
Zahra tersenyum puas melihat bagaimana susahnya Adam dalam menjaga hati kedua istrinya, berlaku adil dalam memperlakukan antara Jihan dan Zahra, rasanya puas sekali ketika melihat bagaimana muka Jihan yang memerah menahan kekesalan hati.
Makan malam yang diadakan di rumah pak Yusuf berjalan dengan lancar, walaupun dengan penuh drama yang dilakukan oleh kedua istri Adam, namun tidak dapat membuat Zahra diam mengerjai Jihan habis-habisan.
Setelah duduk-duduk sebentar di ruang tamu, tak lama setelah itu terdengar suara adzan yang berkumandang, suasana menjadi hening ketika suara adzan terdengar.
"Alhamdulillah adzan sholat insya telah di kumandangkan, sebaiknya kita sholat berjamaah secara bersama-sama itu akan lebih baik." ujar pak Yusuf.
Mendengar perkataan pak Yusuf, semua orang hanya mengangguk mengiyakan perkataan pak yusuf. pak Yusuf langsung bangun dari duduknya, beliau melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada di samping tangga rumah mereka untuk bersuci dan mengambil air wudhu.
Tinggallah Adam dengan mamanya dan juga kedua dengan istrinya, mata Jihan yang sesekali melirik ke arah Zahra ketika istri pertama dari suaminya itu sedang berbicara, bukannya tidak mengetahui bahwa Jihan sedang memperhatikannya, tetapi Zahra mengabaikan tetapan Jihan ke arahnya.
"Bagaimana dengan kondisi Aisyah sayang?" tanya bu Ratna.
Mendengar pertanyaan itu, ekspresi wajah Zahra langsung berubah walau dengan senyum yang dipaksakan, iya tidak dapat menyembunyikan perasaannya, jika itu telah menyangkut pembahasan mengenai Aisyah.
"Tidak tahu mah, kondisi Aisyah untuk saat ini tidak bisa dibilang baik-baik saja, setelah melakukan kemoterapi pertamanya, rambut Aisyah sering rontok badannya sering sakit-sakitan, Zahra sangat kasihan melihat Aisyah, andai bisa penyakit Aisyah dipindahkan saja pada zahara."
Zahra membuang mukanya, iya tak kuasa membayangkan keadaan putrinya sekarang, hari-hari yang dilalui Aisyah terasa sangat berat sekali, dimana wajah pucat itu selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan senyuman yang lemah.
"Allahu.. ya allah, sungguh mama mengetahui dan juga merasakan apa yang kamu rasakan sekarang Zahra, sungguh kamu wanita yang kuat sayang, disaat putri mu sakit seperti ini kamu malah...." ucap bu Ratna terhenti melihat kearah Adam dan Jihan saling bergantian.
Buk Ratna menghapus air matanya yang berlinang, iya tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi, membayangkan saja posisi Zahra saat ini sakitnya luar biasa, dan salah satu penyebab yang dirasakan oleh menantunya saat ini, disebabkan langsung oleh putra semata wayang nya.
"Inilah takdir yang harus Zahra lalui mah, takdir ini sudah mengikuti Zahra sejak zaman azali, inilah takdir yang Zahra pilih, ujian yang allah berikan hanya sebuah tes untuk Zahra."
__ADS_1
Adam serba salah ketika mendengar perkataan kedua wanita yang begitu ya cintai, iya tahu iya yang salah, iya yang menyebabkan Zahra sakit hati, iya yang memasukkan Jihan ke dalam pernikahan mereka, dan Adam berusaha untuk memperbaiki semua kesalahan yang iya perbuat.
Begitupun juga dengan Jihan, ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Zahra, ia merasa... iya telah menjadi wanita yang begitu jahat, karena telah merebut serang ayah dari seorang putri yang sedang melawan penyakitnya.
"Ya Allah.. apakah aku bersalah karena mencintai mas Adam, jika memang itu adalah kesalahanku kenapa engkau memasukkan cinta itu ke dalam hatiku, sehingga aku tidak dapat melihat apa itu benar atau salah.
