Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Aku cemburu


__ADS_3

"Assalamualaikum." Zahra langsung membalikkan badannya melihat kearah seorang wanita yang memberi salam dan juga seorang lelaki di sampingnya wanita itu.


Siapa lagi kalau bukan Jihan dan Adam, yang datang untuk menjenguk Aisyah, Adam melihat ke arah Jihan yang tersenyum ramah ke arah semua orang.


"Ayo..." ajak Adam sambil menarik lembut tangan Jihan, karena ia tahu pasti Jihan enggan untuk menghampiri istri dan keluarganya.


Jihan menganggukkan kepalanya mengikuti setiap langkah kaki Adam yang sedikit demi sedikit menghampiri Zahra dan keluarganya.


"Assalamu'alaikum." ucap Jihan lagi sambil tersenyum.


"Waalaikumsalam" jawab semua orang dengan lirih.


Melihat itu Umi yang disamping Zahra langsung memegang erat tangan putrinya, iya tahu bagaimana hati Zahra saat ini, di satu sisi harus kuat demi Aisyah dan sisi lain harus kuat menahan rasa amarah yang mungkin saja sebagian orang akan meledak jika berada di posisi nya.


Begitupun juga dengan bu Ratna selaku ibu mertua Zahra, iya hanya bisa mengusap bahu Zahra sambil membuang mukanya atas perlakuan putranya tersebut,


"Bisa-bisanya Adam membawa Jihan untuk menjenguk Aisyah disaat yang seperti ini, entah bagaimana lagi aku harus memperingati putraku itu." ucap Bu Ratna didalam hatinya.


"Sayang... Jihan datang ke sini ingin menjenguk Aisyah, iya begitu khawatir dengan keadaan Aisyah.. iya kan Jihan?" ucap Adam yang di iyakan oleh Jihan lagi-lagi sambil tersenyum manis.


Jihan langsung memberikan buah-buahan yang dibawahnya, namun Zahra sangat enggan mengambil pemberian dari Jihan, iya hanya melihat ke arah buah di dalam keranjang pemberian Jihan tersebut tampa berniat menerimanya.

__ADS_1


Melihat itu bu Ratna langsung mengambil buah-buahan pemberian Jihan tersebut, kalau saja wanita lain yang berada di posisi Zahra, mungkin buah itu akan dilempari nya sambil memaki sang pemberi.


"Iya mbak.. benar seperti yang dikatakan mas Adam adam, saya begitu khawatir dengan keadaan Aisyah yang katanya dari kemarin belum sadarkan diri setelah melakukan kemoterapi, dan maaf sekali ya mbak.. karena saya baru saja datang, mas Adam baru mengajak saya hari ini." ucap Jihan.


"Iya tidak apa-apa terima kasih sekali sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini menjenguk Aisyah, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini." ucap Zahra dengan nada yang menekan.


Sungguh Zahra malas sekali ketika harus berbicara dengan wanita yang ada di depannya ini, hingga sampai saat ini rasa ikhlas atas apa yang dilakukan oleh suami dan madunya ini, belum bisa zahara ikhlaskan.


"Tidak apa-apa mba.... kan Aisyah termasuk anak saya juga, saya juga menyayangi aisyah mbak, walaupun Aisyah bukan darah daging saya, kita adalah sama-sama ibunya Aisyah."


Semua orang menatap kesal ke arah Jihan setelah mendengar kata-kata yang tidak tahu malunya itu, berbeda dengan Adam yang merasa senang ketika mendengar bahwa Jihan menyayangi Aisyah seperti anak kandungnya sendiri.


" Bener apa yang dikatakan Jihan sayang.. Aisyah juga anak Jihan, betapa beruntungnya Aisyah memiliki dua orang ibu yang begitu baik dan sayang kepadanya." ucap Adam membela Jihan.


Bu Ratna hanya diam, iya merasa serba salah jika situasi sudah seperti ini, di umur tuanya semua orang tua ingin beristirahat dari permasalahan yang telah dibuat oleh anak anaknya, tetapi berbeda dengan bu Ratna yang harus menghadapi dan menerima segala resiko yang telah diperbuat oleh putra semata wayangnya.


