
Sekarang Zahra berada di dalam mobil mewahnya, bersama dengan Aisyah dan juga mbak Intan, setelah perdebatan kemarin dengan Adam, Adam tidak punya pilihan lain, sehingga iya membiarkan Zahra menginap di rumah orang tuanya dalam waktu 1 minggu.
Entah kenapa, untuk saat ini Zahra ingin tinggal di rumah Abah dan Umi, walaupun hanya dalam waktu 1 minggu, iya merasa rindu kepada keluarganya, padahal baru saja Abah dan Umi pulang.
Biasanya ketika Zahra pulang ke rumah Umi tanpa suaminya, Zahra akan merasa khawatir dengan Adam, iya takut Adam tidak terurus tanpanya, begitu juga dengan Adam tidak bisa jika Zahra kembali ke rumah orang tuanya.
Tetapi untuk saat ini Zahra merasa biasa saja, toh sekarang bukan Zahra saja yang menjadi istri Adam, masih ada seorang istri lain yang bisa memenuhi kebutuhan suaminya itu.
Sesampainya di rumah Umi, mereka langsung turun dari dalam mobil yang disambut oleh keluarganya, karena hari ini hari minggu semua orang berada di rumah sekarang.
Zahra tidak memberitahukan kepulangannya kepada keluarga kali ini, iya berencana memberi sedikit kejutan dengan kepulangan ya, Zahra melihat kearah keluarganya satu bersatu.
Tidak ada wajah senang dan bahagia ketika menyambutnya, semua orang tampak murung menatap ke arahnya, iya tahu bahwa pasti Umi dan Abah telah menyampaikan berita duka kepada semua orang.
"Assalamualaikum." ucap Zahra dan juga mbak Intan.
"Waalaikumsalam."
Zahra dan juga mbak Intan langsung bersalaman dengan keluarganya, hingga tiba giliran Zahra bersalaman dengan kakaknya Faisal, Faisal langsung memeriksa kondisi tubuh Zahra.
"Apakah ada yang luka?, apakah ada yang sakit?, coba tunjukkan kepada mas.. yang mana yang sakit?" tanya Faisal sambil memegang erat bahu Zahra.
"Katakan Zahra, yang mana yang sakit.. katakan kepada mbak dan mas." ucap Salwa tak kalah paniknya dengan suaminya.
"Yang sakit bukan fisik Zahra, tetapi yang sakit hati Zahra mbak, mas." jawab Zahra didalam hatinya.
Zahra tersenyum melihat kekhawatiran kakaknya tersebut, kekhawatiran keluarganya memang berbeda-beda, iya beruntung mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
"Mas... Mbak.. kalian ini kenapa bersikap seperti ini, Zahra baik-baik saja apa yang harus kalian khawatirkan, lihat tidak ada sedikitpun luka di tubuh Zahra." ucap Zahra sambil memutarkan tubuhnya di depan sepasang suami istri itu.
Aisyah bingung melihat kelakuan orang-orang dewasa di depannya, iya tidak mengerti kenapa Umi dan Abi kakak sepupunya ini sangat mengkhawatirkan bundanya, padahal bundanya baik-baik saja sekarang.
"Umi.. Abi.. kenapa bertanya seperti itu kepada bunda, bunda kan baik-baik saja?" tanya Aisyah polos.
Tatapan kedua suami istri itu langsung berpindah kepada Aisyah, mereka berdua langsung merangkul Aisyah ke dalam pelukan Faisal, tak henti-hentinya Salwa juga mengusap kepala Aisyah.
" Sayang bagaimana keadaanmu, apakah Aisyah sehat, apakah ada yang sakit?" tanya Salwa dengan nada yang bergetar.
Iya begitu syok ketika mendengar berita keponakannya mengidap penyakit leukemia, dan Salwa begitu syok lagi ketika mengetahui Adam menikah lagi.
Mereka tidak habis pikir dengan Adam, bagaimana bisa seorang suami sekaligus ayah, bisa menikah lagi ketika istri dan anaknya sangat butuh perhatian dan juga dukungan dari seorang ayah dan juga suami.
"Umi.. Abi.. kenapa kalian sangat khawatir kepada Aisyah dan Bunda, Aisyah dan bunda baik-baik saja, jadi tidak perlu khawatir." ucap Aisyah dengan gemas nya.
