Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Bingung


__ADS_3

Zahra sedang duduk menemani tamunya di teras depan, Raihan hari ini berkunjung ke rumahnya, karena ingin bertemu dengan Faisal tentunya sekalian melihat Zahra, wanita yang telah terbayang-bayang di dalam pikirannya, namun Faisal sedang tidak berada di rumah, karena mengisi tausiah di luar kota.


Namun pandangan keduanya teralihkan ketiga sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Zahra, tentu saja Zahra mengenal mobil itu, karena mobil itu adalah milik Faiz, lelaki yang memiliki hubungan cukup dekat dengan keluarganya, bahkan Abah dan Umi menganggap Faiz seperti anak mereka sendiri.


''Zahra saya pamit pulang dulu, sebentar lagi ada pertemuan dengan klien saya, lagipula tidak baik bertamu saat tidak ada orang yang menemani kita berdua, takut timbul fitnah.'' ucap Raihan sambil melihat ke arah jam tangannya.


''Pak Raihan yakin untuk pulang sekarang, bapak tidak ingin menunggu kepulangan mas Faisal terlebih dahulu?, sebentar lagi mas Faisal akan pulang.'' tanya Zahra kepada Raihan, Zahra berpikir tujuan Raihan kesini ingin bertemu dengan Faisal.


''Sudah berapa kali saya bilang Zahra, jangan memanggil saya pak, apa saya terlihat sudah sangat tua?'' tanya Raihan kepada Zahra sambil mengangkat tubuhnya dari tempat duduk karena ingin langsung beranjak dari sana.


Zahra tersenyum mendengar pernyataan dari pengacara yang telah membantu proses perceraiannya dengan Adam, sudah sering Raihan larang Zahra untuk memanggilnya dengan sebutan bapak, namun Zahra merasa sungkan terhadap Raihan sehingga sebutan bapak selalu melekat pada panggilan Raihan.


''Sepertinya saya tidak akan bisa memanggil pak Raihan dengan sebutan nama saja.''


''Kalau begitu panggil saya mas, mas Raihan. itu lebih enak didengar daripada pak Raihan, lagipula umurku satu tahun lebih muda dari Faisal, jadi panggil aku mas Raihan.. oke.'' ucap Raihan sambil mengedipkan setelah matanya ke arah Zahra, membuat Zahra tersenyum melihat tingkah dari Raihan yang dianggap candaan itu.


Tampa mereka sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan canda tawa antara Reihan dan juga Zahra yang terlihat begitu bahagia, Faiz menahan rasa garam dan cemburu di dalam hatinya, siapa saja yang melihatnya Zahra dan Raihan akan bertanya ada hubungan apa antara pengacara dan janda cantik itu.


''Bang dilihatin mulu, pasti panas ya... makanya kali ini Abang harus cepat-cepat nyatakan perasaan Abang, biar mbak Zahra bisa menjadi kakak ipar nya Asma... jangan mengalah mulu... cinta itu butuh perjuangan bang.'' ucap wanita mudah yang tak lain adalah adik kandung dari Faiz, ucapan Asma berhasil menambah amarah Faiz bertambah ketika mendengar kata-katanya.

__ADS_1


''Tau apa kamu soal cinta, anak kecil... kuliah yang benar dulu, malah sok-sokan bicara soal cinta sama Abang.'' balas Faiz sewot.


''Yeee.. dibilangin juga, ngeyel. gini-gini Asma tau soal perasaan dan cinta.. orang lain udah pada punya banyak anak di umur Abang, lah Abang gak nikah-nikah. ditinggal nikah kulepas dengan ikhlas... gantinya kamu ikhlas membawa berkah, hahaha. ''


Asma tertawa sendiri mendengar lagu yang dinyanyikannya sangat pas dengan kondisi yang dialami Faiz, membuat Faiz memutarkan bola matanya dengan malas, bukan rahasia lagi di dalam keluarganya, bahwa nama Zahra sudah dari dulu tersimpan didalam hati faiz.


''Ayo bang kita turun samperin mbak Zahra daripada nanti duluan di senggol oleh orang lain, Abang dan Asma juga yang rugi, karna tidak dapat mempersunting mbak Zahra sebagai istri Abang untuk dijadikan kakak iparnya Asma . ''


Lalu keduanya menghampiri Zahra berjalan melewati Raihan yang menuju mobilnya, pandangan faiz terus saja memandang ke arah Raihan, iya menilai Raihan dari penampilannya, Asma yang mengetahui bahwa abangnya tersebut sedang memperhatikan lelaki yang sudah berlalu dari hadapan mereka langsung menyenggol tangan Faiz.


