
"Mas besok Zahra ingin pulang ke rumah Abah dan Umi untuk beberapa hari." ucap Zahra kepada Adam.
Adam menutup laptopnya melihat ke arah Zahra yang berdiri di depannya, sambil melihat pemandangan taman belakang rumah mereka, yang dipenuhi dengan bunga-bunga.
"Memangnya ada acara apa sayang?" tanya Adam.
Kata-kata sayang sudah lama tidak didengar oleh Zahra dari mulut suaminya itu, semenjak terjadinya perdebatan diantara mereka berdua, sedikit membuat hubungan damai keduanya menjadi renggang.
"Tidak ada acara apa-apa, hanya saja Zahra ingin menetap sebentar di sana." jawab Zahra.
"Apakah kamu menghindari mas, dengan cara meninggalkan mas di rumah sendirian."
" Jangan mulai mas, untuk saat ini Zahra mohon jangan mulai perdebatan diantara kita, Zahra ingin menenangkan pikiranku di sana."
Sebenarnya Adam juga tidak ingin terjadinya perdebata, tetapi entah kenapa selalu pembicaraan yang dimulai dengan baik, pasti diakhiri dengan perdebatan dan pertengkaran dibelakangnya.
" Zahra kemarin mama menelpon mas menyuruh mas untuk pulang ke rumah, ketika mas pulang mama langsung marah-marah, mama mengetahui pernikahan mas dengan Jihan, apa kamu yang mengatakan kepada mamah, kalau mas sudah menikahi Jihan?" tanya Adam.
Zahra tersenyum mendengar itu, memang benar apa yang ditanyakan Adam, iya yang sudah menceritakan semua permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga mereka kepada mama mertuanya.
Zahra sedikit terkejut ketika mengetahui mama mertuanya berada di pihaknya, Zahra sempat berfikir sebelumnya bahwa mama mertuanya akan memarahinya, dan membela Adam seperti sebelumnya.
" Iya mas... aku yang mengatakan tentang pernikahan mu dan juga Jihan kepada mama, aku juga telah datang ke rumah istri kedua mu, apa dia mengadu kepadamu?" tanya balik Zahra.
Zahra tersenyum puas di dalam hatinya, iya yakin pasti telah terjadi pertengkaran antara keduanya, dengan kehadirannya ke rumah Jihan.
Adam tentu saja menahan amarah kepada istrinya, gara-gara Zahra datang ke rumah Jihan, menyebabkan pertengkaran yang cukup besar antara iya dan Jihan, bahkan Jihan meminta cerai dari Adam.
kemarin Adam berusaha membujuk Jihan, Adam tidak tahu apa penyebab istri keduanya meminta cerai kepadanya, padahal hubungan mereka baik-baik saja setelah Adam pergi berangkat kerja waktu itu.
__ADS_1
Ternyata saat ini pertanyaan yang menjadi beban di dalam pikiran Adam terjawab sudah, yaitu karena Zahra menemui Jihan, Adam tidak tahu apa yang dikatakan Zahra kepada Jihan, sehingga Jihan meminta cerai.
Adam berusaha merayu dan membujuk Jihan, agar melupakan niatnya untuk bercerai darinya, dengan susah payah Jihan akhirnya luluh juga, ketika mendengar rayuan maut dari Adam.
"Untuk apa kamu ke rumah Jihan Zahra?, apa kamu ingin membuat hubungan mas dan Jihan menjadi berantakan?, dan untuk apa juga kamu memberitahu mama tentang pernikahan mas dan Jihan?" tanya Adam menahan rasa marahnya.
Adam benar-benar kewalahan menghadapi sikap Zahra yang sangat berubah ini, Zahra sekarang benar-benar di luar kendali Adam, jika dulu apa yang tidak disukai Adam, maka Zahra tidak akan pernah melakukannya walaupun sekali.
Tetapi untuk saat ini Adam tidak bisa mengendalikan Zahra lagi, Zahra melakukan semua keinginannya yang bertolak belakang dengan Adam, seolah-olah Adam sudah tidak mengenal lagi istrinya.
"Zahra hanya ingin berkunjung saja ke rumah madu Zahra, mas apa itu salah? dan kenapa Zahra memberitahu mama, ya karena mama adalah orang tuanya mas, jadi mama harus tahu bahwa ia sudah memiliki seorang menantu baru, bukankah mama sangat menyayangi Jihan?" tanya Zahra dengan nada polos nya.
