
"Gaunya aku coba ya, Bang," Rembulan tersenyum mengamati gaun mewah itu, tapi bukan mewahnya yang membuat Bulan senang, tentu perhatian suaminya ini yang membuatnya terharu.
"Coba saja," jawab Tara.
Bulan ke kamar mandi menjajal gaun muslim tak lama kemudian kembali. "Bagus nggak Bang," Bulan mengamati tubuhnya kanan kiri.
"Yang bagus yang memakai, kalau bajunya biasa saja," Tara lagi-lagi terkekeh.
Bulan terseyum, namun wajah Bulan mendadak sedih kala ingat kata-kata suaminya akan berpisah untuk sementara waktu.
"Kok murung... kenapa?" Tara mengangkat dagu istrinya menatap matanya yang sedang mengembun.
"Aku takut Bang, kalau sampai di Jakarta nanti, Abang melupakan aku, dan tidak akan kembali," Bulan menitikan air mata.
"Bulan... bicaramu kok ngelantur, aku ke Jakarta hanya akan mengikuti ujian semester selama seminggu, dan menyerahkan laporan, setelah itu, aku akan kembali menjemput kamu," jujur Tara.
"Abang... aku takut..." rengek Bulan.
"Takut apa?" tanya Tara gemas.
"Nggak bisa aku jelaskan, Bang," Bulan menggeleng lemah. Bulan takut suaminya akan terpikat wanita lain di kota asal.
"Bulan... sebenarnya aku bisa saja membawamu ikut serta sekarang, tapi aku kan harus menceritakan tentang pernikahan kita pada Mama, Papa, dulu," Tara menatap sendu wajah istrinya.
SebenarnyaTara tidak tega, meninggalkan istrinya di sini, tapi tentu tidak bisa langsung membawa pulang juga. Bisa-bisa orang tuanya syok jika ia tiba-tiba membawa wanita ke rumah, dan dituduh berbuat yang tidak-tidak.
"Bulan... percayalah, aku berjanji akan kembali, menjemput kamu, jika Ibu mau, aku akan megajaknya serta," jujur Tara.
"Tapi Bang," tergambar jelas rasa khawatir di wajah Bulan.
"Heee... percaya sama aku, aku mencintaimu Bulan, jujur aku belum pernah mencintai wanita manapun kecuali kamu,"
Bulan mengangguk setelah menatap mata Tara yang penuh kejujuran.
"Sekarang jangan bersedih, kita manfaatkan momen ini, untuk kita pacaran," Tara tersenyum.
"Abang..." Bulan tersenyum simpul.
"Oh iya, aku ada sesuatu," Tara berjalan ke arah lemari, dan mengambil kotak pesegi panjang di kantong plastik putih kecil. Lalu kembali memberikan benda itu pada Bulan.
__ADS_1
"Apa ini Bang?" Bulan membolak balik kotak yang di bungkus sampul coklat itu.
"Buka saja," Tara merebahkan tubuhnya di kasur.
Sementara Rembulan membuka benda pemberian suaminya, seketika matanya melebar. "Handphone Bang? Abang membelikan aku handphone?" Bulan mengangkat handphone merk terkenal menunjukkan pada Tara. Bulan belum hilang rasa terkejut nya tentang gaun, kini sudah di kejutkan lagi tentang benda keramat yang diburu setiap kalangan, dari anak kecil sampai orang tua. (Seperti yang nulis tidur saja dikelonin. 🤣🤣🤣)
"Iya, sayang... biar memudahkan kita untuk komunikasi," ujar Tara.
"Terimakasih Bang"
"Sama-sama..."
Bulan masih tidak percaya bisa memiliki handphone. Selama ini Bulan hanya bisa melihat milik teman sekolah, yang sudah 75 persen mereka punya. Jika mengerjakan tugas sekolah pun Bulan harus mencari warnet di kecamatan.
"Eh, kok langsung aktif Bang," Bulan menoleh Tara yang tiduran berbantalkan tangan.
"Sudah aku aktifkan, sudah ada nomor hp aku juga disitu,"
Tring
Tring.
"Tapi kamu jangan simpan nomor telepon Udin, Achmad, Abu Bakar," Tara absen beberapa pria yang menyukai istrinya.
"Abang tahu darimana? Nama-nama itu?" Bulan menoleh cepat.
"Taulah, pertama kali aku datang kemari, melihat kamu lewat, aku penasaran sama kamu, terus aku cari tahu, ternyata kamu banyak sekali yang suka," Tara senyum-senyum ingat ketika itu.
