
Adam sudah menghubungi Jihan, mengatakan bahwa iya akan ke rumah orang tuanya, memberitahukan mamanya tentang pernikahan mereka yang akan dilangsungkan secepatnya.
Mereka berdua tidak pernah bertemu. setelah pertemuan tidak sengaja antara Adam dan Jihan beberapa hari yang lalu, bahkan Adam hanya menghubungi Jihan sesekali membuat Jihan menjadi ragu, apakah Adam serius ingin menikahinya.
Ketika Jihan mendapat kabar dari Adam, bahwa Adam makan memberitahu ibunya lagi, Jihan merasa sangat bahagia karena Adam ternyata tidak main-main untuk menikahinya.
Jihan tersenyum senang sambil memeluk boneka beruang besar yang ada di dalam kamarnya, boneka yang iya beli untuk menemani tidurnya.
Jihan melihat ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, seorang wanita paruh baya datang menghampirinya, wanita itu adalah bik Salma, yang telah berkerja lama di rumah Jihan.
Jihan telah menganggap bik salma sebagai pengganti ibunya, bik Salma menghampiri Jihan dan duduk di sampingnya, iya memperhatikan Jihan yang tersenyum bahagia itu.
"Kenapa tersenyum senyum sendiri neng, sepertinya neng sedang bahagia?" tanya bik Salma ikut tersenyum melihat senyum indah Jihan.
"Iya bik, Jihan memang sedang bahagia."
Jihan semakin tersenyum mendengar ucapan buk Salma itu, wajahnya di tanamkan diboneka beruang karena menahan rasa bahagia sekaligus rasa malu.
"Ayo ceritakan sama bibik, hal bahagia apa yang membuat neng sampai tersenyum seperti ini, sudah lama bibik tidak melihat senyuman neng lagi."
Bik Salma begitu menyayangi Jihan, iya telah menganggap Jihan sebagai anaknya sendiri, begitu pun dengan Jihan yang juga menganggap bik Salma sebagai pengganti ibu dan ayahnya sekarang.
"Aku senang bik.. aku dan mas Adam akan secepatnya menikah." ucap Jihan.
Bik Salma mengerutkan dahinya mendengar pernyataan dari Jihan, sebenarnya iya tidak setuju jika Jihan menikah dengan lelaki yang sudah beristri, iya tidak ingin Jihan merusak kebahagiaan wanita lain.
Ketika masih muda bik Salma mempunyai seorang suami, mereka hidup bahagia dalam menjalani mahligai pernikahan, tetapi siapa sangka kebahagiaan itu hanya sebentar karena kehadiran orang ketiga.
Suaminya meninggalkannya memilih perempuan murahan itu, bik Salma tidak ingin Jihan merebut kebahagiaan orang lain.
"Neng serius ingin menikah dengan nak Adam, bukannya neng pernah mengatakan bahwa neng tidak akan menikah dengan nak Adam tanpa izin dari istrinya, bukannya istri nak Adam tidak mengizinkan pernikahan kalian?" tanya bik Salma.
Sudah lama sekali bik Salma tidak melihat senyum bahagia di wajah anak angkat nya itu, tega tidak tega iya pasti akan mendukung keputusan yang diambil Jihan.
__ADS_1
"Awalnya jihan berpikir tidak akan menikah tanpa izin dari istri pertama mas Adam, tetapi apalah daya cinta bik, benar kata orang... cinta itu buta dan tuli tak melihat.. tak mendengar..." ujar Jihan tersenyum.
"tapi neng.." ucap bik Salma tertahan.
Jihan mengambil tangan bik Salma dan menaruhnya di dadanya, bik Salma dapat mendengar detak jantung Jihan yang berdebar dengan cepat.
"Bik Jihan tidak bisa melupakan mas Adam, semakin Jihan berusaha melupakan mas Adam, semakin gila rasa cinta ini bik, bibik dengarkan jantung Jihan yang berdebar ini,
ini kan yang dinamakan cinta bik?."
Bik Salma hanya terdiam mendengar kata-kata Jihan, memang iya tidak tahu bagaimana sebenarnya tentang arti cinta, tetapi yang bik Salma tahu bahwa cinta itu tidak menyakiti hati yang lain.
