
"Maafkan saya Nyonya, saya tidak sengaja," Rembulan membereskan pecahan kristal.
"Tuhkan, Ma! Kerjanya nggak becus, itu kan Kristal mahal, Mama beli dari luar negri!" Keke mencak-mencak. Sedangkan Maya hanya diam masih memandangi kristal miliknya yang sudah tidak berbentuk.
"Maaf Nyonya, nanti saya ganti kristal ini, tapi dengan uang," kata Bulan. Menoleh Maya sekilas kemudian lanjut membereskan beling.
Maya tidak menyahut justeru melenggang pergi entah apa yang di pikirkan wanita yang mirip Tara itu.
"Sok-sok-an! Mau ganti! Kamu bekerja disini sampai setahun pun tidak akan cukup untuk beli kristal ini! Ngerti!" Keke meremehkan.
Bulan tidak menyahut diam lebih baik, daripada membuang energy hanya untuk menimpali ucehan Keke.
"Biar saya yang membersihkan Non" bibi datang menghampiri Bulan.
"Apa? Bibi, memanggil Bulan, Non?!" Keke menarik mulutnya sebelah.
"Maksud saya, Neng," bibi meralat. Tidak mau ribut. Beliau yang sudah membawa peralatan untuk bersih-bersih segera membantu Bulan.
Keke melengos sambil berlalu masuk ke kamar. Sampai di kamar ia ambil tas, lalu menylempang nya di pundak. Entah akan pergi kemana ia kembali keluar dari kamar melewati Bulan dan bibi yang masih bersih-bersih.
"Huh!" sungut Keke.
Bibi dan Bulan saling pandang setelah Keke berlalu.
"Ya ampuuuunnn... nanti kalau Non, Bulan hamil. Amit-amit.... deh Non, ada orang seperti Keke itu," Bibi masih memandangi Keke dari belakang geleng-geleng kepala.
"Bibi... ada-ada saja," Bulan tersenyum karena ada yang menghibur.
"Betul Non, bibi teh rasanya pengen menjewer kupingnya," sungut bibi.
"Bibi... tolong jangan panggil saya Non, panggil saja, Bulan," Bulan mengalihkan.
"Ya nggak apa-apa kan Non, memang seharusnya bibi memanggil begitu. Non kan istrinya Tuan muda," kukuh bibi
"Iya Bi, istri yang nggak diakui di keluarga ini," Bulan tersenyum kecut.
********
__ADS_1
"May, besok kamu ikut aku keluar kota ya," kata Bisma saat malam hari sudah selesai makan malam ngobrol di kamar.
"Besok Pa? Besok Kan minggu," Maya seperti malas, biasanya jika minggu ia selalu memanjakan diri ke salon.
"Soalnya hari senin kita pagi-pagi sudah berada di lokasi May," Bisma akan bertemu dengan kliennya yang akan menyewa gedung yang baru saja ia bangun di kota M.
"Iya Pa," jawab Maya singkat. Maya segera ke kamar mandi. Selesai dari sana melihat Bisma sudah mendengkur di ranjang.
Maya keluar kamar menemui bibi yang sedang menonton sinetron bersama Sumidah.
"Nyonya?" Bibi terkejut karena tiba-tiba Maya sudah berada di samping nya.
"Bi, besok kan Bulan libur, sedangkan saya mau ikut Tuan keluar kota, tolong rawat Dipta ya Bi," titah Maya.
"Pasti Nyonya," bibi antusias.
"Kalau nggak sempat masak, online saja Bi, yang penting menjaga Dipta," Maya mewanti-wanti.
"Baik Nyoya, paling memasak hanya sedikit, kan Nyonya sama Tuan pergi," jawab bibi santun.
"Iya, tapi kan ada Keke Bi, anak itu makanya paling susah," rupanya Maya selalu memperhatikan makanan calon menantunya.
"Betul juga bi, oh iya Bi, selama saya tidak ada, jangan ijinkan Keke masuk ke kamar Dipta ya," pesan Maya. Walaupun bagaimana Maya tahu, bahwa Keke gadis agresif tidak ingin jika sampai dia berbuat yang tidak-tidak di kamar sebelum menikah.
Walaupun Maya tidak menyukai Bulan berhubungan dengan Dipta. Namun Maya lebih percaya pada Bulan gadis alim tentu tidak berani melanggar norma. Mengenai tuduhan Keke pada Bulan, bahwa Bulan wanita yang suka menjajakan tubuhnya. Maya tidak begitu saja percaya.
