
tok.. tok.. tok ..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Nak.. Zahra, apakah kamu sudah tidur?" ternyata umi yang mengetuk pintu kamarku.
"Belum Umi... Zahra belum tidur". sahut ku dari dalam melangkah kaki kearah pintu dan membukanya.
"Ada apa mi... Apa ada yang bisa Zahra bantu?" tanyaku.
Umi menggerakkan kepalanya menoleh pandangannya kedalam kamarku, melihat Aisyah yang sudah tidur di atas ranjang.
"Apa Aisyah sudah tidur?" tanya Umi.
"Iya Umi.. Aisyah baru saja tertidur."
"Syukurlah kalau begitu, umi kasihan melihat Aisyah yang menangis seperti tadi."
Mas Adam dan mertuaku baru saja pulang setelah banyak hal yang di bahas, aku bersikeras tidak ingin dimadu dan menyuruh mas Adam untuk memilih antara aku dan Aisyah atau wanita tersebut.
Alhamdulillah suamiku ternyata masih waras, dia memilihku dan anaknya, dan itu menimbulkan kemarahan dari mama, karena menurutnya aku bukanlah istri yang penurut perintah suami.
seluruh keluargaku tentu saja melarang poligami yang ingin dilakukan mas Adam, bukan membenci hukum syariat Islam. tetapi mereka tidak ingin batinku tersiksa dengan berbagai suami.
"Aisyah memang sangat dekat dengan mas Adam mi."
Aisyah tidak tau kalau mas Adam sudah pulang Tampa berpamitan dengannya, karena sebelum mas Adam pulang Aisyah sudah tertidur didalam kamar mbak Salwa bersama Nurul.
Ketika aku memindahkan Aisyah kedalam kamarku, Aisyah terjaga dan menanyakan keberadaan ayahnya yang tak ada lagi dirumah Abah dan Umi.
"Zahra umi ingin bicara denganmu, apa kamu sudah mengantuk nak?"
"Belum mi, memangnya umi mau ingin berbicara apa."
__ADS_1
"Tidak disini nak.. kita berbicara di mushola saja, karena sudah malam takut mengganggu yang lain." ucap umi lembut.
Aku dan Umi melangkahkan kaki menuju ke mushola, tebakanku pasti Umi ingin memastikan bagaimana keadaanku sekarang.
Aku duduk di hadapan umi berhadapan dengannya, menatap wajah tuanya sambil tersenyum, umi membalas senyuman ku dengan senyuman manis, senyuman tulus seorang ibu.
"Apa kamu baik-baik saja nak?" tanya Umi padaku.
"Alhamdulillah Zahra baik-baik saja umi."
"Menangis lah nak, jangan kamu sembunyikan air matamu di hadapan umi." Aku tersenyum mendengar jawaban umi.
"Tidak Umi... Zahra tidak ingin menangis umi, Zahra adalah cerminan dari Abah, insya allah Zahra kuat menghadapi masalah ini, semua masalah telah terselesaikan dengan baik, mas Adam telah memilih Zahra dan Aisyah, seharusnya Zahrah tersenyum bahagia bukan menangis umi."
"Kamu memang kuat nak, kamu adalah wanita yang hebat. Umi sangat bangga kepadamu, kamu adalah permata umi yang sholihah, teruslah menjadi wanita kuat nak, Umi hanya bisa mendoakan mu." ucap Umi
"Doa Umi dan Abah adalah hal yang paling berharga untuk Zahra, itu sudah lebih dari cukup."
"Iya Umi insya allah, Zahra akan mengingat nasehat Umi." ucap ku
Aku memeluk tubuh umi, aku berharap rumah tanggaku dengan mas Adam tidak akan terpengaruh sesudah kejadian ini tetap harmonis seperti dulu.
"Kuat bukanlah tidak menangis nak, menangis lah ketika kamu membutuhkan itu. gunakanlah kecerdasan mu dalam menghadapi masalah, jangan sampai emosi mu mengalahkan akal sehat mu." ucap Umi yang masih memelukku.
kata-kata umi bagaikan nutrisi tambahan bagiku, semangat untukku membuka lembaran baru. melupakan kejadian yang baru-baru ini terjadi dan melanjutkan kisah ku dengan mas Adam.
