Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Di Usir.


__ADS_3

Bibi bersama Sumidah, masih mengintai apa yang dilakukan Keke selanjutnya. Selesai membubuhkan serbuk ke dalam susu, Keke melempar bungkus ke tempat sampah, kemudian melenggang pergi ke kamar.


"Kita lihat Sum," Bibi menghampiri tempat sampah. Sum membuntuti, kemudian mengambil bungkus kemasan tersebut lalu membacanya.


"Bibi, tahu nggak? Ini obat untuk apa?" Sumi memberikan kemasan kepada bibi.


Bibi menyipitkan mata ketika membaca tulisan yang kecil-kecil.


"Astagfirlullah..." Bibi seketika melempar kemasan tersebut.


"Apa Bi? Racun kah?" Sum penasaran.


"Sudahlah Sum, kita sekarang harus jaga Non Rembulan dengan baik," pungkas bibi, kemudian membuang susu ke wastafel.


******


Malam harinya di kontrakan Fatimah pasutri sudah siap-siap akan tidur.


"Bulan... kamu mau ngapain?" tanya Tara. Ketika Bulan menggelar tikar.


"Menggelar tikar, kan mau tidur, terus... kenapa gitu?" Bulan pura-pura tidak tahu maksud Tara.


"Cek! Jangan tidur di bawah Bulan, kamu ini sedang hamil, ngerti nggak sih?!" dengus Tara.


"Kan sempit Bang, nggak kenapa-kenapa kan hanya satu malam, tidur di lantai," Bulan tidak mau mengalah.


"Sudah! Kalau kamu nggak mau dengar, aku yang tidur di bawah," Tara segera bangun lalu duduk.


"Eh jangan!" cegah Bulan.


"Iya, iya... aku tidur sama Abang," Bulan pun mengalah. Ia tidur di samping suaminya.


Sungguh sangat sempit, tempat tidur yang mereka pakai. Namun karena sudah mengantuk Bulan tidur dalam pelukan Tara.


Keesokan harinya Bulan bangun lebih dulu, membantu bu Fatimah menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Selesai sarapan, kami langsung pulang ya Bu," kata Bulan sambil membuat juice yang sudah ibu ajarkan.


"Kok, buru-buru Lan," Fatimah sebenarnya masih ingin tinggal lama bersama putrinya.


"Besok-besok kan bisa main lagi Ibu, jika Bang Tara lama-lama disini, terus Mama nya keburu pulang, aku takut, nanti justeru dimarahi," tutur Bulan, saat ini harus jaga sikap jangan sampai berbuat kesalahan.


"Iya Nak. Ibu mengerti," pungkas Fatimah.


Selesai sarapan mereka kembali pulang.

__ADS_1


******


Jam 4 pagi Maya diantar Gavin tiba di kediamannya. Ia baru dari luar kota, tetapi Maya hanya pulang sendiri. Sebab Bisma suaminya tidak ikut, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebenarnya Maya ingin pulang bersama Bisma. Namun rasa kangen nya pada sang putra dan ingin segera tahu keadaanya, Maya membulatkan tekad.


"Vin, setelah menyimpan mobil, kamu istirahat di sini dulu, masih terlalu pagi," titah Maya.


"Baik Nyonya," Gavin segera membuka garasi, memasukkan mobil.


Sementara Maya, segera memencet bel rumah. Tidak lama kemudian pintu dibuka.


"Selamat pagi Nyonya," sapa Sumi.


"Selamat pagi," jawab Maya.


"Tolong bantu Gavin menurunkan barang-barang ya Sum," titah Maya, sembari jalan ke kamar, setelah dijawab oleh Sumidah.


Di dalam kamar yang pertama Maya tuju adalah kamar mandi, setelah membersihkan badan, salin baju bersih, Maya kembali ke luar bergegas ke kamar Tara.


Maya mendorong handle pintu. Namun pintu rupanya dikunci. "Kok tumben, pintu dikunci dari dalam," gumam Maya.


Maya ambil kunci cadangan di kamar, tidak lama kemudian kembali, lalu membuka kunci. Setelah berhasil masuk, ia memelankan langkah, agar jangan sampai kakinya menimbulkan suara dan pada akhirnya mengganggu tidur Tara.


Dengan rindu yang menggebu Maya tersenyum mendekati ranjang. Namun senyum itu seketika menghilang dan berubah menjadi emosi, kala menatap Bulan tidur satu ranjang bersama Tara, dan yang membuat Maya semakin marah karena kaki Bulan melingkar di perut Tara.


