
Hari minggu Adam tidak berangkat kerja, hari ini Adam berencana menghabiskan waktunya bersama keluargaku kecilnya, ketika sarapan Aisyah terus aja mengabaikannya, tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Adam.
Adam berusaha membujuk Aisyah, tetapi Aisyah tetap bungkam dan mengabaikan Adam, Zahra juga berusaha menasehati putrinya, tetapi Aisyah tetap tidak menghiraukan nya.
"Sayang... Aisyah, mau ke mana nak?"
Aisyah tetap mengabaikan pertanyaan dari Adam, melangkahkan kakinya pelan menuju kamar, Aisyah benar-benar kecewa karena ayahnya tidak dapat menepati janji.
"Sayang... Aisyah, kenapa tidak menjawab, ayah dari tadi bicara dengan Aisyah."
"Aisyah mau ke kamar bunda, sekarang Aisyah tidak ingin berbicara dengan ayah."ucap Aisyah
"Kenapa ke kamar sayang, apa kepalanya sakit lagi?" tanya Adam lagi, karena ini masih pagi, biasanya Aisyah akan bermain atau menonton televisi.
"Sayang jawab dong, kan ayah sedang bertanya kepada Aisyah, tidak baik sayang bersikap seperti itu kepada ayah."
Aisyah juga mengabaikan kata-kata Zahra, dengan mantap meninggalkan kedua orang tuanya menuju ke kamar.
Zahra berusaha menjelaskan kepada putri kecilnya itu, bahwa sikapnya kepada ayahnya salah, tidak sepatutnya Aisyah bersikap seperti itu.
"Sudahlah sayang.. tidak apa-apa, nanti mas akan berbicara sendiri kepada Aisyah."
"Ya udah kalau begitu mas, Zahra beres-beres dulu."
" Iya sayang."
Zahra meninggalkan suaminya yang masih termenung, Adam memandang kepergian Zahra yang mengambil peralatan bersih-bersih untuk membersihkan rumah.
Matanya tidak pernah lepas dari gerakan istrinya, wanita yang lembut dengan sikap penuh keibuan.
Kemarin ketika Adam berada di rumah Jihan, adam sempat bertanya kepada Jihan, apakah ada kesempatan untuknya menjadi bagian dari hidup Jihan.
Selain Adam mencintai Jihan, adam juga kasihan melihat Jihan yang hidup sendiri di rumah Tampa ada yang menjaga, Walaupun Jihan tergolong orang yang berada, karena memiliki harta dari peninggalan kedua orang tuanya.
Tetapi bagi Adam, jihan tetap wanita yang lemah, iya ingin melindungi Jihan, sebagaimana dulu iya melindungi Jihan waktu mereka dulu bersama.
Jawaban tak terduga juga keluar dari
__ADS_1
mulut Jihan, Jihan yang dulunya menolak menikah dengan Adam, karena tidak ada restu dari Zahra selaku istri pertama Adam.
Tetapi kemarin Jihan merubah jawabannya, iya bersedia menjadi istri keduanya Adam, iya menerima ajakan Adam untuk menikah, iya menerima amanah dari almarhum ayahnya yaitu menikah dengan Adam.
Adam dan Jihan berencana merahasiakan rencana pernikahan yang akan dilakukan keduanya, Adam hanya akan menceritakan rencananya kepada mamanya saja, karena hanya mamanya saja yang mendukung rencana Adam untuk menikah Jihan.
Menurut hukum agama bukannya seorang suami yang ingin menikah lagi tidak diperlukan izin dari istri pertama, jadi Adam merasa dirinya tidak perlu meminta izin dari Zahra lagi, karena Adam tahu jawaban apa yang akan didapatkan dari Zahra.
Adam hanya cukup merahasiakan hubungannya dengan Jihan, jangan sampai Zahra mengetahui pernikahannya kelak ketika iya menikah dengan Jihan, karena adam tidak akan siap jika kehilangan Zahra,
Adam dan Jihan tidak terburu-buru ingin menikah sekarang, mereka menunggu keadaan jadi lebih tenang terlebih dahulu, dan juga menunggu kondisi Aisyah lebih membaik.
Adam terus memperhatikan Zahra yang sedang membersihkan rumah, sesekali Zahra mengusap keringat yang membasahi dahinya.
Sering kali Adam menyarankan untuk mencarikan pembantu rumah tangga, tetapi Zahra ingin mengerjakan sendiri, bagi zahra mengurus suami dan anak adalah kewajibannya sebagai seorang istri.
Zahra juga melarang Umi yang masih tinggal di rumah mereka, untuk mengerjakan pekerjaan rumah, karena Zahra masih bisa melakukan sendiri, kasian kalau umi ikut membantu, walaupun umi bersikeras ingin membantunya.
