
Setelah sholat maghrib disertakan dengan insya, kami sekeluarga sekarang berkumpul di ruang tamu, sambil menonton televisi.
Hari ini capek sekali rasanya, karena seharian menemani anak-anak jalan-jalan, berhubung hari Minggu kami sekeluarga memutuskan pergi ke laut.
"Ayah kapan-kapan kita pergi lagi ya." ajak Nurul.
Keponakanku dan juga buah hatiku Aisyah, tak henti-hentinya membahas tentang kepergian kami tadi ke laut.
Nikmat yang paling indah menjadi seorang ibu, yaitu ketika melihat buah hatinya senang, itu adalah kebahagiaan yang tidak dapat terukir kan.
"Iya.. kapan-kapan ya nak kita pergi lagi, Aisyah senang nggak bisa main ke laut?" tanya mas Faisal.
"Senang juga bah.. tapi nggak ada ayah, kalau ada ayah pasti lebih seru lagi, padahal Aisyah sering mengajak ayah dan bunda untuk ke laut, tapi nggak pernah pergi karena ayah selalu sibuk." tutur putriku.
Kebahagiaan seorang anak adalah ketika menikmati waktu bersama kedua orang tuanya, tetapi saat ini kami sedang berjauhan dengan mas Adam. Entah sekarang bagaimana keadaannya, karena hp-ku tidak lagi ku aktifkan.
"Kapan-kapan ya sayang kita pergi ke lautnya bareng ayah. Tadi kan juga seru, ada mbak Nurul.. ada Umi Salwa.. ada abah Faisal.. dan juga ada kakek dan nenek, masak nggak senang sih." ujar ku.
"Aisyah senang bunda... tetapi ada yang kurang lengkap aja, karena nggak ada ayah. kapan kita pulang bunda, Aisyah udah kangen banget sama ayah?" tanya Aisyah lagi.
Aisyah sering mengatakan bahwa dia merindukan ayahnya, tetapi dia tidak pernah mengajakku pulang. Karena disini ada Nurul yang menjadi teman main Aisyah, Kalau di rumah Aisyah hanya bermain denganku saja.
Malam ini Aisyah menanyakan kapan pulang, apakah dia sangat sangat merindukan ayahnya, Aisyah juga sering meminta ku untuk menelpon dan video call ayahnya, selalu ku tolak dengan alasan bahwa ayahnya sedang sibuk.
"Kenapa cepat sekali pulangnya, apakah Aisyah tidak kangen sama kakek dan nenek di sini?" tanya Umi. Tetapi pertanyaan Umi terhentikan karena terdengar suara klakson mobil yang berbunyi memasuki halaman rumah.
"Titt... Tittt.."
Sepertinya itu suara mobilnya mas Adam, apa mungkin mas Adam menyusul ku ke sini.
"Bunda sepertinya itu suara mobil ayah." ujar Aisyah dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Aku berdiri menghampiri jendela dan mengintip ke arah luar, iya benar.. itu adalah mobilnya mas Adam suamiku, apa mas Adam kesini untuk menjemputku?.
__ADS_1
"Benar bunda itu mobil ayah bun.".. teriak Aisyah kegirangan. Ternyata Aisyah mengikuti ku sampai ke jendela.
Aku membukakan pintu, disusul juga keluargaku yang ikut menyambut kedatangan mas Adam. Keluargaku semuanya menyambut mas Adam dengan senyum yang manis, karena mereka belum tahu bagaimana keadaan rumah tanggaku sekarang.
"Ayahhhhh..." teriak Aisyah sambil berlari ke arah mas Adam yang baru saja turun dari mobilnya.
Mas Adam langsung berlutut ketika Aisyah berlari ke arahnya, dan menangkap tubuh kecil putri kami membawanya kedalam pelukan mas Adam.
Aku tersenyum melihat ke arah mereka, betapa bahagianya putriku bertemu dengan ayahnya. Padahal kami baru dua hari berada di sini, segitu rindunya kah Aisyah kepada ayahnya.
Aisyah dan mas Adam terus saja berpelukan, tak henti-hentinya mas Adam mencium seluruh wajah Aisyah. Aisyah tertawa terbahak-bahak mendapat perlakuan seperti itu dari mas Adam.
"Hahaha... ayah geli... hahaha... geli... ayah... jangan cium Aisyah lagi." ucapnya riang sambil tertawa di dalam pelukan ayahnya.
