Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Hanya untukku


__ADS_3

Jihan menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu setelah pulang dari rumah Uminya Zahra, rasa kesal di hatinya masih ada membara, semuanya berputar di dalam pikirannya, akibat perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh Zahra.


Begitupun juga dengan Adam, dia duduk tidak jauh dari Jihan tetapi berbeda sofa, Adam menyandarkan kepalanya di belakang sofa sambil mengusap rambutnya, semua kejadian hari ini pasti akan berdampak buruk bagi Adam, apalagi Zahra telah membuka semuanya di hadapan wartawan.


Adam merasa takut walaupun Iya hanya diam saja, tetapi rasa takut itu begitu terasa, ditambah lagi seluruh tubuhnya sakit akibat pukulan dari Faisal, apalagi mengingat ucapan Zahra yang akan mengirimkan surat cerai untuknya.


Sungguh Adam tidak kuasa jika harus bercerai dari Zahra, walaupun disisi-nya ada Jihan tetapi Zahra tetaplah nomor satu di dalam hatinya, Zahra lah yang menemaninya dari nol, bagaimana bisa Adam berpisah begitu saja dari Zahra.


Melihat suaminya yang kelelahan seperti itu... membuat Jihan iba, dengan inisiatif Jihan melangkah ke dapur untuk mengambil air es untuk mengoperasi luka Adam.


Jihan meletakkan baskom yang berisi air es tersebut di atas meja dan duduk disebelah Adam. "Sini mas.. biar aku kompres dulu lukamu, setelah itu baru dioleskan dengan salep agar tidak infeksi." ucap Jihan sambil menarik tangan Adam.


"Mbak Zahra benar-benar keterlaluan ya mas, aku tidak menyangka jika iya bisa melakukan semua ini." ucap Jihan membuyarkan lamunan Adam.


Adam menahan rasa sakitnya ketika tangan lembut Jihan menekan handuk yang digunakannya untuk mengompres wajahnya, hingga membuat Adam sesekali mengeluh dengan dahi yang berkerut.


"Lihatlah mas... istri yang selalu kamu bangga-bangga kan itu, tidak lebih daripada istri yang mengumbarkan aib suami sendiri."


Mulut Jihan tak pernah bisa diam untuk mengatakan segala keburukan Zahra, rasa kesal telah memenuhi hati Jihan, seolah iya melihat bawa Zahra telah melakukan kesalahan besar, karena baginya seorang istri tak pantas bersikap seperti itu.

__ADS_1


"Ini memang salah kita, jika saja aku tidak menemanimu pengobatan, pasti aku bisa melihat Aisyah untuk terakhir kalinya, semua ini tak akan terjadi dan Zahra takkan pernah berbicara tentang perpisahan." Ucap Adam sambil meringis menahan sakit.


Mendengar perkataan Adam, Jihan melemparkan handuk di tangannya itu ke atas lantai, padahal istri pertama suaminya yang bersalah, tapi kenapa dirinya yang disalahkan oleh suaminya, apakah iya tak pantas meminta Adam untuk menemaninya berobat.


"Kamu adalah suamiku mas.. sudah seharusnya kamu menemaniku, apalagi kamu menemaniku bukan untuk bersenang-senang tetapi untuk berobat, apa itu salah.. apa itu tidak wajar? kamu selalu mementingkan Zahra.. Zahra.. dan selalu Zahra, tanpa pernah kamu melihat bagaimana perasaan ku mas?"


Jihan begitu muak dengan suaminya, setelah semua yang terjadi, suaminya menyalahkannya atas kesalahan yang tidak ia perbuat, iya hanya ingin sedikit perhatian dari Adam, tetapi sekarang Adam malah menyalahkannya.


"Sudah ku katakan sebelumnya, kita berobat saja disini agar aku bisa memantau perkembangan Aisyah, tapi kamu begitu keras kepala dan bersikukuh ingin berobat di Malaysia." ucap Adam tak kalah sewot


"Aku juga berhak mendapatkan perhatianmu..mas, sedikit saja, tanpa selalu menjadi bayang-bayang Zahra dan Aisyah, sekarang kamu lihat mas.. tadi Zahra mempermalukanmu, dan juga sebentar lagi iya akan menggugat cerai, dari situ kamu dapat menilai, siapa yang setia mendampingi dirimu."


