
"Apa kamu baik-baik saja Zahra."
Degg...
Sungguh pertanyaan yang aku hindari dan aku takutkan, dan pertanyaan itu terucap langsung dari mulut Abah.
Ya Allah jawaban Apa yang harus aku berikan tentang pertanyaan Abah tersebut. Tak mungkin aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi Tentang perihal rumah tanggaku, Tentang permintaan mas Adam yang ingin menikah lagi.
Sangat sakit rasanya jika melihat wajah rentan Abah dan Umi menahan kekecewaan, tak sanggup hati ini jika itu sampai terjadi. Walaupun aku tau serapat apapun menyembunyikan bangkai, cepat atau lambat akan terbongkar juga.
Apalagi bangkai kecurangan mas Adam dengan perempuan lain. tak mungkin tidak terjadi sesuatu antara mas Adam dan perempuan itu, sampai-sampai mas Adam bersikeras ingin menikahi wanita itu.
"Zahraaa" panggil Umi membuatku sedikit terkejut.
"Ahhh iya. ada apa umi." Jawabku refleks.
Mendengarkan jawabanku Abah, Umi, dan kak Faisal saling bertatapan dengan bingung.
"Zahra apa yang terjadi padamu?" Tanya Umi menyentuh pundak ku.
"Apa maksud Umi bertanya seperti itu?, Zahra baik-baik saja Mi. Abah Umi dan kak Faisal tidak perlu mengkhawatirkan Zahra, tidak ada hal yang buruk yang terjadi"
Ujar ku tersenyum.
Aku perhatian wajah orang-orang yang aku sayang, tak tega hati ini melihat kekecewaan di wajah mereka.
Maafkan Zahra Abah, Umi, kak Faisal. Zahra tidak ingin membuat kalian terbebani dengan masalah Zahra. Biarlah semua ini berjalan dengan sendirinya seperti air yang mengalir dari hulu ke sungai.
"Kamu tidak bisa berbohong kepada kami nak, Abah dan Umi adalah orang yang paling tau tentangmu, bagaimana mana kamu disaat senang, bagaimana kamu disaat sedih. Abah dan Umi tau semuanya Zahra."
__ADS_1
Dengan suara yang berat Abah mengucapkan kata-kata itu, sedikit sesak rasanya mendengar kata-kata Abah, tetapi aku harus tetap tenang.
" Zahra tidak apa-apa Abah, Zahra baik-baik saja. Bagaimana caranya Zahra menjelaskan kepada kalian agar kalian percaya kalau Zahra saat ini baik-baik saja?" Ucapku Tak lupa dengan senyum tipis yang menghiasi dibibirku.
Dengan tenang aku merangkai kata-kata tersebut, tak kuperlihat kan sedikit pun keraguan, maafkan Zahra Abah maafkanlah putrimu ini, Sungguh Zahra kalian sekarang tidak baik-baik saja, Allah sedang menguji cinta Zahra yang lemah ini.
"Nak.. Kamu tidak bisa membohongi Abah walaupun senyum manis itu menghiasi bibirmu. Abah orang yang pertama menyambut mu ketika engkau dilahirkan, suara Abah yang pertama kali kau dengar, dengan tangan ini Abah menggendong dan menjagamu, apakah kamu fikir kamu dapat membohongi Abah nak?"
Mata Abah melihat kearah tangannya yang terangkat dan bergetar, tangan yang sudah keriput itu, tangan kasar yang penuh kelembutan.
Tak sanggup aku memandang tangan itu, segera aku bangun dari dudukku yang duduk di samping Umi mehampiri Abah dan bersimpuh dibawah kakinya.
Aku ambil tangan itu dan menciumnya dengan dalam, isak yang aku tahanan terdengar juga, aku menangis tersedu-sedu di atas telapak tangan Abah. tangan ini sudah renta tidak sekuat dulu lagi, tangan yang kasar tetapi menenangkan dan menghangatkan.
Masih teringat bagaimana tangan ini menyembuhkan ku disaat tubuhku terluka walaupun hanya luka yang kecil, tangan ini yang mengangkat tubuhku ketika aku menangis, tangan ini juga yang mengusap kepala ku ketika aku tidak tau arah jalan mana yang harus aku langkah.
