduk sendiri di dalam kamarnya dalam keheningan dan kegelapan, hanya cahaya dari luar yang menyapa ke dalam kamarnya.


Sudah beberapa jam Zahra menunggu kepulangan suaminya, tetapi iya merasa tidak lelah dengan penantiannya, yang ada rasa sesak dan marah memenuhi hatinya.


Sedangkan Adam yang baru pulang melihat aneh keadaan rumahnya, biasanya rumahnya di jam segini masih terang dengan cahaya lampu tetapi malam ini sangat gelap gulita.


Biasanya Zahra akan langsung keluar ketika mendengar suara mobil Adam yang masuk ke dalam halaman, tetapi sekarang Zahra tidak kunjung datang menyambut kepulangan Adam.


Adam berpikir mungkin Zahra capek dan langsung tidur, iya tidak ingin berpikir macam-macam, Adam langsung membukakan pintu dan masuk ke dalam rumahnya yang benar-benar gelap.


"Apakah Zahra lupa membayar tagihan listrik, sehingga semua lampu padam?" tanya Adam pada dirinya melangkah pelan untuk mencoba menghidupkan lampu.


"Lampunya hidup tetapi kenapa dimatiin, sudahlah lebih baik aku langsung masuk kamar saja."


Adam langsung melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar, dan ternyata di kamar juga sama gelap gulita, Adam mengarahkan cahaya di handphonenya ke dalam kamarnya.


"Astaghfirullah sayang.. kenapa kamu duduk di situ dalam gelap seperti ini, membuat mas terkejut saja." ujar Adam sambil berjalan ke arah saklar dan menghidupkan lampu.


Adam menghampiri Zahra langsung membawa Zahra ke dalam pelukannya, mencium dahi istrinya dengan lembut.


Tidak ada penolakan atau larangan dari Zahra iya membiarkan suaminya memeluknya dan juga menciumnya, Zahra ingin tahu sampai mana suaminya itu akan bertindak pura-pura bodoh di depannya.


Ada rasa jijik ketika ia membayangkan bahwa suaminya baru saja menjadi imam untuk perempuan lain, mungkin keduanya juga baru melakukan pelukan ataupun lebih daripada ini.


Zahra tidak menyangka bawah Adam akan pulang pada malam ini meninggalkan Jihan istri mudanya, padahal malam ini adalah malam pertama mereka.


Membayangkan itu Zahra tersenyum sinis di dalam pelukan Adam, demi menutupi busuknya di depan zahra, Adam rela meninggalkan malam pertamanya dengan istri mudanya.

__ADS_1


Adam merasa tidak ada balasan dari pelukan dan ciuman yang diberikannya untuk Zahra, Adam melepaskan pelukannya itu dan melihat ke arah wajah istrinya.


"Sayang kamu kenapa, apakah kamu sakit, apakah kamu tidak enak badan?" tanya Adam sambil memeriksa dahi Zahra apakah terasa panas atau tidak.


Zahra sedikit tersenyum melihat perhatian suaminya itu, iya memindahkan tangan suaminya yang menempel di dahinya.


"Aku tidak apa-apa.. aku baik-baik saja mas, bukan badanku yang tidak enak, tetapi hatiku yang sakit rasanya sakit sekali." ucap Zahra dengan tenang.


"Memangnya kamu kenapa sayang, kenapa bisa begitu, apakah ada yang membuatmu sedih?" tanya Adam khawatir.


"Entahlah mas... aku juga tidak tahu apa yang membuat hatiku merasa sedih seperti ini, rasanya seperti ada seseorang yang aku percaya menyakiti hatiku, rasanya seperti itu." ucap zahara kebingungan sambil memegang dadanya.


Adam langsung terdiam ketika mendengar ucapan Zahra, seolah-olah Zahra mengetahui perbuatannya, Adam berusaha agar di depan Zahra iya bersikap seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja sayang."


Zahra mengambil tangan Adam dan menaruh nya di dadanya. "Di sini mas.. di sini rasanya sakit sekali, seperti ada pisau yang menusuk menusuk."


