
Sore harinya, Zahra sedang menyiapkan cemilan untuk putrinya Aisyah yang sedang bermain dengan mbak Intan di ruang keluarga.
Zahra membuatkan pisang goreng coklat, cemilan untuk menemani Aisyah bermain, Aisyah juga sudah mulai dekat dengan mbak Intan saat ini.
Zahra melangkahkan kaki menghampiri keduanya, menaruh pisang goreng coklat tersebut di depan Aisyah.
"Wahh.. pisang goreng coklat kesukaan Aisyah ini bunda." ucap Aisyah riang.
Aisyah langsung mengambil sepotong pisang goreng buatan Zahra, memasukkannya ke dalam mulut kecilnya.
"Ayo mbak.. pisang gorengnya dimakan dulu, mumpung masih hangat."
" Iya buk," ucap mbak Intan sambil mengambil pisang goreng tersebut.
Mereka memakan cemilan sambil menemani Aisyah bermain, tiba-tiba saja hp Zahra berbunyi, tanda bahwa ada pesan yang masuk, Zahra membuka hpnya, dan ternyata itu adalah sebuah pesan yang dikirimkan oleh dokter Anisa.
Zahra membuka pesan tersebut, dan matanya langsung ingin keluar, melihat pesan yang dikirimkan oleh dokter Anisa, pesannya berisi sebuah foto.
Yang sangat mengejutkan Zahra foto itu adalah foto suaminya Adam, bersama seorang perempuan dengan pakaian kebaya pernikahan.
Yang lebih mengejutkan lagi, wanita yang berdiri di samping suaminya, wanita itu sangat dikenal oleh Zahra, baru beberapa hari ke belakang iya bertemu denganmu wanita yang disebelah suaminya.
"Mbak Jihan, apa maksud dari foto ini?" tanya Zahra di dalam hati.
"Bunda... bunda kenapa?" tanya Aisyah yang dari tadi ternyata memanggil Zahra.
"Ah.. iya sayang kenapa?"
"Aisyah dari tadi memanggil bunda, kenapa bunda tidak mendengar panggilan Aisyah, Apa yang sedang bunda pikirkan?"
Mbak Intan juga menatap kearah Zahra dengan tatapan bingung, baru saja mereka berbicara sambil memakan pisang goreng, yang dibuatkan oleh Zahra dengan senang, tetapi tiba-tiba saja majikan tersebut terlihat sangat syok.
Mbak Intan yang hanya asisten rumah tangga, tidak berani menanyakan perihal yang terjadi dengan Zahra, karena iya merasa itu bukanlah urusannya, makanya mbak Intan hanya diam saja.
__ADS_1
"Tiba-tiba saja kepala bunda pusing sekali, bunda pamit ke kamar dulu ya nak... Aisyah lanjut mainnya sama mbak Intan saja, titip Aisyah ya mbak." ujar Zahra, sambil meninggalkan keduanya tanpa melihat respon Aisyah dan mbak Intan.
"Mbak.. bunda kenapa ya, sepertinya bunda sedang memikirkan sesuatu." ucap Aisyah.
"Mungkin bunda lagi tidak enak badan, kan tadi bunda bilang lagi pusing, sebaiknya kita lanjut bermain saja ya."
"Ya udah deh mbak." ucap Aisyah. Mereka berdua melanjutkan permainan rumah-rumahan yang tersusun dari balok tersebut tanpa kehadiran Zahra.
Sesampainya di kamar Zahra langsung mengunci pintu kamarnya, iya tidak ingin tiba-tiba Aisyah masuk ke dalam.
Zahra langsung membuka hpnya melihat sekali lagi foto yang dikirim oleh dokter Anisa, Zahra berusaha melihat dengan teliti dan berharap bahwa foto itu bukanlah foto suaminya.
Tetapi harapan zahra pupus sudah, berapa kali pun iya melihat foto tersebut tetaplah foto itu adalah suaminya.
Zahra mencoba menghubungi dokter Anisa, tetapi handphone dokter Anisa tidak lagi aktif, Zahra merasa sangat frustasi tega-teganya suaminya mengkhianati nya kali ini.
"Licik sekali kamu mas, ternyata kepercayaanku padamu kamu anggap angin lalu, kamu membiarkan rumah tangga kita hancur, kamu memilih perempuan itu."
"Jadi perempuan yang kamu maksud itu adalah Jihan, jadi perempuan itu yang kamu bilang wanita baik-baik." ucap Zahra dalam keheningan sambil menatap foto itu kembali.
