Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Dipecat.


__ADS_3

Jihan membuka matanya menatap wajah Adam di depan wajahnya, iya memandang lekat-lekat wajah suaminya, tangannya tak diam saja, dengan gerakan lembut tangannya menyentuh rahang tegas suaminya, jari lentik Jihan mengikuti bentuk alis tebal Adam, hingga jari itu menyentuh bibir Adam.


"Sangat tampan.. sehingga membuat ku tak bosan memandang." ujar Jihan di dalam hatinya.


Tangannya masih berada di bibir Adam mengelus dengan perlahan bibir suaminya itu, walaupun dengan wajah yang terlihat pucat dan bulu-bulu yang mulai tumbuh memanjang di sekitar rahang Adam, tetap tidak akan mempengaruhi ketampanan yang dimiliki oleh Adam.


Tiba-tiba Adam menggenggam tangan Jihan yang sedang bermain-main di wajahnya dengan mata yang tertutup, membuat Jihan begitu terkejut dengan gerakan tiba-tiba Adam.


"Apa sudah cukup mengagumi ketampanan ku?" tanya Adam dengan perlahan membuka matanya, membuat Jihan tersenyum malu karena ketahuan telah mengganggu suaminya yang sedang tertidur.


Jihan menarik pergelangan tangannya dari genggaman Adam sehingga terlepas, iya langsung berdiri sambil mengikat rambutnya asal, sehingga membuat Jihan begitu cantik di mata Adam walaupun baru bangun tidur.


"Kamu terlalu percaya diri sekali.. mas, sehingga menganggap dirimu begitu tampan." ucap Jihan.


"Pada kenyataannya memang begitu kan?... aku adalah pria yang tampan." ucap Adam terkekeh dan bangun dari tidurnya.


"Cepatlah bangun, setelah itu mandi dan sarapan, hari ini kamu harus masuk kerja, aku tidak ingin kamu dipecat."


Adam turun dari ranjang, melangkahkan kakinya menghampiri Jihan dengan tatapan yang begitu tajam, membuat Jihan sedikit takut melihat Adam, sehingga Jihan memundurkan langkahnya hingga terbentur dinding, Adam mengunci tubuh Jihan dengan kedua tangannya.


"Bukankah wajah tampan ini yang membuatmu tergila-gila kepadaku?" tanya Adam menatap kearah Jihan.


Jihan terdiam ketika wajah Adam begitu dekat dengannya, membuatnya menjadi salah tingkah, detak jantungnya berdebar begitu kencang, bahkan Adam dapat mendengarkan detak jantung Jihan.


"Kamu begitu imut Ji... jika wajahmu seperti ini." goda Adam terkekeh di telinga Jihan membuat Jihan langsung mendorong tubuh Adam menjauh darinya.


Jihan memandang sebel keras suaminya karena sering menggoda nya. "Jangan merayu ya mas... di pagi-pagi begini, cepat sana mandi."


Setelah mengatakan itu, Jihan langsung meninggalkan Adam menuju ke dapur membuat sarapan untuk suami tercinta nya, Iya akan melakukan yang terbaik untuk Adam, menjadi istri yang baik sehingga Adam dapat melupakan sedikit kesedihannya akibat kepergian Aisyah.


Hingga semua makanan yang telah dimasak oleh Jihan telah tersaji di meja makan dengan beberapa macam sarapan, semuanya buatannya sendiri tanpa bantuan dari bik Salma, karena bagi Jihan membuat makanan untuk Adam haruslah sepesial.


Jihan duduk di atas kursi meja makan menunggu kedatangan suaminya yang sedang siap-siap memakai baju, hingga Adam menghampiri Jihan dengan pakaian kerjanya, bulu-bulu halus di pipi Adam sekarang sudah rapi karena baru dicukur, Adam duduk di samping Jihan sambil memandang mesra ke arahnya.

__ADS_1


"Sepertinya nasi gorengnya enak." puji Adam membuat Jihan tersenyum senang dan langsung menaruh nasi ke dalam piring Adam.


"Mau telur dadar atau ceplok mas?" tanya Jihan.


"Dadar saja".


"Okay...makanlah yang banyak mas, biar semangat hari ini."


Keduanya makan dalam keheningan sambil sesekali mereka melemparkan senyum manis ketika pandangan mereka bertemu, seolah-olah mereka adalah pengantin baru yang lagi manis-manisnya dalam rumah tangga.