Setelah memperhatikan istrinya yang membereskan rumah, Adam melangkah kakinya menuju kamar putrinya Aisyah, sebelum masuk kamar Aisyah, adam sudah mengambil pensil warna yang di belinya kemarin.
Setelah memberi salam, Adam membukakan pintu kamar secara perlahan, Aisyah sedang menggambar di atas kasur nya, Adam tersenyum melihat putri itu.
"Aisyah masih marah ya, sama ayah?" tanya Adam lagi berusaha mengajak bicara Aisyah.
"Aisyah.. sayang, ayah minta maaf ya, karena tidak bisa menjemput Aisyah di rumah sakit."
Lagi-lagi Aisyah bungkam tidak menjawab, Aisyah tetap melanjutkan menggambar tanpa mempedulikan Adam.
Adam melirik kearah gambar yang dibuat udah Aisyah, putrinya sedang menggambar bunga, tetapi gambar itu belum diwarnai oleh Aisyah.
Adam menghembuskan nafas panjang melihat sikap Aisyah yang susah di bujuk, tanpa sengaja mata Adam melihat sebuah buku cerita yang ada di meja samping ranjang Aisyah.
Adam tersenyum sedikit karena dia akhirnya menemukan ide untuk membujuk Aisyah, Adam mengambil buku tersebut dan melihatnya, itu adalah buku yang dibelikan oleh Adam, sebelum Aisyah masuk ke rumah sakit.
Adam membuka buku cerita tersebut dan membacanya. Zaman dahulu kala, hiduplah seekor lalat yang baik hati, rajin dan gemar membantu orang lain.
Satu hari, di sekitar tempat tinggal si Lalat, tengah diadakan sebuah festival. Si lalat pun dengan senang hati membantu kegiatan tersebut. Tapi karena terlalu asyik membantu kegiatan festival, membuat dirinya lupa akan namanya sendiri.
__ADS_1
Walaupun sedang menggambar tetapi Aisyah mendengar cerita yang dibacakan oleh Adam, Adam mengetahui hal itu dan melanjutkan membaca cerita.
Lalu si lalat memutuskan untuk bertanya pada seorang wanita tua yang tengah duduk di bawah pohon. “Maaf ibu, apakah Anda tahu nama saya?” Tanya lalat. Tapi sang ibu tidak mengetahuinya, bahkan menyuruhnya untuk bertanya pada seorang anak laki-laki, yang tidak jauh dari posisi sang ibu berdiri.
Adam mengubah suaranya dibuat menjadi lucu menirukan suara dari lalat, Aisyah menahan tawanya mendengar cerita yang dibacakan oleh Adam.
Lalat pun terbang dan menghampiri sang anak lelaki yang dimaksud. Kemudian bertanya lagi, akan pertanyaan yang sama, yang dijawab dengan gelengan. Sampai lalat bertemu dengan seekor kuda, dan kembali bertanya. “Hai kuda, apakah kau tahu siapa namaku?”. Seperti sebelumnya, jawabannya tidak tahu, Namun kali ini, kuda, menyarankan menanyakannya pada bayi yang ada di dekatnya.
“Hai bayi kecil, apakah kau tahu namaku?”, sang lalat bertanya, dengan rasa lelah, karena terus menerus bertanya. Kali ini bayi kecil tersebut, menjawab, dengan “la…..la…la…”, belum sempat sang bayi menyelesaikan kalimatnya.
Ternyata sang lalat kini kembali mengingat namanya. “Oh ya, kau bayi, aku lalat, terima kasih kau mengingatkanku akan namaku sendiri”. Kemudian sang lalat pun kembali membantu kegiatan festival dan pulang begitu acaranya selesai. Sang lalat merasa senang, karena berhasil mengingat namanya kembali.
Aisyah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Adam, Aisyah melupakan marahnya kepada ayahnya.
"ha.ha.ha lucu sekali ayah, padahal kan bayi bicaranya seperti itu, la la la." ucap Aisyah membuat Adam tersenyum melihat Aisyah yang tertawa lepas karenanya.
"Aisyah tidak marah lagi sama ayah?"
"Aisyah tidak marah sama, Aisyah hanya kesel saja karena ayah tidak menepati janji."
"Ayah minta maaf ya sayang, sebagai permohonan maaf, ayah ada sesuatu untuk Aisyah." ucap Adam mengeluarkan pensil warna.
"Wah.. pensil warna makasih ayah."
ucap Aisyah dengan senang menghamburkan tubuh kecilnya kedalaman pelukan ayahnya. Benar saja sedikit bujukan dari Adam, sudah membuat Aisyah melupakan rasa kesalnya.
.
.
.
Selamat membaca 😌🥰
Jangan panas ya reader memang ending sudah seperti itu 😁.
tetapi tenang saja, akhir ceritanya pasti memuaskan.
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, dll 🥰♥️