Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Aisyah Sakit


__ADS_3

Adam sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sambil memperhatikan aktivitas istrinya di depan cermin seperti biasa sebelum tidur.


Gerakan tangan Zahra yang gemulai mengoleskan skincare menjadi pusat perhatian Adam, Zahra sadar kalau suaminya sedang memperhatikannya karena sekali-kali Zahra melirik suaminya dari pantulan cermin.


"Sayang.." panggil Adam sambil memperhatikan Zahra.


"Ada apa mas.. kenapa memperhatikan aku seperti itu, kalau ada yang ingin ditanyakan tayangkan saja." ucapan zahra masih fokus dengan skincare yang dipakainya.


Wajah Adam terlihat ragu ketika ingin bertanya sesuatu hal yang bisa saja membuat Zahra salah paham.


Adam ingat sekali ketika terakhir kali dirinya membahas tentang Faiz yang menyukai Zahra, pasti Zahra akan tersinggung dan salah paham.


"Katakan saja mas." ucap Zahra memperhatikan wajah ragu adam


"Emm... kenapa Aisyah bisa begitu dekat dengan Faiz, apakah kalian sering bertemu?"


Akhirnya kata-kata yang menjadi beban di dalam pikiran Adam terucapkan sudah kepada istrinya.


Aktivitas Zahra terhenti seketika, ketika mendengar pertanyaan dari suaminya, sambil melirik suaminya dari pantulan cermin.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Zahra balik."


Zahra langsung menutup skincare yang baru selesai dipakai dan menaruhnya di tempat semula. Zahra melangkahkan kakinya ke arah ranjang, dan merebahkan tubuhnya di samping Adam.


"Aku cemburu ketika melihatmu dan Aisyah begitu dekat dengan Faiz, aku tidak rela anak dan istri aku dekat dengan laki-laki lain selain diriku."


Zahra terdiam mendengar perkataan suaminya, sambil menarik nafas panjang dan hembuskan secara perlahan. Beginilah sifat suaminya yang selalu saja cemburu ketika Zahra bertemu dengan Faiz walaupun itu hanya interaksi biasa.


"Sudah aku katakan dari dulu mas, aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengan bang Faiz, apalagi hubungan yang lebih, bang Faiz tidak mencintaiku maupun juga dengan diriku.


jadi stop mencurigai aku yang tidak-tidak, sehingga membuat hatimu tidak tenang menahan cemburu."


"Tapi Zahra."


"Sudahlah mas... tidak akan selesai-selesai jika ingin membahas kecemburuan mu yang tidak jelas itu, lebih baik kita tidur." ucap Zahra memotong perkataan suaminya dengan wajah yang kesal.


"Sebagai suamimu mas berhak cemburu, mas berhak marah, ketika melihat istri mas dekat dengan pria lain, itu wajar."


"Tetapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengan bang Faiz, pertemuan tadi juga tidak sengaja, mas juga bisa melihat itu." terang Zahra tambah kesal menghadapi suaminya yang cemburu buta.


"Kedepannya kamu jagalah pandanganmu, jangan sampai matamu melihat yang bukan mahram mu Zahra, itu sama juga dengan zina mata."

__ADS_1


Zahra terkejut mendengar kata-kata suaminya yang menilainya seburuk itu, kata-kata suaminya menyakiti hatinya, tidak seharusnya Adam berkata seperti itu.


"Wow mas.... bijak sekali kata-katamu, kamu mengenalku dengan sangat baik mas, tetapi penilaian mu kepadaku sangatlah buruk, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu mas."


Adam terdiam melihat kemarahan dan kekecewaan dimata istrinya, dia tidak bermaksud berkata seperti itu, tetapi kecemburuannya membutakan mata hatinya.


"Jangan mas samakan aku dengan dirimu mas, yang dengan mudahnya membagikan hatimu dengan wanita lain, aku bukan seperti itu." ucap Zahra dengan suara yang bergetar.


"M..m..as tidak bermaksud seperti itu Sayang, m..m..as mohon jangan lagi mengungkit masalah itu, mas sudah melupakannya sayang, percayalah."


Adam benar-benar ketakutan ketika Zahra mengungkit masalah yang tabu dibahas dalam keluarga kecilnya.


"Hanya Allah dan kamu saja yang tahu isi hatimu mas, apakah kamu masih menyimpan nama wanita itu atau sudah melupakannya, orang lain tidak tahu begitu juga denganku."


"Mas sungguh-sungguh sudah melupakannya, mas mohon... percayalah." Zahra memandang kearah suaminya dengan intens.


