
Sudah satu Minggu Aisyah dirawat di RS sejahtera, kata dokter Anisa yang sekarang menjadi dokter pribadinya Aisyah, hari ini Aisyah sudah boleh pulang.
" Bunda Aisyah sangat bosan di sini, Aisyah ingin pulang."
"Iya sayang.. kan kata dokter Anisa hari ini Aisyah boleh pulang, sebentar lagi dokter Anisa akan ke sini untuk memeriksa Aisyah."
Sudah satu minggu Aisyah dirawat di rumah sakit, tetapi sepertinya kondisi Aisyah masih sama, sedikit sehat walau sesekali mengeluarkan mimisan darah di dalam hidungnya.
"Tapi Aisyah benar-benar bosan di sini bunda." ucap Aisyah.
Zahra melihat ke arah Umi, Zahra tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan rasa bosan pada putrinya itu.
Padahal sudah ada Zahra dan Umi yang selalu menemani Aisyah, tapi Aisyah sering kali mengeluh rasa bosan karena tinggal di rumah sakit.
Adam hanya bisa cuti tiga hari menemani Aisyah di rumah sakit, sekarang Adam pergi bekerja, pulang berkerja Adam sempatkan waktunya sedikit untuk menjenguk putrinya.
Begitupun juga dengan Abah, Abah sudah lebih dulu pulang dengan diantar oleh Adam, Umi memilih tinggal dengan Zahra untuk beberapa hari kedelapan, menemanimu Zahra dan juga Aisyah sampai kondisi Aisyah stabil.
Dengan adanya Umi di samping Zahra, dapat menguatkan Zahra menghadapi kondisi Aisyah, Zahra sudah ikhlas menerima takdir yang allah berikan kepadanya.
"Sabar ya sayang.. sebentar lagi kita akan pulang, jadi Aisyah nggak akan bosan lagi di rumah sakit." ucap Umi.
" Tok.. tok.. tok..." suara ketukan dari pintu.
Ketika pintu terbuka masuklah dokter Anisa dengan senyum manis di wajahnya, yang diikuti oleh seorang suster di belakangnya.
"Selamat sore Aisyah." sapa dokter Anisa.
"Sore dokter Anisa."
"Dokter Anisa periksa dulu keadaannya.. ya sayang."
Aisyah hanya mengangguk mengiyakan pernyataan dari dokter Anisa, dengan hati-hati dokter Anisa memeriksa Aisyah.
"Alhamdulillah.. kondisi Aisyah saat ini sudah stabil, jadi Aisyah sudah boleh pulang hari ini." tutur dokter Anisa.
"Yeey... akhirnya Aisyah boleh pulang, Aisyah sudah kangen sekali dengan rumah."
Semua orang dalam ruangan itu tersenyum melihat semangat Aisyah karena dibolehkan pulang hari ini, begitupun juga dengan Zahra, senyum Aisyah adalah obat baginya.
"Bu Zahra ada yang ingin saya sampaikan dengan ibu, kita bicarakan di dalam ruangan saya." ucap dokter Anisa.
"Baik dokter."
"Kalau begitu, ayo bu,.. ikut saya ke ruangan sekarang."
"Nak.., Aisyah sama Umi dulu ya, bunda mau bicara sebentar dengan dokter Anisa."
"Iya bunda." jawab Aisyah.
"Ayo bu." ajak dokter Anisa.
Zahra mengikuti langkah dokter Anisa yang keluar dari kamar Aisyah, menuju ke dalam ruangan dokter Anisa.
Kali ini tidak ada Adam menemani Zahra, tetapi Adam sudah memberitahu Zahra, kalau Aisyah jadi pulang hari ini maka Adam akan menjemputnya.
__ADS_1
"Silahkan duduk bu." pinta dokter Anisa.
Zahra langsung duduk di depan dokter Anisa.
"Begini bu jadi hari ini Aisyah sudah boleh pulang, untuk pengobatan Aisyah.. perlu dilakukan kemoterapi, bagaimana menurut ibu?" tanya dokter Anisa.
"Apakah jika di kemoterapi Aisyah akan sembuh dokter, apakah Aisyah bisa sehat seperti dulu?" tanya Zahra.
"Saya tidak bisa menjamin kesembuhan dan kesehatan seorang pasien bu, tapi saya bisa berusaha agar saya bisa menyembuhkan pasien." ucap dokter Anisa dengan lembut meyakinkan Zahra.
"Kemoterapi perlu dilakukan agar membunuh sel kanker yang ganas, tetapi kemungkinan sembuh sangatlah kecil, dan banyak sekali efek samping dari kemoterapi."
"Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya Aisyah, saya tidak ingin melihatnya menderita seperti ini, setiap saat dia sering mengeluh sakit kepala dan seluruh badannya terasa nyeri. ucap Zahra lirih.
Dokter Anisa menyentuh tangan Zahra untuk memberi kekuatan kepada ibu muda itu, sebagai wanita dokter Anisa bisa merasakan sakitnya diposisi Zahra.
