Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Faiz Mencintai Zahra


__ADS_3

"Ada apa nak?, kamu mengumpulkan kami semua di sini, apa ada masalah, atau ada sesuatu yang ingin dibicarakan, apakah itu penting?" tanya Umi kepada Faisal.


Sehabis melakukan sholat maghrib, Faisal meminta keluarganya untuk berkumpul di ruang tamu, semua terdiam menanti apa yang akan diucapkan oleh Faisal.


"Iya Umi, ada sesuatu yang ingin Faisal katakan, dan itu menyangkut dengan Zahra." ucap Faisal dan terdiam sejenak.


"Kenapa dengan Zahra mas?, apakah Zahra melakukan kesalahan tanpa sepengetahuan Zahra?, tetapi seingat Zahra, Zahra tidak melakukan kesalahan apapun." ucap Zahra dengan wajah yang khawatir.


Jarang sekali Faisal mengumpulkan keluarganya untuk membahas tentang Zahra, Zahra sedikit takut ketika mendengar kakaknya ingin membahas tentang dirinya, Zahra berpikir apa iya melakukan kesalahan tanpa diketahui, sehingga kakaknya membahas di depan keluarganya.


"Diam dulu nak... dengarkan dulu mas mu menyelesaikan ucapannya." ucap Abah membuat Zahra langsung terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Bukan masalah itu yang akan mas bahas, kamu tidak memiliki kesalahan Zahra, tapi mas ingin membahas tentang kehidupanmu selanjutnya." ucap Faisal terdiam sejenak, menarik nafas panjang dan melanjutkan kata-katanya kembali.


"Raihan menyatakan bahwa ia ingin melamar dan menjadikanmu istrinya, Zahra, bagaimana menurut yang lainnya tentang niat baik Raihan?" tanya Faisal melihat satu persatu wajah keluarganya.


Umi langsung mengalihkan tatapannya ke arah Zahra. yang menunduk dengan kedua tangan tergenggam di atas pahanya, Umi merasa bahwa Zahra belum siap dengan kehidupan rumah tangga setelah apa yang dilaluinya, namun Umi juga ingin yang terbaik untuk Zahra.


"Maaf mas, Zahra menolak, untuk saat ini Zahra ingin memfokuskan hidup Zahra dulu menjadi lebih baik, biarlah Zahra seperti ini dulu dan melanjutkan bakti Zahra kepada Umi dan Abah."


"Tapi Zahra, Raihan adalah laki-laki yang baik, sangat sulit mencari laki-laki seperti Raihan, apa kurangnya Raihan sehingga kamu langsung menolaknya seperti ini, Raihan mencintaimu dengan tulus tidak seperti Adam, laki-laki yang membagikan cintanya kepada wanita lain." ucap Faisal dengan nada yang tegas.


"Mas perhatikan kata-katamu, jangan sampai kamu menyakiti hati orang lain, apalagi hati Zahra." ucap Salwa dengan lirih iya duduk di samping Faisal sehingga orang lain tidak dapat mendengar perkataan dari Salwa.

__ADS_1


"Mas berhentilah menyebut nama mas Adam ataupun menjelek-jelekkan mas Adam seperti ini, biarlah masalah yang sudah kita hadapi dulu itu berlalu, jangan lagi diungkit sampai sekarang, dan soal jodoh... Zahra harap mas jangan memaksa Zahra, biarlah ini berjalan pelan dengan hati yang ikhlas, jika allah berkehendak maka Zahra juga akan menikah, karena ini bukanlah hal yang mudah untuk Zahra."


"Tapi dek, mas hanya ingin yang terbaik untukmu, mas tidak ingin orang lain menyakitimu lagi, dan menurut mas Raihan adalah pilihan yang terbaik."


"Zahra tidak ingin berdebat dengan mas, jika tidak ada lagi yang ingin dibahas, Zahra permisi dulu."


Zahra langsung bangun dari duduknya meninggalkan keluarganya yang masih menatap kearah kepergiannya, Zahra berharap keluarganya dapat memahami bagaimana perasaannya saat ini, bukan hal yang mudah keluar dari rasa sakit akibat penghianatan orang yang dipercaya.


"Faisal... Abah tahu maksudmu baik nak, Abah tahu bahwa kamu juga begitu menyayangi adikmu Zahra, tapi biarlah semua ini berlalu dengan perlahan seperti dikatakan Zahra, untuk saat ini."