Padahal suaminya sudah menikah lagi, tetapi entah kenapa air matanya tidak turun setetes pun, hatinya teriris-iris sakit sekali rasanya, tetapi tidak dengan matanya, air matanya seolah-olah sudah mengering.
Badai susulan yang ditakutkan oleh Zahra akhirnya datang dengan dahsyat. "Aku tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang, nikmatilah waktumu dengan istri barumu itu mas.
Kamu sudah mengingkari janjimu untuk tidak berhubungan dengan perempuan itu lagi, tetapi itu hanya janji di mulutmu saja dan aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas surgaku."
Zahra menarik nafas dengan panjang menghembuskan secara perlahan, wanita mana yang rela jika surganya direbut, wanita mana yang rela berbagi suami, wanita yang mana yang rela dimadu, memikirkannya saja membuat Zahra merasa jijik.
"Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan mas, di matamu aku adalah wanita yang lemah, tetapi kamu tidak sadar jika kucing yang terjepit ekornya akan menjadi ganas."ucap Zahra mengepal tangannya.
"Sebaik-baik manusia pasti ada buruknya, dan seburuk buruk manusia pasti ada baiknya, salama ini kamu melihat sisi baikku dan mulai sekarang kamu akan melihat sisi buruk ku mas." ucap Zahra dengan nada yang penuh tekanan.
Hatinya benar-benar panas, ketika mendapat kabar bahwa suaminya telah melakukan ijab kabul yang kedua dengan wanita lain, wanita yang dikatakan suaminya itu wanita yang baik, tetapi tidak ada wanita yang baik yang merebut hak wanita lain.
__ADS_1
......
Di rumah Jihan acara resepsi yang digelar kan dengan sederhana dan beberapa orang itu telah usai, kedua pengantin yang sudah sah menjadi suami istri itu sedang berada di dalam kamar.
Jihan begitu gugup dan salah tingkah ketika Adam suaminya duduk di sebelahnya di atas ranjang sambil menggenggam tangannya yang terasa dingin.
Hati Jihan berdebar-debar, asmara cinta sedang menggila memabukkan keduanya, penantian yang panjang akhirnya telah dilewati hari ini, tak terukir betapa bahagianya kedua pengantin baru itu.
"Jihan..."
"Mas..." ucap keduanya berbarengan dengan malu-malu.
"Padahal ini bukan kali pertamanya aku dekat dengan perempuan, bahkan lebih intim dari ini dengan Zahra, terapi kenapa hari ini aku bisa merasa sedikit malu jika berhadapan dengan Jihan." ungkapan hati Adam
"Apakah malam ini aku akan menjadi milik mas Adam sepenuhnya," ujar Jihan di dalam hatinya dengan tersenyum malu sehingga menimbulkan kemerahan di pipinya.
Dengan perlahan-lahan Adam mengambil tangan Jihan dan menciumnya dengan lembut, betapa romantisnya Adam saat ini memperlakukan Jihan sama ketika iya memperlakukan Zahra.
Mereka berdua bersenda gurau mesra, bagaikan dua A-B-G yang sedang dimabuk cinta, perasaan cinta yang sudah lama tertanam, akhirnya sekarang bisa diungkapkan secara nyata.
Tak berapa lama Adam menyadari bahwa sekarang iya harus pulang, karena sekarang sudah hampir jam 09.00 malam, iya tak ingin membuat Zahra kecewa karena alasan lembur ataupun tidak pulang.
"Jihan.. mas sekarang harus pulang,"
Perkataan Adam membuat Jihan terkejut, "Bukankah ini malam pertama kita, kenapa mas mau pulang?" tanya Jihan yang melupakan bahwa iya menikahi suami orang.
"Mas harus pulang, kalau tidak nanti akan membuat Zahra curiga tentang pernikahan kita."
Sakit sungguh sakit sekali hati Jihan, di malam pertamanya seharusnya mereka bahagia dalam kemesraan, tetapi mereka harus berpisah saat ini karena suaminya harus pulang agar istri pertamanya tidak curiga.
"Jadi kapan kita malam pertamanya, kalau mas tidak bisa menginap di rumah Jihan?" tanya Jihan.
"Sabar sayang.. Ini semua waktu yang akan menjawab, kamu harus ikhlas ya." ucap Adam menghibur Jihan sambil memeluk dan mencium dahinya dengan mesra.
__ADS_1