"Tidurlah mas.. esok hari banyak tugas yang menyebut kita." tampa menunggu Adam merespon, Zahra langsung menarik selimutnya sambil menyelimuti tubuhnya sampai leher.


Pagi harinya seperti biasa sesudah sholat subuh Zahra langsung beraktifitas di dapur, menyiapkan sarapan untuk Adam dan juga putri kecilnya Aisyah.


Setelah selesai menemani Adam sarapan, seperti biasa Zahra akan mengantarkan suaminya sampai di depan pintu untuk berangkat bekerja.


Pagi ini Aisyah belum bangun, Zahra sudah ke kamar putrinya, tetapi tidak tega membangunkan putrinya yang sedang tidur nyenyak.


"Iya mas... insyaallah Zahra dan Aisyah baik-baik saja dirumah, kamu juga hati-hati di jalan." ucap Zahra mengambil tangan suaminya dan menciumnya.


"Mas berangkat dulu sayang." ucap Adam mencium kening istrinya.


"Assalamualaikum."


"waalaikumsalam" jawab Zahra.


Setelah mengantarkan suaminya, Zahra masuk kembali kedalam, langkahnya menuju kearah kamar Aisyah.


"Sayang... bangun nak." ucap Zahra menggoyang sedikit tubuh Aisyah, namun Aisyah tidak kunjung bangun.


"Nak... Aisyah, bangun ayo sayang, bangun tuan putrinya bunda."panggil Zahra lagi.


Dengan perlahan mata indah dengan bulu mata lentik itu bergerak sedikit, membukakan matanya, Zahra tersenyum menyambut putrinya bangun tidur.


"Ayo sayang bangun.. mandi dulu, setelah itu baru sarapan."

__ADS_1


Tampa berbicara Aisyah duduk dengan mata yang sedikit terbuka, lalu tersenyum kearah Zahra, Aisyah langsung merentangkan tangannya ke arah bundanya pertanda Aisyah ingin digendong.


"Adudu manjanya anak bunda ini, mau gendong ya?" tanya Zahra yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Aisyah.


Dengan senyum manis Zahra mengangkat tubuh kecil itu, membawanya ke dalam kamar mandi.


"Beratnya anak bunda."


Setelah memandikan Aisyah, Zahra langsung membawa Aisyah ke meja makan untuk sarapan.


"Ini sayang.. sarapannya udah bunda siapkan, dimakan dulu sayang, bunda ambilkan air untuk Aisyah."


Aisyah hanya mengangguk mengiyakan ucapan bundanya, sejak bangun pagi Aisyah lebih banyak diam, tidak seperti biasanya.


"Ini sayang minumnya." ucap Zahra menaruh segelas air putih di depan Aisyah.


"Kenapa tidak dimakan sayang?" Zahra melihat Aisyah hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Aisyah tidak selera makan bunda."


"Masakan bunda nggak enak ya?" tanya Zahra dengan nada yang sedih.


"Bukan bunda.. masakan bunda selalu enak, tetapi hari ini Aisyah tidak selera makan saja."


" Ya udah gak apa-apa... kesayangan bunda mau makan apa biar bunda bikinin." tawar Zahra.


"Nggak deh bunda... nanti kalau Aisyah mau makan, Aisyah kasih tahu bunda."


"Ya udah.. kalau nggak mau makan, sekarang Aisyah main saja ya, bunda mau beres-beres dulu." ujar zahra.


"Baik bunda..."


Aisyah langsung mengambil beberapa boneka nya dan memainkannya, sedangkan Zahra mengambil alat bersih-bersih untuk membersihkan rumah.


Ketika hendak mengepel, Aisyah menarik bajunya Zahra dari belakang, Zahra membalikkan badannya melihat ke arah putrinya yang sudah pucat dengan darah yang mengalir dari hidungnya.


"Bunda kepala Aisyah sakit sekali." ucap Aisyah dengan lirih.


Zahra begitu panik melihat darah segar yang keluar dari hidung putrinya, tak berapa lama setelah kata itu keluar dari mulut putrinya, Aisyah langsung jatuh pingsan dan kehilangan kesadarannya.


" Ya Allah nak... sayang.. aisyah.. bangunan Aisyah." teriak Zahra panik membangunkan tubuh putri kecilnya yang sedang pingsan.

__ADS_1


Dengan segera Zahra mengangkat tubuh Aisyah dan berlari keluar mencari pertolongan, beruntung sekali di depan rumahnya langsung ada taksi yang lewat, zahra langsung membawa Aisyah ke rumah sakit terdekat.


__ADS_2