Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Dua ibu


__ADS_3

Lima bulan sudah dilalui oleh Zahra menjalankan rumah tangga dengan berbagai suami, walaupun hati sering mengeluh untuk bercerai dengan Adam tetapi tidak juga tersampaikan.


Berat rasanya... bener-bener berat, bukan terhalang cinta, tetapi terhalang karena buah hati yang sedang tidak baik-baik saja, apalagi semakin hari Aisyah semakin terpuruk seolah-olah kemoterapi yang dilakukan oleh Aisyah ditolak mentah-mentah oleh tubuhnya.


Tawaran untuk menyiarkan agama islam melalui undangan dakwah dan ceramah di berbagai tempat ataupun acara televisi yang meminta Zahra untuk mengisi acara, jika Zahra bisa maka akan Zahra penuhi undangan tersebut.


Sehingga nama Zahra banyak di dikenal oleh masyarakat luar daerah, bakat yang diturunkan oleh keluarganya seolah mendarah daging dalam diri Zahra, iya mampu berdiri sejajar bersama Abah, Umi dan kakaknya.


Tak jarang pula keluarganya pun juga sering tersorot kamera, orang-orang ketahui bahwa keluarganya adalah keluarga yang harmonis, keluarga yang keislaman nya begitu kuat dengan suami yang begitu mencintainya, tak ada yang tahu bahwa keluarga harmonisnya itu memiliki duri yang selalu menusuk hatinya.


Saat ini Zahra berada di rumah sakit menemani Aisyah yang lagi lagi harus terbaring di ruang ICU dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya, mata Zahra sembab akibat menangis dan menahan ngantuk.


Diambilnya tangan Aisyah dan di ciumnya beberapa kali, mata kecil itu tak terbuka dari kemarin setelah melakukan kemoterapi, rambut Aisyah yang dulunya tebal sekarang sudah terlihat kulit kepala karena setiap hari rambut itu rontok sendiri.


"Bangunlah sayang.. di sini bunda menunggumu, bukalah matamu nak.. jangan membuat bunda menunggu seperti ini, bangunlah jangan membuat bunda khawatir, bunda mohon Aisyah dengarlah perkataan bunda, Aisyah adalah anak penurut maka turutin lah perkataan bunda sayang."


Badan Zahra bergetar mengucap kata kata itu, tak ada air mata yang keluar, seolah air mata itu sudah mengering menangisi keadaan putrinya sekarang, dari kemarin Zahra tidak memakan sesuatu apapun, seolah perutnya tidak merasakan apa-apa melihat kondisi Aisyah yang seperti ini.


Di ruang ICU ini dengan suasana yang hening, hanya satu orang yang dipersilahkan masuk ke dalam secara berganti-gantian, Zahra mendekatkan wajahnya ke wajah Aisyah, mencium pipi yang tak lagi berisi itu, iya cium pipi kiri dan kanan Aisyah dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


"Seperti inilah bunda sering membangunkan Aisyah, tetapi cara ini sudah bunda lakukan berulang kali, kenapa aisyah tidak bangun juga, apakah Aisyah marah kepada bunda? sehingga Aisyah tidak ingin melihat bunda, apakah bunda mempunyai salah kepada Aisyah, jika bunda ada salah bunda minta maaf sayang.. maafkan bunda." ucap Zahra di samping telinga Aisyah dengan suara yang lirih.


"Allahu mama sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad." tak lupa juga Zahra membisikan selawat kepada Rasulullah di telinga Aisyah.


"Sayang bunda keluar sebentar, cepatlah bangun.. karena bunda tidak tahan menahan rindu ini, bunda tidak sabar melihat senyum di di bibir tipis mu itu, Aisyah adalah putri kesayangan bunda."


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Zahra langsung keluar dari kamar Aisyah meninggalkan Aisyah kembali sendirian dalam keadaan yang belum sadarkan diri.


Ketika membukakan pintu, mata Zahra menangkap orang-orang yang sedang berdiri melihat ke arahnya dengan berbagai tetapan, orang-orang yang selalu ada ketika Zahra terpuruk seperti saat ini, memberikan semangat kepada Zahra, mungkin jika tidak ada mereka Zahra akan merasa sendirian, kehilangan arah tampak tahu arah jalan pulang.