"Itu tidak akan terjadi, aku tidak akan pernah menceraikan Zahra."


Adam diam saja, iya tidak ingin menjawab lagi yang perkataan Jihan yang mengakibatkan pertengkaran antaranya dan Jihan, sudah cukup pertengkaran dengan Zahra tadi, iya tak ingin memperkeruh keadaan sehingga bertambah buruk.


"Kalau tidak aku saja yang mundur, ceraikan saja aku dan kembalilah bersama Zahra, apalagi rahimku bermasalah sehingga kemungkinan memiliki anak sangat sulit."


"Jihan... bisa tidak untuk tidak membahas hal ini sekarang, sekarang aku lagi berduka atas meninggalnya Aisyah, jangan menambah masalahku menjadi banyak." ucap Adam sambil menatap kearah Jihan.

__ADS_1


"Terserah kamu mas, aku tidak tahu apa yang kamu inginkan, aku juga capek jika harus begini terus, aku melihat kamu seolah-olah kamu tidak mencintai aku."


"Kalau aku tidak mencintai kamu, maka aku tidak akan menikahimu, bahkan aku menikahimu tanpa izin dari Zahra."


"Terserah deh mas kamu mau bilang apa, tapi yang jelas aku tidak melihat rasa cinta itu untukku, kamu obatin sendiri saja lukamu itu, aku capek mau istirahat." ucap Jihan sambil meninggalkan Adam dan masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Jihan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, iya menari nafas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan, iya mengambil bantal di atas kepalanya dan menutup mukanya dengan bantal tersebut.


Jihan meraba perut ratanya, ingin sekali Jihan merasakan di dalam perutnya kehidupan seorang bayi, tetapi setelah pengobatan yang dilakukan oleh Jihan kemarin membuat impian Jihan sirna seketika.


Kemungkin Jihan hamil sangatlah kecil, iya takut tidak bisa memberikan keturunan kepada Adam sebagai pengganti Aisyah yang telah meninggal dunia, Jihan sebenarnya juga merasa bersalah atas meninggalnya Aisyah tampa kehadiran Adam di sampingnya.


Jihan menganggap Aisyah juga sebagai putrinya, walaupun Aisyah tidak tahu bahwa Jihan adalah ibu tirinya, iya menyayangi Aisyah dan juga ingin mendengar Aisyah memanggilnya dengan sebutan ibu, bahkan ketika melihat wajah Aisyah Jihan merasa bersalah, apalagi setelah mengetahui Aisyah telah tiada.


Namun Jihan tidak terima dengan perkataan Zahra yang merendahkan Adam di hadapan semua orang, tetapi Jihan tidak dapat membohongi perasaan bahagianya, ketika mendengar kata Zahrah yang akan menggugat cerai Adam.


Jihan memindahkan bantal di atas mukanya sambil terus mengusap perut ratanya itu, iya menatap kearah langit-langit kamarnya yang berwarna putih. "Ya Allah... hamba menginginkan sesosok makhluk kecil dan lucu tumbuh di dalam rahim hamba." lirih Jihan dalam hatinya.


Kemudian Jihan memiringkan tubuhnya ke arah kanan, dia menatap foto pernikahannya yang di dipajang didinding dengan ukuran besar, iya tersenyum melihat gambar dirinya dan Adam yang terlihat begitu serasi.

__ADS_1


"Apakah aku berdosa jika aku menginginkan mas Adam seutuhnya milikku, itu hal yang manusiawi bukan?," ucap Jihan sambil terus menatap foto tersebut.


"Aku ingin semua perhatian mas Adam hanya tertuju untukku, Hanya untukku seorang, mudah-mudahan ucapan Zahra benar, bahwa iya akan menggugat cerai mas Adam, aku sungguh tak sabar menanti itu." ucap Jihan sendiri dalam keheningan.


__ADS_2