
Setelah kepergian Zahra keheningan yang menemani Jihan, iya terduduk memikirkan setiap perkataan dari Zahra, ada sedikit penyesalan yang iya rasakan karena telah merusak kebahagiaan Zahra dan juga Aisyah.
Jihan merenungkan segala perkataan Zahra, perkataan wanita yang telah iya sakiti hatinya, apakah kebahagiaan akan menghampiri pernikahannya dengan Adam, apakah ia akan bahagia di atas penderitaan wanita lain.
Sedikit sedih membayangkan itu, Jihan merindukan sesosok pria yang mencintainya, sesosok pria yang bisa menemani menjaganya, dan bisa dijadikan imam untuknya, Jihan melihat pria yang diimpikan olehnya ada pada diri Adam.
Iya mencintai Adam seorang lelaki yang sudah beristri, iya mencintai Adam tanpa syarat, iya menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh Adam.
Apakah cinta itu salah?, Jihan bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah ia tidak berhak bahagia?, apakah kebahagiaan itu tidak akan pernah menghampirinya?.
Jihan awalnya sangat optimis dengan cintanya dengan Adam, tetapi ketika mendengar perkataan Zahra, iya takut kebahagiaan itu tidak akan pernah menghampirinya.
Bik Salma datang menghampiri Jihan, iya mengusap lembut bahu majikan yang telah dianggapnya sebagai anak angkatnya sendiri, iya telah melihat dan mendengar apa yang terjadi diantara Zahra dan Jihan.
Bik Salma salah menyangka kedatangan Zahra ke rumah ini, iya berpikir Zahra adalah teman dari Jihan, tetapi nyatanya Zahra adalah istri sah dari suami majikannya itu.
Bik Salma tahu bagaimana perasaan Zahra, pasti sangat sakit sekali ketika mengetahui bahwa suami yang dicintai melabuhkan cintanya kepada wanita lain.
Tetapi di lain sisi bik Salma merasa iba, iya mengetahui bagaimana perjuangan Jihan yang tak dapat dikatakan bahagia.
"Apa aku tidak berhak bahagia, apa aku tidak berhak dicintai dan mencintai, kenapa semua orang rasanya begitu kejam, aku hanya ingin dicintai sedikit saja apakah tidak boleh bik?" tanya Jihan yang sudah tahu bahwa yang mengusap bahunya adalah bik Salma.
Bik Salma merasa sakit ketika mendengar pertanyaan Jihan yang menyayat hati, iya adalah saksi perjalanan perjuangan kehidupan Jihan yang tak pernah mulus itu, banyak cobaan yang berhasil Jihan lalui.
Perlahan bik Salma melangkahkan kakinya dan duduk di samping Jihan, iya bawa tubuh Jihan ke dalam dekapan pelukannya itu, Jihan merebah kan kepalanya di bahu bik Salma, iya menangis tersedu-sedu membayangkan perjalanan hidupnya yang tak pernah mendapatkan cinta.
"Aku ingin dicintai bik, aku ingin merasa ada yang melindungi ku dan juga aku ingin merasa bahagia, tetapi mengapa kebahagiaan itu terasa enggan menghampiriku, apa salahku.. kenapa hidupku seperti ini bik?" tanya Jihan didalam pelukan bik Salma.
__ADS_1
"Istighfar neng... istighfar, setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing, ada rintangan masing-masing, yang neng lihat mungkin tidak seperti yang sebenarnya terjadi, tidak ada kehidupan yang sempurna yang penuh dengan kebahagiaan." ucap bik Salma menenangkan Jihan yang menangis di dalam pelukannya.
"Apakah aku salah menikah dengan mas Adam, apakah rasa cintaku itu salah bik?"
" Cinta tidak pernah salah neng, yang salah adalah neng yang mencintai suami orang, itu yang menjadi masalah."
Jihan melepaskan pelukannya dari bik Salma, iya menatap salma dengan tatapan penuh arti.
"Maksud bibik?"