''Bang walaupun Abang tidak suka sama mas-mas itu, tapi jangan juga ditunjukkan di depan kayak gitu, malu bang... lihatnya biasa aja kali.'' bisik Asma sambil tersenyum mengejek membuat Faiz langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Hubungan Asma dan juga Zahra layaknya hubungan adik dan kakak, dulu sebelum Zahra menikah dengan Adam, Asma sering main main ke rumahnya, tidak hanya menjadi teman bermain, namun Asma juga menjadi teman curhat Zahra.


''Waalaikumsalam..... Masya Allah dek, mbak juga kangen banget sama kamu, Alhamdulillah kabar mbak baik, kamu sendiri dari mana kabarnya. bagaimana kuliahmu apakah berjalan dengan lancar?'' tanya Zahra sambil melepaskan pelukannya dari Asma dan mengelus pipi Asma dengan lembut.


''Asma juga baik-baik saja mbak, Alhamdulillah Asma sudah menyelesaikan studi Asma, makannya Asma bisa langsung pulang ke indonesia, Asma sedikit menyesal mbak, andai saja Asma tidak mengambil beasiswa di kairo, pasti Asma bisa selalu menemani mbak dalam suka dukanya mbak, menjadi teman curhat mbak Zahra seperti dulu, maafkan Asma ya mbak, karena Asma tidak ada disamping mbak disaat mbak terpuruk." ucap Asma dengan wajah sendu.


Asma begitu sedih ketika baru pulang iya langsung mendengar kabar yang menimpa Zahra, bahkan iyah begitu ingin melihat Aisyah, bayi yang dulu begitu menggemaskan, Asma begitu menyayangi Zahra seperti saudara kandungnya sendiri.

__ADS_1


''Tidak apa-apa dek, semua itu adalah takdirnya mbak, Alhamdulillah mbak sekarang sudah bisa mengikhlaskan semua kenangan pahit itu, itu sudah terjadi hampir satu tahun, dan mbak sekarang baik-baik saja, mbak sangat senang mendengar bahwa kamu sudah menyelesaikan kuliahmu, semoga kedepannya apa yang kamu inginkan Allah mudahkan. ''


''Amin, semoga saja mbak, oh ya mbak laki-laki tadi siapa ya Mbak?, sepertinya dia suka sama mbak Zahra?" tanya Asma dengan wajah serius kepada Zahra, membuat Faiz juga menanti jawaban yang akan keluar dari dalam mulutnya Zahra.


''Apa-apaan sih dek, itu adalah pengacara yang membantu mbak dalam proses perceraian dengan mantan suami mbak, dan juga temannya mas Faisal." jawab Zahra membuat Asma dan juga Faiz merasa lega.


''Umi dan Abah di mana mbak, Asma juga merindukan mereka?'' tanya Asma.


''Kamu hanya merindukan Umi Abah dan juga mbak Zahra saja dek, kamu tidak merindukan mbak Salwa mu ini?''. tanya Salwa yang baru saja keluar dengan wajah cemberut.


Asma langsung menghampiri Salwa dan memeluknya dengan erat juga, ''Sudah pastilah mbak... Asma juga sangat merindukan mbak Salwa, sampai-sampai Asma tidak nyenyak tidur di sana, karena merindukan mbak Salwa." ucap Asma dengan polosnya sehingga mendapatkan cubitan di pinggangnya dari Salwa.


''Auuu... mbak, jangan dicubit doang.. sakit, nanti Asma tambak kurus, kalau Asma tambah kurus siapa yang mau menikahi Asma nantinya.''


''Kamu ini ada ada saja dek, masih aja sifatnya kayak dulu, yaudah kita masuk dulu kita duduk di dalam saja, sebentar lagi Abah dan Umi akan pulang.'' ajak Salwa dengan merangkul Asma.


"Jagalah pandanganmu dari laki-laki yang bukan mahram mu,." ucap Faiz tanpa melihat ke arah Zahra, lalu melangkah masuk ke dalam mengikuti Salwa dan juga sama, meninggalkan Zahra dengan wajah yang bingung ketika mendengar kata-kata dari Faiz.


"Apa maksud bang Faiz berkata seperti itu?" tanya Zahra pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2