Dokter Anisa saat ini belum memiliki anak sudah tiga tahun menjalani pernikahan dengan suaminya, tetapi Allah belum mengizinkannya menjadi seorang ibu.
"Insyaallah bu.. kita akan berusaha sama-sama, atas izin allah Aisyah bisa sembuh."
"Jadi kapan Aisyah bisa pulang dokter?"
"Sekarang juga sudah bisa pulang bu, dan untuk kemoterapi nya akan saya haturkan jadwalnya."
"Baik dokter.. terima kasih, kalau seperti itu saya permisi dulu."
Setelah berpamitan dengan dokter Anisa, Zahra melangkah keluar menuju kamar Aisyah, zahra akan membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang.
"Bagaimana nak, apakah Aisyah akan pulang sekarang?" tanya Umi.
"Kamu sudah memberitahu suamimu nak?"
"Oh.. iya, Zahra hampir saja lupa memberitahu mas Adam, kalau begitu Zahra beritahu mas Adam dulu Umi."
"Ya sudah kamu kabari lah suamimu dalu, biar Umi saja yang beres-beres." ucap Umi.
"Ya udah Umi Zahra kabari dulu mas Adam."
Setelah mengabari suaminya, Zahra mengambil pakaian Aisyah, berniat menggantikan pakaian Aisyah dengan pakaian yang bersih yang di bawah oleh suaminya.
"Bagaimana nak, sudah kamu kabari Adam."
"Sudah Umi, katanya sebentar lagi mas Adam akan ke sini."
"Kalau begitu kita tunggu saja kedatangan Adam ke sini."
"Iya Umi."
Hampir dua jam Zahra menunggu kedatangan Adam, tetapi Adam tak kunjung menampakkan dirinya, seketika rasa panik menghampiri Zahra memikirkan suaminya, Zahra takut terjadi apa-apa dengan suaminya.
Zahra juga mencoba menghubungi Adam, tetapi handphone Adam sudah tidak aktif lagi, terpaksa Zahra pulang terlebih dahulu dengan taksi.
.....
Sementara Adam, ketika ingin mengecas hpnya, Adam melihat pesan dari Zahra, Adam tidak jadi mengecas hpnya, Adam langsung bergegas menuju ke rumah sakit, menjemput istri dan anaknya.
__ADS_1
Tetapi di pertengahan jalan, mata Adam tidak sengaja melihat Jihan, yang sedang kebingungan seorang diri, melihat ban mobilnya yang sedang kempes.
Dengan perlahan Adam mengentikan mobilnya di depan mobil Jihan, Adam turun dari mobilnya menghampiri Jihan.
"Kenapa Ji?" tanya Adam basa basi sambil menatap kearah mobil Jihan.
Jihan tersenyum melihat kedatangan Adam, entah kebetulan atau bukan tetapi Jihan senang dengan kedatangan Adam.
"Ini mas.. mobil Jihan bannya kempes, mana jalanan sepi lagi."
"Emangnya kamu mau ke mana Ji?" tanya Adam.
"Jihan mau pulang mas, tetapi tidak ada satu pun taksi yang lewat."
"Kalau begitu mas hantarkan saja yah, biar nanti mobilmu mas telepon bengkel saja."
"Jihan tidak ngerepotin mas Adam kan?" tanya Jihan.
Adam tersenyum mendengar ucapan Jihan,
hatinya berbunga-bunga seperti A-B-G yang sedang jatuh cinta.
"Tidak ngerepotin kok, kan mas yang nawarin."
"Ya udah mas kalau gitu, terimakasih banyak mas." dengan malu-malu Jihan menaiki mobil Adam dan duduk didepan di samping Adam.
"Pulang dari mana Ji?" tanya Adam.
"Jihan baru saja pulang dari makam ayah mas."
Tak berapa lama mobil Adam sampai di rumah Jihan. "Mampir dulu mas." ajak Jihan.
"Kalau mas mampir, nanti ada yang marah lagi." pancing Adam berusaha mengorek informasi tentang laki-laki bersama Jihan di pantai waktu itu.
"Siapa yang marah mas." tanya Jihan dengan dahi yang berkerut.
"Tentu saja suamimu." Jihan tersenyum mendengar jawaban dari Adam, ternyata Adam salah paham tentang ya.
"Itu bukanlah suamiku mas.. itu sepupuku, Jihan belum menikah."
"Kamu serius?" tanya Adam semangat, serasa mendapatkan angin segar mendengar perkataan Jihan.
"Tentu saja aku serius mas.. makanya kamu mampir dulu, kita ngobrol-ngobrol di depan."
Adam menerima ajakan dari Jihan dan melangkah memasuki halaman rumah Jihan, Adam melupakan istri dan anaknya yang sedang menunggunya di rumah sakit.
Oh Adam kamu benar-benar keterlaluan.
.
.
.
Selamat membaca 🥰
__ADS_1