Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Berteman


__ADS_3

Hari ini Zahra berencana kembali ke rumah sakit menemui dokter Anisa, untuk menjadwalkan kemoterapi yang akan dijalankan oleh Aisyah, zahra ditemani mbak Intan asisten rumah tangga yang baru saja diterima oleh Adam untuk membantu Zahra menjaga Aisyah dan juga membereskan rumah.


Umi sudah pulang ke rumahnya dengan diantar oleh adam kemarin sore, karena umi telah lama tinggal di rumah Zahra dan Adam, jadi Umi tidak enak jika harus meninggalkan Abah lebih lama.


"Mbak sudah siap belum? kalau sudah siap sekarang kita akan berangkat ke rumah sakit?" panggil Zahra yang duduk di ruang tamu sambil menunggu mbak Intan dan juga Aisyah di dalam kamar.


Mbak Intan tidur di kamar Aisyah, karena keadaan Aisyah yang kurang sehat, jadi Zahra menyuruh mbak Intan untuk tidur dengan putrinya, jika ada sesuatu yang terjadi dengan Aisyah, maka ada mbak Intan disamping Aisyah.


Mbak Intan adalah janda empet puluh tiga tahun yang datang dari kampung, iya datang ke kota untuk mencari kerjaan, mbak Intan belum memiliki anak, mbak Intan adalah janda yang hidup sebatang kara.


"Iya bu.. kami sudah siap." jawab mbak Intan yang keluar dari dalam kamar Aisyah dengan menggandeng tangan Aisyah.


Zahra memperhatikan kedua orang didepannya, Zahra sengaja membiarkan mbak Intan untuk mengurus Aisyah, Zahra ingin tahu bagaimana mbak Intan ketika dia sedang mengurus Aisyah, sepertinya mbak Intan adalah orang yang dapat dipercaya dan pekerjaannya juga cukup baik.


"kalau udah siap ayo kita berangkat." ucap Zahra.


Mereka bertiga melangkah keluar menuju halaman rumah yang lumayan luas, sebelum berangkat Zahra sudah memesan taksi online untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.


Dulu Adam ingin membelikan Zahra sebuah mobil, karena Zahra bisa menyetir mobil tetapi zahra menolaknya, Zahra tidak ingin membebani suami, biarlah uang Adam disimpan untuk keperluan yang lainnya.


"Bunda kita akan bertemu lagi dengan dokter Anisa ya bunda?" tanya Aisyah.


"Iya sayang kita akan bertemu lagi dengan dokter Anisa."


"Tetapi Aisyah tidak sakit bunda, kenapa harus ketemu lagi sama dokter Anisa?" tanya Aisyah dengan polos nya.


"Orang sehat belum tentu tidak sakit, dan sebaiknya mencegah daripada mengobati, jadi orang yang bertemu sama dokter Anisa bukan cuma untuk orang sakit saja." jelas Zahra sambil tersenyum.


Mbak Intan sedikit tersenyum mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu, baru beberapa hari tinggal di rumah Zahra mbak intan sudah mulai sayang kepada Aisyah.


Menurutnya Aisyah adalah gadis kecil yang sangat cantik dan juga pintar, mbak Intan juga sangat menyayangkan Aisyah yang masih di umur empat tahun sudah mengidap penyakit yang berbahaya.


Tidak berapa lama mereka telah sampai di rumah sakit sejahtera, langsung saja mereka melangkahkan kaki memasuki ke dalam rumah sakit.


"Assalamualaikum.. sus, saya Zahra, saya ingin bertemu dengan dokter Anisa." ucap Zahra kepada seorang suster yang berada di meja resepsionis.


"Maaf sebelumnya mbak, apakah sudah membuat janji dengan dokter Anisa?" tanya suster tersebut.

__ADS_1


"Iya, sebelumnya saya sudah membuat janji bertemu dengan dokter Anisa."


"Sebentar mbak, saya hubungi dokter Anisa dulu." Zahra menunggu sebentar suster tersebut yang ingin menghubungi dokter Anisa.


"Mbak Zahra silahkan masuk, dokter Anisa sudah menunggu di dalam ruangan beliau."


"Terima kasih sus, kalau begitu kami permisi dulu." ucap zahra langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter Anisa, tak lupa dengan Aisyah yang digandeng oleh Zahra.