"Bukan seperti itu sayang maksud mas,


Aisyah memang daerah daging kita, tetapi Jihan juga termasuk ibunya Aisyah, walau bagaimanapun mas disini yang salah bukan jihan, mas mohon untuk kali ini saja, jangan ada perdebatan ataupun aduh mulut, kasihan Aisyah yang belum sadarkan diri di dalam." ucap Adam sambil mendekat dan mengusap lembut kepala Zahra.


Mata Jihan tidak pernah lepas dari tangan Adam yang mengusap kepala Zahra, rasa sakit di hati Jihan tak dapat disembunyikan ketika melihat raut wajah wanita itu.

__ADS_1


Adam tidak pernah bersihkan romantis dengan Jihan di depan semua orang seperti iya bersikap romantis kepada Zahra, hanya Zahra yang selalu mendapatkan perhatian Adam tidak dengan Jihan.


"Kenapa mas, kenapa kamu memperlakukan Zahra seperti itu di hadapan keluargamu dan di hadapan keluarganya Zahra, kamu dengan bebas bersikap romantis di depanku seperti ini, tanpa memikirkan perasaanku yang melihat kalian, rasanya sangat sakit sekali, apakah aku akan selamanya dinomor duakan di dalam hatimu mas." lirih Jihan didalam hatinya.


"Sudahlah mas.. jangan bersikap seperti itu di hadapan semua orang, apalagi di hadapan istrimu yang lainnya." ucap Zahra yang melihat perubahan ekspresi dari Jihan.


Ketika mendengar perkataan Zahra Adam langsung menghentikan usapan tangannya di kepala zahra, Adam menatap wajah istri keduanya itu, benar saja raut wajah Jihan sekarang sudah berubah, walaupun senyuman itu tidak luntur dari bibir manisnya.


"Aku tidak apa-apa kok mbak.. aku telah terbiasa seperti ini, jadi mbak jangan memikirkan aku." ucap Jihan dengan senyum yang dipaksakan lnya.


"Iya Zahra benar seperti yang dikatakan Jihan, sakit yang dirasakan Jihan tidak lebih dari sakit yang iya berikan kepadamu, betul seperti itu kan Jihan?" balas bu Ratna dengan nada yang sewot.


Mata Jihan langsung berair ketika mendengar perkataan dari mertuanya itu, sungguh mamanya Adam yang sekarang sangatlah berbeda dengan yang dulu yang begitu menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Sudahlah bu.. tidak perlu diperpanjang lagi pembahasan yang seperti ini, apalagi saat ini kita menghadapi situasi yang tidak baik, lebih baik kita samping kan dulu masalah yang sedang dihadapi oleh anak-anak." ucap Umi dengan bijak.


Lagi-lagi Adam hanya diam tanpa membela Jihan sedikitpun, Jihan menatap kearah suaminya dengan pandangan yang kecewa, sungguh sakit rasanya berada di posisinya saat ini, ia serba salah dihadapan orang-orang sekitar suaminya, tidak sedikitpun iya dapatkan pembelaan dari Adam.


"Duduk dulu sayang pasti kamu capek dan merasa ngantuk, mas permisi sebentar mau membelikan makanan untuk kalian, Umi mama, jihan, titip Zahra sebentar ya." ucap Adam setelah pendudukan Zahra di kursi.


Lagi-lagi perhatian Adam terang-terangan iya tunjukkan kepada Zahra di depan Jihan, Jihan hanya bisa menangis di dalam hatinya, sungguh iya ingin sekali diperlakukan begitu mulia oleh suaminya di depan orang banyak, karena Jihan hanya mendapatkan sikap romantis suaminya jika mereka hanya berdua saja.

__ADS_1


"Aku tahu mas Zahra di saat ini begitu membutuhkan dukungan darimu, tapi bisa tidak menunjukkannya jangan di depan mataku, tolong lihat aku mas, aku cemburu benar-benar cemburu, sakit sekali rasanya mas." lirih Jihan di dalam hatinya


__ADS_2