" Neng telah melukai hati wanita lain, neng telah merenggut surga yang dibangun oleh wanita lain, neng telah menyakiti hati istri dan anak dari Adam." ucap bik Salma,
Walaupun dengan sedikit ragu, tetapi bik Salma merasa lega, karena apa yang dipendamnya selama ini akhirnya terucap sudah di depan majikan itu, Jihan yang mendengarkan perkataan bik Salma sedikit tersinggung.
" Jihan tidak pernah merenggut surganya Zahra, tak ada niat sedikitpun untuk merebut suami Zahra bik, Jihan hanya ingin Zahra membagikan cinta mas Adam sedikit saja kepada Jihan, tidak lebih dari itu." ucap Jihan menaiki sedikit suaranya.
bibik sudah merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya Adam, semua itu masih sakit neng, sakitnya masih membekas di hati bibik neng."
Perasaan Jihan tidak menentu ketika mendengar ucapan dari bik Salma, iya membayangkan jika iya yang ada di posisi Zahra, Jihan menggelengkan kepalanya, Jihan sadar jika iya ada di posisi Zahra, maka Iya tak akan sanggup.
" Apa neng bahagia?" tanya bik Salma.
Jihan melihat ke arah bik Salma sekilas, ingatannya berputar sekilas kejadian tentang pernikahan yang baru saja iya jalani, setelah menikah dengan Adam, perasaannya tetap sama rasanya masih hampa, karena apa yang diinginkannya oleh Jihan tidak sepenuhnya iya dapatkan.
Adam lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan keluarganya, Adam hanya sesaat saja menghampiri rumahnya dan itupun dalam waktu beberapa menit saja.
"Neng coba dipikirkan lagi, apakah neng bahagia menikah dengan Adam, yang berstatus suami dari perempuan lain?"
__ADS_1
tanya Salma lagi.
"Aku tidak tahu bik, rasanya hampa sekali, selalu gelisah dan cemburu menunggu kabar yang akan disampaikan oleh mas Adam." ucap Jihan sambil menggelengkan kepalanya.
"Itulah neng risikonya menikah dengan lelaki yang sudah beristri, sangat sedikit kebahagiaan yang didapatkan dari merebut hak wanita lain, istri kedua akan selalu menjadi bayang-bayang istri pertama, dan lebih parahnya lagi akan dicap buruk oleh masyarakat."
Wajah Jihan begitu murung mendengar setiap kata yang keluar dari bik Salma, sedikit demi sedikit hatinya mulai terbuka bahwa pernikahannya dengan Adam adalah suatu kesalahan yang telah dilakukan oleh Jihan.
"Neng adalah wanita yang baik, wanita yang cerdas, dan juga cantiknya, neng berhak bahagia." ucap bik Salma.
"Apa Jihan harus bercerai dengan mas Adam bik, apa Jihan harus melepaskan mas Adam?" tanya Jihan kepada bik Salma.
"Tanyakanlah pada hati kecil neng, apa yang terbaik yang harus neng lakukan, karena hati tidak akan pernah berbohong." ucap bik Salma sambil menyentuh dada Jihan,
Jihan melihat ke arah tangan bik Salma yang menyentuhnya dadanya, iya bingung dengan perasaannya, di satu sisi iya ingin memiliki tetapi di sisi lain ada hati yang tersakiti.
"Rasanya tidak sanggup bik jika harus berpisah dengan mas Adam, Jihan sudah mencobanya sebelum pernikahan ini terjadi, Jihan sudah pernah berusaha melupakan mas Adam, tetapi cinta itu terasa begitu kuat seolah rasanya jiwa dan raga Jihan begitu lemah tak berdaya tanpa adanya mas Adam di samping Jihan."
"Bibik tidak pernah memaksa neng untuk bercerai, tetapi bibik menyuruh neng untuk bertanya kepada hati kecil neng, apa sebenarnya yang diinginkan oleh hati neng."
"Entahlah bik... rasanya begitu sesak sekali, Jihan ingin sendiri dulu, Jihan pamit ke dalam bik." ucap Jihan sambil melangkahkan kakinya melangkah ke dalam kamarnya, iya menguncikan pintu kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menutupi mukanya dengan bantal.
.
.
selamat malam dan selamat membaca 🥰🥰😍 jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya
__ADS_1