Setelah sarapan Jihan langsung mengantarkan Adam ke depan pintu sambil membawa tas kerja Adam, suasana beginilah yang begitu didambakan oleh Jihan, mengurus suami dengan ikhlas dan mendapatkan kasih sayang secara penuh dari suaminya.


"Hati-hati ya mas.. dan kerja yang semangat." ucap Jihan dengan girang nya.


Adam mengecup dahi Jihan seperti yang ia lakukan kepada Zahra. "Iya... mas kerja dulu, baik-baik di rumah, Assalamualaikum." ucap Adam.


"Iya mas.. Waalaikumsalam."


Walaupun kepergian Aisyah menjadi suatu keterpurukan bagi Adam, tapi Adam tidak ingin berlalu-larut dalam kesedihan, sehingga menyebabkan banyak permasalahan kedepannya, Adam mencoba mengikhlaskan putrinya, dan berharap semua dapat berjalan dengan seharusnya.


Hingga mobil memasuki parkiran perusahaan yang lumayan besar, iya memarkirkan mobilnya melangkah kakinya keluar sambil menatap gedung yang beberapa lantai tersebut.


Adam tersenyum percaya dengan diri, bahwa hari ini pasti akan berjalan dengan lancar seperti yang direncanakan nya, "Bismillah," ucap Adam di dalam hatinya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Adam masuk ke dalam, banyak tatapan yang di layangkan ke arahnya, sehingga membuat Adam sedikit risih dengan tatapan tersebut, tetapi Adam berusaha untuk mengabaikan orang-orang yang sedang menatapnya.


"Itu pak Adam setelah satu minggu iya baru kelihatan di kantor."


"Iya benar.. kabarnya sih putrinya meninggal dan lebih parahnya lagi pak Adam nggak ada karena menemani istri keduanya ke malaysia saat putrinya meninggal."


"Iya parah ya... gak nyangka banget pak Adam poligami, padahal kurang apa ustadzah Zahra, bahkan dibandingkan dengannya pun menurutku sih tidak akan sebanding."


"Laki-laki memang begitu.. nggak bisa banget lihat yang bening bening, mudah tergoda"

__ADS_1


"Nggak nyangka juga sama istri keduanya, kelihatannya aja muslimah pakai hijab, tapi doyan juga dengan suami orang."


Ucapan bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Adam, namun Adam mengabaikan nya iya terus melangkah menuju ruangannya, iya tidak ingin terjadi keributan di kantor sehingga mempengaruhi namanya dan juga mood-nya pada hari ini.


Tok... tok.. tok ....


"Permisi pak." ujar seseorang di luar.


"Masuk" ucap Adam sambil melihat ke arah orang itu.


"Maaf pak mengganggu waktunya, tetapi bapak dipanggil oleh pak Rudi untuk menuju ke ruangannya."


"Apa ada masalah?" tanya Adam sambil mengurutkan dahinya, karena pak Rudi biasanya memanggilnya ketika ada masalah atau ada hal yang penting.


"Saya kurang tahu pak... kalau gitu saya permisi dulu."


Adam hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dengan cepat Adam langsung meninggalkan ruangannya menuju ruangan atasannya, entah kenapa perasaan Adam sedikit tidak enak.


"Boleh saya masuk pak." ucap Adam yang setelah mengetuk pintu.


"Silahkan masuk Adam dan silahkan duduk." ucap pak Rudi.


Adam langsung duduk di hadapan atasannya tersebut, pak Rudi mengambil sebuah map yang ada di mejanya dan memberikannya untuk Adam.


"Apa ini pak?" tanya Adam sambil menerima map tersebut.


"Buka saja." ucap pak Rudi.


Adam menerima map tersebut dan membukanya, Adam membaca isi yang ada di dalam map itu, bertanya terkejutnya Adam karena itu adalah surat pemecatan untuknya.


"Maksudnya apa ini pak?" tanya Adam dengan dahi yang mengkerut.


"Maaf Adam kamu tidak bisa bekerja di sini lagi... kamu dipecat, kamu jelas tahukan apa peraturan terbesar dari perusahaan ini, saya tidak bisa mempertahankan kamu, walaupun kualitas kerjamu sangat bagus."

__ADS_1


__ADS_2