.....
"Mama tidak menyangka ternyata Zahra istri yang seperti itu, istri yang membangkang dan tidak menuruti keinginan suami" ucap bu Ratna ibu mertuanya Zahra.
Sepulang dari rumah Abah dan Uminya Zahra, kedua orang tua Adam tidak langsung pulang ke rumah. karena sudah larut malam mereka memutuskan akan menginap di rumah Adam dan Zahra.
Sekarang mereka berada di ruang tamu. melepaskan penat karena perjalanan yang lumayan jauh.
__ADS_1
"Papa tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu mah, bisa-bisanya kamu mendukung Adam menikah lagi dengan perempuan itu, wajar saja Zahra tidak mengijinkan Adam menikah lagi, istri mana yang mau di poligami." tutur pak Yusuf terlihat kecewa dengan istrinya.
" Dalam agama memiliki istri lebih dari satu itu adalah sunah hukumnya, bukannya mereka keluarga yang dalam ilmu agamanya, keluarga mereka adalah keluarga ustad, tetapi mereka menentang ajaran syariat islam" ucap bu Ratna tidak ingin mengalah.
"Jangan bangga dengan istri yang banyak itu bukan prestasi. Memangnya Mama mengizinkan Papa jika papa menikah lagi, apa mama ikhlas.. apa mama rela?" tanya pak Yusuf.
"Itu beda masalahnya pah, ini masalahnya Adam sudah menerima amanah dari ayahnya Jihan, kalau papa kan nggak mungkin menikah lagi, sedangkan umur papa saja sudah tua begini." ucap mama jengkel mendengar suaminya membela menantu dan besan nya.
"Kita tidak tahu bagaimana nasib kedepannya mah, mungkin saja papa menikah lagi."
"Jadi papa ada keinginan untuk menikah lagi." tanya Bu Ratna dengan suara yang tegas karena memanas mendengar ucapan suaminya.
"Sudahlah mah.. pah, jangan berdebat lagi. lebih baik kalian istirahat, sekarang sudah larut malam, Adam capek mau tidur" ucap Adam melangkahkan kakinya meninggalkan orang tuanya yang masih berdebat.
Setelah membersihkan tumbuhnya, Adam merebahkan tubuhnya di atas kasur. tetapi perasaan tidak nyaman menghampirinya, tubuh dan wajahnya benar-benar sakit akibat pukulan dari Faisal tadi.
Adam membuka hp nya, ada beberapa pesan di WhatsApp nya, yang dikirim atas nama Jihan.
"[assalamualaikum mas.. bagaimana, apakah mbak Zahra dan keluarganya memberikan izin untuk mas menikahi Jihan?]" tanyanya di dalam pesan tersebut yang sudah 30 menit lalu terkirim.
"[Waalaikumsalam dek.. mas minta maaf, Zahra dan keluarganya tidak memberi mas izin untuk menikahi mu,]" tidak perlu menunggu waktu lama pesan itu sudah dibaca.
"[Tidak apa-apa ma... aku mengerti, tidak mudah seorang istri memberi izin kepada suaminya untuk menikah lagi. mas lupakan saja amanah yang papa sampaikan kepada mas]" balas Jihan.
"[Tidak bisa seperti itu dek, seorang laki-laki yang dipegang adalah janjinya, mas akan sangat malu sekali kepadamu dan almarhum papamu, jika mas melanggar janji mas, lagipula namamu sudah di dalam hati mas.]"
balas Adam lagi.
"[Maaf mas.. kalau istrimu tidak mengizinkan kita menikah, Jihan tidak akan menikah dengan mas, Jihan tidak ingin merusak kedamaian rumah tangga mas.]"
Adam menghembuskan nafas panjang melihat whatsapp Jihan yang tidak lagi aktif. Adam menoleh ke arah samping tempat dimana istrinya biasa tidur, menjulurkan tangannya dan mengelus nya dengan lembut.
"Sayang maafkanlah mas.. sungguh mas tidak ingin ada di dalam posisi ini, mas sangat mencintaimu, mas tidak bisa hidup tanpamu. tetapi di dalam hati mas juga sudah ada nama Jihan, maafkan mas yang egois ini." ucap adam lirih
__ADS_1