"Tok.. tok..tok.. Assalamualaikum." ucap Zahra memasuki ruangan dokter Anisa.


"Waalaikumsalam," jawab dokter Anisa.


"Ada si cantik kecil Aisyah, apa kabarnya sayang?" tanya dokter Anisa lembut kepada Aisyah.


"Aisyah baik dokter." jawab Aisyah.


"Bagaimana kabarnya Zahra?" tanya dokter Anisa mengalihkan tatapannya kepada Zahra.


"Alhamdulillah, saya baik dokter Anisa.. kamu sendiri apa kabar?" balas Zahra.


"Sudah berapa kali saya bilang jangan panggil saya dokter, karena kita sudah berteman, jadi panggil nama saya saja, Anisa."


Zahra dan dokter Anisa sudah mulai dekat selayaknya dua orang yang berteman, mereka berdua tidak lagi bersikap formal ketika berbicara.


Zahra sering menghubungi dokter Anisa ketika Aisyah tiba-tiba mengeluh sakit kepala ataupun keluar darah dari hidungnya, karena Zahra tidak tahu bagaimana menghadapi situasi seperti itu.


"Alhamdulillah saya juga baik, kalau begitu langsung saja saya periksa keadaan Aisyah, setelah itu baru bisa saya katakan hari apa yang tepat untuk kemoterapi pertama Aisyah."


Setelah melakukan pemeriksaan tentang keadaan Aisyah, dokter Anisa menyarankan agar kemoterapi pertama Aisyah dilakukan tiga hari lagi.


"Apakah tidak ada efek samping dari kemoterapi tersebut Anisa?" tanya Zahra.


Dokter Anisa menari nafas dalam dan hembuskannya perlahan, iya telah menganggap zahara sebagai temannya sekarang.


Iya melihat sebagian dirinya ada pada diri Zahra, Zahra seorang ibu yang berjuang untuk kesembuhan putrinya, dan Anisa seorang istri yang mengharapkan hadirnya seorang anak.


"Tentunya pasti ada efek samping yang diakibatkan dari kemoterapi tersebut, semuanya serahkanlah kepada Allah Zahra, jangan membuatmu gelisah dengan banyak berpikir."

__ADS_1


Zahra memaksakan sebuah senyuman keluar dari bibirnya, sambil menganggukkan kepalanya, mbak Intan yang di samping Zahra sedikit demi sedikit memahami bagaimana sifat majikannya tersebut.


"Kalau begitu kami pamit dulu Anisa, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.... hati-hati cantik." ucap dokter Anisa sambil mencubit gemas pipi Aisyah.


"Sampai jumpa dokter Anisa." ucap Aisyah sambil melambaikan tangan.


"Sampai jumpa juga Aisyah." ucap dokter Anisa sambil membalas melambai tangan Aisyah.


Setelah mareka keluar dari rumah sakit, langsung saja mereka menaiki sebuah taksi,


untuk pulang ke rumah.


"Bunda bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu." ucap Aisyah merayu Zahra.


"Jalan-jalan ke mana sayang?" tanya Zahra.


"Ya kita jalan-jalan bunda.. ke mall misalnya, boleh ya bunda."


"Boleh nggak ya, bagaimana mbak Intan.. boleh nggak kita jalan-jalan ke mall?" tanya Zahra kepada mbak Intan.


"Terserah mbak Zahra saja." jawab mbak Intan dengan malu-malu.


"Kalau begitu boleh deh kita ke mall, langsung saja ke mall ya pak." ucap Zahra kepada supir taksi.


"Baik bu."


" Yeyy..makasih ya bunda, nanti boleh nggak Aisyah beli es krim?" tanya Aisyah dengan penuh harap.


"Jangan makan es krim dulu sayang, Aisyah kan belum sembuh, nanti kepalanya sakit lagi, bunda gak mau Aisyah sakit."


"Ya udah deh..kalau nggak boleh makan es krim." walau menurut tetapi wajah Aisyah tetap terlihat cemberut, karena Zahra tidak membolehkan Aisyah memakan es krim.


"Sebagai ganti es krim, Aisyah boleh membeli baju ataupun apa saja yang Aisyah inginkan."


"Baiklah bunda." ucap Aisyah pasrah.

__ADS_1


Melihat wajah putrinya yang cemberut seperti itu, Zahra berusaha menghiburnya dengan bermacam-macam bujukan.


__ADS_2