Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Dua Hati


__ADS_3

Adam keluar dari supermarket setelah membeli beberapa bungkus makanan cepat saji untuk dirinya sendiri. Karena Adam belum tahu bahwa Zahra sudah pulang dari rumah orang tuanya.


Pandangan Adam fokus ke depan, melangkahkan kaki menuju parkiran tempat mobilnya diparkir, tanpa sengaja Adam menoleh ke kiri, dia melihat seorang perempuan cantik yang memakai pakaian gamis dengan hijab yang menutup kepalanya.


"Mas..." seru wanita itu mendekat melihat ke arah barang-barang yang dibeli oleh Adam.


"Jihan ngapain kamu disini malam-malam begini?" tanya Adam.


Tetapi Jihan tidak menjawab pertanyaan Adam, fokusnya masih ke arah bungkusan yang baru saja dibeli oleh Adam.


"kamu makan makanan seperti itu mas, itu tidak baik untuk kesehatanmu." tutur jihan.


" Iya.. mas terpaksa membeli makanan cepat saji, karena Zahra belum pulang dari rumah orang tuanya." ucap Adam sambil tersenyum menanggapi ucapan Jihan.


"Apa istrimu masih marah mas, atas permintaanmu yang ingin menikahiku, kalau begitu aku sangat minta maaf mas, aku tidak ingin menjadi beban di dalam pernikahan kalian. tetapi tidak seharusnya istrimu meninggalkanmu sendirian di rumah tanpa ada yang mengurusi mu." ucap Jihan menilai sikap Zahra terlalu kekanak-kanakan.


"Tidak apa-apa Ji, ini memang salahku, aku sudah membuat Zahra sakit hati, wajar saja jika dia menenangkan diri di rumah orang tuanya." balas Adam, lagi-lagi dengan tersenyum.


"Makan makanan seperti itu akan membuat lambung mu bermasalah mas, apa istrimu tidak memikirkan itu." balas Jihan sedikit jengkel karena Adam membela Zahra.


"Tidak apa-apa itu bukan masalah yang besar, Ji.. aku minta maaf karena aku sudah berjanji kepada zahra untuk tidak menikahi mu, aku tidak bisa menepati janjiku kepadamu dan juga papamu" ucap Adam.


Suara Adam terdengar lemah, rasanya tidak rela melepaskan seorang Jihan wanita shalihah sama seperti istrinya, yang namanya sudah terisi didalam hatinya.


"Tidak apa-apa mas... aku mengerti itu, aku juga tidak ingin menikah denganmu tanpa izin dari istri pertamamu, walaupun aku sangat mencintaimu dan berharap bisa menjadi bagian darimu."


Adam terdiam mendengar ungkapan cinta dari Jihan, tidak pernah sekalipun Jihan mengungkapkan perasaannya kepada Adam. malam ini Jihan dengan jelas mengatakan bahwa dia sangat mencintai Adam.


"Maaf ji.. maaf..." ucap Adam yang tidak berani melihat kearah Jihan.


"Permisi mas, kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, jihan pamit dulu." ucap Jihan.


Adam berdiri terdiam melihat kepergian Jihan yang memasuki supermarket, sambil memegang dadanya yang berdebar, perasaan yang sama dirasakan Adam ketika pertama kali bertemu dengan Zahra.


"Aku juga sangat mencintaimu Ji, maafkan aku tidak bisa menempati janjiku, selain menjaga hatimu ada hati yang lebih berhak kujaga." ucap Adam lirih. Rasanya Adam tidak rela jika tidak bisa mendapatkan Jihan menjadi istri keduanya.

__ADS_1


Adam masuk ke dalam mobilnya meninggalkan supermarket dan pulang ke rumahnya, sambil menahan rasa lapar yang dari tadi menyerang perutnya.


Adam tidak ingin makan di cafe atau di restoran, karena terlalu malas baginya untuk duduk ditempat yang terbuka, bagi Adam lebih baik membeli makanan cepat saji dan langsung melahap nya di rumah.


Sesampainya di rumah Adam melihat rumahnya, yang biasa gelap ketika dia pulang. malam ini rumahnya terang, penuh dengan cahaya lampu dan juga suara televisi yang dinyalakan.


Perlahan Adam melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, tidak ada siapa-siapa yang dilihatnya, tetapi suara televisi jelas terdengar.


"Ayah..." teriak seorang anak sambil berlari merentangkan tangannya ke arah Adam.


