
"Kamu yakin nak, akan pulang hari ini?" tanya Umi.
" Iya Umi Zahra akan pulang hari ini, sudah lama Zahra disini, rasanya tidak enak meninggalkan mas Adam dirumah selama ini."
Sudah empat hari sejak mas Adam dan mertuaku datang malam itu, aku belum juga pulang ke rumah. hari ini rencananya aku akan pulang, melupakan hati yang belum tenang dan memulai kembali aktivitasku sebagai istrinya mas adam.
" Ya sudah nak kalau itu keputusanmu, biar pak Rahman yang mengantar kalian, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari kami."
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapkan umi, tinggal disini memang hal yang indah, banyak pelajaran dan nasehat yang ku dapatkan, tetapi kewajiban ku sebagai istri tak boleh ku tinggalkan.
" Jam berapa nanti kamu pulang zah." tanya Mbak Salwa.
"bakda Zuhur Mbak, biar Zahra sama Aisyah siap-siap dulu sebelum pulang."
"Mbak turut prihatin tentang masalah rumah tangga mu, semoga rumah tanggamu akan harmonis seperti biasanya, tidak berubah dengan terjadinya masalah ini."
"Amin mbak.. Zahra juga berharap seperti itu, semoga mas Adam bisa melupakan perempuan itu seperti janjinya" ucapku.
Karena mas Adam sudah berjanji akan melupakan perempuan itu, entah siapa nama perempuan yang ada di dalam hatinya, dan aku berharap janjinya kali ini akan benar-benar ditepati.
Kami duduk di teras depan sambil bercanda gurau bersama Umi Mbak Salwa dan juga Aisyah, tidak ada Nurul karena dia sedang pergi sekolah.
"ini cemilan nya Umi, Mbak Salwa dan Mbak Zahra, silahkan dimakan" ucap mbok Imah menaruh cemilan yang di bawahnya.
Mbok Imah bekerja paruh waktu di rumah ini, jika pekerjaannya sudah selesai, mbok Imah akan langsung pamit pulang, karena rumahnya pun tidak jauh dari sini.
"Terimakasih mbok."
" Sama-sama Mbak, yasudah si mbok mau pamit duluan kebelakang." ujar mbok Imah pamit meninggalkan kami di teras depan.
" Umi, Mbak tolong jagain Aisyah sebentar, Zahra mau ke kamar dulu, mau beres- beres barang."
"Iya.. biar Aisyah sama Umi dan Mbak mu"
__ADS_1
Aisyah terlihat santai di pangkuan Umi sambil memakan cemilan yang di bawah oleh mbok Imah.
Sesampainya di dalam kamar, aku membereskan beberapa pakaian ku dan juga pakaian Aisyah yang tidak banyak aku bawah dari rumah.
Tampa sengaja mataku tertuju ke arah kotak kecil yang berwarna hitam yang berada di belakang pakaian lamaku, aku mengambilnya dan bukannya.
Didalam terdapat tasbih cantik yang berwarna biru muda, dan selembar kertas yang terlipat rapi. Ini adalah kotak pemberian bang Faiz, aku tidak tahu apa isi di dalamnya karena aku baru sekarang membukanya.
Bang Faiz memberikanku kota ini ketika aku menolak perjodohan dengannya, dan melakukan pertunangan dengan mas Adam. kotak ini diberikan sebelum bang Faiz melanjutkan pendidikannya di mesir.
Aku melangkahkan kaki di arah kasur, duduk sambil menatap tasbih warna biru muda yang cantik dan selembar kertas, kebuka kertas tersebut ternyata isinya adalah surat.
{ Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, dia akan melenyapkan dari hatinya pandangan buruk terhadap amal-amal yang baik.
Allah juga akan menghalangi nya untuk menceritakan hal hal yang baik tersebut kepada orang lain dengan lisan ya, allah juga akan menjadikannya sibuk memikirkan dosanya.}
Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari surat tersebut, hanya bang Faiz lah yang mengerti karena dia yang menulis, walaupun sepertinya surat ini tertuju untuk kehidupanku, entahlah.