Selalu saja kata-kata itu yang keluar dari mulut kecilnya, ketika mas Adam mencium pipinya.
Langkah mas Adam perlahan dan menuju ke arah kami, aku hampiri mas Adam ketika mas Adam di dekat, aku mengambil tangannya dan mencium tangan suamiku dengan takzim.
Pandangan kami teralihkan ke arah mobilnya mas Adam, ketika pintu belakang mobilnya terbuka, ternyata mas Adam tidak datang sendiri. dia datang dengan mama dan papanya yaitu mertuaku.
"Assalamualaikum," ucap mertuaku berbarengan.
"Waalaikumsalam wah tumben sekali besan datang kesini." ujar Umi.
"Iya ini Umi, kedatangan kami kesini hanya ingin menemani Adam berkunjung kesini, sekalian silaturahmi sama keluarga besan." Jawab mama mertuaku.
"kalau begitu ayo silahkan masuk,... masuk dulu kita bicara di dalam saja." ajak Abah mengajak mertuaku masuk ke dalam.
Entah apa maksud tujuan mas Adam mengajak Mama dan Papa hadir malam ini ke rumah Umi dan Abah, karena tidak biasanya mertuaku datang kesini, Mereka hanya datang ketika ada acara saja.
Ketika aku hendak melangkah ke dalam, seseorang menarik tanganku. Aku melihat ke arah orang tersebut, ternyata itu mas Adam.
"Kenapa mas?" tanyaku.
__ADS_1
"Kenapa hp-mu tidak aktif dek?, dari kemarin mas mencoba menghubungimu, ketika aktif tetapi tidak kamu angkat." tanya mas Adam.
"Aku cuma ingin menenangkan diriku di sini mas, sungguh kata- kata mu menyakiti hatiku, disinilah obat hati yang paling ampuh."
"Tapi zah.."
"Sudahlah mas... aku mohon jangan bahas itu disini apalagi didepan Aisyah. lebih baik kita masuk, semua orang sudah menunggu." mas Adam terlihat pasrah mendengar ucapan ku.
Aku langkahkan kakiku seiring langkahnya mas Adam dengan Aisyah di dalam gendongan nya mas Adam.
Banyak orang yang memuji rumah tanggaku yang terlihat sempurna ini, banyak orang yang bilang iri dengan keharmonisan rumah tangga kami.
jika aku katakan bahwa rumah tanggaku tidak sesempurna yang mereka pikirkan, pasti tidak akan ada orang yang akan mempercayai nya.
"Kamu duduk aja dulu mas, aku mau ke dapur, untuk membuatkan minuman untukmu dan juga mamah sama papa.."ucapku
Mas Adam tanya mengganggu, menghampiri sofa di ruang tamu dan duduk di kursi yang kosong dengan Aisyah di pangkuan nya.
Aisyah tidak sedikitpun melepaskan ayahnya dari tadi sampai sekarang. Bahkan mengabaikan keberadaan Nurul ketika ayahnya sudah datang.
Aku melanjutkan jalanku kearah dapur membuat minuman untuk mertua dan suamiku, dengan dibantu mbak Salwa tentunya.
Sesudah selesai membuatkan minuman, dengan segera kami melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu. Aku hampiri mas Adam dan menduduki sampingnya.
"Ayah Aisyah sangat merindukan ayah." ucap Aisyah yang masih duduk di pangkuan mas Adam.
"Ayah juga sangat merindukan putri kecil ayah yang pinter ini." ucap mas Adam sambil mencium dahi Aisyah.
Kami semua yang ada di ruang tamu tersenyum melihat tingkah ayah dan anak yang melepaskan rindu tersebut.
"Ayah terlalu sibuk... sehingga melupakan Aisyah dan bunda di sini." ucap Aisyah cemberut.
Mas Adam melirik ke arahku, aku hanya bisa membuang muka ketika mas Adam menatap ke arahku.
__ADS_1
"Kan ayah harus kerja sayang.. sekarang libur, jadi ayah ke sini menjemput Aisyah dan bunda." tutur mas Adam.
"Sebenarnya.. selain menemani Adam ke sini, kami juga menemani Adam untuk meminta izin kepada keluarga besan." ucap ibu mertuaku membuka pembicaraan.