Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Amplop Coklat


__ADS_3

"Kamu sudah seminggu berada di sini mas, tidak melakukan apa-apa, kerajaanmu hanya tidur, nonton tv, makan, dan minum, terus tidur lagi, apakah kamu nggak bosen mas?" tanya Jihan menata Adam yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa, tanpa mengalihkan pandangannya dari arah layar tv.


Jihan begitu kesal melihat tingkah Adam beberapa hari ini, sekarang suaminya resmi menjadi pengangguran, tanpa melakukan pekerjaan apapun, hanya menjadi beban bagi Jihan di rumahnya.


"Mas.. kamu dengar nggak sih." Jihan menarik remote tv dari tangan Adam, membuat Adam mengalihkan tatapannya ke arah istrinya yang sedang menahan emosi, Adam menatap malas ke arah Jihan, beberapa hari ini menurut Adam Jihan begitu merepotkan, kerjaannya hanya marah-marah setiap hari.


"Apaan sih kamu Ji, apa kamu nggak capek tiap hari kerjaannya marah-marah?. "


"Bagaimana aku tidak marah melihat tingkahmu seperti ini, setidaknya kamu cari pekerjaan mas jangan seperti ini, kamu lihat baru saja aku membersihkan rumah, tapi sekarang sudah berantakan lagi karena mu. "


Jihan benar-benar pusing melihat pemandangan di sekitarnya, kulit kacang berserakan, dengan bungkusan snake yang berjejeran dimana-mana, iya bener bener tidak sanggup dengan tingkah suaminya yang seperti ini.


"Tidak mudah mencari kerjaan Jihan, kamu tahu sendiri kan, mas sudah melamar pekerjaan di mana-mana, mas juga sudah bertanya kepada teman-teman mas tentang lowongan pekerjaan, tetapi pekerjaan yang mereka tawarkan tidak sesuai dengan mas."


Jelas Adam dengan nada yang begitu malah .


"Terima aja kenapa sih mas, ngapain harus gengsi, lama-kelamaan juga pasti akan naik jabatan, yang penting kamu ada pekerjaan tidak menganggur seperti ini. "


"Masak mas yang seorang manajer keuangan di perusahaan besar harus menjadi seorang karyawan biasa, mas mana mau Ji, sabarlah sebentar lagi, mas yakin akan langsung mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada itu. "


"Terserah kamu deh mas mau bilang apa, pokoknya aku capek melihatmu seperti ini." ucap Jihan meninggalkan Adam, membuat Adam menghela nafas panjang nya dengan tingkah Jihan yang sering marah-marah semenjak iya dipecat dari pekerjaannya.


Pikiran Adam melayang, iya sangat merindukan keluarganya Zahra dan juga Aisyah, Adam sering pulang ke rumah Zahra untuk memastikan bahwa istri pertamanya itu sudah pulang atau belum.

__ADS_1


Namun setiap kali Adam kesana suasana hening selalu menyambutnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan Zahra di rumah itu, ketika Adam pulang Adam akan menyuruh seorang tetangganya untuk bersih-bersih, agar rumahnya tidak terlihat kotor karena tidak berpenghuni.


"Mas sangat merindukanmu Zahra, apakah kamu begitu membenci mas sayang, sehingga begitu lama kamu meninggalkan mas, mas malu jika mas harus menjemputmu ke rumah orang tuamu, pulanglah sayang... mas rindu sangat merindukanmu." ucap Adam dengan lirih sambil melihat sebuah foto dirinya dan juga keluarga kecilnya.


Adam tidak dapat membohongi perasaannya, bahwa merasa cinta dan sayangnya sangatlah besar pada istrinya, andai waktu bisa diulang Adam tak akan berkhianat dari Zahra, Adam mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumah Jihan, tanpa memberitahu kepada Jihan tentang kepergiannya,.


Dilajunya mobil itu dengan kecepatan sedang, hingga tidak begitu lama mobil itu telah sampai di rumahnya, di pandangannya ke rumah sederhana namun sangat nyaman untuk ditepati, dulu apabila Adam pulang akan ada dua wanita yang akan menyambutnya.


