
"Zahra.. mas mau bicara sama kamu, ini sangatlah penting." ucap Faisal kepada Zahra.
Zahra melihat ke arah kakaknya dan juga seorang lelaki yang berdiri di samping kakaknya tersebut, tentu saja Faiz dengan Aisyah yang sedang menggenggam tangannya.
"Apakah penting mas?" tanya Zahra.
"Tentu saja penting, mas ingin berbicara berdua denganmu." ucap Faisal melihat kearah sahabatnya dan juga keponakannya.
"Aisyah mau tidak, kita main ayunan itu?" Tanya Faiz sambil menunjuk ayunan bundar.
Faiz tahu bahwa Faisal ingin berbicara berdua dengan Zahra, jadi iya berinisiatif untuk mengajak Aisyah menaiki ayunan yang tidak jauh dari Zahra dan Faisal duduk.
Setelah kepergian Faiz, Zahra langsung menatap ke kakaknya tersebut dengan serius, Faisal mengeluarkan selembar surat di dalam map yang berwarna kuning.
"Apa ini mas?" tanya Zahra kepada Faisal.
"Ini adalah biodata teman lama mas, Arif namanya, iya seorang pengacara yang hebat, iya bisa mengurus surat penceraian antara kamu dan Adam, iya pasti dapat memenangkan hak asuh Aisyah." ucapan Faisal dengan serius.
Faisal berharap Zahra mau mengajukan gugatan cerai kepada suaminya Adam, bahkan Faisal sudah mempersiapkan semuanya untuk Zahra bercerai dengan Adam, iya menyewa seorang pengacara yang berstatus temannya sendiri.
Zahra menari nafas panjang dan hembuskan nya dengan perlahan, iya tahu maksud kakaknya tersebut adalah baik, karena kakaknya tidak ingin Zahra terlalu tersakiti hatinya dengan kelakuan suaminya sendiri.
" Ya Allah apakah ini waktu yang tepat untuk aku berpisah dengan mas Adam, memang rasa cinta itu sedikit demi sedikit terkikis begitu saja, seiring banyaknya kebohongan yang mas Adam ucapkan, tetapi di lain sisi hati ini merasa tidak rela melihat kebahagiaan surga yang hamba bangun direnggut begitu saja, di satu sisi lain juga ada Aisyah yang masih memerlukan perhatian ayahnya, cinta ayahnya apalagi dalam kondisi ini, ya Allah jalan apa yang harus hamba pilih." dia Zahra didalam hatinya.
Zahra bimbang dengan keputusan yang harus diambilnya. "Mas.. bagaimana dengan Aisyah?" tanya zahra dengan lirih.
"Soal itu kamu tidak perlu memikirkan terlalu banyak Zahra, walaupun Aisyah masih kecil, kalau diberi perhatian perlahan-lahan lama-lama pasti akan mengerti juga, kamu hanya perlu mendidik Aisyah dengan baik, mengajarkan ajaran agama kepadanya, membentuk akhlak yang benar itu sudah cukup zahra."
"Rasanya berat sekali mas." ucap Zahra dengan hati yang perih.
"Memang berat Zahra, ini akan berat awalnya saja, daripada harus bertahan entah sampai kapan, mas tidak yakin kamu akan kuat, lebih baik akhiri semua ini, mulailah kehidupan yang baru, mas yakin kamu bisa."
"Baiklah mas.. Zahra diikuti saja permintaan mas, jujur saja jika dipertahankan pernikahan Zahra dengan mas Adam, bukan surga yang Zahra dapatkan melainkan dosa yang menumpuk, karena hati Zahra yang tidak ikhlas, hati Zahra menaruh rasa dendam dan juga mata Zahra juga ingin sekali melihat kehancuran." ucap Zahra dengan suara yang sedikit bergetar.
__ADS_1
Faisal dapat melihat Zahra yang berusaha tegar untuk menutup segala kerapuhannya, jika Zahra membiarkan perbuatan Adam, pasti Adam tidak akan cukup sampai disini menyakiti perasaan adiknya, dan Faisal tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
Dilain sisi Aisyah sedang menikmati waktunya dengan Faiz, mereka berdua layaknya seorang ayah dan anak, perhatian dan juga kemanjaan keduanya sangat terlihat.
"Aisyah sangat senang bisa bertemu dengan om Faiz." ucap Aisyah pada Faiz.
"Oh ya.. kenapa Aisyah senang bertemu dengan om, emangnya ada apa?" tanya Faiz yang duduk samping Aisyah, di ayunan bundar di samping taman rumah keluarga Zahra.
