Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Terpuruk


__ADS_3

Sudah satu minggu Adam tidak masuk kerja, setelah pulang dari rumah Umi dengan penuh luka diwajahnya, karena pukulan yang diberikan oleh kakak iparnya sendiri, Adam mengunci dirinya di kamar tamu di rumah Jihan.


Adam tidak pulang ke rumah Zahra, karena Adam tahu bahwa rumahnya pasti kosong, dan itu akan mengganggu pikirannya dan bertambah stres, pikiran Adam terus melayang memikirkan semua yang terjadi bagaikan mimpi buruk baginya.


Dia kehilangan putrinya dalam satu kedipan mata Aisyah meninggalkannya dan tak akan pernah kembali, membayangkan itu Adam begitu terpukul, saat ini iya begitu terasa kehilangan putrinya, senyuman Aisyah, tawa Aisyah, dan tingkah lucu dari putrinya selalu terbayang di dalam ingatan nya.


Adam tersenyum kecil ketika melihat foto dia dan keluarga kecilnya duduk di kursi taman dengan Aisyah di pangkuannya sambil memegang balon berwarna kuning, Adam mencium foto itu dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.


Kini Adam begitu terasa kehilangan Aisyah, iya menyesal karena telah meninggalkan Aisyah disaat terakhir kalinya, iya tidak dapat mengucapkan kata-kata perpisahan, bahkan iya tidak tahu di mana makam Aisyah berada.


Andai waktu bisa diputar, Adam akan mengulang semuanya, iya kan menemani Aisyah di setiap saat, tak akan sedikit pun Adam meninggalkannya, dia akan terus berada di sampingnya sambil menggenggam tangan kecil putrinya itu.


"Maafkan ayah sayang, ayah jahat nak... ayah begitu jahat, ayah meninggalkanmu disaat kamu membutuhkan ayah, maafkan ayah sayang." ucap Adam dalam keheningan.


"Tok.. tok.. tok... " terdengar suara pintu kamar yang di ketok dari luar.


Adam melihat ke arah pintu tersebut, iya tahu di luar pasti Jihan yang mengantuk pintu itu, tetapi Adam begitu malas untuk membuka pintu, dan melihat istri keduanya itu.


"Mas... buka pintunya, aku tahu kamu pasti belum tidur." ucap Jihan sambil terus mengetuk pintu lebih kencang.


"Mas... buka pintunya..."


Jihan tidak menyerah, iya terus saja mengetuk pintu, agar suaminya mau membukakan pintu kamar, Jihan tidak habis pikir dengan kelakuan Adam, yang sudah satu minggu mengurung dirinya di dalam kamar, tanpa mau bertemu dengan siapapun termasuk dengan Jihan.


Bahkan Adam tidak mau makan, tetapi Jihan akan selalu mengantarkan makanan kepada Adam, iya tidak habis pikir sampai segitunya Adam berduka, membuat Jihan sakit kepala melihat sikap Adam seperti ini.

__ADS_1


"Mas cepat buka pintunya." perintah Jihan lagi dengan suara yang keras dan sedikit membentak.


Hingga perlahan pintu itu terbuka, menampakan wajah pucat Adam, bahkan bulu-bulu halus di sekitar rahang Adam mulai tumbuh dengan panjang, Adam menatap kearah Jihan dengan pandangan yang begitu sulit diartikan.


Tampa berkata apapun Jihan langsung masuk ke dalam dengan makanan yang dibawanya, Jihan langsung menyalakan lampu kamar tersebut sehingga kamar menjadi terang, karena Adam hanya menyalakan lampu tidur saja untuk menyinari malamnya pada malam ini.


"Ini sudah hampir satu minggu mas, apakah kamu mau begini terus berduka dan mengurung diri mu di dalam sini terus." ucap Jihan memandang ke arah Adam yang dibalas tatapan kosong dari Adam.


Jihan menarik nafasnya dengan kesal, iya begitu kesal dengan suaminya yang bagaikan mayat hidup, tatapan kosong dengan wajah pucat sama sekali tidak memiliki energi, seolah jiwa yang ada di tubuh itu bukanlah jiwa Adam.