Namun Aisyah masih bisa melihat air mata yang menetes sedikit dari kelompok mata Salwa. "Umi kenapa begitu sedih?, apa Umi menangis karena mengkhawatirkan Aisyah dan bunda?" tanya Aisyah.
"Tidak sayang.. mata Umi terasa sedikit perih, makanya keluar air mata, Umi tidak apa-apa." jawab Salwa sambil tersenyum dan mengelus rambut Aisyah.
Ketika Salwa mengelus rambut Aisyah yang pendek dan tak diikat itu, beberapa helai rambut Aisyah tertinggal di tangannya, Salwa langsung terkejut melihat ke arah tangannya.
Orang-orang yang lain pun ikut melihat ke arah tangan Salwa, karena rambut Aisyah dengan mudahnya bisa rontok padahal hanya dengan mengusap saja.
Zahra langsung menggelengkan kepalanya ke arah Salwa, iya memberi isyarat agar Salwa tidak berkata apa-apa, dan juga tidak menunjukkan kesedihannya di depan putrinya, Salwa bersusah payah menahan tangisnya ,di dalam hati.
" Lebih baik kita masuk saja.. disini sedikit panas, pasti Aisyah capek kan habis perjalanan dari jauh?" ucap Umi mengalihkan perhatian anak-anak.
__ADS_1
"Abi turunkan Aisyah.. Aisyah mau jalan bareng mbak Nurul." pinta Aisyah.
Faisal langsung menurunkan Aisyah, iya membiarkan keponakannya itu berjalan dengan putrinya, terlihat wajah bahagia dari kedua bocah itu, mereka langsung duluan masuk tanpa melihat ke arah belakang.
" Umi abah di mana?, kenapa dari tadi tidak kelihatan? "tanya Zahra ketika mareka sudah duduk di atas sofa ruang tamu.
" Abah ada jadwal ceramah, mungkin saja besok Abah baru pulang."
" Kalau Abah ada ceramah, kenapa mas Faisal tidak ikut, biasanya kan mas Faisal adalah buntutnya Abah, kemanapun Abah pergi pasti mas Faisal akan selalu mengikuti Abah."
Faisal hanya melihat ke arah adiknya tersebut, iya tidak ingin membantah perkataan Zahra, hatinya sekarang terasa tidak menentu, ada suatu hal yang ingin ia tuntaskan.
Biasanya ketika bercanda seperti ini, pasti antara Faisal dan Zahra akan terjadi sedikit perdebatan, tetapi kali ini Faisal begitu tak semangat.
"Umi juga tidak tahu akenapa masmu kali ini tidak mau ikut, jadi terpaksa Abah hanya berangkat dengan nak Faiz." ucap Umi.
" Mas kenapa, biasanya mas tidak seperti ini, kenapa sekarang diam saja, apa mas lagi sariawan?" tanya Zahra bercanda berharap masnya ini membalas candaannya seperti biasa.
"Bagaimana mas bisa bercanda disaat seperti ini Zahra, sekarang mas sedang menahan amarah, mas ingin sekali memukul suamimu itu, suami macam apa Adam itu, di saat anaknya sakit tetapi ia memilih menikah lagi, apa otaknya itu sudah rusak, sehingga tidak bisa diperbaiki lagi." ucap mas Faisal.
Salwa yang di samping suaminya itu hanya bisa mengusap bahunya Faisal, untung saja anak-anak dan mbak Intan sudah Zahra suruh bermain atau istirahat di dalam kamar, jadi mereka tidak mendengar pembicaraan panas ini.
"Mas tidak ikhlas kamu diperlakukan seperti ini, mas tidak ridho, lebih baik kamu cerai saja Zahra."
" Tetapi mas, Zahra tidak ingin bercerai untuk sekarang."
"Apa kamu bodoh Zahra, apa kamu menjadi bodoh setelah suamimu menikah lagi." ucap Faisal dengan tajam.
__ADS_1
"Mas Ada hati yang harus Zahra jaga yaitu hati Aisyah, mana Zahra tega bercerai untuk saat ini dengan kondisi Aisyah seperti ini, Zahra akan menjelaskan kepada Aisyah pelan-pelan tentang apa yang terjadi, sehingga Aisyah bisa paham bagaimana kondisi kedua orang tuanya, Zahra pasti akan bercerai dari mas Adam, tetapi tidak untuk saat ini."