"Terus... terus..." Bulan ikut merebahkan diri. Tidak Bulan sadari mereka berhadapan sangat dekat.
"Setiap pagi kamu naik sepeda, lewat di samping balai, aku selalu menunggu, dan bersembunyi memperhatikan kamu," Tara terkekeh.
"Iihhh... Abang, suka menguntit!" potong Bulan mencubit lengan Tara. Di tangkapnya tangan Bulan lalu Tara menciumnya.
"Terus..." Bulan penasaran.
"Ya gitu lah, aku mau kenalan sama kamu, tapi tidak ada kesempatan. Begitu ada kesempatan, kamu cuek banget," Tara geleng-geleng kepala.
"Yeah... kurang usaha," sindir Bulan terkikik, membuat Tara gemas lalu menyambar bibir istrinya. Bulan kali ini sudah biasa jadi tidak menolak lagi jika Tara melakukan itu.
__ADS_1
"Tahu nggak, Lan? Pertama kali aku berkenalan sama kamu, ketika aku di undang warga untuk hadir diacara rapat remaja Masjid, aku ingin salaman, eh, kamu malah, menangkupkan telapak tangan doang," Tara bertutur sambil merengut mengingat kala itu.
"Ngapain salaman sama orang yang nggak di kenal," sambar Bulan.
"Tapi sekarang akan aku uyel-uyel kamu!" Tara menciumi seluruh wajah Bulan. Pemilik wajah tertawa geli.
Obrolan yang tak berfaedah pun berakhir kala mendengar adzan maghrib. Mereka bergegas mandi kemudian shalat magrib berjamaah.
Selesai shalat mereka bersiap-siap seperti yang Tara janjikan. Yakni akan dinner romantis, sekaligus mengenal lebih dekat.
"Kamu cantik," puji Tara lalu mengait jemari istrinya. Rembulan tersenyum simpul kala mendengar pujian suaminya.
Mereka kemudian masuk lift, menuju lantai dasar sampai di pinggir jalan taksi yang Tara pesan ternyata sudah menunggu.
Taksi melaju sedang hingga sampai di salah satu resto yang paling terkenal di pusat kota, A. Pasutri itu tampak memasuki resto, pengunjungnya rata-rata para remaja yang sedang berduaan.
Tara walupun baru 1, 5 bulan berada di daerah ini, tetapi sudah ke empat kalinya mengunjungi tempat ini. Berbeda dengan Rembulan walupun penduduk asli, baru pertama kali ini menginjakkan kaki ke resto ini.
Tara menggandeng tangan Rembulan masuk ke ruang eksekutif, jika di tempat tadi hanya menghidangan mie yang beraneka rasa, di ruang eksekutif Bulan di suguhkan dengan bermacam-macam hidangan walaupun pada akhirnya hanya satu yang mereka santap.
*******
Jam 11 malam mereka sudah kembali ke hotel, menunggu suaminya mandi, Bulan tampak mengganti gaun malamnya dengan baju piama. Lagi-lagi Tara sudah memesan piama cuple ketika sore tadi.
"Good night..." Tara tersenyum merekah setelah dari kamar mandi, dan hanya mengenakan handuk menghampiri Bulan yang masih berdiri terpaku di tempat.
Bulan menatap pria tampan itu dari atas sampai bawah, kemudian menutup matanya dengan telapak tangan.
Tara terkekeh menjahili istrinya, sengaja menjatuhkan handuk ke lantai, dan berusaha melepas telapak tangan Bulan yang menutup mata.
"Bulan..." Tara mengalungkan tangannya ke tengkuk sang istri, kemudian menciumnya lembut. Di tariknya pinggang ramping itu pelan, hingga sama-sama tidur di ranjang, dan saling berhadapan.
Bulan tercekat tidak sepatah kata pun bicara ketika mata sang suami memandangnya berbeda, dan yang membuat jantung Bulan deg degan adalah; kaki Tara yang mengunci pinggul membuat Bulan sulit bergerak.
Rupanya Bumantara sudah dimabuk cinta, dan diselimuti gairah yang menggelora.
Tangan kekar itu menjelajahi tempat-tempat yang selama ini belum ia jamah. Yaitu dimana tempat sensitif milik Bulan.
Malam sepi dan sunyi, hanya terdengar rintihan, dan ******* dua insan, menambah malam semakin sahdu.
__ADS_1
Ya, malam inilah Rembulan menjadi milik Bumantara seutuhnya.