Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Sedih


__ADS_3

''Apa yang ingin kalian katakan, cepatlah jangan membuang waktuku yang berharga ini, hanya untuk meladeni pembicaraan kalian yang sama sekali tidak bermanfaat.'' ucap Zahra.


Umi dan juga yang lainnya sudah meninggalkan mereka bertiga, walaupun malas berhadapan langsung dengan kedua orang di depannya itu, namun Zahra berfikir karena ini terakhir kalinya mereka membahas pembicaraan yang tidak bermanfaat.


Wajah sendu Adam begitu terliha tak dapat ditutupi, iya menatap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca, begitu sakit hatinya melihat wanita selama ini menjadi penyemangat dalam hidupnya, sekarang hanyalah orang lain, yang meninggalkan begitu banyak kenangan dalam hidupnya.


Jihan menggenggam erat tangan Adam, iya ingin sekali mencegah Adam untuk menunjukkan ekspresi menyedihkan nya di hadapan Zahra, iya takut, walaupun perceraian Zahra dan Adam sudah terjadi, namun bukankah segalanya bisa terjadi kedepan, bahkan kemungkinan mereka kembali bersama.


Namun Jihan takkan membiarkan itu, iya akan melindungi Adam baik-baik dari Zahra maupun dari wanita lain, Adam hanya akan menjadi miliknya satu-satunya, kini iya menjadi wanita yang serakah, apa yang menjadi miliknya takkan pernah menjadi milik orang lain.


''Sayang.'' panggil Adam dengan bibir bergetar,


Ingin sekali iya memeluk Zahra di depannya tersebut, panggilan sayang dari Adam membuat Zahra bergedik ngeri, iya tak mengerti apakah Adam hilang ingatan, barusan saja hakim membacakan keputusan perceraian mereka, namun sekarang Adam sudah memanggilnya dengan sebutan sayang lagi.


Zahra megelangkan kepalanya melihat sifat tidak tahu malu Adam, seakan mendarah daging di dalam tubuh mantan suaminya itu, entah kenapa iya dulu begitu buta sehingga bisa jatuh cinta pada Adam.


''Jangan. ''


''Apaan sih kamu mas, kalian sudah bercerai, ngapain kamu memanggil Zahra dengan sebutan sayang, itu sudah tak pantas.'' ucap Jihan memotong perkataan Zahra yang ingin menegur Adam.


''Betul seperti yang istrimu bilang itu mas, kita berdua bukanlah lagi suami istri, jadi tidak pantas kamu menyebutkan kata sayang kepadaku lagi, dan aku berharap kamu hidup bahagia, walaupun aku yakin kamu takkan pernah bahagia, karena karma sedang mempermainkan hidupmu, atas segala rasa sakit yang sudah kamu berikan kepadaku dan juga almarhum putriku.''


''Maaf... mas tidak sengaja menyebut kata sayang tersebut, karena mas belum terbiasa, maaf jika itu mengganggu pendengaran mu, andai bisa maafkan juga segala kesalahan mas yang telah mas lakukan kepadamu, mas hanya ingin mengucap itu.'' ucap Adam merasa bersalah, iya tak menyangka kalau perkataannya akan menimbulkan kemarahan dari Zahra maupun Jihan.

__ADS_1


''Seiring berjalannya waktu.. tetap saja aku tidak bisa melupakan semua penghianatan dan juga Segala kebohongan mu ketika aku menjadi istrimu, namun aku tidak berhak menghakimi kesalahanmu, biarlah Allah yang memberi keadilan kepada hambanya, dan aku akan berlapang dada memaafkanmu. '' ucap Zahra dengan bijak.


''Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, saya pamit dulu, karena keluarga saya sudah menunggu. ''


Zahra langsung melewati kedua orang itu, tanpa berniat membalikkan badannya, terlalu lama di hadapan Adam dan juga Jihan membuat Zahra mengingat segala kecurangan yang dilakukan mereka terhadap dirinya, cukuplah rasa sakit itu sampai di sini saja.


''Zahra tunggu sebentar. '' Panggil Jihan membuat Zahra menghentikan langkahnya, tanpa membalikkan tubuhnya untuk melihat wanita yang telah memanggilnya.