"Oh tentu Nyonya," Bibi bersemangat. Tentu tidak ingin suami Bulan, di goda oleh Keke. Bibi tersenyum tanpa Maya tahu.
"Lalu tugas untuk kamu Sum, tugas bibi ambil alih dulu, nanti setelah dari kota M, kalian saya beri bonus tambahan," seperti biasa Maya selalu memberi bonus kepada art nya jika ada rejeki lebih.
"Baik Nyonya," Sumidah yang sejak tadi hanya menyimak obrolan. Mendengar kata bonus langsung sumringah.
********
Pagi hari setelah shalat subuh, Bulan sudah bersemangat ingin bertemu sang Ibu yang selalu ia rindukan. Walaupun baru seminggu tidak bertemu, rasa kangen Bulan membuncah. Wajar, sejak kecil Bulan tidak pernah jauh dari Fatimah, kadang tidur pun selalu berdua.
Setelah mandi dan ganti pakaian rapi. Ia ke kamar Tara menatap suaminya masih tidur pulas. Sejak keributan kemarin siang, Bulan mendiamkan suaminya.
__ADS_1
Bulan duduk di samping ranjang, memandangi Tara yang sedang tidur dalam damai. Ia menarik napas sesak. Tidak pernah berhenti otaknya berpikir akan perubahan sifat suaminya saat ini.
Bulan sebenarnya tidak tega marah pada Tara, tapi sikap suaminya yang tidak tegas itulah yang membuat Bulan, kecewa. Sekali-kali suaminya ini harus diberi pelajaran, agar tidak terlalu egois. Menginginkan Bulan agar tetap di sampingnya, tapi tetap tidak mau menyuruh Keke pergi dari rumah ini.
Mengapa Tara tidak memikirkan perasaan Bulan. Dengan adanya Keke tinggal di rumah ini akan membuat Bulan selalu menahan sakit hati.
Bulan beranjak menyiapkan obat, pakaian, dan juga handuk, sebelum akhirnya pergi dengan rasa berat di hati. Di bukanya handle pintu ketika sampai di tengah-tengah ia berhenti menatap kembali suaminya.
Dosa kah jika ia pergi? Sedangkan istri melangkah dari rumah tanpa seijin Nya akan di laknat malaikat walaupun hanya satu detik.
Bulan kembali menutup pintu tetap melangkah walaupun hatinya berkecamuk. Ia ambil tas di kamar, kemudian ke dapur menemui bibi. Saat ini sudah jam lima pagi.
"Bi, titip Bang Tara ya," pamit Bulan.
"Kok, pagi-pagi sekali Non, mendingan sarapan dulu," kata bibi yang sedang memasak sesuatu.
"Nggak apa-apa Bi, sebenarnya saya nggak tega meninggalkan Bang Tara, tapi saya butuh menenangkan diri Bi," Bulan menatap tangan bibi yang sedang menumis bumbu.
"Bibi tahu Non, baru disini seminggu saya perhatikan kamu sering menangis," walaupun diam. Namun bibi selalu memergoki Bulan sedang menangis.
"Aku cengeng ya Bi," Bulan senyum di paksakan.
"Bukan cengeng Non, jika bibi yang ada diposisi kamu, bibi pasti sudah pergi dari kemarin," tukas bibi.
Bulan keluar rumah membuka pagar setelah memesan ojek online. Karena ojek sudah menunggu di depan.
"Neng Bulan ya?"
"Betul Mas," Bulan segera naik motor jalanan masih lancar sebab masih pagi.
"Di sini ya Non?" tanya tukang ojek ketika sampai di depan kontrakan.
"Betul Mas, terimakasih," Bulan pun segera turun dari motor kemudian melangkah menuju kontrakan setelah membayar ojek.
Kontrakan masih sepi, karena baru jam 5.15 menit. Hanya kontrakan Bulan yang sudah di buka. Tampak dari pinggir jalan etalase sudah penuh dengan isi dagangan. Bulan tersenyum ternyata ibunya tidak main-main benar-benar membuka warung. Tetapi apa tidak ngeri jika ibu membuka warung masih pagi begini? Sedangkan beliau hanya tinggal seorang diri. Pikir Bulan.
Bulan berjalan lebih cepat agar cepat sampai. Ia tersenyum jail ingin mengerjai ibunya pura-pura menjadi pembeli. Namun senyum Bulan menghilang kala melihat seorang pria yang sedang mengepel di dalam kontrakan, orang yang sebenarnya ingin Bulan hindari.
__ADS_1
*******
Happy reading.