
Waktu menjelang Maghrib hujan deras mengguyur bumi. Petir menyambar-nyambar.
Bulan yang berdiri di depan kecamatan segera mencari tempat untuk berteduh. Ia berlari ke emperan warung kopi yang sudah di tutup. Keadaan sangat sepi, tetapi tidak menyurutkan semangat Bulan menunggu sang suami.
"Yah... tampias" gumam Rembulan. Angin begitu kencang hingga air membasahi baju gamis yang panjang menjuntai.
"Semangat Bulan, walupun dingin sebentar lagi suami kamu akan membuka jaket nya, dan memakaikan di tubuhmu, ini" Bulan berbicara sendiri, menyunggingkan bibir, mengibas-ngibas baju yang sudah basah sebagian.
Ia membayangkan betapa romantisnya saat sedang hujan, dan kedinginan begini, pria yang dicintai datang dan memberikan kehangatan.
Namun senyum itu berubah menjadi tangis, betapa tidak? Malam merangkak naik, Tara belum juga datang.
Bulan masih berharap, Tara hanya terlambat karena setelah turun dari pesawat taksi yang di tumpangi terjebak macet. Bulan bersedekap mengurangi hawa dingin yang semakin membelai sekujur tubuhnya.
"Apakah Abang membohongi aku? Oh tidaaakkk... Abang pria baik yang pernah aku temui." batin Bulan.
Bulan duduk di kursi panjang yang sudah basah, dan mulai lapuk mungkin faktor seringnya ke hujanan.
Ia tidak perduli akan air yang membasahi dirinya. Dengan wajah kuyunya Bulan merenung mengapa takdir cinta pertama yang awalnya manis hanya dalam sekejap kini terasa pahit.
Jedeeerr... bruuk.
Petir menyambar pohon yang tidak jauh dari warkop. Bulan berkali-kali istighfar. Ia menatap pohon besar dan kokoh sejak kecil pun pohon itu sudah ada. Namun dengan kuasa Nya, apapun yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara. Termasuk cinta Tara kepadanya.
Tetapi apakah salah jika Bulan memohon agar cinta Tara kepadanya akan tetap utuh walaupun telah dimakan waktu? Bulan menyusut air matanya.
Puk.
Pundak Bulan ada yang menepuk membuyarkan lamunanya. Bulan seketika menoleh seorang pria membawa payung. Bulan segera berdiri menatap pria yang sedang menyeringai ke arahnya.
"Udin..." Bulan menggeser menjauh dari Udin.
"Ayo, aku jemput," Udin mengulurkan tangan ingin mengajaknya berboncengan payung. Alangkah romantisnya pikir Udin.
"Maaf Din, sebaiknya kamu pergi pakai saja payung kamu," tolak Bulan, lalu membuang pandanganya ke arah pohon yang tumbang.
"Bulan... aku bermaksud baik, ini sudah malam, nanti kalau ada orang jahat bagaiamana?" tanya Udin.
Kamu sendiri penjahatnya! Udin.
__ADS_1
"Tidak akan ada apa-apa di desa ini, hampir semua mengenal saya, tidak mungkin kan? Mereka akan mengganggu saya," kilah Bulan berharap pria yang memuakkan ini segera pergi.
"Okay... apa kamu yakin? Jika suami kamu akan datang?!" Udin meletakkan payung kemudian melipat tangan di depan dada.
"Kenapa tidak!" jawab Bulan cepat, melirik Udin sekilas kemudian melengos.
"Sudahlah Bulan... jangan terus berharap, bahwa suami kamu itu akan kembali," kata Udin, mengangkat dagu nya congak. Niatnya tidak di respon Bulan, Udin mendelik gusar.
"Jangan sok tahu!" sinis Bulan, ia sudah terlalu kecewa dengan sikap Udin.
"Aku tahu semuanya, tentang suami kamu, Bulan!" Udin kembali tertawa kencang.
Disekitar kecamatan jauh penduduk yang ada hanya lapangan, yang biasa di gunakan untuk upacara. Tentu tidak ada orang yang mendengar walupun teriak sekalipun jika bukan karena kebetulan ada kendaraan yang lewat.
"Hentikan tertawa kamu, Udin! Kuping saya terasa mau pecah mendengarnya." sungut Bulan.
Cekcok mulut terjadi, mereka saling sahut. Mencari kebenaran masing-masing.