Jika ini salah.. maka ya Allah tabahkan lah hatiku, tunjukkanlah jalan mana yang hatinya, ketika melihat Adam lebih mengutamakan Zahra dari padanya, namun rasa bersalah di dalam hati Jihan lebih mendominasi.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, keluarlah pak Yusuf dengan air yang menetes di wajahnya, pertanda bahwa ia sudah bersuci dan mengambil air wudhu.
"Berwudhu lah... papa tunggu kalian di mushola."
"Baik pah." jawab Adam.
Setelah mengambil air wudhu Zahra langsung keluar dari dalam kamar mandi, ketika membuka pintu kamar mandi wajah Jihan yang pertama kali ia lihat, Jihan berdiri tepat didepan pintu kamar mandi dengan senyum manis yang iya berikan kepada Zahra.
Zahra hanya sedikit membalas senyum manis itu, senyumannya kelihatan manis tetapi tidak bagi Zahra, karena senyum itu yang telah merebut surganya, senyum itu yang telah merenggut seorang Adam yang dulunya berstatus sebagai suaminya yang beristri satu.
Zahra langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi melewati tubuh Jihan begitu saja tanpa sepatah kata apapun, menuju mushola yang ada di dalam rumah itu.
Setelah semuanya siap Adam langsung maju sedikit ke depan, mengumandangkan iqomah pertanda bahwa Adam yang akan memimpin sholat berjamaah tersebut.
Zahra melirik ke arah Jihan yang berdiri di sampingnya, lagi-lagi senyum manis yang diberikan Jihan kepada Zahra, yang lagi-lagi diabaikan oleh Zahra.
Tak berapa lama terdengar suara takbir yang terucap dari mulut Adam yang berdiri didepan sebagai imam, semua orang langsung mengikut Adam untuk melaksanakan shalat insya.
__ADS_1
Setelah akhir salam, Zahra mengangkat tangannya untuk memanjatkan doa, dengan harapan semoga Allah memudahkan setiap langkah dan jalannya, untuk mencapai ridho Allah yang iya harapkan.
Semua orang bersalaman tak terkecuali Jihan juga bersalaman dengan Zahra, "Maafkan segala kesalahan yang telah saya lakukan ya mbak." ucap Jihan dengan suara yang lirih yang hanya didengarkan oleh Zahra.
"Kesalahan dan dosa itu mudah dimaafkan, tetapi hati yang tersakiti sangat sulit disembuhkan, umpama kaca yang retak tak akan pernah menyatu seperti semula Jihan, dan kamu belum juga merayu ku untuk mencapai keikhlasan ku terhadap dirimu Jihan." ucap Zahra dengan lirih pula hanya mereka berdua yang mendengarkannya.
Setelah itu Zahra langsung melipat mukena dan sajadah yang digunakannya untuk sholat, begitupun dengan bu Ratna dan juga Jihan yang ingin meninggalkan mushola setelah melakukan sholat.
" Adam duduklah, ada yang ingin papa sampaikan kepadamu." ucap pak Yusuf ketika melihat Adam juga ingin meninggalkan mushola ini, Adam membalikkan badannya menghadap ke arah papanya tersebut.
" Apa yang ingin papa sampaikan kepada Adam?."
"Duduklah terlebih dahulu." Adam langsung duduk di hadapan papanya itu, tetapi pak Yusuf hanya diam saja iya belum mengeluarkan sepatah kata apapun. hingga beberapa saat terdengar suara tarikan nafas panjang dari pak Yusuf.
"Untukmu Adam anak laki-laki ku.... sebagai seorang ayah, papa berpesan kepadamu, pahamilah perempuan.... ketika ia cemburu, berarti iya ingin menjadi yang terbaik dalam kehidupanmu, ketika ia diam... berarti iya ingin kamu mengerti dengan keadaan hatinya, ketika ia tersenyum maka ia mencintaimu."
.
.
.
selamat membaca
padahal bab ini udah dari kemarin saya upload
__ADS_1