Adam menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dan kelakuan Zahra sekarang, ingin marah tapi Adam tidak kuasa memarahi Zahra, Adam tidak sadar jika perubahan Zahra adalah ulah nya sendiri.
"Jadi bagaimana mas, apakah Zahra boleh tinggal di rumah Abah dan Umi hanya dalam waktu 1 minggu saja mas?" tanya Zahra lagi.
Adam memikirkan permintaan dari Zahra, bayangan permintaan Zahra berputar-putar di kepala Adam, jika Zahra pergi maka Iya bisa memiliki sedikit waktu untuk Jihan.
"Baiklah.. mas izinkan kamu menginap di rumah Abah dan Umi, tapi maaf mas tidak bisa menginap di sana karena pekerjaan."
" Tidak apa-apa, Zahra bisa menginap di sana sama Aisyah dan juga mbak Intan, mas di sini saja berkerja sambil mengurus Jihan."
Zahra langsung dapat membaca pikiran suaminya itu, tentu saja Adam akan langsung mengizinkannya untuk tinggal di rumah Umi, karena pasti Adam bisa menghabiskan waktu yang tertunda bersama Jihan.
Tidak seperti sebelumnya Adam sangat keberatan jika Zahra tinggal di rumah Abah dan Umi, karena Adam laksana seperti anak kecil, setiap kebutuhannya pasti harus disiapkan oleh Zahra dari hal yang kecil sekalipun.
" Zahra..." ucap Adam dengan suara yang tinggi.
"Apa mas, kenapa meninggikan suara di depan Zahra, bukankah apa yang Zahra bilang adalah kenyataan?" ucap Zahra dengan tenang.
__ADS_1
Zahra melangkahkan kakinya dan duduk di samping Adam, mengambil dan meminum jus yang dibikinnya sendiri.
"Zahra tahu apa yang mas pikirkan, itu tidak masalah bagi Zahra, maka lakukanlah sesuka hati mas, toh hati Zahra sudah mas hancurkan."
" Mas izinkan kamu untuk tinggal di rumah Abah dan Umi dalam waktu seminggu, tetapi mas harap kamu bisa sedikit menjaga marwah mas." ucap Adam berusaha berdamai.
" Kalau itu aku tidak janji mas, jujur saja aku tidak ingin menutupi tentang pernikahan mu itu."
" Kalau begitu mas tidak mengizinkan kamu keluar dari rumah." ucap Adam.
"Tidak bisa seperti itu dong mas, keputusan Zahra sudah bulat, besok Zahra akan pulang ke rumah Umi." balas Zahra tidak mau kalah.
" Pokoknya mas tidak akan mengizinkan, jika kamu tidak bisa menjaga sedikit saja harga diri mas, kalau sampai kamu keluar, maka." ucap Adam terdiam sejenak.
" Maka apa... mas terlalu memaksakan kehendak mas sendiri, apakah mas sadar.. kalau mas adalah orang yang sangat egois." ucap Zahra.
"Ini demi kebaikan kita semua Zahra."
"Kebaikan seperti apa mas?, ini bukan kebaikan bagi kita semua, tapi ini kebaikan bagi mas sendiri, aku capek mas, aku capek... jika harus begini terus, lebih baik mas ceraikan saja Zahra." ucap Zahra dengan tegas, iya benar-benar ingin menyerah.
"Tidak.. mas tidak akan pernah menceraikan mu Zahra.".
" Ayah... bunda.." teriak Aisyah riang memanggil Ayah dan bundanya.
Aisyah langsung berlari menghampiri keduanya, iya langsung menghamburkan tubuh kecilnya ke dalam pelukannya Adam.
"Bunda dan ayah lagi bicara apa sih?, sepertinya serius sekali?" tanya Aisyah.
"Tidak ada sayang.. bunda dan ayah hanya duduk-duduk saja." ucap Zahra.
__ADS_1
"Ada kok, Aisyah tadi ada mendengar sedikit perkataan bunda dan ayah tentang cerai, memangnya cerai itu apa?" tanya Aisyah dengan polosnya.
Seketika tubuh Zahra bergetar mendengar pertanyaan dari putri kecilnya itu, Zahra melihat ke arah mbak Intan yang baru saja datang menyusul Aisyah, Zahra tidak tahu jawaban apa yang harus iya berikan kepada Aisyah, di umur Aisyah yang terkecil ini.