Jihan langsung mendekati Zahra, jihan memperhatikan wajah Zahra, iya tersenyum manis melihat wajah Zahra yang begitu cantik, namun tiba-tiba saja Jihan langsung memeluk Zahra, membuat Zahra mengurutkan keningnya atas perlakuan mantan madunya itu.


''Ada apa kenapa kau seperti ini?'' tanya Zahra langsung ingin melepaskan pelukan Jihan yang memeluknya begitu erat.


''Terima kasih... terima kasih banyak, karena kamu telah sepenuhnya memberikan mas Adam kepadaku, akhirnya aku lah pemenangnya, akulah pemilik mas Adam satu-satunya, tanpa harus menjadi bayang-bayang mu lagi, aku sangat senang sekali.'' bisik Jihan di telinga Zahra.


''Penghianat memang cocok dengan pelakor, kalian adalah pasangan yang sangat serasi, kamu bisa saja tertawa sekarang, tapi hukum Allah dan hukum masyarakat akan selalu menghantui kalian, karena tidak ada kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, apalagi istri yang tersakiti. ''


Zahra melepaskan tubuhnya dari pelukan Jihan dan meninggalkan mereka, dengan pandangan yang lurus menuju ke tempat parkiran, karena keluarganya sudah menunggunya disana.


''Apa yang dibicarakan oleh Adam dan juga perempuan itu?'' tanya Faisal ketika Zahra sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Uminya.


Zahra hanya menghelalkan nafasnya dengan lelah, iya menyandarkan kepalanya ke belakang, Zahra hanya diam saja tanpa ingin menjawab pertanyaan dari kakaknya tersebut.


''Apakah kamu baik-baik saja nak?'' tanya Umi menatap wajah sendu menatap Zahra.

__ADS_1


''Zahra baik Umi, mereka berdua hanya ingin meminta maaf kepada Zahra, lebih baik sekarang kita pulang ,hujan sudah mulai turun, hari ini adalah hari yang melelahkan, Zahra ingin langsung beristirahat.'' ucap Zahra kepada Uminya.


''Kalau begitu kita langsung pulang saja.'' ucap Umi kepada Faisal yang menyetir mobil.


Perlahan mobil tersebut meninggalkan pengadilan agama, tak lama hujan turun dengan begitu deras, membuat pendengaran menjadi kurang berfungsi, Zahra menatap rintik-rintik hujan yang jatuh, pandangannya sendu, entah apa yang dipikirkan oleh Zahra sehingga membuatnya merasa sedih.


Air mata mengalir sedikit dipelukpuk mata Zahra, dengan cepat-cepat Zahra menghapus air matanya tersebut, iya tak ingin Umi dan yang berada di sampingnya menyadari bahwa Zahra sedang menangis.


''Nak...'' panggil Umi menepuk bahu Zahra.


Zahra memalingkan wajahnya menatap kearah Umi dengan senyum lembut. ''Umi tahu bagaimana hatimu saat ini, kamu boleh mengatakan bahwa kamu baik-baik saja, tapi Umi tahu bahwa hatimu tidak baik-baik saja.'' ucap Umi.


Zahra langsung memeluk Uminya, di tengah derasnya hujan Zahra membenamkan wajahnya di bahu Uminya yang rapuh, hangat.. begitu hangat pelukan seorang ibu.


''Zahra baik Umi, Umi tidak perlu khawatir tentang Zahra, karena Allah selalu melindungi hambanya. ''


''Umi berharap kamu tidak akan trauma dengan pernikahan, karena kisah mu masih panjang, kamu masih muda nak, pasti ada seseorang yang sedang menikmati kamu.'' ucap Umi membawa Zahra kedalam pelukannya.


'*Ya Raab... engkau maha tahu, bahwa hatiku saat ini sedang terluka, karena perihal mencintai hambamu melebihi cintaku kepadamu, soal rasa mohon pudarkan lah, tuntun kan lah hati ini agar selalu ikhlas.


Jika diharuskan jatuh cinta lagi, maka jatuhkan lah hati ku kepada seseorang yang menautkan hatinya kepadamu, jatuh cinta sekali lagi itu di luar kuasa ku .


Kekali lagi Ya Rabb... tolong kuatkanlah, alangkah malunya jika hatiku harus melemah di hadapan manusia selain di hadapanmu*.'' batin Zahra sendu.

__ADS_1


__ADS_2