Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Secepatnya


__ADS_3

Ketika seseorang sudah memutuskan untuk mencintai, pasti akan ada rasa sakit di ujungnya, rasa sakit yang disebabkan oleh perpisahan, menjadi sebuah keharusan manusia untuk menerimanya, sebagaimana matahari yang harus menerima bulan ketika malam harinya, itulah hukum alam yang terjadi.


Mata Zahra menerawang ke arah tetesan rintik-rintik kecil setelah hujan besar telah berhenti, iya duduk di halaman belakang rumahnya dengan pandangan yang kosong, entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya.


Kesunyian kerap kali menemani hari-hari Zahra sekarang, walaupun banyak orang mencoba menghibur nya, tetapi semua itu tidak memadai dengan kepergian Aisyah yang baru berjalan satu minggu.


Tasbih biru di tangannya tak berhenti bergerak sambil mulutnya berbisik menyebut asma Allah dengan suara yang begitu lirih tak terdengar, hanya itu yang dapat menguatkan Zahra disaat seperti ini, dan juga dukungan keluarganya yang tak henti selalu mendukung nya.


"Bunda... bunda kangen Aisyah ya bunda?" terdengar suara anak kecil di samping Zahra.


Mendengar itu Zahra langsung menghentikan gerakan tangannya dan membalikkan wajahnya, matanya menatap kearah Nurul yang baru saja bertanya, sambil memegang tangan abi nya yang berdiri di samping pintu menatap ke arahnya.


Zahra tersenyum menatap kearah keponakannya, iya langsung menundukkan pandangan tak kuasa bertatapan dengan keponakannya tersebut, iya tak bisa menyembunyikan perasaan rindunya kepada buah Aisyah putri nya.


Nurul melepaskan genggaman tangannya dari Faisal, melangkah sedikit menghampiri Zahra sambil memegang kedua pipi Zahra, Nurul mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Zahra.


"Bunda jangan menangis, Nurul ikut sedih kalau bunda menangis seperti ini, pasti Aisyah sedih juga kalau melihat bunda menangis seperti ini." ucap Nurul.


Mendengar perkataan Nurul yang begitu polos, Zahra tersenyum dengan isakan yang mengiringi tangis nya, Zahra mengambil kedua tangan Nurul dan mencium kedua punggung tangan keponakannya tersebut.


"Bunda tidak menangis kok, mata bunda hanya kelilipan saja." ucap Zahra sambil tersenyum membuat Nurul ikut tersenyum melihat bunda Aisyah di depannya.


"Nurul senang sekali melihat senyum bunda, bunda akan terlihat sangat cantik jika tersenyum seperti ini."


"Tentu saja bunda akan tersenyum, karena ada Nurul yang selalu menghibur bunda. "


Zahra memeluk Nurul dan mencium pipinya, membuat Nurul tertawa bahagia diperlukan Zahra, dengan adanya keponakannya ini membuat sedikit perasaannya membaik, dengan candaan yang dilontarkan oleh Nurul agar Zahra tersenyum.

__ADS_1


"Ternyata non Nurul di sini, mbak Intan dari tadi mencari non." ucap mbak Intan yang baru saja datang.


Beberapa hari yang lalu, mbak Intan pulang kampung karena suatu hal yang penting, sehingga ia tidak dapat menyaksikan kepergian Aisyah, namun keluarga Umi mempekerjakan mbak Intan untuk menjaga Nurul setelah kepergian Aisyah, sehingga mbak Intan masih menatap di rumah Umi.


"Ada apa mbak?" tanya Zahra.


"Ini lho bu.. non Nurul belum makan, makannya saya cari." ujar mbak Intan.


"Sayang makan dulu sana." ucap Faisal sambil menatap kearah putrinya.


"Iya abi.. bunda Nurul makan dulu ya, nanti Nurul temani bunda lagi."


"Iya sayang... makan yang banyak ya agar cepat besar." ucap Zahra sambil mengusap kepala Nurul dengan sayang.


Nurul menghampiri mbak Intan yang sedang menunggu nya. "Ayo mbak." ajak Nurul.


