Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Tidak dianggap


__ADS_3

Jihan melihat Adam yang berjalan dengan senyum di wajahnya sambil membawa bungkus makanan di tangannya, iya berjalan dengan begitu cepat menghampiri Zahra yang sedang duduk dengan tatapan sayu.


"Umi... mama, pasti kalian juga belum makan kan? Adam membelikan makanan untuk kalian juga, sebaiknya segera dimakan." ucap Adam sambil menyerahkan bungkus nasi yang ada di tangannya.


Bu Ratna langsung menerima makanan yang diberikan oleh Adam karena memang mereka belum makan saat ini, melihat wajah Zahra yang begitu khawatir membuat kedua ibu yang tak lagi muda itu ikutan tidak makan.


"Umi... ayo kita duduk di sana saja." ucap bu Ratna sambil menuju ke arah kursi di sebelah Jihan.


Umi hanya mengangguk kan kepalanya mengiyakan ajakan dari besannya tersebut, sambil melihat ke arah putrinya sebentar membiarkan waktu untuk menantu dan anaknya bisa saling menguatkan.


Setelah bu Ratna dan Umi pindah dan duduk di samping Jihan, Adam langsung duduk di samping Zahra, Adam membuka bungkus makanan yang baru saja di belinya ternyata Adam membeli bubur untuk istrinya itu.


"Sayang kamu makan dulu dari kemarin kamu belum makan." ucap Adam dengan lembut.


"Aku tidak ingin makan mas.. aku tidak lapar." balas Zahra sambil melirik sedikit ke arah bubur yang baru saja dibuka oleh Adam.


Harum bubur yang tercium pasti akan membangkitkan selera makan bagi orang yang melihatnya, tetapi tidak untuk Zahra saat ini, entah kenapa perutnya terasa tidak lapar dan lidahnya tidak berselera terhadap makanan apapun.


"Makanlah sedikit sayang untuk menjaga kesehatan mu, jika kamu sakit bagaimana dengan Aisyah, jika Aisyah bangun dan melihat kamu sakit, pasti dia akan merasa sangat sedih." bujuk Adam.


"Apa kamu cemburu Jihan melihat kedekatan suami istri di depanmu itu?" tanya bu Ratna yang dari tadi melihat tingkah Jihan selalu memperhatikan Adam dan Zahra.


Jihan membalikkan badannya menatap ibu yang telah melahirkan suaminya, dulu bu Ratna menganggap Jihan sebagai anaknya sendiri, tetapi makin kesini rasanya Jihan hanya mendapatkan sikap judes dan ketus dari mertuanya tersebut.


"Dari dulu begitulah sepasang suami istri yang kamu perhatikan itu Jihan, jika ada yang mengetahui bahwa Adam telah menikahi mu, orang itu pasti tidak akan percaya, karena melihat keharmonisan rumah tangga yang dibangun oleh Zahra dan Adam."


"Aku juga menantu Mama sama seperti mbak Zahra, dulu mamah juga menyayangiku seperti anak mama sendiri, tetapi kenapa sekarang begini? kenapa mama membenciku,? apa kesalahanku hanya gara-gara menikah dengan mas Adam sehingga membuat mama begitu marah kepadaku."


Umi yang sudah mengunyah makanan di dalam mulutnya langsung menutup makanannya, perasaannya sebagai seorang ibu ketika melihat Jihan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, sebagai seorang ibu iya pasti merasa marah kepada perempuan yang telah merenggut surga anaknya.

__ADS_1


"Iya saya marah kepadamu dan juga Adam, walaupun ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, tetapi kamu juga terlibat dalam menyakiti hati perempuan itu... istri pertama Adam." ucap Bu Ratna sambil menuju ke arah Zahra yang sedang disuapin oleh Adam.


"Tidak bisakah mama menerimaku seperti menerima mbak Zahra, pernikahanku dengan mas Adam sudah berjalan setengah tahun mah, dan itu bukanlah waktu yang singkat, Jihan mohon... bukalah pintu hati mama untuk menerima Jihan."


"Nasi sudah menjadi bubur... apapun yang dilakukan tidak akan mengubah apa yang terjadi sekarang, kenyataannya kamu dan Adam telah menghancurkan hati anak saya, hanya allah yang tahu bagaimana kedepannya, kamu cemburu melihat Adam dan Zahra, apakah kamu pernah membayangkan bagaimana hancurnya anak saya ketika mengetahui bahwa kamu telah menikah dengan suaminya?."