Zahra tersenyum lemah menatap kearah Umi dan abah nya, begitu juga dengan kedua mertuanya itu, mereka selalu setia mendampingi Zahra disaat seperti ini, kata-kata semangat dari merekalah yang membuat Zahra bisa kuat.


"Sabar nak kamu harus sabar." ucap Umi sambil mengusap punggung Zahra. Kata-kata itu tidak membuat Zahra berhenti menangis dalam pelukan kedua wanita yang menjadi penguat nya,


"Kamu adalah wanita kuat sayang, mungkin kata-kata ini sering kamu dengar, tapi percayalah akan ada kebahagiaan di ujung penderitaan, kamu pasti bisa melewati ini semua, Insyaallah Aisyah baik-baik saja, Allah menyayangi orang-orangnya sabar seperti dirimu sayang." ucap buk Ratna.


Entah kata penguat apalagi yang bisa iya ucapkan jika sedang menguatkan Zahra, semua kata-kata bijak dari semua orang telah Zahra dengar, bahkan ada kata-kata yang terulang berulang kali.


Jika Zahra tidak miliki iman dan juga miliki kepercayaan yang begitu kuat, mungkin Zahra bukanlah zahra yang sekarang, bisa jadi Zahra menjadi wanita gila karena beratnya cobaan yang dihadapi.

__ADS_1


"Sampai kapan ini akan berakhir Umi... mama, sungguh perjalanan ini begitu berat begitu banyak menghabiskan energi Zahra, Zahra tidak tahu apakah Zahra akan kuat menghadapi cobaan ini." ucap Zahra lemah dalam pelukan hangat itu.


"Ketahuilah nak, bahwa Allah selalu berada bersama orang-orang yang beriman, tingkatkan lah keimananmu.. kuatkanlah imanmu, karena pada saat ini akan banyak sekali godaan yang bisa saja menyesatkan mu."


"Tapi Umi...."


Zahra mengangkat kan pandangannya menatap kearah kedua wanita yang begitu iya cintai, dengan air mata yang berlinang dengan pandangan yang begitu sayu menatap kedua wanita itu.


"Jangan mengeluh nak... Umi tidak pernah mengajarkanmu untuk mengeluh dan menyalahkan keadaan, umi sudah membekali mu dengan ilmu agama dan kamu tahu akan hal itu, jangan menjadi orang yang bodoh di hadapan masalah nak, Umi tahu ini berat... kuatkanlah bahumu untuk menumpang ini semua, berpegang tunggulah pada Al-Qur'an dan al-sunnah, dan kamu akan mendapatkan jawaban dari semua ini." ucap Umi memegang bahu Zahra.


"Dengar sayang... air mata boleh mengalir, hati boleh sakit, jiwa boleh lemah, tetapi tidak dengan iman, kamu adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang Allah uji keimanannya, Insyaallah kamu bisa sayang... ini hanya ujian di dunia saja." ucap buk Ratna


Mata Zahra teralihkan ke arah mertuanya yang sedang mengusap air matanya, dipandangnya lekat-lekat kedua wanita yang sedang memberinya semangat, sungguh Allah menguji keimanan Zahra, tetapi allah begitu baik memberikan dua wanita yang terbaik yang berada di sisi Zahra seperti saat ini.


"Ya Allah maafkanlah hambamu yang tidak pandai bersyukur ini, maafkanlah hambamu yang tahu tetapi lupa bagaimana cara menempatkan dirinya sendiri, engkau begitu baik telah memberikan hamba keluarga yang begitu mencintai hamba." ucap Zahra didalam hati.


"Terima kasih mama... Umi, terima kasih atas cinta kalian kepada Zahra, sungguh Zahra adalah wanita yang beruntung yang memiliki dua ibu yang begitu baik seperti kalian." ucap Zahra dengan senyum yang begitu tulus.


"Assalamualaikum." Zahra langsung membalikkan badannya melihat kearah seorang wanita yang memberi salam dan juga seorang lelaki di sampingnya wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2