Adam menitihkan air matanya melihat pemandangan rumahnya tersebut, dia membuka pintu rumah dan melangkahkan kakinya, lagi-lagi suasana asing menyambut kehadirannya, Adam tidak dapat menahan tangis nya, membayangkan kesalahan terbesar yang telah ia perbuat.


Disetiap sudut rumah, ketika Adam melihatnya pasti akan ada bayangan kebahagiaan dari putri kecilnya dan juga istri solehanya, semua terlihat jelas di mata Adam, Adam tersenyum dalam tangisnya ketika membayangkan itu.


Iya memejamkan matanya menikmati setiap bayangan indah itu terlintas di dalam pikirannya, "Pulanglah sayang, jangan siksa mas seperti ini, mas salah...mas mohon tolong maafkan lah kesalahan mas. "


Terdengar suara orang dari luar memberi salam, membuat Adam tersadar dari lamunannya, Adam buru-buru menghapus air matanya itu, karena Adam tidak ingin ada orang yang mengetahui bagaimana rapuhnya iya saat ini.


"Waalaikumsalam.. bu, silahkan masuk. "


Adam mempersilahkan masuk seorang ibu-ibu paruh baya dengan seorang anak laki-lakinya, yang biasa membantu membersihkan rumahnya ketika Adam pulang, sebelum Adam sampai di rumah, Adam sudah menghubungi ibu Ani untuk datang ke rumahnya.


"Iya pak. "ucap ibu Ani dengan senyum di wajahnya sambil menarik tangan anaknya agar ikutan masuk ke dalam.


"Oh ya pak, kemarin ada seseorang mengirimkan surat untuk bapak." ujar bu Ani sambil menyerahkan sebuah amplop kepada Adam.

__ADS_1


"Apa ini bu?" tanya Adam penasaran karena dia jarang sekali mendapat kiriman dari seseorang.


"Sebaiknya pak Adam melihat sendiri isinya. "


Buk Ani langsung menyerahkan amplop itu kepada Adam, dan Adam langsung menerimanya dengan tangan bergetar, ketika matanya membaca tulisan apa yang tertera di amplop coklat tersebut.


"Kalau begitu saya langsung saja beres-beres ya pak."


Buk Ani langsung menarik tangan putranya tersebut, untuk melanjutkan pekerjaan, iya tahu bahwa Adam akan sangat shok ketika menerima surat yang diberikan olehnya, iya begitu menyanyangkan apa yang terjadi dalam rumah tangga tetangganya.


"Surat pengadilan agama, tidak memungkinkan... surat ini, pasti ini salah." wajah Adam begitu pucat, bayangan hal yang menakutkan terbayang di dalam pikirannya, hatinya berdebar menolak apa yang dipikirkan oleh kepalanya.


Dengan langkah sedikit tertatih Adam melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, pandangannya tak pernah lepas dari amplop tersebut, iya tidak berani membukanya takut jika firasat buruknya menjadi kenyataan.


Adam mendudukkan tubuhnya di atas ranjang, tangannya bergetar ketika ingin membuka isi amplop tersebut, kepalanya terasa berat sekali ketika ia membaca nama yang tertera di dalam amplop tersebut, beberapa kali Adam menggeleng-gelengkan kepalanya, semua ini rasanya bagaikan mimpi yang sulit dipercaya oleh Adam.


"Tidak... inu tidak mungkin, pasti semua ini adalah mimpi, bagaimana mungkin Zahra begitu tega kepadaku, ini pasti hanya mimpi." ucap Adam bagaikan orang gila.


Adam langsung meraih handphonenya mencoba menghubungi nomor Zahra, beberapa kali iya hubungi namun tetap gagal, sudah beberapa minggu nomor Zahra tidak aktif ketika ditelepon, membuat Adam bertambah frustasi.


Adam membanting handphonenya ke atas kasur, iya mengusap rambutnya dan menariknya dengan sedikit kuat, Adam sudah menunggu kepulangan Zahra setiap menit bahkan di setiap detik iya merindukan istrinya, namun yang datang adalah surat gugatan cerai.


"Kenapa kamu begitu tega sekali kepada mas sayang, mas tidak sanggup kehilanganmu, sudah cukup mas kehilangan Aisyah dan mas tidak akan membiarkan kamu juga menghilang dalam kehidupan mas... tak akan pernah mas melepaskan mu."

__ADS_1


__ADS_2