"Saya mencintai mas Adam apa itu salah?." ucap Jihan tegas dengan suara yang lirih.


"Cinta..... sungguh lucu sekali kata-kata cinta yang keluar dari mulutmu itu Jihan, ada banyak definisi cinta menurut orang yang mencintai, jika itu kamu sebut cinta.. apakah cintamu begitu besar seperti Qais yang mencintai Laila, sampai iya rela mengasingkan dirinya karena cintanya kepada Laila." ucap Umi dengan tatapan yang tajam.


"Ternyata anak dan ibu sama saja, keluarga yang kubayangkan begitu sempurna dan ku kagumi tidak lebih dari sebuah keluarga yang egois, mereka benar-benar egois, mereka hanya mementingkan kebahagiaan mereka sendiri." ucap Jihan di dalam hatinya sambil menundukkan pandangan nya.


Saat ini Jihan merasa bahwa keluarga Abah Abdullah tidak lebih baik dari keluarga lainnya, keluarga yang menyiarkan agama itu bagi Jihan tidak lebih dari sebuah keluarga egois yang hanya mementingkan dirinya saja.


Jihan langsung membalikkan badannya hatinya begitu panas mendengar kata-kata Umi dan ibu mertuanya, iya melihat lagi ke arah Zahra dan juga Adam yang baru saja selesai makan, Jihan langsung bangkit dari duduknya menghampiri keduanya.


"Mas ayo sekarang kita bahas masalah yang sudah kita diskusikan waktu itu." ucap Jihan kepada Adam.


Zahra mengangkat kepalanya menatap kearah Adam yang sedang berbicara, iya sedikit penasaran tentang apa yang ingin dibahas oleh suaminya itu, apalagi sepertinya ini berhubungan dengan Jihan.


"Apa yang ingin mas bahas, katakan saja."


"Tidak di sini sayang... kita butuh bicara bertiga saya."


"Ya sudah kita bicara di mana?" tanya Zahra.


"Sebaiknya kita berbicara di taman saja."


"Ayo kalau begitu." ajak Adam kepada kedua istrinya.

__ADS_1


Adam berjalan di tengah di kedua sisi istrinya, dengan tatapan yang begitu bangga tanpa ada rasa malu sedikitpun bahwa iya sudah beristri dua.


"Wahh bukankah itu ustadzah Zahra, putrinya Abah Abdullah dan juga Umi Aminah?" tanya ibu-ibu yang menetap kearah mereka bertiga.


"Iya benar.. itu adalah ustadzah Zahra dan ditengah itu adalah suaminya, tetapi siapa wanita yang ada di sebelah suaminya itu, apakah itu adalah adik dari suami ustadzah Zahra, karena setahuku ustadzah Zahra tidak mempunyai adik. "


"Aku juga tidak tahu, tetapi kelihatannya mereka seperti keluarga poligami yang bahagia." ucap ibu-ibu tersebut sambil bercanda.


"Ayo kita hampiri ustadzah Zahra, jarang sekali kita dapat bertemu dengan ustazah Zahra, saya begitu mengagumi beliau."


"Benar ayo kita hampiri." ibu-ibu tersebut bangun dari duduknya menghampiri Zahra yang sedang berjalan dengan suami dan madunya itu


" Assalamualaikum ustazah." sapa ibu-ibu itu.


"Waalaikumsalam. "


"Apa kabar ustadzah... ustadzah mau kemana? beruntung sekali kami dapat bertemu dengan ustadzah, saya dan teman saya sangat menyukai ceramah ceramah ustadzah."


Zahra tersenyum mendengar itu. "Alhamdulillah saya baik, saya di sini ada sedikit kepentingan ibu-ibu." balas Zahra.


"Ustadzah bolehkah kami meminta foto dengan ustadzah?" tanya ibu-ibu tersebut.


Zahra melihat ke arah kedua orang itu sambil mengangguk manis mengiyakan permintaan dari ibu ibu itu.


"Boleh bu." jawab Zahra.


Mendengar jawaban Zahra, ibu-ibu itu langsung mengambil beberapa potret dengan Zahra.


"Terima kasih banyak ustadzah, kalau boleh tahu... wanita yang di samping suami ustadzah itu siapa?" tanya ibu itu sambil menuju ke arah Jihan dengan wajah penasaran.

__ADS_1


"Dia adalah adikku." jawab Adam dengan cepat sambil tersenyum kaku.


__ADS_2