Suaminya ini ingin membuatnya menjadi seorang ratu, kalau Zahra adalah ratu maka Adam adalah rajanya dan jihan adalah selirnya, sungguh kenikmatan raja itu adalah nyata.


"Jika aku adalah ratu, maka aku tidak akan membiarkan seorang raja berbahagia dengan seorang selir." ucap Zahra di dalam hatinya. Zahra bertekad akan membalas suaminya dan madunya dengan bermain cantik.


"Kamu benar mas.. mungkin saja hanya kecapean."


"Ya udah sayang kalau begitu mas mau mandi dulu, tolong siapkan air untuk mas mandi ya."


Zahra menarik nafas panjang dan hembuskan nya dengan perlahan mendengar permintaan dari suaminya ini.


"Aku capek mas.. kamu siapkan sendiri aja ya mas." baru kali ini Adam menerima penolakan dari Zahra, biasanya semarah-marah Zahra tidak pernah menolaknya, walaupun iya dalam keadaan capek atau sakit sekali pun.

__ADS_1


Adam melihat bingung ke arah Zahra, sakit apakah Zahra sehingga menyiapkan air mandi untuknya saja Zahra mengeluh capek, apakah istrinya secapek itu, pikir Adam.


"Kamu berakting dengan bagus mas, baiklah aku akan menemanimu berakting untuk kali ini, tetapi sebentar lagi kamu akan melihat kemarahan seorang Zahra." ucap Zahra didalam hatinya.


"Ya udah nggak papa sayang, mas mandi dulu." ucap Adam sambil mengusap rambut panjang Zahra.


Zahra hanya melihat langkah suaminya yang memasuki kamar mandi tanpa berniat untuk menawarkan bantuan.


"Kamu sudah besar mas, jadi sudah saatnya kamu hidup dengan mandiri, kalau tidak minta saja pada Jihan untuk menuruti segala keinginanmu itu." ucap Zahra lirih.


Zahra melangkah ke arah cermin yang ada dalam kamarnya, melihat penampilannya dari atas sampai ke bawah.


"Banyak orang yang memuji ku karena cantik, banyak orang yang memuji ku karena aku pintar, dan banyak orang juga memuji ku karena aku adalah anak Abah." ucap Zahra menilai dirinya sendiri.


"Banyak yang bilang bahwa kamu beruntung memiliki ku, dulu aku mendengar pujian itu bagaikan angin lalu, karena aku merasa bahwa aku tidak seistimewa itu, aku merasa aku yang beruntung memilikimu, tetapi saat ini aku menyadari semua pujian itu benar apa adanya.


Aku cantik, aku pintar dan juga aku dari keluarga yang baik-baik, tetapi kesalahannya ada pada dirimu, dirimu yang memiliki banyak kekurangan, sehingga kamu tidak bisa melihat kelebihan ku." ucap Zahra lirih memperhatikan penampilannya.


Tak berapa lama Adam sudah keluar dari dalam kamar mandi, iya melihat ke arah Zahra karena bingung biasanya istrinya akan menyiapkan baju untuknya.


"Sayang baju untukku di mana?" tanya Adam.


"Ada di dalam lemari mas." Adam kembali bingung mendengar jawaban istrinya, Adam langsung mengambil baju tidur untuk dikenakannya.


Setelah memakaikan baju, Adam melihat ke arah istrinya yang sedang berbaring di atas ranjang, saat ini Zahra benar-benar aneh semua keperluan Adam iya tidak menyiapkan nya, bahkan Zahra tidak menanyakan apakah Adam sudah makan atau belum seperti biasanya.


"Sayang..mas lapar." ucap Adam namun Zahra mengabaikan suaminya.


"Sayang.. mas lapar, mas belum makan." ujar Adam lagi sambil memegang perutnya yang terasa perih, Iya sengaja tidak makan di rumah Jihan karena tidak ingin Zahra curiga.

__ADS_1


"Sayang.,.." panggil adam lagi.


"Bukankah kamu sudah makan di rumah istri kedua mu itu." ucap Zahra tanpa membalikkan badannya.


__ADS_2