
Dari tadi Adam kurang fokus setelah bertemu dengan Jihan, hati Adam merasa tidak tenang bertanya-tanya siapa pria itu, Karena Adam sungguh tidak rela jika Jihan dengan begitu mudah melupakannya.
"Mas... kok dari tadi melamun sih, kenapa.. kamu sakit?"
Adam sedikit terkejut ketika tangan Zahra menyentuh keningnya. dengan reflek Adam langsung menurunkan tangan istrinya.
"Eh... sayang, mas gak apa-apa kok." jawab Adam tersenyum.
Zahra menatap aneh kearah suaminya, ketika di rumah suaminya sangat bersemangat sama seperti Aisyah, sekarang sangat berbanding balik dengan tadi.
Adam mengambil segelas es buah yang dibawa istrinya dan langsung meminumnya, mereka menggelar tikar putih dengan beberapa Snack yang menemani piknik mereka.
"Apa semudah itu kamu melupakan aku Ji, apa perkataan cintamu hanya kebohongan semata." ucap Adam didalam benaknya sambil memandang ombak yang berlomba-lomba mencapai tepian.
Terakhir kali Adam dan Jihan bertemu didepan supermarket yang menjadi pertemuan terakhir mereka, tidak ada lagi komunikasi lewat hp bahkan Adam sudah menghapus nomor Jihan di hpnya berusaha melupakan Jihan.
Tapi sekarang dirinya kembali bertemu dengan Jihan, cinta yang belum hilang seketika menggebu kembali, sungguh Adam tidak ingin kembali menyakiti hati istrinya, dan memberi harapan palsu kepada Jihan.
"Bunda.. ayah... lihat Aisyah menemukan apa." ucap Aisyah menghampiri bunda dan ayahnya, sambil memperlihatkan kulit kerang di telapak tangannya.
"Wah cantik sekali sayang..." balas Zahra antusias melihat penemuan putrinya.
Adam tersenyum melihat interaksi antara istri dan buah hatinya, senyum manis dan semangat keduanya menenangkan dirinya, sejenak melupakan nama Jihan didalam hatinya.
Menurut Adam Zahra dan Jihan memiliki daya tarik yang berbeda, istrinya Zahra sangat cantik, senyuman yang manis selalu menghiasi bibirnya, dengan nada sopan dan tajam menghanyutkan ketika berhadapan dengan lawan bicaranya,.
Zahra juga wanita yang mandiri tidak pernah sekalipun Zahra mengeluh kepada suaminya tentang suatu masalah. apapun yang akan dihadapi Zahra pasti akan diselesaikan sendiri dengan caranya yang bijak.
Sedangkan Jihan juga tidak kalah cantiknya dengan Zahra, Adam sangat menyukai ketika Jihan meminta bantuan kepadanya, tidak lupa dengan kata-kata lembut dan manja Jihan yang membuatnya sulit melupakan Jihan.
Adam menyukai keduanya, dua-duanya cantik, dua-duanya Solihan, dua-duanya memiliki kepribadian yang berbeda yang sama-sama disukai oleh Adam.
Andai Adam bisa memiliki keduanya.
akan sangat sempurna sekali hidupnya, memiliki istri yang satu mandiri, satunya lagi manja, Adam tersenyum membayangkan itu.
"Astaghfirullah apa yang aku pikirkan, aku tidak boleh lagi memikirkan Jihan, fokuslah Adam, fokuslah kepada keluarga kecilmu." gumam Adam didalam hatinya.
"Cantik kan ayah?" tanya Aisyah kepada ayahnya.
__ADS_1
"Ahhh Iya cantik pintarnya anak ayah."
"Ayah.. bunda, ayo menemani Aisyah main laut."
"Sama ayah saja ya sayang, kalau bunda menemani Aisyah, nanti siapa yang menjaga barang kita."
" Iya deh nggak apa-apa kalau bunda duduk disini aja... ayo ayah." ajak Aisyah sambil bergandengan tangan.
Ayah dan anak tersebut tertawa bercanda bersama, hingga lari-larian saling mengejar, Zahra tersenyum memandang ke arah putri dan suaminya dengan senyuman bahagia.
" Hos... hoss.. capek bunda, Aisyah nakal,.. larinya kencang sekali." ucap Adam setelah menemani Aisyah bermain.
"Itu namanya bukan nakal ayah.. tapi hebat, iyakan bunda.. Aisyah hebat kan?" tanya Aisyah
" Anak bunda kan selalu hebat, kamu sih mas lemah sekali, kejar Aisyah aja nggak bisa." ucap zahra menggoda suaminya.