Bulan mengerjapkan mata seperti mimpi mendengar orang yang menjerit.


"BANGUN BULAN!" bak suara petir, suara Maya.


"Saya Nyonya," Bulan segera menarik kakinya cepat dari perut suaminya, ia tidak sadar menumpangkan kaki ke perut Tara.


Bulan bangun mengucek mata meyakinkan diri sendiri. Entah ini mimpi atau nyata, tapi Bulan sadar, jika ia memang sudah terjaga dari tidurnya. Ketika melempar tatapan ke wajah Maya yang biasa lembut kini berubah bak monster menakutkan.


"Kurangajar! Kamu Bulan! Wanita murahan! Baru saya tinggal tiga hari, kamu sudah ngelunjak tidur bersama anak saya!" Maya mengacung-acungkan telunjuk.


Kilat marah terlukis jelas di mata Maya. Membuat Bulan ketakutan.


Bulan menoleh Tara, yang masih pulas, entah ke sirep apa suaminya itu, hingga sampai tidak mendengar teriakan Maya.


"Nyonya... saya akan jelaskan" Bulan hendak menceritakan bahwa ia istri Tara.


"DIAM! SAYA TIDAK BUTUH PENJELASAN KAMU! KELUAAAARRR...!!!" potong Maya dengan pekikan yang memekakkan telinga.


"Nyonya, saya dan Bang Tara itu..."


"KELUAAAARRR..." Maya memotong ucapan Bulan. Telunjuknya beralih menunjuk jalan arah ke luar.

__ADS_1


"Jika kamu tidak tahu jalan keluar! Saya akan tunjukkan!" secepat kilat Maya menarik tangan Bulan yang masih duduk di ranjang.


"Mamaaaa... jangaaaannn..." Tara yang baru membuka mata pun tak kalah histeris. Namun Maya sudah berhasil menarik Bulan keluar kamar.


"Mamaaa..." Tara segera bangun. Belum memulihkan kesadaran ia merosok ke lantai.


Tara terpaksa ngesot agar bisa mengejar Maya, jika mampu ia ingin berlari, namun apalah daya.


Sementara itu Maya sudah berhasil menarik Bulan hingga sampai ke ruang tamu.


"Nyonya..." Gavin yang baru merebahkan tubuhnya di sofa segera bangun mendengar Maya meluapkan emosi.


"Saya akan mengusir wanita murahan ini Vin, dia sudah berani kurangajar! Tidur bersama putraku, kamu ternyata salah menilai wanita ini Vin, ternyata tidak selugu yang kamu kira," omel Maya sambil menarik Bulan hingga sampai ke kamar.


"Cepat pergi! Angat baju-baju mu,"


"Baik Nyonya, saya akan pergi, tapi tolong dengarkan saya dulu! Saya dengan Bang Tara suami istri" Bulan masih berusaha menjelaskan.


"Omong kosong apa ini?! PERGIIIII..."


Melihat Maya sudah tidak bisa di ajak bicara lagi, Bulan segera memasukkan baju ke dalam tas.


Ia ambil kerudung siap pakai kemudian menenteng tas.


"Permisi, Nyonya," Bulan melewati Maya, yang berdiri di pinggir pintu.


"Bulan..." sapa Gavin ketika Bulan sampai di ruang tamu. Gavin melempar pandang ke arah Maya seolah berkata. "Jangan usir Bulan" Namun hanya di dalam hati.


"Saya pamit Pak Gavin," kata Bulan.


"Aku antar Bulan," lirih Gavin. Gavin sedih melihat keadaan Bulan.


"Jangan diantar! Dia ini hanya wanita pe-la-cur!" tuding Maya.


Bulan melangkah keluar hati nya sungguh sakit, Maya mengucap kata seperti itu.


"Aku tidak boleh menangis, aku harus kuat" batin Bulan. Ia membuka pagar. Sampai di pinggir jalan, merogoh tas kecil berniat memesan taksi online. Namun ia baru ingat, hp nya ketinggalan di kamar Tara.


Bulan membuka tas lebar-lebar, mencari-cari uang untuk sekedar ongkos numpang angkutan. Namun rupanya tidak ada uang tunai sama sekali. Karena uang simpanan nya sudah ia berikan pada Keke tempo hari.


Dengan langkah gontai Bulan menyusuri jalanan.


****


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2