Bik Salma mengambil tangan Jihan dan menggenggam nya. "Bibik tidak tahu bagaimana sebenarnya cinta itu neng, tetapi bibik harap neng bahagia dengan pilihan neng."
"Terima kasih bik...karena bibik selalu ada untuk Jihan." ucap Jihan sambil memeluk bik Salma.
....
Di lain tempat Adam sedang melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya, sebelum datang ke rumah orang tuanya, Adam sudah memastikan bahwa di rumah tidak ada papanya.
Bu Ratna sudah menunggu Adam dengan menyiapkan beberapa masakan, iya tidak tahu bahwa kedatangan Adam ke sini untuk membicarakan tentang pernikahannya dengan Jihan yang akan segera dilaksanakan.
"Assalamualaikum...ma." ucapan Adam sambil mengecup tangan mamanya.
Bu Ratna melihat ke belakang Adam memastikan bahwa Adam tidak datang sendiri.
"Kamu ke sini sendiri nak, kenapa tidak mengajak Aisyah dan Zahra?" tanya bu Ratna.
"Tidak ma, karena Adam kesini ingin membicarakan suatu hal yang penting."
"Kalau begitu kita makan dulu, setelah itu baru berbicara, mama sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian, tetapi rupanya kamu hanya datang sendiri, tidak mengajak anak dan istrimu." ucap bu Ratna, sambil membawa Adam menuju meja makan.
"Wah pasti enak, Adam udah kangen masakan mama."
__ADS_1
Adam langsung mengikuti mamanya menuju meja makan yang telah tersaji banyak sekali makanan kesukaannya dan juga anak istrinya.
"Ayo kita makan dulu dam." ajak bu Ratna.
Tampa sungkan Adam langsung duduk di kursi yang biasa diduduki nya, mengambil beberapa menu kesukaannya, dan memakannya dengan sangat lahap.
Bu Ratna hanya tersenyum melihat anak satu-satunya, sedang makan dengan lahap. "Makan yang banyak Adam."
Setelah makan bu Ratna mengajak Adam untuk berbicara di taman belakang, bu Ratna sedikit penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Adam, karena melihat anaknya datang ke sini sendirian.
"Apa yang kamu ingin bicara kan sama mama Adam, sampai-sampai papa tidak boleh mendengar pembicaraan kita?" tanya bu Ratna.
"Ma ini sebenarnya tentang Adam yang ingin menikah lagi dengan Jihan, Adam sudah memutuskan secepatnya akan menikahi Jihan." ucap Adam membuat bu Ratna sangat syok, dia tidak menyangka bahwa anaknya punya pikiran ingin menikah lagi dengan Jihan, setelah Zahra menolak mengizinkan Adam menikah lagi.
"Apa maksudmu itu dam, kamu ingin menikahi Jihan, bukankah kamu sudah berjanji kepada Zahra untuk melupakan Jihan kenapa tiba-tiba kamu dingin nikahnya lagi, apa yang terjadi."
"Adam tidak bisa melupakan Jihan ma, Adam benar-benar mencintai Jihan, makanya Adam menemui mama, karena hanya mama yang akan selalu mendukung Adam." ucap Adam.
"Tidak Adam untuk kali ini mama melarang mu, untuk kali ini mama tidak akan mendukungmu, mama tidak akan mengizinkan mau menikahi Jihan."
"Kenapa mama berubah seperti ini, kenapa mama tidak mendukung Adam."
Adam terkejut mendengar kata-kata mamanya, kenapa mamanya sekarang berubah tidak lagi mendukungnya menikahi Jihan.
"Mama salah selama ini selalu memanjakan mu, dengan menuruti segala keinginanmu, tetapi untuk sekarang mama melarang mu dengan tegas Adam."
"Tetapi kenapa ma?" tanya Adam.
"Mama sadar, tidak ada seorang istri yang rela berbagi suami, apalagi sekarang Aisyah sedang sakit, seharusnya kamu sebagai suami Zahra mendukung dan menghiburnya, bukan menyakiti perasaan nya."
"Secepatnya kami akan menikah ma, Adam mohon hanya mama yang satu-satunya yang selalu ada untuk Adam."
"Mama yang memohon padamu Adam, tinggalkan Jihan sebelum kamu menyesal."
__ADS_1
ucap bu Ratna dengan penuh penekanan.