Setelah kepergian Nurul dan mbak Intan Zahra langsung melihat ke arah Faisal, sepertinya kakak laki-laki satu-satunya ini ingin membahas suatu hal yang penting, karena dari tadi Faisal hanya diam saja melihat Nurul dan Zahra tanpa mengatakan sesuatu di depan Nurul.


"Iya.. mas ingin mengatakan sesuatu kepadamu, ini mengenai hubunganmu dan juga Adam." ucap Faisal menghampiri Zahra dan duduk di sampingnya.


"Katakanlah mas. "


"Apa kamu ingin bercerai dari suamimu, mas tidak akan memaksa perceraian kalian, mas akan terima keputusanmu jika kamu tetap bertahan dengan Adam, tapi mas akan sangat-sangat senang jika kamu memilih bercerai dari suamimu." ucap Faisal.


Zahra menarik nafasnya dan menghembuskan nya secara perlahan, inilah akhir dari segala perjuangannya, ternyata akhirnya begitu pahit, akhir perjuangannya tak satupun iya dapatkan, dan Zahra mencoba berdamai dengan segala yang telah menjadi takdirnya.


"Iya mas zahra ingin berpisah dari mas Adam, perjuangan Zahra sudah berakhir, begitu pun juga dengan pernikahan Zahra, tak ada lagi yang dapat diperbaiki semuanya sudah hancur."

__ADS_1


Sebagai seorang kakak Faisal juga merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh adiknya, adik yang begitu iya jaga dan lindungi ternyata iya gagal melindunginya, sehingga adik kesayangannya tersebut merasakan rasa sakit yang diberikan oleh suaminya langsung.


"Maafkan mas... karena mas gagal untuk menjagamu." ucap Faisal lirih


Zahra tersenyum melihat ke arah kakak laki-lakinya tersebut iya menyentuh pundak Faisal dan mengusap nya dengan lembut.


"Ini bukan salah mas.... ini adalah takdir yang harus Zahra jalani,, Zahra sendiri yang telah memilih mas Adam, padahal dulu Umi dan Abah sempat melarang hubungan Zahra dan mas Adam, tetapi Zahra tidak mendengarkannya, mungkin ini adalah karma karena Zahra sempat membantah perkataan Umi dan Abah. "


Pikiran Zahra melayang di mana iya dengan begitu keras kepalanya menolak perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua orang tuanya, saat itu hati dan pikirannya hanya ada nama Adam.


"Zahra boleh enggak meminta sesuatu dari mas?" tanya Zahra. .


"Tentu saja boleh... apapun yang kamu minta pasti akan mas turuti, jika itu bisa mas turut." ucap Adam.


Zahra tersenyum mendengar perkataan dari kakaknya, "Zahra hanya meminta tolong pada mas untuk mengurus segala urusan perceraian Zahra dengan mas Adam secepatnya, soal harta gono-gini Zahrah ingin dibagi dengan adil." ucap Zahra karena Zahra tidak mau meninggalkan sedikitpun hak nya untuk Adam dan Jihan.


"Kalau itu permintaan mu pasti mas akan menuruti nya, tanpa kamu meminta, mas akan langsung mengurus perceraian kalian secepatnya." ucap Faisal dengan yakin.


"Terima kasih mas... terima kasih banyak karena mas selalu ada untuk Zahra, lalu membela Zahra dan juga membantu Zahra.'' ucap Zahra dengan tulus.


''Tidak usah berterima kasih... itu sudah menjadi kewajiban dan juga tanggung jawab mas sebagai kakak laki-laki mu. setelah bercerai dari Adam, kalau boleh mas tahu apa keinginanmu selanjutnya?.''


Zahra terdiam sesaat mendengar pertanyaan dari kakaknya, iya belum memikirkan tentang kehidupannya ke depan, tetapi dari sekarang Zahra harus memikirkan tujuan apa yang ingin ia lakukan selanjutnya.


''Entahlah mas.. Zahra tidak tahu, saat ini yang Zahra ingin hanyalah dekat dengan kalian saja, karena di sinilah hati Zahra merasa tenang. ''


''Kamu wanita kuat Zahra, kamu pasti bisa melewati semua ini, hanya sedikit lagi.''

__ADS_1


''Iya mas.''


''Secepatnya mas akan mengurus perceraian kalian, kamu tenang saja.''


__ADS_2