
Jihan mengikuti langkah Adam yang terus berjalan di depannya bersama Zahra, walaupun hatinya sakit karena tidak diakui oleh Adam didepan orang lain, tetapi Jihan tahu itulah konsekuensi menikah dengan Adam.
Diawal pernikahan Adam dan Jihan mereka sudah sepakat bahwa pernikahan mereka akan dirahasiakan, dikarenakan akan mempengaruhi pekerjaan Adam, apalagi sekarang Zahra yang sudah mulai dikenal oleh publik, jika pernikahan kedua Adam terbongkar maka tidak dapat dibayangkan berapa banyak hujatan yang akan diterima oleh Jihan.
Sesampainya di taman rumah sakit, taman indah yang tidak begitu luas dipenuhi dengan bunga bunga dan pohon-pohon hijau yang menyejukkan mata, di tengah taman tersebut ada air mancur yang menambah keindahan taman tersebut.
Adam menuntun kedua istrinya menuju sebuah bangku taman dekat pohon yang lumayan besar memberikan udara yang sejuk ketika duduk di bawahnya. Adam langsung mendudukkan tubuhnya diikuti oleh Jihan duduk di sampingnya.
Ketiga orang itu sama-sama diam membayangkan setiap permasalahan masing-masing yang berputar seolah tidak ada jalan keluarnya, Zahra menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan, iya melihat suami dan madunya itu yang tidak membuka suara sama sekali.
Zahra dapat merasakan bahwa wajah Jihan masih dirundung awan kelabu setelah mendengar ucapan Adam yang tidak mengakuinya, Zahra tahu apa alasan Adam tidak mengakui Jihan sebagai istri keduanya, selain menyangkut dengan pekerjaan pasti Adam juga tidak ingin keluarganya menjadi bahan olokan masyarakat.
Didalam hati Zahra tersenyum mengejek akan takdir yang dipilih Jihan, tidak ada wanita yang akan menerima dengan lapang dada setiap penghianatan yang diberikan oleh orang yang begitu kita percaya untuk menjaganya.
"Lihatlah wajah yang masam itu, entah kenapa aku begitu menikmati wajah masam itu, hanya begini saja wajah itu sudah terlihat buruk, ini takdir yang kamu pilih sendiri Jihan tidak diakui dan hanya akan menjadi bayangan ku saja." ucap Zahra tersenyum geli di dalam hatinya sambil membuang muka setelah melihat wajah Jihan yang cemberut.
"Jangan buang-buang waktu ku mas... katakan saja apa yang ingin kalian katakan kepadaku." ucap Zahra membuka suara menyadarkan kedua orang itu dari lamunan nya sendiri.
Mendengar ucapan Zahra, Jihan dan Adam langsung mengalihkan tatapannya ke arah Zahra yang sedang berbicara, Jihan menyinggung sedikit lengan Adam memberi isyarat untuk memulai apa yang ingin mereka bahas.
Seketika Adam menjadi grogi karena itu, iya tahu pembahasan yang akan dibahas nya bersama Jihan pasti akan menyinggung hati Zahra, tapi mau tidak mau Adam harus mengatakannya sekarang karena waktunya tidak banyak lagi.
"Katakanlah mas... aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni kalian." ucap Zahra dengan ketus.
__ADS_1
"Begini Zahra... maaf sebelumnya kalau mas baru mengatakan sekarang, karena mengingat kondisi Aisyah yang tidak stabil makanya mas tidak ingin menambah masalah lebih banyak lagi." ucap Adam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Zahra dan Jihan sama-sama diam saja menanti kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut suami mereka, Adam menarik nafas panjang dengan perlahan, sungguh berat ketika ia mengatakan ini, iya tahu pasti setelah mengatakan ini akan terjadi permasalahan lagi.
"Sebenarnya mas dan Jihan berencana untuk ke malaysia selama satu minggu." ucap Adam memberanikan diri nya.
"Kapan?" tanya Zahra.
"Sebenarnya euhm... mas dan Jihan sudah merencanakan ini sebulan yang lalu." ucap Adam dengan wajah yang tidak enak dipandang.
"Jawab saja kapan?" tanya Zahra lagi dengan suara yang masih lembut.