"Bukan tidak bisa sayang, Aisyah kan sudah besar, jadi larinya sekarang lebih cepat."
"Ayah payah... ha-ha-ha." tawa Aisyah.
disambut dengan gelengan kepala kedua orang tuanya.
"Yahh.. bun, kok cepat sekali pulangnya, Aisyah masih ingin main." ucap Aisyah dengan wajah cemberut.
"Lain kali kita ke sini lagi, sekarang kita pulang, oke." ucap Adam membujuk aisyah sambil mengacak-acak rambut putrinya.
" Iya udah deh.. tapi janji ya ayah, kapan-kapan kita ke sini lagi" Aisyah mengeluarkan jaring kelingkingnya. dengan senyuman Adam menyambut jari kelingking kecil Aisyah.
"Oke... ayah janji."
Setelah membereskan barang-barang, keluarga kecil itu langsung memasuki mobil untuk mencari masjid terdekat, menunaikan kewajiban mereka sebagai muslim.
"Mas itu ada mesjid kita mampir di sini saja."
" Iya sayang....." Mobil Adam langsung memasuki halaman mesjid yang lumayan luas.
"Sayang nanti kalau sudah selesai sholatnya, langsung ke mobil aja."
" Iya mas... ayo sayang kita wudhu dulu baru sholat." Zahra mengajak putrinya Aisyah untuk berwudhu.
__ADS_1
Dengan tas kecil yang berisi mukenah, Zahra langsung melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu.
Zahra tidak melakukan sholat jamaah, karena para jamaah baru saja selesai mengerjakan sholat. Zahra sholat sendiri dengan Aisyah disampingnya yang mengikuti gerakan sholatnya.
Angin sepoi-sepoi menghembus membawa ketenangan disetiap bacaan doa yang keluar dari mulut Zahra.
Selesai sholat Zahra lanjutkan dengan berdoa dan berdzikir, tentunya dengan tasbih biru muda pemberian Faiz yang sekarang menjadi tasbih favoritnya.
"Bunda cantik sekali tasbih ini, kapan bunda membelinya?, Aisyah belum pernah melihat tasbih ini." tanya Aisyah.
"Ini adalah pemberian seseorang sayang." Aisyah menatap kagum ke arah tasbih berwarna biru muda tersebut.
"Sayang ayo kita ke mobil, sepertinya ayah sudah menunggu kita." ajak Zahra kepada Aisyah.
" Iya bunda.."
Zahra dan Aisyah keluar dari masjid dengan langkah pelan, angin sepoi-sepoi yang menghembuskan lumayan kencang, membuat baju dan hijab zahra sedikit berterbangan, menambahkan kesan yang anggun dan cantik.
Sepasang mata memandang takjub ke arah dirinya tanpa sepengetahuan Zahra sendiri.
"Astagfirullah."ucap laki-laki itu memalingkan mukanya dari pemandangan yang sangat indah.
"Om Faiz..." teriak Aisyah berlari ke arah Faiz yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Zahra melihat ke arah putrinya yang sedang memeluk kaki Faiz, sambil menghampiri Faiz dan Aisyah. sebenarnya Zahra malas sekali jika berhadapan dengan Faiz, ada rasa canggung dirasakannya.
"Apa kabar bang Faiz." Zahra menyapa Faiz.
Faiz melirik sebentar ke arah Zahra matanya menatap kearah tasbih ditangan Zahra dan tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Zahra.
Faiz menjawab pertanyaan Zahra dan kembali fokusnya kepada Aisyah, membuat Zahra membuang muka mendapat balasan tidak enak dari Faiz.
Adam yang baru saja keluar dari mesjid melihat pemandangan itu merasa geram, dia tau jika Faiz menyimpan perasaan kepada istrinya, walaupun pada akhirnya Adam yang mendapatkan Zahra.
"Apa-apa ini kenapa bisa sekian lama dia kembali lagi, dan Aisyah kenapa begitu akrab dengan laki-laki itu?, tadi Jihan sekarang Zahra yang membuat hatiku tidak tenang, ini tidak bisa dibiarkan."
Dengan langkah lebar Adam menghampiri anak dan istrinya.
"ekhm.. sayang ayo kita pulang." Adam mengajak Zahra dan Aisyah untuk pulang karena hatinya panas melihat kedekatan istri dan anaknya dengan pria lain.
__ADS_1
Adam tahu kalau Faiz mencintai Zahra, sebagai sesama laki-laki Adam bisa melihat itu dimata Faiz, walaupun Zahra dulu mengatakan bahwa Faiz tidak mencintainya begitupun dengan Zahra.