Oh Abah maaf kan Zahra.. maaflah Zahra.. sungguh cinta Abah dan Umi yang membuat Zahra menjadi kuat, dan cinta kalian juga yang membuat Zahra menjadi lemah.
Walaupun Zahra bukan Fatimah Az-Zahra putri kesayangan Rasulullah yang terkenal dengan wanita yang kuat dan taat. Insyaallah Zahra akan berusaha menjadi wanita yang kuat karena Zahra adalah Fatimah Az-Zahra putri kesayangan Abah.
"hik...hik...hik.." Aku menangis tersedu-sedu tampa dapat aku tahanan.
Aku rasakan usapan di kepalaku sampai ke punggungku. Dalam tangis aku mengangkat kan kepala dan menatap orang yang telah mengusap kepalaku, ternyata itu adalah Umi ibundaku tercinta.
"Nak... orang tua adalah tempat pulang anak-anaknya ketika anaknya kehilangan arah jalan. Abah dan Umi akan selalu menyambut mu ketika kau tersesat. Jangan pernah berpikir bahwa kamu sendiri Zahra, ceritakan lah beban mu kepada Abah dan umi." Tutur Umi dengan lembut.
Aku lepaskan tangan Abah yang ada di dalam genggaman ku, lalu aku hempasan tubuh ini ke dalam pelukan Umi. padahal bukan ini yang ingin aku lakukan, padahal air mata ini yang selalu aku jaga, agar tidak menetes di depan orang-orang yang kucintai.
Ternyata pertahananku sangat sangatlah lemas, baru begini saja aku sudah menumpahkan banyak air mata di depan Abah dan Umi. Kamu wanita lemah Zahra.... kalau begini bagaimana bisa kamu hadapi badai yang siap menerjang rumah tanggamu.
__ADS_1
Aku melepaskan pelukanku dari Umi sambil menghapuskan air mataku dengan kedua tanganku, mulai dari sekarang tidak akan ada lagi air mata didepan kedua orang tuaku.
Setelah menghapus habis air mataku langsung aku perlihatkan senyumku kepada semua orang, senyum manis namun pahit terasa.
"Zahra tidak apa-apa.. Zahra baik-baik saja.. jadi Zahra mohon jangan mengkhawatirkan Zahra." ucapku.
" Kalau kamu baik-baik saja kenapa kamu menangis dek?" tanya kak Faisal yang dari tadi memperhatikan kami dalam diam.
"Apa tidak boleh kalau Zahra menangis tanpa
alasan kak, Zahra kan sangat menyayangi Abah dan Umi makanya Zahra menangis."
"Kamu masih sama saja seperti dulu dek... sudah juga punya anak tapi masih juga cengeng, malu dek sama Aisyah." ucap kak Faisal terkekeh menggodaku.
"Biarin kan Fatimah Az-Zahra kesayangan Abah dan Umi." ucapku jengkel kearah kak Faisal, mengulang kata-kata ketika waktu kecil dulu sering aku ucapkan.
" Dasar cengeng.." Tambah kak Faisal.
"Umi... Abah..." adu ku
"Sudah.. sudah.. jangan kamu goda lagi adik kamu Faisal, kalian ini sudah punya anak juga tetapi masih saja seperti anak kecil." tegur Umi.
" Kak Faisal duluan mi."
Beginilah tingkah aku dengan kak Faisal ketika Kami sudah berkumpul begini, aku dan kak Faisal tak ubahnya seperti kelakuan Nurul dan Aisyah ketika dihadapan Abah dan Umi.
"Ya sudah nak kalau kamu tidak ingin berbagi masalahmu kepada kami, kami hargai keputusanmu itu, kami berharap semoga kamu selalu didalam lindungan Allah."
"Amin... Zahra tidak apa-apa karena doa kalian semua yang melindungi Zahra dari hal buruk,"
__ADS_1
Aku sangat bersyukur dan beruntung karena Allah memberikan ku keluarga yang baik dan hangat seperti ini. Sungguh nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.
"