"Aisyah senang saja om, karena om Faiz adalah orang yang baik."
"Masak, Aisyah tahu dari mana kalau om Faiz adalah orang yang baik?" tanya faiz lagi.
"Aisyah tahu om, mana orang Yang baik dan yang tidak baik."
Mendengar jawaban dari Aisyah, Faiz hanya mengangguk angguk kan kepalanya saja, sambil melipatkan kedua tangannya, dan telunjuk tangan kanannya menyentuh dagunya, seperti orang yang sedang berpikir.
"Om tidak percaya?" tanya Aisyah dengan wajah yang menantang.
Wajah Aisyah langsung cemberut ketika Faiz meragukannya sambil menggeleng geleng kan kepalanya, semakin Faiz tidak mempercayai kata Aisyah, semakin Aisyah berusaha meyakinkan lelaki dewasa disampingnya itu.
Sedangkan Zahra iya berada jauh dari samping keduanya, tetapi matanya tak pernah lepas pada kedua sosok yang berbeda usia itu.
Iya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Aisyah dan Faiz, tetapi di Zahra dapat melihat wajah Aisyah yang sedang menahan rasa kesalnya.
"Apa yang Aisyah katakan itu benar om."
"Masak.. om tidak percaya Aisyah tahu mana yang orang baik dan tidak baik."
"Pokoknya Aisyah tahu." ucap Aisyah dengan keras kepala.
"Iya.. deh om percaya, kalau Aisyah bisa menilai seseorang, kan Aisyah anak yang pintar."
Keduanya tersenyum bahagia, entah mengapa Aisyah sangat suka dengan sosok Faiz, sosok yang baik dan juga perhatian, kata-kata yang menyenangkan yang keluar dari mulut Faiz, membuat Aisyah sedikit terhibur ketika berdekatan dengan Faiz.
__ADS_1
Namun kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Aisyah dan Faiz harus sedikit tertunda, karena tiba-tiba saja Aisyah memegang kepalanya dengan darah yang keluar dari hidungnya.
Faiz begitu terkejut ketika melihat Aisyah yang keluar darah dari hidungnya, Aisyah yang duduk di samping Faiz tidak dapat menahan tubuhnya sehingga oleng ke samping.
Faiz langsung menangkap tumbuh kecil Aisyah agar tidak terjatuh dari ayunan, dengan panik Faiz berusaha membangunkan Aisyah, dengan cara menggoyang kan tubuh kecil itu.
"Aisyah.. bangun Aisyah... bangun nak." ucap Faiz tak berhenti menyentuh pipi mungil itu.
Wajah Aisyah terlihat sangat pucat, dengan segera Faiz menggendong tubuh kecil itu dan langsung membawa Aisyah ke dalam.
Zahra dan Faisal begitu terkejut ketika melihat kedatangan Faiz dengan wajah yang panik, dan Aisyah yang pingsan di dalam gendongan Faiz.
"Bang Faiz, kenapa dengan Aisyah?" tanya Zahra dengan wajah yang panik begitupun dengan Faisal.
"Saya tidak tahu Zahra, tiba-tiba saja Aisyah pingsan dan mengeluarkan darah dari dalam hidupnya."
"Ya Allah.. tolong bang, bawa Aisyah ke dalam kamarnya, dan mas Faisal.. tolong mas telepon dokter datang ke sini untuk memeriksa keadaan Aisyah." ucap zahra. panik.
Langsung saja Faiz membawa Aisyah ke dalam kamarnya, kamar yang terdapat beberapa mainan anak perempuan.
"Tidur kan saja mas di atas tempat tidur."
Dengan patuh Faiz langsung menidurkan tubuh Aisyah, wajah Aisyah terlihat sangat pucat, rasa panik tidak hanya dirasakan oleh Zahra dan Faisal, tetapi rasa panik itu juga dirasakan oleh Faiz.
"Sebentar Zahra saya hubungi Abah dan Umi dulu, supaya mereka langsung pulang."
" Iya bang." jawab Zahra menganggukkan kepalanya.
Setelah Faiz keluar, Faisal langsung masuk ke dalam. "Bagaimana mas.. apa kamu sudah menelepon dokter?"
" Sudah Zahra.. sebentar lagi dokter akan sampai."
" Mas lihatlah keadaan Aisyah, jujur saja Zahra siap untuk bercerai dari mas Adam, tetapi Zahra tidak siap melihat Aisyah seperti ini tanpa ada mas Adam di sisinya, apa yang harus Zahra lakukan mas." ucap Zahra dengan mata yang berembun.
__ADS_1