"Aku capek melihat kamu seperti ini terus mas, pokoknya aku tidak mau tahu, besok kamu harus berkerja kembali, biarlah yang lalu menjadi pelajaran untukmu dan juga untukku, semoga kedepannya kita akan lebih baik lagi. "


"Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan." ucap Adam dengan lemah.


"Tidak mengerti bagaimana sih mas, kamu yang tidak mengerti apa yang aku rasakan, jika ini mengenai kepergian Aisyah, aku juga merasakannya mas... malahan lebih dari apa yang kamu rasakan.


dan jika sikapmu begini karena perkataan mbak Zahra, aku juga merasakan sakit mas... bahkan orang-orang hanya melihat itu kesalahanku bukan kesalahanmu. "


Adam hanya diam saja duduk di atas kasur, iya begitu malas melihat Jihan ataupun berdebat dengan Jihan, untuk saat ini Adam hanya membutuhkan ketenangan tidak ingin diganggu.


"Makanlah mas, kamu tidak bisa begini terus mas, kamu harus bangkit dari keterpurukan yang terjadi di dalam hidupmu, lupakanlah untuk sesaat masalah yang telah kita hadapi ini."


Jihan melangkah ke depan Adam yang sedang duduk di ranjang, iya berdiri dan langsung menarik Adam ke dalam pelukannya, Jihan mengusap rambut Adam yang mulai memanjang dan juga punggung Adam, memberikan ketenangan sesaat untuk Adam.


"Maafkan aku mas, aku tahu semua ini berat, tapi kumohon lupakanlah... jangan terpuruk seperti ini aku tidak mau kamu seperti ini mas, aku juga membutuhkanmu untuk menguatkan ku." ucap Jihan.

__ADS_1


Adam membalas pelukan Jihan, iya melingkarkan tangannya di pinggang Jihan, membenamkan wajahnya di perut Jihan sambil memejamkan matanya, menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya itu.


"Mas juga minta maaf." ucap Adam dengan lirih.


Jihan melepaskan pelukannya pada suaminya itu, iya memegang kedua pipi suaminya dengan kedua tangannya sambil mengusap dengan lembut, bulu-bulu halus di pipi Adam begitu terasa di tangan Jihan.


Keduanya tersenyum manis sambil bertatap dengan mesra, Jihan mencium dahi Adam begitu lama, iya berharap ini terakhir kalinya Adam terpuruk seperti ini, dan melupakan segenap masalah yang menimpa keduanya.


"Mas... besok cukur janggut mu ini, karena ini sangat jelek dan mengganggu sekali." ujar Jihan menggoda Adam sambil mengedipkan sebelah matanya, sehingga membuat Adam tersenyum mendengar perkataan istrinya.


"Mas tidak ingin mencukur nya, karena ini akan membuat mas menjadi lebih ganteng." Jihan tertawa mendengar kepedean suaminya itu, dengan gemas Iya mencabut pipi Adam.


"Ganteng dari mana sih mas kalau begini, hampir mirip seperti orang tua aja."


Jihan melangkahkan kakinya menghampiri makanan yang tadi iya bawa, mengambilnya dan membawa ke hadapan Adam, iya menaruhnya di atas ranjang sambil menatap kearah suaminya dengan senyuman yang tak pernah luntur di wajahnya.


"Makan dulu mas... dari tadi kamu tidak makan."


Adam melihat ke arah Jihan yang ingin menyuappinnya, hatinya mehangat ketika mendapat perlakuan baik dari istrinya, dengan tersenyum Adam membuka mulutnya menerima suapan dari Jihan.


"Anak baik,. ternyata kali ini makannya habis." ucap Jihan ketika menyuapkan satu sendok makanan terakhir untuk Adam.


Adam melihat Jihan yang sedang bersiap-siap membereskan tempat makan yang baru saja iya santap, Adam langsung memanggang tangan Jihan ketika Jihan ingin melangkah keluar dari kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Adam.

__ADS_1


"Jihan Keluar mas... mas tidurlah yang nyenyak besok kan harus kerja." ucap Jihan tersenyum.


"Temani mas malam ini Ji."


__ADS_2