Aku lipat kan kembali surat tersebut di dalam kotak seperti semula, akan aku bawa pulang tasbih dan surat pemberian dari bang Faiz.
Setelah mengerjakan sholat dzuhur aku dan Aisyah bersiap-siap untuk pulang.
"Bunda Aisyah sangat senang kita pulang hari ini, dan Aisyah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah, Aisyah udah kangen banget sama ayah" ucap putriku.
Aku tersenyum ke arahnya mendengar perkataan Aisyah, kata kangen itu yang selalu keluar dari ucapannya beberapa hari ini.
"Sabar sayang pasti ayah juga sangat senang bertemu dengan Aisyah."
Setelah berpamitan kepada keluargaku, aku dan Aisyah masuk ke dalam mobil yang akan membawa kami pulang ke rumah.
Didalam mobil aku duduk termenung sambil memikirkan tentang pertemuanku dengan mas Adam.
Ada rasa sedikit khawatir ketika berjumpa dengan mas Adam nanti, apakah kami akan canggung karena ada badai kecil yang baru saja mengguncang rumah tangga kami.
__ADS_1
"Mbak sudah sampai.. mbak Zahra.. sudah sampai, mbak bangun" ucapan pak Rahman membangunkan ku.
"Astaghfirullahhalazim, maaf pak... Zahra tidak sengaja ketiduran." ucap ku karena tidak sengaja ketiduran di dalam perjalanan.
"Tidak apa-apa Mbak.. baru saja kita sampai"
"Sayang.. nak Aisyah bangun kita sudah sampai di rumah" ucap ku sedikit menggoyang kan tubuh kecil putriku.
"Kita sudah sampai ya bunda?"
"Iya sayang kita sudah sampai, ayo turun"
"Pak... makasih ya pak sudah mengantarkan Zahra dan Aisyah, ini ada sedikit rezeki untuk bapak, mohon jangan ditolak ya pak" ucapku sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Mbak, saya jadi tidak enak" aku hanya tersenyum mendengar jawaban pak Rahman.
"Ya sudah pak, Zahra dan Aisyah masuk dulu ke dalam, bapak hati-hati di jalan."
Aku melangkahkan kakiku menuju halaman rumah, suasana sepi menyambut kami, pasti sekarang mas Adam masih di kantor.
Aku keluarkan kunci di dalam tas dan aku bukakan pintunya. melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah kami.
Pandanganku tertuju ke seluruh ruangan, ada perbedaan yang terjadi ketika aku tidak ada di rumah ini, rumah yang biasanya terlihat rapi dan bersih, kini terlihat berdebu sekali.
Di ruang tamu banyak sisa bungkus cemilan yang tidak dibuang, aku hanya dapat beristighfar melihat keadaan kediamanku, seminggu aku tinggalkan sudah seperti ini.
"Rumah kita kotor sekali bunda." ujar Aisyah aku tidak menanggapi ucapan putriku.
Sambil menggandeng tangan Aisyah aku langkahkan kaki menuju ke kamar kami, keadaan kamar juga membuatku terkejut, banyak sekali baju kotor Mas Adam yang bertumpuk, menyebabkan bau yang tidak sedap.
Tanpa beristirahat aku kumpulkan semua baju kotor mas Adam, dan aku masukkan ke dalam mesin cuci.
Setelah selesai mencuci pakaian kotornya mas Adam, selanjutnya aku langkahkan kakiku menuju ke dapur untuk memasak.
__ADS_1
Dan lagi-lagi membuatku beristighfar dan mengelus dada, banyak sekali sepiring kotor di wastafel dan sisa bungkus makanan cepat saji.
"Sungguh berantakan sekali hidupmu tanpa aku mas, walau itu hanya beberapa hari aku meninggalkanmu. tetapi masih juga kamu berniat menyakiti hatiku, apa kamu tidak melihat pengorbananku, aku harap kamu dapat belajar dari pengalaman ini." ucapku lirih.