"Besok.... rencananya besok kami akan berangkat." ucap Adam dengan saliva yang sulit ditelan, karena melihat wajah cantik Zahra seolah-olah ingin menerkamnya.
"Mbak... tenanglah dulu mbak, ini tidak seperti yang mbak Zahra pikirkan." Jihan berusaha menenangkan Zahra dari emosi yang sedang menguasai pikiran dan hati Zahra.
"Apa yang kamu tahu tentang pikiranku Jihan, kamu tidak mengetahui apa-apa tentang hatiku, ibu mana yang tidak sakit hati di saat putrinya berjuang melawan penyakit, ayahnya yang seharusnya berada di sisinya malah ingin bersenang-senang dengan istri yang lain, apa tidak cukup sakit yang kalian berikan kepadaku?" ucap Zahra dengan penuh emosi.
"Bukan begitu mbak.. dengar dulu penjelasan kami."
"Istighfar sayang... dengarkan dulu penjelasan kami jangan berbicara seperti itu, ini adalah tempat umum."
Zahra menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan, iya memegang dadanya yang sedang menggebu-gebu dengan tangan kanannya, tak lupa iya ber istighfar di dalam hatinya.
__ADS_1
"Sayang... kami ingin ke Malaysia bukanlah untuk bersenang-senang, apalagi untuk berbulan madu seperti yang kamu pikirkan, tetapi kami ke sana ada sesuatu hal yang harus kami lakukan, percayalah sayang...kami ke sana bukanlah untuk bersenang-senang." ucap Adam dengan sungguh-sungguh.
"Kamu memilih Jihan daripada Aisyah mas, Aisyah putri kita, iya sedang terbaring tidak sadarkan diri. tetapi kamu....... entahlah mas pergilah yang jauh, pergilah sejauh mungkin, bila memungkinkan kamu tidak usah kembali lagi." ucap Zahra yang begitu banyak menelan kekecewaan.
"Sayang... mas dan Jihan ke Malaysia untuk berobat, Jihan divonis memiliki masalah dengan rahimnya, sehingga sulit mempunyai anak, kami sudah merencanakan ini beberapa bulan yang lalu." ucap Adam.
"Mas." Jihan begitu malu ketika mendengar ucapan Adam tersebut, iya keberatan ketika mendengar ucapan Adam yang seolah membuka aibnya di depan istri pertama suaminya, iya tidak ingin Zahra mengejeknya perempuan mandul.
"Untuk apa ditutupi lagi... masalah ini sudah jadi begini, tidak mungkin untuk ditutup lagi." ucap Adam membuat Jihan kehilangan mukanya di depan Zahra.
"Mbak... tidak ada manusia yang sempurna, aku juga wanita, aku menginginkan seorang anak yang lahir di dalam rahim ku."
Zahra memandang wanita yang duduk di samping suaminya itu, ternyata keberangkatan mereka ke Malaysia untuk berobat berharap memiliki keturunan, jika masalahnya bukan Aisyah sudah tentu Zahra tidak akan memikirkan apa yang ingin mereka lakukan.
"Kamu ingin memiliki anak, terus bagaimana dengan anakku yang masih di dalam sana, bahkan matanya pun seakan enggan untuk terbuka, masih ingin kah kamu memisahkan seorang ayah dari seorang anak?"
"Mbak aku tidak bermaksud memisahkan mas Adam dari Aisyah, kami sudah merencanakan ini dari awal awal sebelum Aisyah masuk ke rumah sakit, aku juga ingin seperti mbak, aku ingin dipanggil ibu oleh seorang anak, aku memiliki cita-cita itu mbak." ucap Jihan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang... kami tidak akan lama disana, setelah selesai pengobatan yang dilakukan oleh Jihan pasti kami akan langsung pulang, Aisyah akan baik-baik saja disini, karena ada ibu yang hebat yang selalu ada di sampingnya." ucap Adam lagi.
"Terus bagaimana dengan ayahnya?" tanya Zahra terdiam sebentar.
"Ayahnya terlalu pengecut dan tidak pantas disebut sebagai ayah." lanjut Zahra dengan kata-kata begitu tajam.
__ADS_1