"Faisal hanya ingin yang terbaik untuk zahra Abah Umi."


Salwa yang duduk di samping Faisal hanya bisa menghela nafasnya pasrah sambil mengusap bahu suaminya, sebagai seorang wanita iya dapat memahami apa yang dirasakan oleh Zahra, namun iya juga tidak dapat melarang niat baik dari seseorang yang ingin meminang Zahra, namun semua itu kembali lagi kepada Zahra.


"Mas... kenapa kamu melamun?" tanya Salwa menghampiri suaminya, yang sedang duduk di atas ranjang sambil menyandarkan punggungnya dengan tatapan kosong.


"Apa yang kamu pikirkan mas?"


"Mas hanya ingin yang terbaik untuk Zahra sayang, mas tidak ingin Zahra salah memilih lagi, Raihan adalah laki-laki yang baik, dia dapat menerima kekurangan dan kelebihan Zahra."


"Yang baik menurutmu bisa jadi tidak baik menurut orang lain mas, kamu tidak bisa memaksa Zahra untuk menerima pinangan dari pak Raihan, sekarang Zahra adalah seorang janda, biarlah iya memilih jalan sendiri dalam hidupnya."


"Tapi sayang... Raihan adalah temanku, jadi aku sangat merestui hubungan mereka berdua, aku akan selalu membujuk Zahra agar iya mau menerima Raihan dalam hidupnya, pasti Raihan akan membahagiakan Zahra." ucap Faisal dengan yakin.

__ADS_1


"Jika pak Raihan adalah teman mas, lalu bagaimana dengan bang Faiz, bang Faiz adalah teman mas juga, bahkan bang Faiz lebih dari teman bagi mas daripada pak Raihan. Apakah mas akan membujuk Zahra untuk menikah dengan bang Faiz juga?, seperti mas membujuk Zahra menerima pak Raihan?" tanya Salwa dengan wajah yang serius membuat Faisal tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka sekarang.


"Tentu saja mas tidak akan menjodohkan Faiz dengan Zahra, karena Faiz tidak mencintai Zahra, beda dengan Raihan karena Raihan mencintai Zahra."


Salwa menutup matanya sebentar, mengingat betapa malangnya nasib cinta Faiz, cinta yang sangat besar disimpannya untuk Zahra, namun harus ditelan begitu saja, lantaran Zahra tidak mengetahui betapa Faiz mencintainya, sehingga Zahra memiliki Adam.


Salwa juga merasa bingung, kenapa Faiz tidak mengungkapkan perasaannya secara langsung waktu itu, entah apa alasan Faiz, namun Salwa mengetahui bahwa Faiz menyembunyikan wajah sendunya ketika akad nikah Zahra dan Adam terlaksana kan waktu itu.


"Mas bilang bang Faiz adalah sahabat mas, bang Faiz yang paling mengetahui tentang mas selain Umi dan Abah, dan mas yang paling mengetahui bang Faiz, tapi nyatanya mas tidak mengetahui apa-apa tentang bang Faiz."


"Apa maksudmu berbicara seperti itu sayang?, mas sungguh tidak mengerti, katakanlah dengan jelas biar mas langsung paham." tanya Faisal dengan wajah yang bingung.


Sungguh ia tidak paham maksud istrinya, walaupun Faisal berfikir maksud dari Salwa bahwa Faiz mencintai Zahra, namun Faisal harus memastikan secara langsung kebenarannya.


"Iya mas, betul seperti yang kamu pikirkan, bahwa bang Faiz mencintai Zahra."


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sayang.. itu tidak mungkin, Faiz tidak mungkin dicintai Zahra, mas sudah menanyakan langsung kepada Faiz sebelum Zahra menikah, Faiz mengatakan iya tidak mencintai Zahra, Faiz relakan Zahra mengejar kebahagiaannya sendiri dengan menikah dengan Adam waktu." ucap Faisal.


"Bagaimana kalau saat itu bang Faiz berbohong kepada mas?"


"Apa untungnya dia berbohong kepada mas kalau dia tidak mencintai Zahra, jika Faiz mengatakan cintanya kepada Zahra saat itu, sudah pasti tidak akan terjadi pernikahan antara Zahra dan Adam."


"Entahlah mas... soal itu Salwa tidak tahu, apa yang menjadi alasan bang Faiz berbohong, namun Salwa yakin bahwa bang Faiz begitu mencintai Zahra."

__ADS_1


__ADS_2