Dengan senang hati Adam menyambut pelukan putrinya, sambil dicium pipi mungil tersebut beberapa kali, sehingga menyebabkan gelak tawa dari putrinya Aisyah.


"Eum... ayah kangen banget sama Aisyah."


" Aisyah juga kangen banget sama ayah." jawab putrinya girang.


Tampa disadari Zahra melangkah mendekat ke arah Adam dan juga Aisyah, dengan senyum yang menghiasi bibirnya. sikap Zahra seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Mas kamu sudah pulang, pasti kamu capek kan. aku sudah memasak untukmu, kamu mandi dulu ya." ucap Zahra mencium tangan suaminya.


"Iya sayang terima kasih kamu telah menyiapkan makanan untuk mas."


"Sama-sama mas.. memang itu sudah kewajiban Zahra. lebih baik kamu segera mandi pasti kamu sudah lapar kan?"Adam hanya mengganggu mengiyakan ucapan Zahra.


"Sayang... putrinya ayah, ayah mandi dulu ya, habis itu baru nanti kita main bareng, mau nggak?" tanya Adam kepada putrinya.


"Mau banget ayah... Aisyah udah kangen banget pengen main sama ayah." ucap Aisyah.


Zahra menatap lama ke arah sang suami yang melangkah memasuki kamar, hubungan mereka tetap hangat seperti biasa, tetapi akankah hati kembali seperti sedia kala, entahlah hanya waktu yang bisa menjawab.


"Sayang.. ayo kita ke meja makan, sambil tunggu ayah mandi baru kita makan." ucap Zahra sambil membawa belanjaan yang dibeli oleh Adam tadi.


"Yeah... akhirnya kita makan bareng ayah lagi bunda." teriak Aisyah dengan kegirangan.


Zahra dan Aisyah duduk di atas kursi meja makan, yang sudah terhidang beberapa lauk pauk sambil menunggu Adam selesai mandi.

__ADS_1


"Wah... sepertinya masakan bunda enak nih." ucap Adam duduk di tempat yang biasanya dia duduk.


"Maaf ya mas.. masakannya hanya seadanya saja, karena Zahra belum sempat berbelanja."


"Tidak apa-apa sayang, ini juga sudah enak karena kamu yang memasaknya." Zahra tersenyum mendengar ucapan suaminya.


Adam makan dengan nikmat masakan Zahra yang sederhana yang sangat lezat di lidahnya. Sudah beberapa hari ini Adam hanya memakan makanan cepat saji.


Selesai maka Zahra membereskan meja makan juga mencuci piring yang kotor, sedangkan Adam dan Aisyah lanjut menonton sambil bercanda dan tertawa bersama.


Setelah beres-beres mencuci piring, Zahra menghampiri suami dan anaknya yang ada di ruang tamu, sudah tidak terdengar lagi suara gelak tawa mereka.


"Mas Aisyah mana, kok tidak terdengar suara Aisyah lagi?" tanya Zahra.


" Aisyah sudah tidur sayang, sudah mas pindahkan ke dalam kamarnya."


"Kok cepat sekali mas, tadi baru saja Zahra mendengar suara tawanya."


"Mungkin saja Aisyah capek, kamu udah sholat sayang?, kalau belum kita sholat berjamaah."


" Iya boleh mas.. Zahra belum sholat."


"Kamu wudhu dulu sayang, kita sholat di kamar saja."


"Iya mas." Jawab Zahra melangkahkan kakinya di kamar.


Zahra keluar dari dalam kamar mandi setelah selesai mengambil air wudhu, Adam sudah menunggunya dengan baju koko dan juga peci di kepalanya.


Tampa banyak berbicara lagi mereka berdua melaksanakan ibadah sholat isya bersama.


Selesai sholat Zahra mencium tangan suaminya dengan takzim, yang dibalas ciuman di keningnya.


Zahra tidak ingin apa-apa dari suaminya, dia hanya ingin surganya tetap terjaga tanpa ada orang ketiga didalamnya, hanya itu yang dinginkan oleh Zahra.


Zahra tidak menentang Poligami karena itu adalah syari'at agama Islam, asalkan jangan suaminya yang melakukan poligami, lebih baik Zahra diceraikan dari pada harus dimadu.

__ADS_1


Bukankah Rasulullah melarang Ali bin Abi Thalib memadu Fatimah, bukan ingin menyamakan dirinya dengan kehidupan Baginda Rasulullah Saw, tetapi hati Zahra tidak sekuat itu menerima poligami, jika suaminya yang melakukan itu.


__ADS_2