
Aisyah sudah dipindahkan keruang inap tidak lagi di UGD, Zahra tidak pernah sedetik pun meninggalkan putrinya yang belum sadar diri terbaring di atas ranjang.
Hati Zahra sungguh sakit sekali ketika melihat tubuh lemah dan wajah pucat Aisyah, andai bisa iya menggantikan posisi Aisyah, sudah pasti Zahra akan menghentikan Aisyah.
Mama dan papa mertua Zahra sudah terlebih dulu lebih pulang, setelah menambahkan luka dengan perkataan pedas mama mertuanya.
Zahra juga sudah menghubungi keluarganya, memberitahu bagaimana keadaan Aisyah sekarang, belum ada konfirmasi dari dokter bagaimana hasil medis Aisyah.
"Sayang aku keluar dulu untuk membeli makanan."
Zahra hanya mengangguk pelan membiarkan suaminya keluar untuk membeli makanan, sekarang sudah ashar dan mereka sudah melewatkan makan siang.
Pandangan Zahra tidak pernah lepas dari tubuh Aisyah, sudah dari tadi tubuh kecil itu tertidur, kata dokter itu pengaruh dari obat tidur yang diberikan kepada Aisyah.
Perlahan Zahra melihat ada pergerakan di mata Aisyah, sedikit demi sedikit mata itu terbuka, Zahra tersenyum bahagia akhirnya putrinya bangun juga.
"A..yah..."
"Iya sayang... ini bunda, apa ada yang sakit?"
Zahra mencium dahi Aisyah dengan linangan air mata yang mengalir, kata-kata pertama ketika Aisyah sadar adalah ayah.
"Bunda... dimana ayah?" Aisyah mengabaikan pertanyaan bundanya.
"Ayah lagi keluar sayang, sebenar lagi akan kembali." ucap Zahra.
"Bunda... kenapa bunda menangis?" dengan segera Zahra menghapus air matanya.
"Tidak sayang, bunda tidak menangis."
Zahra tersenyum sambil mengelus rambut putrinya, walaupun hatinya sakit ketika melihat Aisyah dalam keadaaan begini, tetapi Zahra tidak ingin menangis didepan Aisyah.
"Apa ada yang sakit sayang?" tanya Zahra.
"kepada Aisyah sakit bunda, seperti ada palu yang memukul kepala Aisyah dengan kuat." Zahra tidak kuasa menahan air matanya, mendengar perkataan polos Aisyah.
"Maafkan bunda sayang,.. bunda tidak tahu bagaimana caranya agar Aisyah tidak merasakan sakit itu, andai saja sakit itu dipindahkan kepada bunda." ucap Zahra terisak.
"bunda... janganlah menangis, Aisyah tidak ingin melihat bunda menangis, itu akan membuat Aisyah lebih sakit bunda, saktinya disini bunda.. rasanya sesak sekali." ucap Aisyah menunjuk dadanya.
Hati ibu mana yang tidak akan menangis melihat putrinya seperti ini, mata ibu mana yang tidak akan keluar air mata ketika putrinya mengeluh sakit.
Aisyah Putri kecilnya, diusianya empat tahun tidak hanya paras cantik namun hati yang bersih dan juga cerdas, beruntung sekali Zahra menjadi ibunya.
"Maaf ya sayang.. mata bunda payah sekali, selalu saja kelilipan hehehe."
clkeek
Suara pintu terbuka.
"Ayah..." panggil Aisyah dengan mata yang berbinar melihat ayahnya.
__ADS_1
"Sayangnya ayah sudah bangun ternyata, bagaimana sayang... apa yang sakit?"
pertanyaan Adam tidak jauh berbeda, dengan pertanyaan yang diajukan oleh Zahra kepada Aisyah.
"Tidak ada yang sakit, Aisyah baik-baik saja."
ucap Aisyah dengan senyum dibibir pucat nya.
Aisyah tidak ingin orang tuanya khawatir dengan keadaan, anak yang berumur empat tahun itu tau betul bagaimana cara menjaga hati orang tuanya.
"Sayang kamu makan dulu, dari tadi kamu belum makan"
Zahra menatap bungkusan plastik yang disodorkan oleh suaminya disaat seperti ini rasanya tidak bernafsu makan.
"Iya mas.."
Zahra mengambil bungkusan makanan itu dan membukanya, walaupun tidak selera tetapi iya harus tetap makan, agar tidak sakit ketika menjaga putrinya.
Tak lama seorang dokter wanita yang memeriksa Aisyah tadi masuk lagi, dengan diikuti seorang suster wanita diri belakangnya, dokter itu melemparkan senyum manis kearah Zahra dan Adam.
"Wah... Aisyah sudah sadar, dokter periksa dulu ya." pinta dokter yang bernama Anisa yang tertulis di back bajunya.