"Hayo lah Bulan, jika aku dulu tidak bisa mendapat kegadisan kamu, setidaknya aku mendapat janda kamu! Hahaha."
Plak.
Udin mengusap pipinya lalu mendekati Bulan. Kedua sahabat yang awalnya selalu kemana-mana berdua itu kini sudah mengobarkan api peperangan.
"Jangan mendekat, atau saya pukul pakai lidi ini," Bulan mengangkat sapu yang kebetulan bersender di gubuk warkop.
"Hahaha... Bulan... Bulan. Sikapmu itu semakin angkuh!" Udin tertawa jahat, sambil terus mendekati Bulan. Udin yang dulu alim kini hatinya sudah di kuasai amarah.
Bulan keluar dari gubuk terpaksa hujan-hujanan. Di susul Udin.
*******
"Bulan... kamu kemana Nak? Kenapa tidak segera pulang sih..." Gumam Fatimah. Beliau sejak tadi kebingungan. Sudah hampir jam sembilan malam putrinya belum juga pulang.
Padahal sejak magrib hujan tidak berhenti. Awalnya Fatimah tenang-tenang saja, karena ia pikir, Bulan saat ini sudah bersama menantunya. Akan tetapi, Fatimah ingat cerita Bulan kemarin bahwa menantunya nomor hp nya tidak pernah aktif. Beliau berpikir yang tidak-tidak.
"Apakah Tara tidak datang? Oh ya. Allah..." pikiran-pikiran buruk memenuhi ruang hati Fatimah.
Jedeeerr.
__ADS_1
Fatimah yang berdiri menatap kejauhan dimana arah kecamatan, segera masuk ke dalam ketika mendengar suara petir.
Ia bertekat harus menyusul putrinya walupun jaraknya jauh tentu akan lelah jika hanya berjalan kaki menuju kecamatan. Namun Fatimah tidak perduli. Perasaanya kini semakin tidak enak kontak batin dengan Bulan mungkin yang membuat Fatimah resah.
Wanita cantik berhijab panjang itu, ambil senter dan juga dua payung. Satu payung ia buka, dan satu payung lagi Fatimah pakai.
Fatimah kemudian menerobos hujan deras menapaki jalan setapak yang hanya bisa di lalui sepeda motor maupun sepeda goes.
Beliau tidak perduli suara petir yang menyeramkan. Yang penting ia bisa menjemput putri semata wayangnya.
Jalanan sepi hanya terdengar suara Jangkrik dan mungkin desis Ular, karena Fatimah melewati sawah dan ladang yang tampak gelap.
*******
Di depan kecamatan dua mantan sahabat masih bersi tegang di tengah guyuran hujan. Bulan menggigil kedinginan bibirnya hingga berwarna pucat.
"Kamu munafik Bulan!" bentak Komaruddin. Ia terus mengumpat, mengeluarkan kata-kata kotor, yang selama menjalin persahabatan belum pernah Bulan dengar.
"Kamu berubah Udin! Kamu kenapa jadi begini Udin?!" Bulan pun memekik.
"Ini semua gara-gara kamu Bulan!" Udin hendak mengait lengan Bulan. Namun Bulan yang sudah membawa senjata sapu lidi mengangkat tinggi-tinggi.
"Saya bilang, jangan mendekat Udin! Atau..."
"Atau apa?"
Prak.
Udin merebut sapu kemudian melemparkan jauh. Pria yang sudah gelap mata itu mendekati Bulan.
Bulan berlari sekuat tenaga, hujan masih belum reda pandangan Bulan kurang jelas, sesekali mengusap wajahnya agar air hujan tidak menutup pandangan. Bulan meniggalkan sepeda menjauh dari tempat itu.
Bulan sedikit tenang saat menoleh ke belakang sudah tidak terlihat Udin disana. Bulan mengatur napas sesaat berpegangan lutut. Namun tiba-tiba Udin berdiri di depan Bulan, dan menangkap tutuh nya.
Bulan meronta-ronta agar lepas dari tangan Udin. Namun tenaga Udin lebih kuat. Bulan pun tidak kehilangan akal. Ia menendang anu Udin sekuat tenaga.
"Aaarrrggg..." Udin jatuh tersungkur di jalanan. Kesempatan itu digunakan Rembulan untuk berlari.
********
__ADS_1
Yang ingin tahu dimana Bumantara InsyaAllah, di bab berikutnya. Tetap di sini sobat ter love ❤❤❤💪💪💪.