"Baik dok.."
Dokter Annisa memeriksa keadaan Aisyah, dengan ditemani oleh Zahra dan Adam disampingnya.
"Apa yang Aisyah rasakan sekarang sayang." tanya dokter Anisa.
"Tidak ada dokter, Aisyah tidak merasakan apa-apa." jawab Aisyah lirih.
ucap Zahra.
"Apa betul Aisya kepala Aisyah sakit?"
ucap dokter Anisa dengan nada tegas, yang dibalas anggukkan lemah oleh Aisyah.
"Kenapa Aisyah berbohong sama dokter nak?" tanya dokter Anisa lagi.
"Aisyah tidak ingin bunda menangis dokter, ketika melihat air mata bunda rasanya jauh lebih sakti dari pada sakit kepala."
Semua yang mendengar kata-kata polos yang keluar dari mulut Aisyah terharu sekali, anak kecil ini tidak mengeluh sakit demi menjaga perasaan bundanya.
"Aisyah lain kali jangan berbohong ya sayang, bohong itu kan dosa, bunda Aisyah sangat sayang pada Aisyah makanya menangis."
"Maaf ya dokter, Aisyah tidak akan bohong lagi." ucap Aisyah lemah.
"Anak pintar." ucap dokter Anisa tersenyum.
"Buk... pak... tolong ikut saya sebentar, hasil medis pemeriksaan Aisyah sudah keluar."
Zahra menatap kearah Aisyah sungguh iya belum siap mendengar kabar buruk tentang putrinya.
__ADS_1
"Baik dokter.. sebentar lagi kami akan kesana."
"kalau begitu kami permisi dulu pak.. buk, ayok sus." dokter dan suster melangkah keluar meninggalkan ruang Aisyah.
Tak berapa lama terdengar lagi suara ketukan pintu "tok.. tok... tok... assalamu'alaikum." ucap seseorang memberi salam sambil membukakan pintu.
"Waalaikumsalam Abah... Umi..." Adam dan Zahra langsung menyambut kedatangan Abah dan Umi, hati Zahra seketika menjadi sedikit lebih tenang ketika melihat kedua ortunya.
"Kakek... nenek.. Aisyah kangen banget sama Kakek dan nenek." ucap Aisyah tersenyum sambil tertidur karena tidak kuasa untuk duduk.
"kakek dan nenek juga kangen banget sama Aisyah yang cantik dan pintar ini, lihat apa yang kakek dan nenek bawa."
Umi langsung mengeluarkan sebuah boneka Barbie yang dibawanya, membuat Aisyah begitu senang melihat hadiah dari neneknya.
"Wah cantik banget.... Aisyah suka, makasih kakek nenek." ucap Aisyah dengan suara yang lemah.
"Bagaimana keadaan Aisyah, Aisyah sakit apa, sampai hidungnya keluar darah seperti itu?" tanya Abah menatap kearah Adam dan Zahra.
"Kami juga belum tahu Abah, rencananya sekarang kami ingin keruang dokter Anisa yang menangani Aisyah, hasil pemeriksaan medis Aisyah sudah keluar." ucap Adam.
"Iya Abah.. Umi, Zahra titip Aisyah sebentar ya."
"Iya nak, tidak apa-apa biar Aisyah Umi dan Abah yang jaga, kalian pergilah."
Zahra hanya mengangguk sambil menatap kearah putrinya yang terbaring lemah di atas ranjang.
Zahra sangat salut kepada putri kecilnya itu, walaupun dalam keadaan sakit seperti ini, Aisyah tetap tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
"Sayang bunda sama ayah tinggal dulu ya."
"Iya bunda."
Zahra sudah sampai didepan pintu ruangan dokter Anisa, perasaan Zahra campur aduk antara takut dan juga ingin tahu hasil medis Aisyah.
" Mas..." panggil Zahra dengan lirih.
"Tidak apa-apa, Aisyah pasti baik-baik saja."
Adam tahu apa yang dirasakan oleh istrinya sekarang, Adam dapat melihat wajah istrinya yang takut itu.
"tok..tok.."
"Masuk." terdengar jawaban dari dalam.
"Pak Adam.. buk Zahra, silahkan duduk."
dengan perlahan Adam dan Zahra duduk dihadapan dokter Anisa.
Dokter Anisa memberikan sebuah amplop hasil pemeriksaan medis Aisyah kepada Zahra, dengan tangan gemetar Zahra mengambil amplop itu.
"Langsung saja saya sampaikan pak.. buk, Aisyah Putri bapak dan ibu, positif mengidap leukemia atau kanker darah."
__ADS_1
Degg...
Surat hasil pemeriksa Aisyah yang ditangan Zahra jatuh begitu saja, begitupun dengan Adam dia begitu shock mendengar perkataan dari dokter Anisa.